Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
76.GAGAL DINER


__ADS_3

Malam yang gersang menutup semua bintang perlahan bulan mulai berwarna keabu-abuan menandakan langit diselimuti jutaan kabut yang datang silih berganti. Hujan mulai turun mengguyur seisi bumi yang tengah beraktivitas dimalam hari.


Namun pohon dan sejenisnya justru menari-nari merasakan kesegaran rintikan air hujan yang belum tentu dirasakannya setiap hari. Akarnya menguat menumbuhkan tunas baru yang akan menjadi bunga-bunga yang indah.


Arumi yang sedari awal sudah siap dengan gaun merahnya kini hanya bisa duduk dipinggir ranjang. Sementara itu Zidan tidak menghiraukannya ia justru senang dengan turunnya hujan sehingga malam ini tidak ada diner dipinggir pantai yang diinginkan Arumi.


"Gagal diner malam ini gagal!"Arumi cemberut sambil melihat derasnya air hujan lewat jendela kamar hotel.


"Untuk apa kau merenung, bukankah kita bisa diner dikamar ini!"Sahur Zidan sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Tapi aku mau dipinggir pantai sambil kita makan malam, aku ingin seperti film drama yang romantis"Ujar Arumi.


"Kau benar-benar sangat merepotkan!"Zidan beranjak dari ranjangnya lalu mematikan lampu kamar dan mendekati Arumi.


Zidan memeluk Arumi dari belakang dengan penuh gairah, merabanya dan meremas buah kenyalnya yang beberapa hari ini tidak tersentuh.Arumi menelan ludahnya merasakan kenikmatan malam ini, membuatnya lupa akan semua masalahnya.


"Kau membuatku sangat gairah sayang, malam ini kau sangat catik"Zidan mulai menciumi leher Arumi dan membuatnya semakin gemetar kenikmatan.


Perasaan sudah sampai di ubun-ubun Zidan segera membopong Arumi dan membaringkannya diatas sofa. Zidan langsung membuka kaki Arumi dan mulai melakukannya.


Rasa nikmat membuat Arumi meremas kencang pundak Zidan dengan segala kenikmatannya. Derasnya susu kental membuat Zidan melepaskan des4han berkali-kali menahan rasa nikmat ketika sampai pada puncaknya.


Pagi hari...


Arumi membuka gorden jendela membiarkan sinar matahari masuk menerangi ruangan. Zidan masih terlelap dalam tidurnya betapa lelahnya dia semalaman sampai 3x melakukannya.


Arumi keluar dari kamar Hotel menuju restoran mencari sarapan pagi. Karena Zidan masih tertidur ia memutuskan sarapan lebih dulu.


Ketika Arumi berjalan menuju lorong ia berpapasan dengan Maria, karena tidak saling mengenal maka tak ada yang aneh diantara mereka. Maria hanya menyapanya dengan senyuman.


"Hai selamat pagi"Dengan rambut terurai Maria menyapa Arumi.


"Hai pagi juga"Jawab Arumi dengan senyuman penuhnya..


"Dia ramah sekali, aku bahkan baru menemukan orang seramah itu"Ujarnya.

__ADS_1


Sampainya direstoran Arumi mendudukan dirinya dan memesan makanan ringan agar berat badannya tetap ideal. Hanya roti oven dan secangkir susu hangat menu sarapannya pagi ini.


Dia mulai memakannya sambil bermain ponsel tiba-tiba Arumi menerima pesan WhatsApp dari Zidan rupanya pria gagah itu sudah bangun dari tidurnya.


"[Kau dimana aku lapar!]"Pesan singkat yang dikirim Zidan untuk Arumi.


"[Aku sedang ada direstoran kau kesini saja]"Balasnya.


Lalu tak lama kemudian Zidan turun menemui Arumi direstoran dengan wajah kesalnya Zidan menghampiri Arumi yang tengah duduk sendiri.


"Kau tidak membangunkanku kau malah sarapan sendiri, kau tidak perduli padaku lagi! Kau tidak memikirkan ku lagi!"Ucap Zidan kepada Arumi.


"Aku tidak tega Mas melihat kamu masih tidur kelelahan, kau juga ngiler tidurnya!"


"Kau mau malu-maluin aku disini, bilang aku ngiler segala!"


"Hehe ternyata laki-laki juga bisa ngiler ya Mas"Arumi hanya tertawa melihat kekesalan sang suami.


Zidan terdiam menahan rasa kesalnya dalam hati."Kau pesankan aku makanan sekarang aku lapar"Ucap Zidan.


"Mau makan apa Mas biar aku pesankan?"


Zidan masih penasaran dengan Maria dan Danu. Pasalnya mereka berdua ada di hotel yang sama namun Zidan tidak pernah melihatnya lagi. Sudah 3 hari mereka berlibur di Bali Zidan memutuskan sehari lagi berada disana karena akan mengurus pekerjaan yang bekerja sama dengan perusahaan Maria.


Makanan pesanannya sudah datang Arumi membawakannya langsung untuk sang suami.


"Kau makan ini Mas, masih hangat"Ucap Arumi.


"Rum, kita pulang besok ya? Aku banyak pekerjaan yang harus diselesaikan"Ujar Zidan kepada Arumi.


Arumi enggan menjawab karena baru 3 hari mereka berlibur. Belum puas untuk Arumi menikmati keindahan pantai Bali dan wisata alam lainnya.


"Kau marah padaku? Kenapa kau tidak menjawabnya?"Tanya Zidan.


"Aku mengikuti semua kemauanmu!"Jawab Arumi singkat.

__ADS_1


"Lain kali kita berlibur lagi, kau jangan marah nanti cantiknya hilang"


"Ya Mas maafkan aku. Aku tidak marah"Begitu manisnya senyum Arumi kepada Zidan.


"Senyummu membuat kopi ini terasa lebih manis dari pada pahitnya"Zidan memegang tangan Arumi dengan rasa sayangnya.


Setelah makan mereka akan kembali ke kamar untuk merapikan semua barang-barangnya. Karena besok mereka akan pulang meninggalkan Bali.


Sesampainya didepan pintu kamar hotel tiba-tiba terdengar suara laki-laki dan perempuan sedang tertawa tepat dibelakang mereka.


Rasa penasaran Zidan membuatnya menengok kebelakang namun laki-laki dan perempuan itu sudah masuk kedalam kamar.


"Kok aku tidak asing dengan suaranya? Hmm entahlah!"Gumam Zidan.


"Siapa Mas?"Tanya Arumi heran.


"Bukan apa-apa kita masuk saja"Jawabnya.


Zidan tidak mengetahui jika kamarnya bersebelahan dengan kamar Danu dan Maria.


Arumi merapikan baju-bajunya Zidan pun ikut membantunya, disela-sela membantu sang istri Zidan rupanya masih berharap Arumi segera hamil dan mempunyai keturunan.


"Sudah 2 tahun pernikahan kita Tuhan belum menghadirkan malaikat kecil untuk melengkapi hidup kita"Seraya melipat baju Zidan tidak sadar telah membuat perasaan Arumi menjadi sedih seketika.


"Mas andai aku bisa memberimu anak aku pasti sudah memberikannya, tapi semua ini kuasa Tuhan aku tidak bisa membuat takdirku seperti yang aku mau"Berlinang air mata Arumi membasahi baju yang ada dipangkuanya.


"Aku sudah bersabar tapi jiwaku selalu merindukan sesuatu yang sudah pergi. Aku ingin anaku kembali dan berharap lahir dari rahimu sebagai obat untuk melepas rinduku pada anaku yang tengah bahagia bersama Laras di surga sana"Seorang laki-laki kuat seperti Zidan dia sampai bisa menangis karena hatinya sangat terluka.


Arumi meninggalkan Zidan dan beranjak dari ranjangnya dan bersandar pada jendela kamar hotel. Arumi menangis merasa pilu dengan keadaannya. Zidan melihat kesedihan Arumi namun tak dipungkiri ia juga merasakan hal yang sama dengannya.


"Aku akan melakukan apa saja agar Mas Zidan bisa mempunyai anak, namun tidak mungkin anak itu lahir dari rahimku! Aku sudah kedokter dan dokter mengatakan aku mandul!"Batin Arumi.


Pada suatu hari Arumi pergi ke Rumah sakit diam-diam dengan menggunakan taksi online. Arumi tidak memberi tahu siapapun tentang kepergiannya itu Laras pun tidak mengetahui hal itu, setelah diperiksa dokter mengatakan pernyataan yang sangat menyakitkan dimana ia divonis mandul dan tidak bisa mempunyai anak.


Hatinya hancur dan memberontak, sakit, perih semua rasa menjadi satu dan disimpannya dalam-dalam agar Zidan tidak mengetahui semua itu. Semua itu karena ia tidak mau diceraikan oleh suaminya jika tau yang sebenarnya.

__ADS_1


"Aku akan menyembunyikan semua ini dari Mas Zidan!"


Arumi mengusap air matanya dan kembali merapikan baju-bajunya.


__ADS_2