
Disebuah kota dengan padatnya penduduk ditambah macetnya jalanan Tiwi dan Zidan bertemu di kedai bakso terenak di kotanya. Zidan bersama Arumi siang ini janjian di kedai bakso tersebut, untuk membahas masalah Danu sekalian makan bersama.
Mengendarai mobil mewah seharga 5 miliar Zidan dan Arumi sudah sampai di kedai bakso tersebut namun belum terlihat sosok Tiwi disana, mungkin wanita dengan perut bulat nya itu sedang dalam perjalanan.
Ketika Zidan dan Arumi turun dari mobil semua mata menuju padanya, orang-orang yang berada disana heran melihat mobil mewah parkir di depan kedai bakso yang rata-rata dikunjungi oleh orang biasa.
Wajar saja semenjak Zidan menikah dengan Arumi kini ia semakin sukses karena bekerja sama dengan perusahaan Zaki. Zidan juga sudah punya beberapa tempat usaha sendiri yang didirikan bersama Arumi. Tak hanya itu, perusahaan Wisnu juga ikut serta dalam kesuksesannya.
"Mas, kita tunggu Tiwi sambil pesan minum kau mau minum apa?"Tanya Arumi kepada Zidan.
"Aku es jeruk, yang asam ya"Ucapnya tersenyum genit.
"Kenapa kau mau yang asam? Memangnya tidak ada minuman yang lain!"Ujarnya heran.
"Karena wajahmu sudah sangat manis untukku Arumi!"Salah satu pujian Zidan kepada Arumi.
"Hah!"
Gumam Arumi tanpa menjawabnya, ia hanya memalingkan wajahnya seraya melihat ke arah pengunjung lain karena merasa malu dengan pujian Zidan didepan umum.
Tak berselang lama Tiwi datang menggunakan ojek online. Pada siang itu gerimis turun sedangkan Tiwi tidak memakai jas hujan, terasa miris melihat keadaan Tiwi yang sekarang. Semenjak Danu memeras hartanya Tiwi tidak punya apa-apa lagi, mobil seminggu yang lalu sudah dijualnya kini tinggal Rumah harta satu-satunya yang dimiliki Tiwi.
"Maaf aku telat karena gerimis dan aku sedang hamil jadi ojeknya jalan pelan. Aku salut banget sama ojek online nya, tau keadaanku yang sedang hamil ini"Ujar Tiwi seraya merapikan rambutnya.
"Duduk dulu aku pesankan minuman hangat untukmu!"Arumi mendudukan Tiwi dan memesankan minuman hangat untuknya.
"Untung kau tidak sampai kehujanan!"Ujar Zidan.
"Hufff, aku juga sampai ketakutan bagaimana jika kehujanan!"Gumam nya.
Arumi kembali membawa minuman hangat untuk Tiwi, Arumi mendudukkan dirinya dan memberikan minuman tersebut kepada Tiwi yang sedang kedinginan.
Tiwi meminumnya dan kini badannya lebih hangat dari sebelumnya.
"Oh ya, kemarin kau tanya Weni apa maksudmu Weni mantan Mas Danu?"Ucap Tiwi kepada Zidan.
"Kau benar-benar mengenal Weni??"Balasnya.
"Aku mengenalnya, dia mantan Mas Danu! Aku masih ingat dulu waktu pertama kali aku melihatnya bertengkar disebuah lorong!"Jelas Tiwi.
__ADS_1
"Jika benar, nanti kau akan aku pertemukan dengannya! Dia salah satu korban Danu sebelum dirimu!"Zidan berencana mempertemukan Tiwi dan Weni untuk bekerja sama.
"Tidak! Justru Weni yang sudah selingkuh. Malam itu Mas Danu memutuskan Weni karena Weni telah selingkuh!"Ujar Tiwi dengan nada lantangnya.
"Kau percaya dengan laki-laki biad4b itu! Weni yang bilang sendiri padaku dirinya sudah diperas oleh Danu dan ditinggalkan begitu saja! Sama sepertimu Weni dijanjikan dinikahi tapi semua itu tidak benar! Kita harus beri dia pelajaran!"Ucap Zidan sangat kesal.
Tiwi terdiam dan masih tidak percaya dengan semua itu. Pasalnya ia melihat sendiri Weni bertengkar dengan Danu karena dirinya ketahuan selingkuh. Tidak pernah terfikir jika semua itu adalah akal-akalan Danu saja untuk mendekatinya dulu.
"Tiwi kau harus buktikan semuanya! Jangan percaya dengan Danu dia adalah penipu. Kau tau sendiri bukan? Kenapa kau masih membelanya!!"Pekik Arumi.
"Iya maafkan aku!"
Zidan mencurigai Tiwi masih mengharap cinta Danu, padahal laki-laki biad4b itu sudah banyak menyakitinya.
"Jika bukan karena aku balas budi dan kasian padamu, aku tidak akan mau ikut campur urusanmu dengan laki-laki menjijikkan itu!!"Batin Zidan seraya memalingkan wajahnya.
Setelah dari kedai mereka pergi ke pabrik milik Mertuanya.
"Mas kita mau kepabrik Papa! Untuk apa?"Arumi heran kenapa Zidan malah mengajaknya kepabrik milik sang Ayah.
"Karena Weni kerja disitu! Gak usah banyak nanya sudah ikut saja!"
Mereka masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju pabrik milik Zaki yang ada di kotanya.
Selama dalam perjalanan Tiwi terlihat murung, Zidan terus melihatnya dari kaca mobilnya. Sedangkan Arumi hanya memainkan ponselnya. Zidan semakin merasa jika Tiwi masih menyimpan rasa dengan laki-laki bej4t itu.
"Arumi kau malah bermain ponsel!"Zidan menegur Arumi membuat Arumi kebingungan.
"hah!"
"Kenapa Mas apa salahku?"Tanya Arumi heran.
"Kau lihat Tiwi, dia bete karena kau tidak mengajaknya ngobrol kau malah bermain ponselmu!"
"Tiwi? Aku kira kau tidur, oke aku akan taruh ponselku!"Ucap Arumi seraya menaruh ponselnya didalam tas.
"Tidak! Zidan kau ini apa-apaan memangnya aku kenapa! Aku tidak bete kau bilang aku bete sama Arumi!"Pekik Tiwi.
Zidan tertawa melihat mereka berdua keheranan karena dirinya.
__ADS_1
Sesampainya dipabrik mereka turun dan langsung berjalan menuju pintu utama pabrik.
Mereka disambut ramah oleh karyawan disana, karyawan yang sudah lama berkerja jadi sudah mengenal dekat dengan Arumi dan Zidan. Hanya Weni karyawan yang baru beberapa Minggu kerja dipabrik milik Zaki tersebut.
Mereka dipersilahkan masuk namun sebelum masuk ke ruang utama mereka lebih dulu memakai pakaian pabrik yang sudah disediakan agar lebih steril dan nyaman.
"Serius loh ini pabrik besar sekali!"Tiwi baru sekali masuk kepabrik dan terheran-heran dengan pabrik milik Ayah Arumi yang sangat besar dan memiliki ribuan karyawan.
"Ini belum seberapa, masih ada yang lebih besar lagi dari pabrik ini!"Ujar Arumi.
"Oh ya, ayo kita kesana!"
"Nanti kita kesana, aku akan ajak kamu lihat pabrik roti milik Ayahku kau bisa makan sebanyak yang kau mau!"
"Kau ini mau jalan-jalan apa mau menyelesaikan masalah!"Pekik Zidan membuat mereka berdua terdiam.
"Suamimu itu sepertinya sedang sakit kepala, dari tadi marah-marah mulu!"Bisik Tiwi kepada Arumi.
"Sepertinya Iya, aku lupa bawa obat!"
Mereka berdua malah bercanda membuat Zidan semakin kesal.
Mereka sampai di ruang produksi, namun semua karyawan masih berkerja termasuk Weni. Zidan tidak memanggilnya ia akan menunggu jam istirahat agar tidak terjadi kesalahan dalam bekerja.
"Mas kok tidak dipanggil?"Tanya Arumi kepada Zidan yang baru saja masuk keruang produksi.
"Dia masih bekerja, aku tidak mau mengganggunya kita tunggu sampai jam istirahat!"
Zidan mendudukan dirinya seraya memijat jidatnya.
"Tuh kan suamimu benar-benar sakit kepala!"Bisik Tiwi kembali.
Namun Arumi tidak menjawabnya karena Zidan memandangnya dengan pandangan judesnya. Tiwi hanya memberi aba-aba dengan menginjak kaki Tiwi agar tidak berbicara lagi karena akan semakin membuat Zidan kesal.
"Ah! Kau ini Arumi kenapa kau injak kakiku!"Bisiknya lagi.
"Diam!!"Gerutu Arumi.
Arumi kembali menginjak kedua kalinya baru Tiwi terdiam.
__ADS_1