Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
34.BERADU MULUT KARENA WARISAN


__ADS_3

Pagi yang sejuk terasa hening ketika duduk seorang diri di taman kampus. Zidan merasa sangat kesepian ketika mengetahui orang-orang yang ia sayangi bukanlah keluarganya.


"Sekarang aku merasa seperti orang asing!"Ucap Zidan.


Seperti biasa pagi ini Arumi mendatangi Zidan yang tengah duduk sendiri di taman kampus. Seperti sudah terbiasa sebelum masuk ke kelas Arumi selalu menemui Zidan di taman kampus untuk sekedar menyapa dirinya.


"Kak"Arumi datang dan duduk bersama Zidan.


"Rum, bagaimana kabar Mama dan Papa?"Tanya Zidan.


"Baik kak, oh ya Kak Zidan nanti malam disuruh datang ke Rumah baru sama Papa"Ucap Arumi.


"Ada apa?"Tanya Zidan kembali.


"Gak tau, penting katanya"Ucap Arumi.


"Ya sudah nanti kakak datang"Zidan merasa bukanlah keluarga mereka lagi, melainkan orang asing yang masuk ke dalam keluarga mereka.


"Sama Ibu ya Kak, oh ya kakak kemarin baca Novel apa? Aku mau dong baca kayaknya ceritanya seru"Ucap Arumi kepada Zidan.


"Berbagi suami dengan sahabat Rum, baca saja Novelnya seru kok"Ucap Zidan.


Lalu mereka membaca Novel itu bersama. Mereka tidak merasakan jika cerita yang ada dalam Novel berbagi suami dengan sahabat, sama persis seperti sedang menceritakan kehidupan orang tua mereka.


🌻🌻🌻


Malam hari...


"Bu, sudah siap?"Tanya Zidan kepada Delia ketika hendak pergi kerumah Arumi.


"Oh, sudah dong nak"Delia begitu sangat senang akan diajak kerumah Zaki mantan suaminya itu.


"Bu, aku mohon Ibu jangan bicara macam-macam ya"Zidan meminta Delia agar tidak bicara seenaknya ketika berada dirumah Arumi.


"Kenapa? Kau berani mengatur Ibu!"Delia marah dengan Zidan yang sudah berani mengatur dirinya.


Melihat sang Ibu marah Zidan tidak melanjutkan pembicaraannya lagi. Ia mengajak Delia berangkat sekarang juga karena keluarga Arumi pasti sudah menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Delia terlihat sangat senang, entah apa yang dia pikirkan sedangkan Zidan ia merasa khawatir jika sang Ibu akan bicara macam-macam.


Tidak lama kemudian mereka sampai di istana megah milik Zaki yang baru beberapa bulan dibelinya.


"Zi, andai Rumah megah ini akan menjadi rumahmu pasti Ibu akan sangat bangga padamu"Ucap Delia ketika perlahan menapakan kakinya di depan gerbang istana milik Zaki.


Tidak terasa langkah kaki mereka sudah sampai di depan pintu yang sudah terbuka lebar. Mereka segera masuk dan menemui keluarga Arumi.


"Zidan, kau sudah datang"Ucap Zaki kepada putra yang bukan anak kandungnya sendiri.


"Kakak"Arumi selalu senang jika bertemu sang kakak.


"Silahkan duduk Zidan, Delia"Lisa mempersilahkan mereka duduk dan menjamu makanan yang ada dimeja.


"Zidan duduk yuk"Ucap Delia.


Setelah mereka selesai menyantap makanan bersama kini Zaki akan menyampaikan maksud dan keinginannya kepada Zidan.


"Sebelumnya terimakasih kalian sudah mau datang kesini, aku harap hubungan kita akan terus baik seperti ini"Ucap Zaki di awal pembicaraannya.


"Iya Pah, Zidan juga berharap kami akan terus baik-baik seperti ini"Ucap Zidan dengan nada layu.


Lalu Zaki memberi tahu Delia jika ia dan keluarga mengundangnya karena akan ada pembagian warisan kepada Arumi dan Zidan.


Mendengar itu Delia begitu sangat bergairah, ia sangat senang dari dulu hal itulah yang dia tunggu-tunggu.


Namun tidak dengan Zidan. Ia justru merasa sangat berdosa sudah membohongi mereka. Ia bukanlah anak kandung Zaki melainkan anak ora lain yang diadopsi Delia.


"Pa, jika aku tidak mendapat warisan aku tidak keberatan, aku tidak meminta apapun dari Papa"Ucap Zidan begitu lembutnya.


Namun Delia justru tidak setuju dengan Zidan.


"Apa maksudmu! Bukankah itu hal wajib! Kamu juga anaknya, kamu wajib mendapatkan warisan dari Papamu!"Pekik Delia membuat Zidan terdiam.


"Ma!"Arumi tiba-tiba memeluk Lisa karena merasa takut dengan Delia.


"Zidan, Ibu kamu benar. Kamu juga anak Papa kamu juga punya hak atas harta Papa"Ucap Zaki.

__ADS_1


Namun bukan hal itu yang Zidan inginkan. Zidan hanya ingin membalas kebaikan mereka tanpa meminta apapun. Ia hanya bisa mengikuti kemauan sang Ibu untuk menyenangkan hatinya.


"Lalu, apa saja yang akan kamu berikan untuk Zidan? Pasti sama rata kan dengan Arumi!"Delia meminta harta warisan itu tidak jauh tapi sama rata dengan Arumi.


"Bu! Biarkan Papa yang bicara!"Pekik Zidan lalu Delia terdiam.


Kemudian Zaki merinci harta warisan yang akan dibagi untuk kedua anaknya.


Zidan mendapat Rumah lama dan sebidang tanah serta satu mobil ditambah lagi uang hanya seperempatnya saja. Sedangkan Arumi mendapat dua mobil dan rumah baru serta perusahaan milik Zaki beralih ke tangan Arumi. Tidak hanya itu masih ada uang dan sebidang tanah untuk Arumi.


Bagi Zidan harta warisan itu sangat banyak, namun Delia tidak setuju dengan semua itu. Ia merasa milik Arumi lebih banyak dari Zidan.


"Tidak! Kenapa Zidan hanya mendapat seperempat dari hartamu! Sedangkan semua sisanya kau berikan kepada Arumi!"Delia tidak terima dengan semua ini.


"Bu, sudah! Aku tidak minta apapun dari Papa, walaupun hanya seperempatnya tapi itu sudah besar bagiku!"Ucap Zidan kepada Delia.


Melihat mereka beradu mulut Lisa dan Arumi hanya terdiam dan tidak menyambung pembicaraan mereka sedikitpun.


"Aku rasa semua itu sudah banyak untuk Zidan tapi jika kau meminta lebih dari itu nanti akan aku berikan lagi satu mobil untuknya!"Ucap Zaki kepada Delia.


"Aku minta separuh perusahaan untuk Zidan! Aku minta semua itu diberikan dalam bentuk uang!"Delia kekeh terus meminta warisan yang sama rata dengan Arumi.


"Tapi itu perusahaanku dengan Lisa! Itu diluar pernikahan kita dulu!!"Zaki emosi dan marah kepada Delia dia benar-benar sudah gila harta.


"Stop!!!"Pa, Ma, aku pamit dulu. Terimakasih semuanya"Zidan pergi dengan menarik tangan Delia begitu saja. Ia merasa sangat malu dengan sikap sang Ibu.


Zidan terus menarik Delia sampai ke dalam mobil. Ia tidak perduli dengan sikapnya yang kasar semua itu ia lakukan agar sang Ibu tidak terlihat gila harta di depan keluarga Arumi.


Namun rasa perhatiannya tidak dihiraukan Delia. Ia malah memarahi dan terus menyalahkan Zidan.


"Bu, aku mohon sudahi semua ini!"Zidan meminta agar dendam sang Ibu segera dihilangkan.


"Tidak bisa! Jika mereka masih bahagia maka aku akan terus membuat mereka menderita!"Ucap Delia begitu lantang.


Zidan tidak tahu lagi harus berbuat apa, ia tidak mungkin membuat keluarga Arumi menderita karena ulang sang Ibu.


Setelah mendapat warisan dari Papa Zaki Zidan menyerahkan itu semua kepada Delia. Ia tidak meminta semua itu, baginya itu adalah permintaan sang Ibu. Delia hanya meminta harta sebagai bentuk balas budi dari Zidan kepada dirinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2