Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
77.MUNGKINKAH MENCARIKAN ISTRI MUDA?


__ADS_3

"Akhirnya kita sampai dijakarta"Ucap Zidan.


"Lelah ya Mas, waktunya kita beraktifitas kembali seperti sediakala"


Mereka meninggalkan dermaga pelabuhan dan kembali kerumah menaiki mobil yang dibawanya untuk berlibur ke Bali.


"Krakk"


"Hufff, akhirnya sampai dirumah. Oh ya Mas aku boleh ajak Tiwi dan Weni ngerayain ulang tahun pernikahan kita gak?"Rupanya Arumi masih belum puas dengan liburan kemarin.


"Kemarin bukanya kita sudah merayakan? Apa lagi"Ujar Zidan.


"Kemarin kan tidak jadi. Aku hanya ingin mengenang kebersamaan kita 2 tahun ini Mas dengan berbagi kebahagiaan kepada Weni dan Tiwi, hanya mereka saja"Jelas Arumi.


"Hmm, ya sudah terserah kamu saja yang penting kamu senang. Oh ya aku mau istirahat dulu dikamar"


Zidan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Ternyata Qenan yang menelfon pagi itu.


"[Ada apa? Aku baru sampai dirumah]"Ujar Zidan lewat teleponnya.


"[Hari ini ada pertemuan masalah proyek Tuan, tadi Nona Maria memberitahu ku dia menunggu dikantornya]"Ujar Qenan.


"[Astaga! Aku sampai lupa jika hari ini akan ada pembahasan tentang proyek itu!]"


"[Baiklah kau tunggu aku dikantor]"


Zidan menutup teleponnya dan mengurungkan niatnya untuk beristirahat, ia membalikkan badannya mengambil tas yang ada diatas sofa Arumi yang sedari awal memperhatikannya lantas merasa penasaran sepertinya sangat penting sekali seseorang yang ada dalam telepon itu.


"Kau ada janji? Dengan siapa?"Tanya Arumi yang tengah duduk di sofa.


"Ya, tadi Qenan yang menelfon Aku ada pekerjaan di kantor. Aku pergi dulu kau tidak apa-apa aku tinggal? Tiwi sama Weni jadi kan kesini"Tanya Zidan seraya membelai rambut Arumi.


"Oh gitu Mas, iya tidak apa-apa mereka sudah diperjalanan kamu hati-hati ya Mas"Arumi mencium tangan Zidan yang tengah membelai rambutnya.


Meskipun sendiri Arumi tetap semangat, ia menata ruangan lalu memesan kue terdekat melalui online. Arumi juga memesan sejumlah makanan dan cemilan lainnya.


Setelah menunggu lebih dari satu jam Tiwi dan Weni sampai di depan rumah merekapun mengetuk pintu, mereka sangat kompak dengan pakaian yang sama-sama berwarna pink dan membawa buket bunga untuk Arumi.

__ADS_1


"Kalian lucu banget pake bawa-bawa bunga segala, kita masuk yuk"Ajak Arumi.


Arumi mengajak mereka keruang utama dan mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Tiwi cantik banget, perutmu bikin gemes"Arumi memegang perut Tiwi, tak dipungkiri dalam hatinya ia sangat menginginkan dirinya bisa hamil seperti wanita lain.


"Makanannya enak-enak banget Rum aku sampai ngiler loh lihatnya"Ujar Tiwi.


"Iya ini kan kue terenak yang dijual di kota ini"Sambung Weni.


"Semua ini untuk kalian makan saja semau kalian. Dan kau Tiwi jangan biarkan anak yang ada dalam perutmu itu menangis gara-gara kau menahan dirimu untuk mencoba kue seenak ini"Arumi menyuruh mereka menikmati semua hidangan yang ada di meja.


"Dari tadi aku tidak melihat suamimu, kemana dia?"Tanya Weni kepada Arumi.


"Dia sedang ada pekerjaan di kantor jadi aku merayakannya hanya bersama kalian"Ujar Arumi.


Weni yang belum terlalu mengenal Arumi tiba-tiba bertanya padanya mengenai anak. Lain dengan Tiwi yang sudah lebih paham dengan rumah tangga Arumi dan Zidan.


"Oh ya aku tidak pernah melihat anakmu, kemana dia?"Tanya Weni dengan polosnya.


"A.. Aku minta maaf Arumi aku tidak tahu!"Seketika Weni merasa tidak enak dan menghentikan makannya.


"Tidak apa-apa Weni, mungkin ini sudah takdirku"Ujarnya.


"Aku juga punya masalah. Setiap aku kenal laki-laki dan kita akan menikah pasti laki-laki itu ninggalin aku begitu saja! Padahal aku sudah ingin banget punya suami dan punya anak"Ujar Weni.


"Kita bertiga punya nasib yang sama ya, aku yang sedang hamil malah tidak punya suami!"Sambung Tiwi penuh haru.


Disela-sela pembicaraan ternyata ada yang Arumi pikirkan. Dari kisah Weni dan Tiwi seketika Arumi mempunyai pikiran bagaimana jika dia mencari wanita yang membutuhkan uang dengan imbalan memberinya anak dari darah daging suaminya sendiri.


"Ya Tuhan, apa aku harus melakukan ini agar kami bisa memiliki anak walaupun tidak dari rahimku!!"


Arumi berniat mencarikan istri sementara untuk suaminya yang bisa memberikan keturunan. Arumi akan mendesak Zidan agar mau melakukannya asal wanita itu cantik, tidak mungkin Zidan mau menolaknya.


"Aku pulang dulu Rum, nanti kelamaan disini bikin perutku besar seperti Tiwi"Ujar Weni tertawa. Setelah selesai makan-makan mereka pamit pulang karena sudah terlalu kenyang.


Di kantor..

__ADS_1


"Jadi kau harus lakukan semua ini, proyek ini tidak susah kau tinggal mengamati model dan luasnya"Ujar Zidan kepada Qenan.


"Baik Tuan saya sudah paham dengan arahan Tuan Zidan"Ujar Qenan membungkukkan badannya.


"Dan kau Jaklen, kau hanya bertugas sebagai sekretaris Qenan. Jika Qenan mendapat kesulitan kau bantu dia!"Perintahnya.


"Oke Tuan"


"Bagus semoga kalian berhasil!"


Zidan memberi uang jalan kepada mereka berdua. Uang itu tidak tanggung-tanggung jumlahnya, mereka sangat semangat dan bergairah melakukan pekerjaan karena uang yang diberikan Zidan tidak sedikit.


"Aku yakin setelah proyek ini sukses perusahaanku akan semakin terkenal, dan jika sudah waktunya aku akan menampakan diri ditengah para pengusaha yang datang untuk menyaksikan sebuah keberhasilan. Disana Maria dan Danu pasti tidak akan pernah percaya jika proyek yang telah dilakukan bersama adalah proyek milikku!!"Gerutu Zidan.


Zidan merasa sangat yakin Danu akan kocar-kacir dan merasa takut, karena ancaman Zidan selamanya akan berlaku padanya.


"Aku juga akan membuka kedokmu Danu!! Karena kau tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan Tiwi. Kau juga sudah mempermalukan aku didepan orang!!"Ujarnya.


Ya, pada saat itu ketika Zidan dan Tiwi meminta pertanggungjawaban dihari pernikahan Danu dan Maria, Danu malah memfitnahnya. Danu mengatakan jika itu adalah anak dari Zidan bukan anaknya.


Hal itu yang membuat Zidan semakin geram dengan laki-laki bej4t itu.


Ketika hendak membuka laptop tiba-tiba ponselnya berbunyi, Arumi yang tiba-tiba menelpon siang itu. Jarang sekali ketika sedang dikantor Arumi menelpon dirinya.


"[Ya ada apa sayang?]"Tanya Zidan dengan lembut lewat teleponnya.


"[Kau sudah makan Mas? Oh ya, aku baru saja selesai makan-makan dengan Tiwi dan Weni. Mereka baru saja pulang]"Ujar Arumi.


"[Aku sudah makan. Kamu semangat sekali hari ini? Oh ya, nanti aku akan membawakanmu pizza sapi kesukaanmu]"Ujar Zidan.


"[Makasih ya mas, yaudah kamu lanjut kerja dulu]"


Arumi menutup teleponnya meninggalkan tanda tanya untuk Zidan yang merasa tidak biasa dengan sikap Arumi.


"Baru kali ini Arumi menelponku. Biasanya tidak pernah jika aku sedang ada dikantor"Gumamnya.


Zidan kembali membuka laptopnya dan kembali bekerja sambil memantau kabar dari Qenan dan Jaklen.

__ADS_1


__ADS_2