Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
107.SITUASI TEGANG


__ADS_3

Siang ini Weni sampai di rumah sakit yang ditunjukkan oleh Zidan. Ia segera masuk dan menuju lantai atas, dengan segala harapan yang baik Weni berharap kedatangannya bisa membuat Aini jauh lebih baik.


Weni masuk kedalam ruangan nomor 8. Weni mengetuk pintu dan dibuka oleh Arumi, Arumi segera mempersilahkan Weni masuk kedalam ruangan yang hanya ada dirinya dan Aini. Sementara itu Zidan masih belum datang.


"Wen apa kabar? Wen aku minta maaf jika aku belum bisa menjaga Aini dengan baik"


"Aku baik-baik saja Rum, aku mendapat kabar Aini sakit dan aku juga minta maaf baru sekarang aku bisa pulang. Kau tidak perlu meminta maaf Rum, semua ini bukan salahmu"


"Kau hamil Rum, selamat ya aku bahagia sekali jangan lupa kabari aku ya kalau anak kamu ini sudah lahir"


"Iya Wen, aku bahagia sekali bisa hamil"


"Kau sendiri? Mana suamimu?"


"Rum, aku sudah berpisah dengan suamiku"


"Wen kau berpisah? Kenapa apa yang membuat mu berpisah?"


"Sudah jangan dibahas Rum, lebih baik kita urusi Aini saja"


"Maafkan aku Wen. Kau baik-baik saja?"


"Tidak apa-apa Rum, aku baik-baik saja"


Weni pun memeluk Arumi.


Weni mendekati Aini yang sedang bermain dengan bonekanya, boneka yang terus ia bawa dan selalu menemani dirinya tidur. Boneka pemberian Weni ternyata menjadi boneka kesayangan dirinya.


"Halo anak cantik, sedang apa?"Weni mendekati Aini di atas ranjang dan mendudukkan dirinya ditepi ranjang.


Arumi hanya bisa memandang seraya meneteskan air mata melihat seorang ibu yang telah lama berpisah bertemu dengan anaknya namun dalam keadaan sakit.


Aini tersenyum dan langsung memeluk Weni.


"Mama Weni"Teriak Aini membuat Weni terkejut dan merasa sangat terharu.


Walaupun Weni tidak pernah berada dekat dengannya namun Aini merasa ada ikatan batin dengan dirinya.


"Sayang, mama Weni kangen banget sama Aini"


"Iya Aini juga kangen sama mama Weni"

__ADS_1


Ingatan Aini benar-benar tajam, ia masih mengingat mamanya walaupun terakhir bertemu ketika dirinya masih kecil.


"Mama Weni temenin Aini main boneka yuk"Seketika keceriaan Aini tumbuh dengan hadirnya Weni, namun Aini belum mengetahui jika Weni adalah ibu kandungnya sendiri. Masih terlalu kecil untuk Aini memahami semua ini.


Ketika Weni, Arumi dan Aini sedang asyik main boneka bersama tiba-tiba Zidan masuk dengan wajah tegang. Lalu Zidan melihat keberadaan Weni dan seketika sikapnya berubah. Zidan menarik pelan tangan Weni dan langsung mengajaknya keluar dari ruangan.


Weni tidak mengerti apa yang sedang Zidan lakukan. Ia berpikir kehadirannya tidak diinginkan olehnya.


Arumi berusaha mengikuti mereka dan ingin tau apa yang sebenarnya terjadi kenapa tiba-tiba Zidan menarik lengan Weni dengan tergesa-gesa.


"Sayang Aini, ibu keluar sebentar ya Aini disini dulu ya sayang"Ujar Arumi kepada Aini, lalu ia mengelus rambutnya.


"Iya Bu, jangan lama-lama ya"


"Iya sayang"


Arumi meninggalkan Aini yang masih bermain dengan bonekanya. Arumi perlahan membuka pintu ruangan, Weni dan Zidan tidak mengetahui jika dirinya sedang menguping apa yang sedang mereka bicarakan.


"Ada apa mas? Kenapa aku ditarik?"Ucap Weni kepada Zidan.


"Wen, ginjal ku tidak bisa didonorkan untuk Aini kau harus mendonorkan dinjalmu untuk Aini?"Ujar Zidan.


Weni terkejut, ia merasa beruntung kedatangannya ke Indonesia dalam waktu yang tepat.


Sekali lagi Arumi merasa sangat terharu dengan pengorbanan kedua orang tua Aini yang sangat luar biasa sayangnya kepada Aini.


Arumi mendekati mereka berdua seketika mereka mengusap air matanya.


Arumi medekat dan mengusap punggung Zidan dan Weni."Kalian adalah orang tua yang hebat. Aku sudah mendengarnya, pengorbanan kalian benar-benar luar biasa untuk Aini"


Sambil bercucuran air mata Weni kembali memeluk Arumi, wanita yang dulu pernah memberikan suaminya untuk dirinya.


Tak lama kemudian dokter datang dan menghampiri mereka, dokter menanyakan keberadaan sang ibu yang akan mendonorkan ginjalnya. Kebetulan Weni sudah sampai ia langsung pergi menuju ruang pemeriksaan.


Zidan memutuskan ikut menemani Weni sementara Arumi kembali menemani Aini didalam ruangan.


Sesampainya dikamar Aini menanyakan keberadaan Weni, keceriaannya seketika meredup Aini berfikir Weni telah kembali ke luar negeri jauh meninggalkan dirinya.


"Mama Weni sudah pulang ya Bu? Aini gak ketemu lagi dong sama mama Weni"Tanya Aini pelan.


"Sayang mama Weni belum pulang kok, mama Weni lagi keluar sebentar. Oh ya sekarang kan waktunya Aini minum obat, Aini minum obat dulu terus istirahat ya biar cepat sembuh"

__ADS_1


"Iya Bu"


Setelah Aini minum obat tak lama kemudian ia tertidur seraya memeluk boneka kesayangan nya.


Menunggu hasil pemeriksaan.


"Kau sudah makan? Biar aku belikan makan untukmu, kau mau makan apa?"Tanya Zidan kepada Weni.


Weni memandang Zidan dengan rasa tidak enak, iapun menolak tawaran dari mantan suaminya itu padahal dirinya sedang lapar karena sejak pagi belum makan.


"Tidak terimakasih, aku sudah makan. Sebelum kesini aku makan soto Betawi, sudah lama aku tidak makan soto Betawi"Ujar Weni sedikit tertawa kecil.


"Ya sudah, nanti kalau ingin sesuatu kau bisa bilang padaku"Ucap Zidan sambil mendudukkan dirinya.


"Ya"Balasnya singkat.


Ketika sedang berbincang tiba-tiba dokter datang. Dokter membawa kabar dari hasil pemeriksaan yang baru saja dilakukan oleh Weni. Dan ternyata hasilnya sama-sama tidak bisa untuk didonorkan.


"Maaf Bu, pak, Bu Weni tidak bisa menjadi pendonor ginjal untuk putrinya, sebab golongan darah Bu Weni berbeda dengan putrinya"Jelas sang dokter.


"Apa Dok? Lalu bagaimana dengan anak saya Dok"Zidan dan Weni seketika menangis meraung-raung, mereka tidak menyangka dengan semua kejadian yang sebelumnya tidak mereka bayangkan.


Zidan merasa putus asa pasalnya selama Aini membutuhkan ginjal belum ada pendonor lain yang mau mendonorkan ginjalnya.


Zidan dan Weni kembali keruangan dengan keadaan mata yang berkaca-kaca.


Arumi melihat ada masalah lagi sampai membuat Zidan kembali menangis. Arumi menyelimuti Aini yang tengah tertidur lalu mendekati mereka yang masih berdiri didekat pintu.


"Apa yang terjadi? Kenapa kalian menangis"Tanya Arumi penuh pertanyaan.


"Weni tidak bisa menjadi pendonor ginjal! Golongan darah mereka berbeda dan sampai saat ini belum ada pendonor yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Aini"Jelas Zidan.


"Kalian jangan menyerah, kalian masih ada satu kesempatan. Jika kalian tidak bisa maka aku akan mencobanya"Ujar Arumi dengan tegas.


"Apa yang kau katakan? Kau ini sedang hamil!"Ujar Zidan sedikit marah.


"Kau tidak boleh melakukan itu Arumi!"Timpal Weni.


"Kau masih hamil, kau tidak boleh melakukan hal yang bisa membuat bahaya kau dan janinmu"Imbuh Weni.


Namun Arumi tidak menghiraukan perkataan mereka, diam-diam Arumi berpura-pura mengiyakan ucapan mereka.

__ADS_1


"Iya maafkan aku, semoga besok ada pendonor ginjal yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Aini"Ujar Arumi.


Dan pada malam harinya Arumi diam-diam mendatangi ruang pemeriksaan. Ketika Zidan dan Weni tengah asyik main dengan Aini Arumi pamit keluar dengan alasan ingin membeli nasi goreng dan menolak untuk dibelikan. Arumi memilih beli sendiri dengan keinginan ngidamnya yang ia jadikan alasan.


__ADS_2