
Menapakan kaki di tanah Bali membuat perasaan Arumi canggung bercampur senang. Pasalnya budaya dan adat disana sangatlah berbeda dengan budaya yang ada di kotanya. Menghormati adalah salah satu cara untuk mempersatukan semua perbedaan yang ada pada dirinya.
"Mas kau sudah pesan hotel?"Tanya Arumi sedikit menghentikan langkahnya.
"Kau tenang saja, semua sudah siap kau tinggal menikmatinya dan jangan lupa datang bulanmu itu suruh cepetan! Nanti aku tidak bisa..."Zidan memandang Arumi penuh isyarat.
"Aku tidak yakin"Ucap Arumi tersenyum membelah bibirnya.
Setelah dua hari berada di kapal kini mereka mencari Hotel terdekat yang ada di kota Bali. Mereka memilih Hotel mewah yang berada dipinggir pantai karena sejak awal Arumi ingin berlibur disana.
Entah apa mungkin memang kebetulan atau tidak lagi-lagi Zidan bertemu dengan Maria dan Danu bahkan satu Hotel yang sama.
"Dia lagi! Kenapa dimana-mana selalu ada dia!"Gumam Zidan ketika melihat Danu berada di restoran Hotel yang sama dengan dirinya.
"Kau kenapa Mas kok berhenti?"Tanya Arumi memandang setiap sudut restoran melihat apakah ada keanehan yang membuat langkah kaki suaminya terhenti.
"Tidak! Aku hanya tercengang melihat kemewahan Hotel ini. Benar-benar sangat mewah"Ujarnya. Melupakan laki-laki pengecut yang berkali-kali mengundang amarahnya.
Sampai dikamar Hotel....
Mereka berdua memasuki kamar Hotel nomor 90 yang berada dilantai 3. Kamar yang tersedia benar-benar mewah dengan segala fasilitas yang ada menunjang semua aktivitasnya selama berada disana.
Dinding berwarna biru muda dengan jendela menghadap langsung kepantai membuat jiwa yang kabut menjadi tenang. Menjelang sore hari pemandangan indah mulai terbentuk dimana matahari mulai meninggalkan langit berganti dengan terangnya bulan dilangit yang hitam tentu saja bercampur bintang, berjajar memancarkan kemilaunya.
"Mas kau mau mandi dulu atau kau mau minum minuman yang hangat? Biar aku buatkan"Ujarnya seraya memegang lengan sang suami.
"Aku mau mau mandi dulu. Kau istirahat saja lagi pula kau juga tidak akan ngapa-ngapain kan?"Rupanya Zidan masih saja memikirkan datang bulan Arumi.
__ADS_1
"Justru aku sangat sibuk, aku sedang menyiapkan semua atribut untuk dipasang dikamar ini untuk merayakan 2 tahun pernikahan kita. Lebih baik kau mandi dulu nanti kita tiup balon bareng hibis itu kita makan malem bersama"Ujar Arumi. Zidan yang tengah berdiri merasa heran melihat tingkah sang istri yang semaunya sendiri.
"Untuk apa semua itu kalo tidak ada kesan romantisnya!"Zidan semakin kesal kepada Arumi yang seolah tidak tahu keinginannya saja.
"Kau ini tidak tahu aku sedang datang bulan!"Pekik Arumi seraya melempar handuk kewajah Zidan.
"Kebetulan sekali aku dari tadi sedang mencari handuk kau memang wanita ajaib!"Zidan mengambil handuk yang jatuh kemudian pergi mandi berjalan sambil bernyanyi.
"Semenjak Laras meninggal Mas Zidan semakin berubah, dia lebih sering kesal kadang marah-marah tidak jelas. Apa mungkin karena merasa saengat kehilangan orang yang dicintai? Apa lagi Laras saat itu sedang hamil anaknya"Batin Arumi.
Selesai mandi Zidan kemudian duduk seraya membuka laptopnya. Arumi yang nampak sibuk memanggil dirinya yang baru saja membuka laptopnya itu namun Zidan tidak menghiraukannya. Berkali-kali Arumi memanggil Zidan tetap tidak perduli ia tahu pasti Arumi hanya akan menyuruhnya untuk meniup balon.
"Mas kau dengar tidak! Aku panggil berkali-kali kau diam saja seperti orang tul*!"Ujar Arumi dengan kesal.
"Aku tidak mau meniup balon aku lagi sibuk ngurus pekerjaan!"Jawab Zidan berpura-pura terus memainkan laptopnya.
"Jadi kau tidak mau ni, ya sudah biar aku makan sendiri makanan disini sangat enak aku bahkan sudah menghabiskan setengah dari makananmu ini!"Gerutu Arumi membuat Zidan tiba-tiba menutup laptopnya dan membalikkan badannya.
"Tidak! Kau menghabiskannya!"Ujar Zidan seraya berlari menghampiri Arumi yang sedang duduk sambil memegang makanan tersebut.
"Kau mau Mas ini masih ada? Tadi aku panggil kau tidak mau sekarang kau tanya makanan ini"Gugup Arumi seraya menyodorkan makanan itu kepada Zidan.
"Kau tau ini makanan kesukaanku, kau malah menghabiskan lebih dari setengahnya"Zidan menyantap makanan yang tersisa membuat Arumi tertawa tanpa suara.
"Kau ini! Makanan tinggal sedikit kau makan juga. Padahal tadi aku tidak sengaja menaruh kembali makanan bekas gigitan ku"Gumam Arumi dalam hati.
"Kau tertawa?"
__ADS_1
"Tidak aku hanya sedang memikirkan diner malam nanti"
"Hanya itu yang kau pikirkan!"Zidan menghentikan makannya.
"Tentu saja! Oh ya selesai makan kau tiup balon-balon ini aku mau mandi dulu oke sayang. Kau harus meniupnya!"Arumi beranjak dari duduknya dan berjalan dengan tertawa seakan mengejek sang suami yang tengah menikmati makanan kesukaannya itu.
"Memaksa sekali dia, untuk apa merayakan ulang tahun pernikahan yang penting kan sudah menikah sudah tidur bersama lalu untuk apa lagi hal seperti itu!"Gumam Zidan.
Mumpung Arumi sedang mandi Zidan memutuskan keluar dari kamar Hotel agar wanita berambut tipis itu semakin kesal padanya Arumi pasti mengira Zidan pergi karena sengaja. Zidan keluar mencari pompa balon terdekat untuk memompa balon.
"Kau pikir aku sanggup meniup 50 balon dengan bibirku ini! Yang ada bibirku malah jontor gara-gara balon-balon itu"Gerutu Zidan sambil terus berjalan mencari toko yang menjual pompa balon.
Setelah beberapa toko tidak menjual pompa balon kini toko terakhir menjual pompa balon. Zidan membeli satu dengan harga 20 ribu dan langsung membawanya pulang ke Hotel.
Namun Zidan justru terkejut ketika masuk kedalam kamar, pasalnya semua balon sudah tertiup dan terpasang rapih di setiap sudut ruangan kamar. Arumi terlihat sedang merapihkan tempat tidur dan menaburkan bunga diatasnya. Zidan menggaruk kepalanya melihat semua yang dilakukan Arumi.
"Kau sudah seperti dukun santet saja yang sedang ritual sambil menabur bunga diranjang! Memangnya kita mau ngapain tidak mungkin kau sedang datang bulan lalu tidur dan melakukan hal itu denganku sambil berguling-guling diatas bunga itu!"Jelasnya sambil berjalan dan duduk dipinggir ranjang.
"Kau hanya bisa kesal dan marah! Kau sekarang berubah Mas apa yang aku lakukan selalu membuatmu kesal!"Ujar Arumi.
"Apa yang kau katakan?"
"Apa yang aku katakan kau berubah!!"Jelas Arumi.
"Mungkin aku terbawa emosi karena kau sedang datang bulan. Aku harap kau mengerti Arumi"Seraya berdiri Zidan mengatakan itu kepada Arumi.
"Aku sudah tidak datang bulan kau tau itu!!"Arumi semakin kesal dan membanting tubuhnya diatas ranjang sambil menutupi dirinya dengan selimut.
__ADS_1
"Arumi kau sudah tidak datang bulan? Tidak! Apa masih ada balon yang masih belum ditiup, jika ada aku akan meniupnya aku sudah membeli pompa untuk meniup balon aku akan membantumu untuk menyiapkan acara ulang tahun kita?"Ujar Zidan dengan penuh semangat.
"Tidak ada dan tidak perlu kau membantuku!"Pekik Arumi.