Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
78.WENI AKAN MENJADI ISTRI BAYARAN?


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam namun Zidan belum juga pulang. Arumi beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil ponsel yang masih dicas. Arumi menghubungi Zidan kembali kenapa dia belum pulang juga padahal sudah larut malam.


Ketika dihubungi nomor Zidan tidak aktif. Arumi mencoba menunggu diruang tamu, perasaannya tidak enak pasalnya malam ini hujan deras karena sudah memasuki musim hujan. Arumi khawatir jika suaminya mengemudi tengah malam dimana hujan semakin deras dan keadaan jalan yang sepi.


Tak lama kemudian rasa takutnya hilang ketika suara mobil terdengar berhenti didepan Rumah. Zidan pulang Arumi langsung membukakan pintu untuknya.


"Mas kau baru pulang, aku sangat khawatir sama kamu!"Arumi mencium tangannya sambil memberi senyum manis kepada laki-laki tampan nya itu.


"Aku banyak kerjaan di kantor. Ya sudah kita masuk aku capek banget"Zidan memegang pundak Arumi dan mengajaknya masuk.


Arumi mengambil tas sang suami lalu berjalan masuk bersama.


Arumi mengurungkan niatnya untuk bicara empat mata dengan sang suami. Karena Arumi melihat Zidan sangat capek, jadi tidak mungkin jika malam ini dirinya bicara masalah yang malah akan membuatnya marah.


Zidan masuk ke kamar dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang Arumi menaruh tas Zidan kemudian menyusul sang suami tidur. Karena udara dingin Arumi tak lupa memakaikan selimut untuk Zidan, tidak ada perbicangan malam ini mereka berdua memilih tidur karena sudah larut malam.


Pagi hari..


Seperti biasa Arumi menyiapkan sarapan pagi yang sudah tertata rapi diatas meja. Sambil menunggu Zidan bangun Arumi menyempatkan berolahraga 30 menit didalam Rumah agar tubuhnya tetap bugar dan sehat.


"Setelah olahraga aku merasa lebih segar dan sehat"Setelah olahraga Arumi langsung mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


Selesai mandi Arumi kembali ke kamar dan melihat Zidan masih tertidur pulas. Arumi kembali kedapur dan membuat segelas susu putih dan ditaruhnya di meja sebelah ranjang tempat Zidan tidur.


Melihat wajah lelah Zidan membuat Arumi tiba-tiba membayangkan bahagianya punya momongan dalam kehidupan rumah tangga nya. Namun semua itu hanyalah bayangan belaka yang tidak mungkin dimilikinya kecuali atas izin Tuhan.


"Andai kita punya anak Mas pasti setiap lelahmu akan menjadi semangat dimana kau akan melihat senyum anak kecil setiap kau pulang bekerja"Batin Arumi. Ia mulai meneteskan air mata.


Jam alarm yang berasal dari ponsel Zidan tiba-tiba berbunyi, Arumi segera mengusap air matanya agar tidak terlihat sedang menangis.


Zidan terbangun oleh suara alarm dan melihat Arumi sedang duduk dipinggir ranjang. Arumi tersenyum penuh namun tidak dipungkiri jika warna matanya sudah berbeda, matanya tampak seperti orang yang habis menangis.


Zidan memandangnya dengan pandangan aneh memang dari semalam Zidan sudah merasakan ada keanehan pada sikap Arumi.


"Mas kau sudah bangun, aku sudah buatkan kamu susu"Arumi memberikan susu itu kepada Zidan yang masih duduk sambil menatapnya.


Zidan meminum susu tersebut kemudian bertanya pada Arumi."Kau kenapa? Sepertinya kau habis menangis"

__ADS_1


Mungkin ini saat yang tepat untuk membicarakan hal itu kepada Zidan.


"Mas, aku mau kau menikah lagi dan pernikahan itu bertujuan untuk mendapatkan anak"Ucap Arumi dengan pandangan pilunya.


"Menikah! Apa kau sudah gila menyuruhku menikah lagi!"Ujar Zidan menaruh keras gelas susu yang dipegangnya ke atas meja.


"Aku yang akan mencarikanmu istri Mas, aku akan mencari wanita yang mau memberimu anak dan setelah itu kalian bercerai"Ujar Arumi.


"Kau mendesakku untuk menikah lagi dan ini sudah kedua kalinya Arumi!!"Zidan tidak habis pikir kenapa Arumi bisa seperti itu.


"Aku ingin kau punya keturunan Mas. Kita hanya akan mendapatkan anak dari wanita itu, hanya itu saja. Setelah itu kau menceraikannya!"Arumi berdiri dan sedikit marah padanya.


"Tapi kita kan bisa adopsi anak!! Untuk apa aku menikah lagi"Zidan ikut berdiri dengan nada bicara yang keras.


"Aku tetap akan mencarikanmu istri Mas! Banyak wanita diluar sana yang membutuhkan uang dan mau memberi anak untukmu"Keinginan Arumi sudah bulat dan tidak bisa dihalangi lagi.


Arumi keluar dari kamar dan pergi meninggalkan Zidan sendirian, dengan cara itu Zidan bisa tahu jika Arumi tidak main-main dengan ucapannya namun Zidan masih tidak habis pikir kenapa Arumi bisa melakukan apa yang wanita lain tidak rela melakukannya.


Pagi itu Zidan langsung pergi ke kantor dia tidak sarapan karena sudah merasa kesal yang membuat selera makannya seketika hilang. Masakan yang sudah dihidangkan dengan penuh cinta tidak tersentuh sedikitpun oleh tangan sang suami.


Zidan langsung masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya. Hal itu menjadi pemandangan buruk untuk Arumi pagi itu.


"Aku tau kau berat melakukan ini Mas, tapi rasa berat itu bukan karena kau tidak mau menikah lagi. Tapi kau takut melukai hatiku yang kedua kali!"Ujar Arumi.


"Aku harus mencari wanita yang mau memberikan anak untuk Mas Zidan. Dan aku yakin diluar sana banyak wanita yang mau dengan imbalan uang miliaran"Gumam Arumi.


Arumi langsung masuk kedalam rumah dan bergegas mengambil tasnya kemudian pergi kerumah Weni. Arumi mencari alamat rumah Weni melalui data yang ada di pabrik, ia baru saja menelpon pegawai pabrik dan meminta alamatnya. Kebetulan Weni sip malam jadi pagi ini dia ada dirumah.


Arumi berharap Weni bisa menunjukkan wanita yang pernah ia temui atau yang ia kenal yang sedang membutuhkan uang dan mau menikah untuk sementara.


Pernikahan itu hanya bertujuan memberikan anak dan diceraikan setelahnya. Tentu saja wanita itu harus catik dan baik, agar Zidan tertarik padanya walaupun untuk istri sementara.


Setelah berputar-putar mencari alamat akhirnya ketemu dengan alamat rumah Weni. Rumah itu tak terlalu besar namun ada satu mobil yang terparkir di depan rumahnya, terlihat ada dua orang laki-laki yang tengah berdiri ditengah pintu Rumah tersebut. Nampak Weni sedang berdiri dan berbicara keras kepada dua laki-laki itu.


Arumi tidak berani mendekat karena dua orang itu terlihat sangat menakutkan, tangannya penuh tato dengan otot yang besar serta ucapannya yang lantang menciutkan nyali Arumi untuk mendekatinya. Arumi memilih kembali kedalam mobil sambil menunggu dua orang menakutkan itu pergi dari Rumah Weni.


"Mereka siapa kenapa mereka marah-marah pada Weni?"Arumi masih bertanya-tanya ada apa sebenarnya Weni dan dua orang menakutkan itu.

__ADS_1


Setelah menunggu 10 menit, mereka pergi dari Rumah Weni. Arumi langsung keluar dan menghampiri Weni yang hendak menutup pintu rumahnya.


"Wen tunggu!"Arumi memanggil Weni yang hendak menutup pintunya.


"Hei Arumi, kau tau rumahku?"Weni sangat senang Arumi datang kerumahnya.


"Aku minta alamat dari pabrik. Oh ya tadi ada orang marah-marah siapa?"Tanya Arumi.


"Masuk dulu yuk"Weni mempersilahkan Arumi untuk masuk terlebih dahulu.


Rumah yang sederhana namun tidak mewah. Didalam hanya ada beberapa barang-barang yang tidak nampak mewah, ruang tamu dengan kursi kayu jendela kaca tanpa penutup serta ubin lantai tanpa keramik. Sungguh diluar dugaan Arumi.


"Jadi gini, tadi itu dua orang suruhan yang datang untuk nagih utang. Aku memang masih punya hutang sama bos mereka dan belum bisa bayar makanya mereka selalu kesini!"Ucap Weni.


"Hutang? Maaf Wen bukanya kamu terbilang sangat cukup?"Ujar Arumi.


"Itu dulu! Sekarang hidupku banyak hutang semenjak aku sering diperas oleh Danu! Mobil satu-satunya sudah aku jual untuk nyicil hutang itupun tidak seberapa dibandingkan hutangku! Sebelumnya rumahku besar namun sudah ku jual. Rumah ini aku beli dari hasil jual tanah warisan milik orang tuaku!"Gerutu Weni.


"Berapa hutangmu Wen?"Tanya Arumi kembali.


"Dua miliar Rum! Aku tidak bisa membayarnya. Dua miliar? Aku mendapatkannya dari mana untuk membayar uang sebanyak itu!"Ucap Weni seraya menundukkan kepalanya.


"Apa mungkin ini kesempatan bagiku. Tapi apa Weni mau menikah dengan Mas Zidan untuk memberikan keturunan saja. Lalu setelah itu mereka bercerai"Batin Arumi.


Arumi mulai membuka niatnya kepada Weni. Mungkinkah Weni mau menerima niat yang akan ditawarkan oleh Arumi dengan imbalan uang miliaran jika dia mau menjadi istri kedua untuk sementara sampai dia bisa memberi anak untuknya.


"Wen sebenarnya aku sedang mencari wanita yang mau menjadi istri kedua dari Mas Zidan. Namun yang kami inginkan wanita yang mau memberi kami anak dan setelah itu bercerai dengan Mas Zidan. Wanita itu akan aku kasih imbalan uang yang tidak sedikit jika dia mau menikah untuk memberi kami anak"Ujar Arumi dengan jelasnya.


"Istri kedua? Berapa uang yang akan kamu kasih?"Tanya Weni penasaran.


"Lima miliar!"Jelas Arumi.


"Lima miliar? Bagaimana jika aku yang akan menjadi istri kedua Mas Zidan!"Weni tergiur dengan uang lima miliar uang ditawarkan oleh Arumi.


"Kau serius Wen? Aku sangat senang jika kau mau memberiku anak"Arumi merasa sangat senang namun ia tidak memikirkan hal-hal yang mungkin saja bisa terjadi.


"Aku akan memberimu anak"Weni telah bersepakat dengan Arumi. Kini tinggal Arumi membujuk Zidan agar mengerti dengan niatnya.

__ADS_1


__ADS_2