Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
50.KOPI LENDOT


__ADS_3

Setelah pernikahan mereka sudah sah tiba-tiba Laras datang dan berteriak.


"Hentikan semua ini! Dasar pengkhianat!"Teriak Laras membuat semua orang yang berada didalam rumah langsung tercengang.


Namun semua itu sudah terlambat, mereka sudah sah menjadi suami istri didepan penghulu dan para saksi. Laras merasa telah dikhianati oleh Zidan, ia bahkan tidak terima dengan pengkhianatan Zidan dan Arumi.


"Apa! Jadi semua ini memang pernikahan sungguhan?"Ucap Arumi kepada Zidan.


"Apa yang kau pikirkan! Memang aku menikahimu sungguhan siapa yang main-main, aku juga tidak menikahi Laras karena aku tidak mencintainya!"Ucap Zidan kepada Arumi.


"Omong kosong! Lalu apa yang kemarin kau katakan padaku!"Pekik Laras kepada Zidan.


"Aku tidak pernah mencintai kamu sama sekali, aku hanya kasihan denganmu!"Ucap Zidan seraya memegang tangan Arumi.


Tak lama kemudian Delia datang dan langsung menangis melihat pertengkaran mereka."Maafkan Ibu Zidan, Ibu tidak bisa menahan Laras"Ucap Delia kepada Zidan.


"Laras sudah hentikan, ayo kita pulang!"Ucap Wisnu dengan lantang.


"Tidak! Aku tidak akan biarkan mereka bahagia!"Pekik Laras seraya mengacungkan jari telunjuknya ke arah mereka.


Namun Laras tetap kekeh dan tidak mau menuruti Wisnu, ia justru semakin emosi dan tidak mau menerima semua yang sudah terlanjur terjadi.


"Aku tidak menyangka Zidan! Kau tega melakukan ini kepada Laras!"Ucap Wisnu.


"Tapi Ayah, aku sungguh tidak mencintai Laras sedikitpun"Ucap Zidan.


"Tapi bukan begini caranya, kenapa justru dihari pernikahan kau malah meninggalkan Laras!"Ucap Wisnu kepada Zidan.


"Aku mendengar Arumi batal menikah, aku mencintainya aku mau menikahinya maafkan aku Ayah"Ucap Zidan seraya menangis.


"Aku juga minta maaf Wisnu, aku tidak menyangka semua ini akan terjadi kepada Arumi, calon suaminya meninggal dihari pernikahan dan Zidan yang mengantikan posisinya"Seraya tertunduk Zaki bercucuran air mata.


"Tapi pada akhirnya Laras yang menjadi korban Zaki"Ucap lemas Wisnu kepada Zaki.


Sementara itu orang tua kandung Zidan hanya bisa terdiam dan menangis melihat sikap Putranya, mereka tidak menyangka Zidan bisa melakukan hal seperti itu kepada Laras.


Ketika semua sudah terdiam Laras tiba-tiba lari dan mengambil gelas kaca yang berada di atas meja, Laras langsung memecahkan gelas tersebut dan mengambil sebagian dari pecahan gelas itu. Semua orang syok melihat sikap Laras yang begitu keras.


"Kalian lihat ini! Aku akan mati didepan mata kalian dengan pecahan gelas ini!"Ucap Laras seraya memegang pecahan gelas.


"Hentikan Laras, apa yang akan kau lakukan!"Teriak Wisnu.


"Aku akan mati! Lebih baik aku bunuh diri daripada aku harus melepas Zidan kepada Arumi!"Pekik Laras.


"Laras jangan! Buang pecahan gelas itu, buang Laras!"Ucap Zidan.


"Iya Laras jangan lakukan itu, sadar Laras!"Sambung Arumi.


"Diam kalian dasar pengkhianat! Kalian pasti senang kan lihat aku mati!"Pekik Laras.


Laras semakin berani dan tidak bisa mengontrol emosinya, namun sebagai seorang Ayah tentu Wisnu sangat takut dengan ancaman Laras yang nekat akan bunuh diri didepan matanya sendiri itu benar-benar ia lakukan. Tanpa berfikir panjang Wisnu langsung tertunduk dan memohon kepada anak semata wayangnya itu agar tidak melakukan hal itu.


"Laras Ayah mohon jangan lakukan itu, Ayah tidak punya siapa-siapa lagi Nak selain kamu"Ucap Wisnu seraya menundukkan punggungnya dan menangis.

__ADS_1


"Ayah, aku tahu tapi aku juga tidak sanggup jika hidup tanpa Zidan, lebih baik aku mati!"Ucap Laras seraya terus memegang pecahan gelas tersebut.


Arumi yang kala itu miris melihat keadaan Laras merasa sangat sedih ia merasakan apa yang Laras rasakan, batal menikah dihari pernikahan memang sangat menyakitkan. Entah dari mana datangnya malaikat hati, Arumi tiba-tiba tersentuh dan merasa kasihan kepada Laras.


Laras yang saat itu hendak menggoreskan pecahan gelas pada lengan nadinya tiba-tiba ditahan oleh Arumi, ia langsung lari dan menahan tangan Laras hingga membuat semua orang teriak dan tercengang.


"Stop Laras!!"Ucap Arumi seraya memegang tangan Laras.


"Lepaskan!"Laras berusaha mengibaskan tangan Arumi namun Arumi tetap memegangnya erat.


"Kau akan menikah dengan Zidan sekarang juga!"Ucap Arumi berkaca-kaca.


Mendengar ucapan Arumi Laras menjatuhkan pecahan gelas dan meneteskan air matanya.


"Kau sungguh?"Tanya Laras.


"Iya, ikut denganku"Dengan berat hati Arumi menggandeng Laras menuju kepada Zidan.


Semua orang ikut menangis melihat perjuangan mereka, Zaki dan Lisa hanya terdiam sedangkan Delia dan Wisnu beberapa kali mengusap air matanya yang terus melintas diatas pipinya.


Semakin dekat Arumi membawa Lisa kepada Zidan, namun Zidan malah memalingkan wajahnya dan berkaca-kaca, pernikahan yang tidak ia inginkan malah akan terjadi dalam hidupnya, entah apa yang terjadi pada Arumi sehingga ia bisa berbuat seperti itu.


"Mas(panggilan baru), menikahlah dengan Laras"Ucap Arumi dengan jelas.


"Tidak bisa! Aku tidak bisa menikahinya"Ucap Zidan seraya memalingkan wajahnya.


"Kenapa tidak bisa? Kau saja bisa menikahiku? Padahal aku tidak ingin menikah denganmu jika itu bukan karena terpaksa!"Pekik Arumi.


"Kau tidak mau menikahi Laras?"Tanya Arumi kembali.


"Lalu bagaimana denganmu?"Tanya Zidan seraya memandang tajam mata Arumi.


"Aku akan senang karena aku tidak mencintaimu!"Ucap Arumi terpaksa, agar Zidan mau menikahi Laras.


"Aku yakin suatu saat kau pasti akan mencintaiku! Jika ini bukan permintaamu aku tidak akan pernah menikahi Laras!"Ucap Zidan.


"Aku minta kau nikahi Laras sekarang."Ucap Arumi kembali.


Dengan berat hati Zidan menerima permintaan Arumi, karena jika Zidan tidak menikahi Laras maka Laras akan bunuh diri karena pengkhianatan dirinya. Ia juga merasa bersalah dengan semua yang sudah diperbuatnya kepada Laras.


Hari ini adalah hari yang bersejarah dimana penghulu menikahkan dua wanita dengan satu pria yang sama, mereka adalah kakak beradik yang tidak sedarah dan menikah bersama. Penuh haru dan sangat menyayat hati setelah menyaksikan pengorbanan mereka bertiga.




Malam ini adalah malam pertama mereka bertiga, Zidan mengajak kedua istrinya tinggal dirumah pribadi yang beberapa waktu lalu sudah dibelinya. Zidan tidak tinggal bersama keluarga karena ia lebih suka hidup mandiri apalagi ia sudah menikah dengan dua wanita.



"Mas sedang apa?"Tanya Laras.


__ADS_1


"Sedang ngurus pekerjaan kantor"Ucap Zidan.



"Nih aku buatkan kopi diminum ya Mas?"Ucap Laras kembali.



"Tidak usah, kau bawa saja kedapur aku sedang tidak ingin minum kopi"Ucap Zidan dengan.



"Oh gitu, yaudah aku tunggu dikamar ya Mas?"Tanya Laras sekali lagi.



"Iya"Sahut Zidan.



Setelah Laras pergi tak lama kemudian Arumi datang dan membawa secangkir kopi untuk Zidan, namun hal itu diketahui oleh Laras, ia diam-diam melihat Arumi memberikan secangkir kopi untuk suaminya itu.



"Mas nih aku buatkan kopi, sambil melendot dipundakmu aku ingin melihatmu minum kopi cinta buatanku"Ucap Arumi seraya melendot dipundak Zidan tak lupa sedikit senyum manis pada bibirnya.



"Makasih ya kamu tau aja aku pingin kopi"Ucap Zidan seraya tersenyum.



"Kan aku istrimu Mas"Ucap Arumi mesra tepat di telinga Zidan.



"Istri yang tidak mencintai seorang suami?"Tanya Zidan seraya memandang mata Arumi penuh mesra.



"Aku mencintaimu, sebagaimana kau mencintaiku Mas"Balas Arumi tersenyum.



"Terimakasih sayang"Balas Zidan.



Hal itu membuat Laras cemburu dan kesal dengan Zidan, ia kesal karena kopi yang ia tawarkan ditolak mentah-mentah sedangkan punya Arumi ia minum dan begitu senang dengan kopi buatan Arumi. Ia juga begitu mesra dengan Arumi tidak seperti ketika bersama dirinya.



"Ternyata ucapan Arumi yang mengatakan ia tidak mencintai Zidan hanyalah omong kosong belaka!"Batin Laras.

__ADS_1


__ADS_2