Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
39.KEBUN TEH


__ADS_3

Pagi ini Laras terbangun dan langsung mencari ponselnya. Ia memastikan semuanya mimpi ataukah nyata, ia membuka kontak nomor dan semua ini adalah kenyataan, nomor Zidan yang ia minta malam itu benar-benar nyata ada di dalam ponselnya.


Laras bingung akan memulainya dari mana, jarinya sudah tidak sabar lagi untuk mengetik pesan walaupun sekedar satu kata untuk memastikan jika nomor itu benar-benar milik pujaan hatinya.


Perlahan tapi pasti jari jemarinya mulai bergerak dan mengetik sebuah pesan yang akan masuk kepada pemilik nomor tersebut.


Berawal dari sinilah kisah cintanya akan dimulai.


"Pagi Kak? Aku Laras"Ucapnya dalam pesan tersebut.


Bak seperti mimpi nyata yang indah Zidan langsung membalas pesan Laras.


"Hai Laras, pagi juga"Balas Zidan pada pesan tersebut.


"Kak main dong kerumah Ibu"Ucap Laras, ia berharap Zidan datang kerumah Delia agar ia bisa bertemu dengannya.


"Ya Laras, nanti siang aku kesitu"Zidan merasa beruntung mempunyai dua adik yang perhatian dan baik padanya. Walaupun bukan adik sekandung ia merasa seperti keluarga sendiri.


"Aku senang sekali ternyata Kak Zidan perhatian banget, aku suruh kesini aja dia mau"Ucap Laras seraya tersenyum-senyum sendiri di dalam kamarnya.


Siang ini Zidan akan menghampiri Arumi untuk pergi bersama kerumah Delia, kebetulan hari ini Zidan hanya dirumah, ia sekaligus akan mengajak Arumi dan Laras untuk berlibur bersama.


Sesampainya disana Arumi begitu senang melihat sang kakak datang. Arumi berfikir Zidan akan melupakannya setelah tinggal bersama orang tua kandungnya, namun semua itu salah.


"Kak, kenapa baru kesini!"Ucap Arumi seraya memeluk dan menyender dipundak Zidan yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.


"Arumi, kakakmu kasian tuh berat! Kamu kan bukan anak kecil lagi"Ucap Zaki sambil meminum kopi. Zaki melihat kelakuan Putrinya tidak pernah berubah setiap bertemu dengan Zidan Arumi selalu memeluk dan menyenderkan kepalanya seperti anak kecil.


"Ikh, apaan sih Papa!"Ucap Arumi seraya melepaskan manjaanya.


"Mama mana Pa?"Tanya Zidan kepada Zaki.


"Mama lagi ke pasar, baru saja pergi"Ucap Zaki kepada Zidan. Walaupun Zaki tahu Zidan bukan anak kandungnya, ia tetap menganggap Zidan Putranya sendiri, Zaki juga tidak mempermasalahkan warisan yang sudah ia berikan untuk Zidan.


"Pa, aku mau ajak Arumi ya? Jalan-jalan. Sama Laras juga"Ucap Zidan kepada Zaki. Kemanapun Arumi pergi jika dengan Zidan pasti sangat dibolehkan oleh sang Papa.


"Boleh ya Pa?"Sambung Arumi seraya manja dengan sang Papa.

__ADS_1


"Boleh, tapi janji jangan seperti anak kecil lagi! Kasian Zidan"Ucap Zaki sedikit ketus.


"Oke Bos!"Ucap Arumi seraya tertawa. Ia benar-benar Putri yang pandai meluluhkan hati sang Papa dengan tingkah konyolnya.


Beranjak dari Rumah Arumi sekarang mereka berdua kerumah Delia untuk menghampiri Laras. Setibanya disana Laras sudah menunggu di depan Rumah, sebelumnya mereka sudah janjian lewat telepon.


"Kau sudah pamit dengan Ibu sama Ayah?"Tanya Zidan kepada Laras, ia tidak masuk karena akan langsung pergi berlibur.


"Sudah Kak"Ucap Laras seraya tersenyum malu.


"Ya sudah masuk"Zidan mempersilahkan Laras masuk kedalam mobil, kemudian mereka pergi hanya bertiga.


Tempat tujuan untuk berlibur yang dipilih Zidan adalah kebun teh. Ia memilih kebun teh karena tempatnya yang sejuk dan tidak terlalu ramai. Disitu juga terdapat taman bunga tidak jauh dari kebun teh. Jika Laras dan Arumi jenuh mereka bisa pergi ke taman bunga disana.


"Kak, sejuk sekali ya"Ucap Arumi seraya membentangkan kedua tangannya.


"Iya, indah juga"Disusul oleh Laras, ia menghirup nafas panjang seraya membentangkan kedua tangannya.


"Bagaimana kalian suka kan? Disini itu kebun teh paling sejuk yang pernah aku jumpai"Ucap Zidan seraya memandang kedua adiknya.


"Aku melihat Laras biasa saja! Tapi aku memandang Arumi! Dia seperti wanita yang istimewa"Batin Zidan seraya memandangi kedua adiknya yang sedang asik menikmati udara sejuk di pegunungan teh.


Melihat mereka sangat gembira Zidan ikut tersenyum bahagia, ia merasa telah menjadi kakak yang baik untuk kedua adiknya.


"Laras, Arumi, kalian mau ke taman gak? Disini ada taman bunga loh!"Ucap Zidan seraya meledek mereka.


"Ikh kakak! Dimana? Bukanya dari tadi!"Pekik Arumi seraya melempar daun teh ke wajah Zidan.


"Ayo kita kesana kak"Ucap Laras kepada Zidan.


"Ayo ikut aku"Ucap Zidan, kemudian ia mengantar mereka ke taman bunga dekat kebun teh.


Setelah 15 menit berjalan mereka sampai di taman bunga tersebut. Taman itu sangat indah, disitu juga terdapat tempat makan yang enak-enak.


"Eh, jangan main dulu! Kita makan dulu!"Ucap Zidan kepada Arumi dan Laras yang langsung lari mendekati taman bunga.


"Yah kakak! Nyebelin banget!"Ucap Arumi cemberut. Sikapnya yang seperti anak kecil menjadi bahan ejekan oleh sang kakak.

__ADS_1


"Arumi tidak ingat pesan Papa, jangan seperti anak kecil!"Pekik Zidan di depan Laras, membuat Arumi malu dan langsung menepuk pundak sang kakak dengan rasa kesal.


"Awas ya! Aku bilangin Papa loh!"Pekik Arumi seraya melotot ke wajah Zidan, hal itu membuat Laras tertawa karena kekonyolan mereka berdua.


Setelah sampai di tempat makan mereka memesan makanan dan makam bersama.


"Es aku habis kak"Ucap Arumi seraya mengambil es milik Zidan.


"Eh punyaku saja Rum!"Ucap Laras seraya menyodorkan es miliknya, namun Laras mau es punya Zidan.


"Minum saja"Ucap Zidan kepada Arumi, ia sudah biasa makan bersama Arumi, namun Laras melihat hal itu berlebihan karena Zidan bukan kakak kandungnya.


"Arumi kan sudah tahu jika Zidan bukan kakak kandungnya, kenapa dia masih saja minum atau makan bekas Zidan!"Batin Laras, ia merasa hal itu hanya dilakukan oleh pasangan kekasih atau suami istri yang makan dan minum satu porsi berdua.


"Bagaimana enak tidak?"Tanya Zidan ketika selesai makan.


"Enak dong!"Ucap Arumi.


"Iya enak"Sambung Laras.


Setelah makan lalu mereka melanjutkan liburannya, Arumi masih sangat ingin ke taman bunga begitu juga Laras.


"Kalian main kesana biar aku tunggu disini"Ucap Zidan sambil duduk di taman bunga.


"Oke, kita mau foto-foto dulu"Ucap Laras, kemudian ia mengajak Arumi untuk foto bersama dengan indahnya bunga yang mekar.


Dari jauh Laras memperhatikan Zidan yang sedang duduk sendiri, ia merasa ingin menemani Zidan dan mendekati hatinya. Melihat Arumi tengah asik selfi bersama bunga Laras pergi mendekati Zidan.


"Kak"Ucap Laras seraya duduk disampingnya.


"Eh, sudah selesai mainnya?"Tanya Zidan seraya bangkit dari duduknya.


"Kak, belum!"Ucap Laras seraya memegang tangan Zidan untuk duduk kembali.


Pegangan tangan Laras membuat Zidan terdiam seraya menatap mata Laras. Laras terus menahan pegangan itu, ia malah memberi senyuman manis dan terus memegang tangan Zidan. Namun Zidan hanya terdiam?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2