
Semenjak bekerja sama dengan perusahaan Maria kini perusahaannya semakin besar dan terkenal. Namun semua itu tidak lain karena campur tangan sekretaris Qenan dan Jaklen.
Tak dipungkiri semenjak menikah dengan Arumi dirinya bisa menjadi orang sukses seperti sekarang. Bahkan sekarang Zidan sangat kaya berkat mengelola perusahaan yang diwariskan Zaki kepada Arumi ditambah lagi sekarang bisnisnya ada dimana-mana.
"Karena kalian sudah bekerja dengan sangat baik maka aku akan memberimu hadiah dan semua ini tidak akan berhasil jika tidak ada kalian"Ujar Zidan kepada Qenan dan Jaklen.
"Tuan terimakasih banyak!"Qenan tidak bisa berkata apa-apa lagi, bosnya itu benar-benar sangat baik dan selalu memberinya hadiah.
"Kami sangat berterima Tuan!"Ujar Jaklen.
"Uang itu untuk cari istri, dosa jika uang itu kau habiskan sendiri!"Ujar Zidan kepada Qenan.
Qenan hanya tertawa dan salah tingkah didepan Zidan, pasalnya sampai sekarang dia belum punya istri.
"Dan kau Jaklen, berikan uang itu kepada istrimu jangan kau habiskan uang itu dengan selingkuhanmu!"Ujar Zidan kepada Jaklen, Jaklen menggaruk kepalanya karena memang selama ini dia punya teman wanita yang spesial untuknya.
"Hari ini aku ada urusan, jika ada yang mencariku bilang padanya aku sedang sibuk dan suruh temui aku besok pagi!"Ujar Zidan.
"Baik Tuan!"
Qenak dan Jaklen meninggalkan ruangan Zidan dan kembali bekerja dengan penuh semangat.
"Hmm saatnya siang ini aku pulang, ini adalah hari pernikahan menyedihkan yang akan aku laksanakan kedua kalinya dengan wanita asing! Kalau bukan karena Arumi aku tidak sudi melakukan ini!"Gumam Zidan ia pun bersiap-siap kembali ke rumah.
Zidan berjalan keluar dari ruangannya dan pergi meninggalkan kantor, sesampainya ditempat parkir ponselnya berbunyi Arumi yang menelfonya siang itu. Nampaknya mereka sudah siap dan sedang menunggu dirinya.
[Cepat pulang Mas kami sudah siap]"Ujar Arumi lewat teleponnya.
"[Ya, aku akan pulang secepatnya]"Ujar Zidan mematikan ponselnya kemudian masuk kedalam mobilnya.
"Apa tidak ada permintaan lain selain aku harus menikah lagi! Kita kan bisa adopsi anak atau program bayi tabung! Kau malah memintaku menikah lagi apa yang sudah merasuki pikiranmu Arumi!"Gerutu Zidan seraya mengemudikan mobilnya.
Sementara itu Arumi masih menunggu dirumah, karena pernikahan ini tertutup dan rahasia jadi tidak ada hal spesial yang dilakukan Arumi. Weni berpakaian seperti biasa tanpa riasan apapun, sementara itu saksi hanya Arumi seorang diri bersama penghulu yang akan menikahkan Zidan dan Weni.
__ADS_1
Arumi menghampiri Weni yang masih duduk bersama penghulu, Arumi mengajaknya ketempat yang lebih sepi agar penghulu tidak mendengarkan pembicaraan mereka.
"Ada apa Rum?"Tanya Weni kepada Arumi yang tiba-tiba mengajaknya kedapur.
"Kau ingat Wen, pernikahan ini hanyalah pernikahan bayaran artinya setelah kau melahirkan kau harus bercerai dengan Mas Zidan!"Ujar Arumi dengan tegas.
"Oke, aku sangat mengerti Rum! Tapi kau tidak lupa dengan bayaranku kan?"Jelas Wenitl tersenyum.
"Tentu saja! Setelah kau resmi menikah aku akan melunasi bayaranmu sekaligus!"Ucapnya dengan jelas.
Weni menganggukkan kepalanya menyetujui perjanjian itu. Lalu mereka kembali kedepan dan duduk bersama dengan penghulu. Mobil Zidan sudah terdengar parkir di depan rumah itu artinya dia tidak mengingkari janjinya untuk menikah.
"Mas masuk cepet!"Arumi menarik lengan Zidan lalu menariknya masuk kemudian menutup pintunya agar tidak diketahui orang lain jika didalam Rumah itu ada pernikahan.
Setelah sampai didalam rumah pandangan Zidan mulai mengarah kepada mata Weni, nampaknya dia tidak suka dengan pernikahan ini. Sementara itu Weni menundukkan kepalanya merasa sangat malu dengan pernikahan bayaran yang dia lakukan dengan sahabatnya sendiri.
Arumi menuntun Zidan dan mendudukannya disebelah Weni. Zidan hanya terdiam dan menuruti arahan dari Arumi, entah sampai kapan dirinya terus dibuat seperti patung.
"Baik, saya mulai pernikahannya"
Dan pada akhirnya pernikahan rahasia itu selesai dilaksanakan. Arumi terharu bercampur senang, sementara itu penghulu pergi sedangkan Zidan langsung masuk kedalam kamarnya. Weni merasa kebingungan melihat sikap Zidan yang nampak tidak bisa terima dengan pernikahan itu.
"Sepertinya Zidan tidak terima dengan pernikahan ini!"Ujar Weni kepada Arumi sambil menggigit jarinya.
"Tidak! Mas Zidan hanya butuh waktu. Kau tenang saja ini semua urusanku!"Arumi memegang pundak Weni sambil meyakinkannya.
Malam hari...
Karena sudah menjadi istri sah Weni turut duduk bersama dengan Zidan dan Arumi. Weni mendudukan dirinya dan menonton TV bersama dengan mereka, berbaur menjadi satu dengan mereka dan membuang jauh-jauh perasaan tidak nyaman dalam hatinya.
"Mas Zidan kenapa tidak ajak ngobrol Weni, Mas Zidan malah diam aja! Kalo begini terus Weni tidak akan hamil"Batin Arumi.
Arumi mencoba mendekatkan Zidan dengan Weni, ia sengaja meninggalkan mereka berdua dengan alasan ingin buang air besar.
__ADS_1
"Aku kebelakang dulu ya, sakit perut!"Ujar Arumi lalu pergi ke kamar mandi meninggalkan mereka berdua.
Setelah sampai dibelakang Arumi tidak ke kamar mandi melainkan berdiri dibalik tembok seraya mengintip kedekatan mereka berdua.
"Nampaknya mereka tidak saling mengobrol, Weni juga kenapa dia tidak ajak Mas Zidan ngobrol! Ini tidak bisa dibiarkan"Arumi kembali kedepan dan kembali duduk bersama mereka.
"Oh ya malam ini aku tidur sendiri, Weni kau tidur sama Mas Zidan"Ujar Arumi.
"Iya Rum"Jawab Weni.
"Aku bisa tidur sendiri!"Sambung Zidan dengan ketus.
Rupanya Zidan tidak mau tidur dengan Weni, lalu Arumi memberinya kode dengan menginjak kakinya bahwa semua ini adalah pernikahan sementara semata-mata untuk mendapatkan anak.
"Mas, semua ini untuk kita kau harus melakukan ini agar kita bisa mempuyai anak"Ucap Arumi.
"Hmm.. Baiklah!"Gumam Zidan..
Spontan Weni langsung terdiam membisu, betapa tidak! Saat ini dirinya berada dalam permainan yang sangat berat hanya demi uang. Tapi apakah Weni bisa melewati semua ini?.
"Mereka sangat menginginkan seorang anak, aku melihat betapa kerasnya perjuangan Arumi agar bisa mendapatkan anak sampai dia rela membagi suaminya dengan wanita lain!"Batin Weni.
Pukul 12 malam film kesukaannya sudah selesai tayang, saatnya mereka tidur karena waktu sudah larut malam. Arumi berdiri dari duduknya dan membalikkan badannya didepan Zidan dan Weni yang masih duduk bersama.
"Aku sangat berharap kalian bisa menikmati malam ini"Ujar Arumi seraya tersenyum. Lalu Arumi berjalan pergi meninggalkan mereka dan separuh nafasnya terasa sangat berat meninggalkan sang suami bersama wanita lain.
"Siapapun yang tau kisah hidupku pasti akan sangat pilu mendengarnya, namun semua ini hanya aku dan Tuhanku yang tau! Betapa sakitnya hati ini tapi semua ini untuk Mas Zidan aku ingin Mas Zidan mempunyai anak dari darah dagingnya sendiri. Walaupun bukan dari rahimku"Batin Arumi.
Gantian Weni pergi meninggalkan Zidan sendiri di depan TV. Nampaknya Weni canggung dan merasa malu dengan semua ini, entah dari mana akan ia mulai rasanya tak bisa untuk berkata apa-apa selain melarikan diri dari hadapan Zidan dan bersembunyi didalam kamar.
"Kau wanita murahan Weni! Bagaimana aku bisa mempuyai anak dari wanita murahan sepertimu!"Gerutu Zidan.
Malam ini mereka tidak tidur bersama, karena Zidan memilih tidur didepan TV dan tidak menghiraukan perintah Arumi.
__ADS_1