
Dibalik pintu rumah mereka mendengar perdebatan antara Danu dan Alberto yang sedang memperebutkan peralihan perusahaan milik Alberto. Maria sampai tidak sabar dan ingin segera masuk menemui mereka.
"Stop Maria!"Zidan menghentikan Maria yang begitu agresif ingin masuk kedalam Rumah notaris tersebut dengan raut wajah penuh amarah.
"Kenapa? Kita harus menyelamatkan ayah bukan? Sebelum semua terlambat!"
"Tahan dulu Maria. Lebih baik kita panggil polisi!"
"Baiklah ayo cepat, kau yang menelfonya!"
Kemudian Zidan mengambil ponselnya yang berada didalam tas kemudian membuka kontak dan memanggil polisi untuk datang secepatnya.
******
"Kau sangat licik Danu! Dan kau Pak Agus kau adalah orang terpercaya Negara kenapa kau mau berbuat hal kotor seperti ini!"
"Maaf Pak, saya bekerja mencari uang dan jika uang itu datang sendiri padaku kenapa aku tidak mengambilnya?"
"Tapi kau adalah pengabdi Negara!"
"Terkadang ada satu hal yang bisa membuat seseorang lupa dengan dirinya sendiri"
"Apa alasanmu!"
"Aku bahkan melakukan ini semua untuk keluarga, untuk anak istri! Aku melakukan hal yang kotor untuk membahagiakan keluarga, bukan orang baik dengan pekerjaan baik namun tidak mengutamakan keluarganya dan lebih memilih menggauli orang-orang yang kotor! Mungkin seperti Anda! Bahkan Anda mau merelakan hartamu untuk orang lain dan membohongi keluargamu sendiri!"Tegas Agus membuat Alberto meredupkan pandangannya yang tajam menjadi kendur.
"Untuk apa kau menyesal Alberto!"Pekik Danu kepada Alberto.
"Semua ini gara-gara kau Danu!"
"Hahaha. Kau lihat laki-laki tua! Agus saja rela melakukan hal seperti ini untuk keluarganya, kau bodoh! Kau malah membohongi keluargamu sendiri demi perusahaan yang besar dan yang lebih gila kau sangat bahagia sekali memberikan perusahaanmu padaku? Hahaha"Danu nampak sangat puas dan merasa sudah berhasil mendapatkan apa yang dia mau.
Alberto spontan mendekati Danu dan memegang lehernya.
"Tutup mulutmu! Lihat saja kau akan tersungkur dan menyesali segala perbuatanmu!"
"Kau ingin mematahkan leherku? Tunggu! Apa tanganmu yang lemah ini sanggup mematahkan leherku?"Danu semakin menantang membuat Alberto semakin emosi dibuatnya.
"Kurang ajar!"
"Stop!"
__ADS_1
Ketika Alberto hendak mencekik Danu, Agus langsung menahan mereka dengan berteriak dan membulatkan kedua bola matanya sangat tajam. Alberto lantas melepaskan tangannya dari leher Danu.
"Untuk apa kalian terus berdebat, bukankah urusan kami sudah selesai! Lebih baik kalian pergi dari sini!"Bentak Agus.
Danu dan Alberto saling menatap, tatapan yang tajam nampak dari bola mata kedua laki-laki bodoh itu.
"Diam ditempat atau kalian akan celaka!"
Dan tak menunggu lama polisi datang mengacungkan pistol memberi tanda peringatan kepada mereka bertiga.
"Polisi!"Ujar Danu.
"Apa polisi!"Ujar Alberto.
"Siapa yang sudah memanggil polisi datang kesini!"Ujar Agus.
Mereka bertiga tercengang melihat polisi datang. Mereka bertiga mengangkat kedua tangannya dan duduk berjongkok.
"Kami mendapatkan laporan jika dirumah ini ada penipuan. Penipu atas nama Danu?"Ujar salah satu polisi tersebut.
"Dia orangnya pak!"Maria, Ellen Zidan Jaklen dan wen tiba-tiba masuk dan menunjuk kearah Danu sebagai penipu.
"Apa yang kalian katakan!"Ujar Danu dengan tidak terima.
"Disini ada dua penipu, dia orangnya!"Danu menunjuk Agus membuat Agus kaget dan tidak menyangka jika hari ini ia harus mendekam dipenjara.
"Dia bukan penipu! Penipu satu-satunya adalah Danu!"Ujar Alberto.
"Sialan!"Pekik Danu seraya mengepal tangannya.
Polisi langsung melakukan penangkapan kepada Danu dan memborgol kedua lengan tangannya. Sementara itu Danu tidak melawan ia menjatuhkan sertifikat perusahaan dari genggamannya dan diambil oleh Alberto.
Maria dan Ellen langsung menangis dan memeluk Alberto dengan sangat haru.
"Bawa dia pak, penipu seperti dia jangan beri ampun. Hukum seumur hidup!"Ujar Zidan kepada polisi.
"Kau menang hari ini, lihat saja nanti!"Ujar Danu seraya berjalan pergi mengikuti arahan polisi. Dituntun polisi Danu masuk kedalam mobil khusus tahanan menuju tahanan untuk dimintai keterangan sebagai tersangka.
Alberto menyesali semua perbuatannya, ia sudah salah menilai Danu, dan sudan membohongi keluarganya sendiri. Agus merasakan keharuan yang ada didepan matanya sendiri kenapa Alberto mau membela dirinya padahal Agus sudah mengkhianati Alberto.
"Sebelumnya saya mau bilang terimakasih, bapak sudah membela saya. Laki-laki kotor seperti saya seharusnya tidak perlu bapak bela, biarkan polisi itu membawa saya mendekam dipenjara bersama laki-laki penipu itu"Dengan mata berkaca-kaca Agus mengungkapkan rasa menyesalnya kepada Alberto.
__ADS_1
"Kita sama-sama korban. Kau melakukan itu untuk keluarga bukan? Saya juga sepertimu, saya melakukan itu untuk anak dan istrimu. Kau melakukan itu untuk memberi nafkah mereka, jika kau dipenjara siapa yang memberikan mereka nafkah, saya percaya kau bukanlah orang jahat dan aku harap kau tidak mengulangi kesalahan seperti ini lagi!"Jelas Alberto seraya memegang pundak Agus.
"Seharusnya aku tidak melakukan ini, sungguh ini pertama kalinya aku melakukan kesalahan entah setan apa yang sudah menghasutku melakukan hal bodoh seperti ini!"Ujar Agus.
"Saya percaya padamu. Saya pamit pulang dulu keluargaku sudah menunggu"Ujar Alberto dan berlalu pergi.
"Terimakasih pak, dari kejadian ini kita sama-sama tau arti dari sebuah keluarga. Tidak perlu mewah asal keluarga bahagia"Agus menutup pintu rumah ketika mobil mereka sudah melaju melewati gerbang rumahnya.
*******
Sesampainya dirumah Zidan langsung masuk kedalam kamar melihat Aini dan Arumi sudah tertidur pulas.
"Kau sudah tidur sayang?"Bisik Zidan tepat ditelinga Arumi yang masih tertidur. Merasa geli Arumi membuka matanya dan melihat sang suami sudah pulang pukul 2 malam.
"Mas kau baru pulang, aku khawatir kau tidak pulang malam ini"Ujar Arumi seraya membelai rambut Zidan yang masih memeluknya.
"Mana mungkin aku tidak pulang, aku sangat rindu padamu"Zidan menindih tubuh Arumi dan menatapnya dengan mesra.
"Aku bahkan sudah merindukanmu sejak pagi"
"Sejak pagi? Bukankah tadi pagi aku masih dirumah"
"Ya, kau memang masih dirumah namun kau lupa memberiku sesuatu"
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak ingat?"
Zidan semakin penasaran apa yang sedang dibicarakan oleh Arumi. Bahkan ucapan Arumi tidak masuk akal baginya.
"Aku tidak tau apa yang kau katakan sayang, maksudmu apa?"
"Kau ini!"
Arumi malah menjadi kesal dan tidak mau mengelus rambut Zidan lagi. Arumi memalingkan badannya dengan membelakangi Zidan yang masih penasaran dengan sikapnya.
Tidak perduli dengan kekesalan Arumi Zidan memilih memejamkan matanya, rasa ngantuk yang teramat dalam membuatnya tidak membutuhkan waktu lama untuk tidur dan melupakan kekesalan sang istri. Arumi tidak menyadari Zidan telah tertidur, dia bahkan mengajak Zidan bicara tentang maksud dari kekesalannya itu.
"Mas kau tau, kemarin adalah hari ulang tahunku kau malah melupakannya dan sekarang kau benar-benar lupa dengan hari ulang tahunku! Beliin aku kado juga enggak, kau malah terus bertanya, kau memang tidak peka Mas"Ujar Arumi kepada Zidan, namun yang ia dengar hanyalah dengkuran sang suami.
Arumi membalikkan badannya dan benar saja, Zidan sudah tertidur dan mulai mendengkur keras.
__ADS_1
"Kau ini Mas, diajak ngobrol malah ngorok!!"Arumi mengambil boneka mini milik Aini dan menyumpalnya diatas mulut Zidan agar dengkurannya tidak terlalu keras.
Arumi bertambah kesal, akankah rasa kesalnya sampai pada esok hari?.