
Hari ini Weni akan berkunjung ke rumah Arumi, Weni sekaligus ingin mengajak Aini tinggal di rumahnya untuk beberapa hari. Weni menghabiskan waktunya hampir tiga minggu untuk merenovasi rumah yang sudah lama dia tinggal ke luar negeri.
Rumah yang dia beli dari uang yang dulu pernah diberikan Zidan untuknya kini akan menjadi rumah Aini juga. Rumah berwarna hijau segar itu kini lebih rapih dan indah, banyak tanaman mengelilingi halaman rumah dengan bunga-bunga yang bermekaran.
Weni datang tidak dengan tangan kosong, dia sudah membeli beberapa makanan dan buah-buahan untuk Arumi. Weni juga membawa susu hamil yang selama ini Arumi minum.
"Waktu aku berada di rumah Arumi aku lihat dia minum susu ini? Aku sengaja belikan ini untuk Arumi pasti dia sangat senang."
Weni menaruh makanan dan susu hamil didalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah Arumi.
*******
Ketika Weni sampai di depan pintu dia sedikit ragu untuk masuk namun suara Aini begitu nyaring terdengar sampai keluar pintu, sepertinya Aini sedang bermain.
Weni mencoba mengetuk pintu, tak lama setelahnya pintu di buka. Arumi menyambut kedatangan Weni. Arumi mempersilahkan Weni untuk masuk kedalam rumah.
"Kau mau kesini kok tidak bilang dulu, kalau kau bilang aku kan bisa siapin makanan untukmu, Wen, soalnya kebetulan sekali hari ini kami makan di luar."
"Ah tidak usah repot-repot, Rum. Aku kesini cuma mau ajak Aini ke rumahku. Aku juga punya sesuatu untukmu, maaf tidak banyak, hanya ini."
"Kau ini yang repot-repot pakai bawa susu hamil segala. Makasih ya, Wen. Kok jadi aku yang merepotkan kamu sih."
"Iya Rum, sama-sama. Tidak, Rum. Aku memang pingin ngasih semua ini untukmu."
"Kau boleh ajak Aini ke rumah tapi nanti biar aku dan Mas Zidan yang anterin kamu sama Aini pulang, ya."
"Iya makasih ya, Rum."
"Sama-sama, Wen. Yuk masuk."
Arumi kemudian mengajak Weni masuk dan menemui Arumi yang sedang bermain dengan Zidan di ruang keluarga.
Weni melihat pemandangan yang sangat membahagiakan, laki-laki yang pernah hidup bersamanya begitu sangat menyayangi Putrinya. Tidak bisa dipungkiri rasa yang dulu pernah ada kini masih tersimpan abadi di dalam hati.
"Aku mengerti Mas, bukan hak ku memiliki dirimu karena aku hanyalah duri di dalam pernikahanmu."
__ADS_1
Weni mengedipkan matanya beralih meninggalkan bayangan yang kelam dan telah berlalu. Weni menghampiri mereka, mendudukkan dirinya di sofa merah bersama Aini dan Zidan.
Arumi beranjak dari ruang keluarga menuju ke dapur sekedar membuat minuman hangat untuk menjamu Weni siang itu.
Zidan tampak tenang seraya memegang Boneka, matanya hanya memandang Aini yang duduk tepat ditengah antara dirinya dan Weni. Zidan berusaha tidak memandang Weni, pandangannya selalu dia buang ke arah Aini.
"Apa kabar, Mas. Aku kesini mau ajak Aini nginep di rumahku, itupun kalau kamu mengizinkan."Ujar Weni.
Lain dengan Zidan, Weni justru terus memperhatikan wajah Zidan yang tak luput dari pandangannya. Lelaki tampan yang dulu pernah ia miliki
"Tentu saja aku mengizinkan, selama Aini mau aku akan selalu mengizinkan."Ungkapnya.
"Aku tidak mau membuat Arumi cemburu dengan kedatangan Weni, aku harus bisa menjaga sikapku di depan Weni, dan semoga Weni juga bisa menjaga sikapnya."
Di balik tembok pembatas antara ruang keluarga dan dapur, Arumi sengaja melihat mereka berdua seraya memegang sepiring kue bolu dan minuman manis, Arumi tidak menaruh curiga ia hanya penasaran dengan sikap mereka saat ini.
"Tidak ada yang aneh sama mereka, ah tidak! Kenapa aku jadi curiga seperti ini! Bukankah mereka sudah tidak ada hubungan lagi, aku memang egois!"Gerutu Arumi.
Arumi menghela nafasnya dan beranjak pergi melangkah ke depan. Dengan ramah dan tenang Arumi menjamu Weni dengan kue bolu dan segelas jeruk hangat untuk Weni.
Weni merapikan rambutnya dan mengusap keringat yang ada di lehernya, Weni sedikit gugup melihat Arumi datang dan berdiri di depannya.
"Wen? Kau tidak mau semua ini?"Tanya Arumi sambil menunjuk makanan yang ada di atas meja.
"Ah...em...bukan seperti itu Rum! Aku justru bingung mau makan yang mana dulu, semua bolu ini sangat menggoda."Jelas Weni setelah tersadar dari lamunannya.
"Ya udah makan saja semuanya, kau boleh membawanya pulang kalau kau mau, Wen."
"Ah terimakasih Rum, kau baik sekali."
"Iya Wen, kau juga baik."
Zidan dan Aini hanya tersenyum melihat kedua ibunya sedang berbicara bersama.
Pukul 5 sore Weni pamit untuk pulang, sekalian ingin mengajak Aini untuk nginep di rumahnya. Weni dan Aini satu mobil bersama.
__ADS_1
Zidan dan Arumi ikut ke rumah Weni untuk memastikan Aini tidak rewel di sana, Zidan dan Arumi mengikuti mereka dari belakang dengan menaiki mobil mewahnya.
Tidak ada yang aneh ketika sampai di rumah Weni. Aini terlihat sangat gembira begitupun Weni, dia begitu sangat senang bisa mengajak Aini tinggal beberapa hari bersamanya.
Namun lain dengan Arumi, pertama kali Arumi masuk ke dalam rumah Weni Arumi disuguhkan pemandangan yang seketika membuatnya terdiam. Arumi melihat begitu banyak foto Weni bersama Zidan yang masih terpajang rapi di dinding berwarna hijau tua.
Zidan tidak bisa bicara apa-apa, dan tidak tau jika foto-fotonya masih rapi terpajang di atas dinding.
Weni merasa tidak enak dengan Arumi, Weni berusaha menjelaskan semuanya kepada Arumi dan Zidan.
"Rum, Mas Zidan, aku benar-benar minta maaf? Bukan maksudku memajang foto itu tapi itu adalah foto lama yang belum sempat aku copot, karena aku pergi keluar negeri dan kemarin belum sempat mengambilnya."Jelas Weni.
"Weni, kau bicara apa, aku sama sekali tidak marah padamu. Foto itu tidak salah, itu kan foto sewaktu kamu sama mas Zidan masih bersama."Ujar Arumi.
"Rum, aku tidak enak sama kamu, aku janji akan copot foto itu."
"Wen, tidak perlu takut. Aku tidak akan marah karena foto itu."
Weni terdiam seraya menganggukkan kepalanya.
"Lupakan masalah foto kita kesini sama Aini, dari tadi Aini melihat pembicaraan kita nanti Aini malah takut!"Ujar Zidan.
Weni langsung mengajak Aini masuk dan melihat-lihat rumah miliknya, Aini sangat gembira ketika memasuki kamar bernuansa pink penuh gambar kupu-kupu pada dindingnya.
"Wah, cantik sekali kamar Mama Weni."Ucap Aini.
Melihat Aini sudah merasa nyaman bersama Weni, Zidan mengajak Arumi untuk kembali ke rumah karena masih banyak pekerjaan yang harus Zidan selesaikan.
"Aini Ibu sama Ayah pulang dulu ya? Aini sama Mama Weni dulu."Ujar Zidan.
"Iya, Ibu, Aini disini sama Mama Weni, main di kamar kupu-kupu."
"Ayah sama Ibu pulang ya sayang, Aini jangan nakal ya?"
"Iya, Ibu."
__ADS_1
"Hati-hati, Rum, Mas Zidan."
Arumi dan Zidan merasa lega karena Aini sangat gembira bersama Ibu kandungannya yang sudah lama tidak memeluknya.