Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
104.GARA-GARA DOKTER BRAM


__ADS_3

"Hayo sedang apa, kok pagi-pagi udah senyum-senyum sendiri"Zidan mendekati Arumi yang tengah duduk seraya memainkan ponselnya. Rupanya pagi itu Arumi tengah membalas pesan dari dokter Bram, memang akhir-akhir ini dokter Bram sering mengirim pesan kepada Arumi.


"Eh mas, ini loh dokter Bram. Dia chat aku katanya aku harus banyak istirahat dan tidak boleh angkat beban berat termasuk galon, dokter Bram orangnya lucu ya mas ternyata hehe"Jelas Arumi seraya tertawa.


"Nih mas dia bales lagi katanya aku jangan suka makan cabai sama gorengan lagi, dokter Bram memang ya bisa aja kalo becanda"Tambahnya masih tertawa-tawa kegirangan.


"Dokter Bram chat kamu? Memangnya kamu tanya apa sama dia?"Ujar Zidan tersenyum kecil. Ia merasa ada yang aneh dengan sang istri dan dokter Bram.


"Belakangan ini Arumi kok sering ya mendapat pesan dari dokter Bram? Kenapa aku jadi punya pikiran yang tidak baik ya sama dokter Bram"Batinnya.


"Iya dokter Bram emang suka becanda sayang, tapi ingat! Kau jangan sering-sering membalas pesan darinya siapa tau dia lagi sibuk"Zidan duduk namun tidak menatap Arumi, ia terus memikirkan kenapa akhir-akhir ini dokter Bram sering mengirim pesan candaan kepada Arumi.


"Iya mas, tapi dokter Bram masih membalas kok. Itu artinya dia gak sibuk kan"Jelas Arumi kembali. Arumi nampaknya masih terus membalas pesan dari dokter Bram dan menepis semua yang dikatakan sang suami.


Zidan semakin merasa terkecilnya, ia beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Arumi yang tengah membalas pesan dokter Bram dengan tertawa-tawa sendiri.


"Eh mas kok pergi?"Teriak Arumi, namun Zidan tidak menghiraukannya. Berhubung hari minggu Zidan memilih istirahat dikamar.


**********


"Sudah malam kenapa kau tidak tidur?"Tanya Zidan kepada Arumi.


Arumi yang saat itu tengah memainkan ponselnya sambil tiduran tidak mendengar jika sang suami sedang bertanya padanya.


Karena tidak dijawab Zidan kembali membaringkan tubuhnya seraya menarik selimut dan memejamkan matanya melupakan semua rasa penat yang sedang bersemayam dalam pikirannya.


Tak lama kemudian Arumi mendengar dengkuran sang suami, ia lantas meletakan ponselnya di atas bantal dan melihat sang suami sudah tidur bahkan mendengkur begitu keras. Arumi tak sadar sejak kapan Zidan berada disebelahnya.

__ADS_1


"Loh mas, kau sudah tidur? Sejak kapan kau disini bukankah kau bilang mau masak nasi goreng? Aku sama sekali tidak tau kau sudah disini bahkan sudah mendengkur"Gumam Arumi tanpa tau jika sang suami sejak tadi sudah mengamati dirinya sedang asik bermain ponsel.


"Ternyata kebanyakan pasien pribadi dokter Bram mengagumi ketampanannya, nih sampai ada yang lagi hamil besar minta dipegang perutnya sama dokter Bram"Ujar Arumi ketika satu persatu membuka foto yang ada didalam instagram milik dokter Bram. Rupanya Arumi benar-benar penasaran dengan kehidupan pribadi dokter tampan tersebut.


Tak berselang lama Arumi melihat foto seorang anak kecil yang tengah digendong oleh dokter Bram dan seorang wanita, namun ketika akan membukanya tiba-tiba paket data habis dan jaringan terputus. Arumi sedikit kesal dan melempar ponselnya keatas bantal.


"Ih sial, paket habis lagi!"Gumam Arumi.


Melihat waktu sudah larut malam Arumi membaringkan tubuhnya di samping sang suami dan memejamkan matanya, karena tubuh yang sudah sangat lelah Arumi langsung lelap dalam tidurnya dan melupakan kekesalannya kepada ponsel yang tidak bersalah.


***********


Suara ayam menandakan waktu sudah tidak malam lagi untuk meninggalkan mimpi dan menjalani kenyataan dalam bayang-bayang mimpi yang ada di benak hati. Fajar yang nampak semakin terang diiringi matahari yang timbul menjadi penghangat bagi seisi bumi.


Arumi bangun lebih awal untuk menunaikan segala kewajibannya kepada semesta. Perut yang nampak membesar membentuk buah semangka terasa bergerak menyentuh hati di pagi hari. Jari jemari yang mungil begitu terasa ketika tendangan pada perut berulang kali ia rasakan, menjadi seorang ibu begitu sangat membahagiakan bagi Arumi.


Arumi menepi di kursi taman sambil memetik bunga dan menaruhnya di daun telinganya. Tak lama Arumi mendudukkan dirinya tiba-tiba Zidan datang menghampiri dirinya di taman.


"Sedang apa sayang pagi-pagi kok gembira banget?"Ujar Zidan sambil mendudukkan dirinya bersama sang istri.


"Iya mas, entah kenapa pagi ini aku lagi nyaman banget. Rasanya seneng banget, apa lagi liat bunga-bunga bermekaran"Jawab Arumi.


"Tumben gak pegang hp? Pasti pagi ini gak dapet chat dari dokter Bram kan? Aku kan sudah bilang paling juga dokter Bram nanti bosen nasehatin kamu mulu"Ujar Zidan dengan pedenya.


"Kata siapa mas? Dokter Bram pasti chat aku kok"Jawab Arumi sambil tersenyum kecil memegangi sepucuk bunga membelakangi Zidan.


Melihat sang istri menjawab dengan pedenya Zidan langsung membuka ponsel Arumi dan mengeceknya secara diam-diam. Merasa tidak ada pesan dari dokter Bram Zidan tertawa-tawa membuat Arumi terheran padanya.

__ADS_1


"Kau kenapa mas? Aneh sekali"Arumi mengerutkan bibirnya melihat tingkah aneh sang suami.


"Sayang aku kan sudah bilang dokter Bram gak mungkin chat kamu"Ujar Zidan.


"Tau dari mana kamu mas?"


"Ini buktinya, pesan dokter Bram gak ada"


Zidan membuka pesan dan memperlihatkan kepada Arumi jika pagi ini dia tidak mendapat pesan dari dokter Bram.


"Hahahaha"Arumi tertawa begitu lantang ketika Zidan menunjukan ponselnya. Pasalnya paket data habis sejak semalam jadi mana mungkin chat dokter Bram masuk pagi itu.


Zidan merasa heran kenapa malah Arumi yang tertawa, bukanya kesal Arumi nampak gemas dengan tingkah cemburuan sang suami.


"Mas kau tau tidak?"


"Tidak memangnya kenapa? Yang aku tau dokter Bram tidak mengirim pesan pagi ini"


"Ya iya lah mas, karena paket data ku sejak semalam sudah habis jadi mana mungkin chat dokter Bram masuk"Pekik Arumi seraya terus tertawa.


"Jadi kau membohongi ku"Zidan menggaruk kepalanya merasa tidak percaya dengan apa yang dia lakukan. Tanpa disadari dia telah mengungkapkan kecemburuan nya terhadap Arumi.


"Kau cemburu ya?"Ledek Arumi gemas.


"Tidak, memangnya cemburu kenapa? Lagipula dokter Bram kalah tampan sama aku. Nih aku balikin hp nya, aku mau mandi dulu"Zidan meletakan ponsel Arumi dan berlalu pergi berjalan masuk melewati pintu belakang.


"Aku tau mas kau pasti cemburu, tapi aku juga tidak bisa pungkiri kalau ketampanan dokter Bram benar-benar idaman para wanita dan ibu-ibu termasuk ibu hamil sepertiku yang berharap hidung mancung dokter Bram bisa menular pada anak kita"Ujar Arumi dengan tawa kecilnya.

__ADS_1


-


__ADS_2