Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
105.COBAAN UNTUK AINI


__ADS_3

Malam yang tidak biasa seperti sebelumnya dimana Aini tidur lebih awal dari biasanya. Wajah yang biasanya ceria dengan canda tawanya kini telah lelap membuat seisi rumah terasa hening. Ingin rasanya tubuh Arumi memeluk gadis cantiknya yang tengah terlelap. Tak kuat menahan rasa kangennya Arumi segera memeluk Aini namun yang dirasakan justru membuatnya terkejut, badan Aini begitu panas namun sangat dingin pada bagian telapak kakinya.


Belum lama Arumi merebahkan tubuhnya bersama Aini tiba-tiba Aini terlihat menggigil dan mengeluh sakit pada perutnya. Merasa khawatir dengan keadaan Aini Arumi langsung bangun dan menemui Zidan yang masih berada di lantai bawah.


Arumi menemui Zidan yang tengah bersantai seraya menonton TV malam itu.


"Mas Aini badannya panas, barusan Aini juga menggigil aku khawatir sama Aini, apa kita bawa Aini ke rumah sakit saja mas? Aku takut terjadi apa-apa sama Aini"Ujar Arumi kepada Zidan yang sedang duduk bersantai malam itu.


Zidan langsung terhenyak dan meninggalkan TV yang masih menyala.


"Aini sakit? Kita harus bawa Aini ke rumah sakit sekarang!"Ucapnya dengan tegas.


Zidan pun langsung berlari menuju kamar Aini.


Arumi menyusulnya dari belakang sambil terus meremas jari jemarinya seakan takut terjadi sesuatu kepada Aini. Ia pun mulai mengeluarkan air matanya air mata ketakutan akan hal buruk yang selalu ia bayangkan, dan yang selalu ia bayangkan adalah rasa kehilangan.


Ya, akhir-akhir ini Aini sering mengeluh sakit perut kepada Arumi, namun tidak lama rasa sakit itu hilang begitu saja. Melihat tingkah ceria sang putri Arumi tidak pernah menganggap semua itu sebagai masalah namun yang terjadi saat ini sangat membuatnya ketakutan, benar-benar ketakutan.


Dan malam itu juga mereka membawa Aini ke rumah sakit yang berada ditengah kota. Ketika sampai di sana Aini langsung di bawa masuk oleh suster yang ada di rumah sakit. Namun ketika mereka akan masuk ke ruang IGD hanya diperbolehkan satu orang yang boleh masuk dan menemani Aini karena memang sudah peraturan rumah sakit.


Malam itu menjadi canggung, antara Zidan dan Arumi mereka sama-sama ingin masuk menemani Aini. Namun Zidan yang lebih kekeh ingin masuk menemani sedangkan Arumi mengalah menunggu diluar.


"Mas yang sabar ya, semoga tidak terjadi apa-apa sama Aini"Ucap Arumi kepada Zidan ketika Zidan mulai masuk kedalam ruang pemeriksaan.


Arumi mendudukkan dirinya di kursi yang berada didepan ruangan sambil menunggu kabar dari dokter.


Zidan mulai tegang melihat wajah Aini begitu pucat dan kedinginan.


"Aini sayang jangan takut ya, ayah selalu ada buat Aini"Tak terbendung lagi air mata seorang ayah. Dan kini mulai menetes melihat sang putri tengah sakit terbaring lemah.


Lalu sang Dokter mulai mendekat dan berbicara dengannya. Wajahnya begitu tegang.

__ADS_1


"Pak ini sangat berat saya katakan, saya harap bapak sabar dengan semua ujian ini. Aini harus dirawat beberapa hari agar penyakitnya semakin membaik"


"Dok sakit apa putriku?"Tubuhnya semakin gemetar seakan tidak siap menerima kenyataan buruk yang akan ia dengar tentang penyakit putrinya.


Bukan kabar bahagia melainkan kabar buruk yang mau tidak mau harus ia dengar langsung dari sang dokter yang menangani Aini malam itu. Dokter mulai menunjukan wajah cemas dan tak ada tanda-tanda baik pada raut wajahnya malam itu.


"Maaf pak, putri bapak mengidap sakit ginjal dan sudah harus ditangani dengan serius. Seharusnya sejak awal putri bapak diperiksakan karena penyakitnya sudah parah pak"Jelas dokter.


"Dok saya benar-benar tidak tahu jika putriku sakit ginjal! Selama ini dia baik-baik saja"Ungkapnya dengan deraian air mata.


"Ya pak saya rasa putri bapak anak yang kuat. Saya harap bapak sabar menerima semua ini, semoga putri bapak lekas sehat"


"Terimakasih Dok"


"Sama-sama pak, yang sabar ya"


Dokter pergi meninggalkan ruangan, hanya ada Zidan dan Aini didalam ruangan tersebut.


"Tunggu Dok?"


Arumi memanggil dokter dan bertanya padanya tentang penyakit Aini.


"Dok bagaimana dengan Aini, dia sakit apa?"Tanya Arumi.


"Ya saya sudah periksa dan Aini mengidap sakit ginjal"Ucap dokter.


Arumi langsung terkejut begitu mendengar penyakit Aini, bagaimana bisa gadis sekecil Aini sudah harus berjuang melawan sakitnya.


"Bagaimana bisa gadis sekecil itu mengidap penyakit serius Dok?"


"Semua kehendak illahi Bu, Ibu yang sabar ya"

__ADS_1


"Iya Dok. Terimakasih"


Dengan rasa sedih Arumi membalikkan badannya dan berjalan menuju ruang IGD. Belum sampai ia disana tiba-tiba Aini dibawa keluar dengan didorong oleh suster untuk dipindah ke ruang inap yang ada dilantai atas. Terlihat Zidan terus menangis memegangi tangan putri kecilnya itu penuh kesedihan dan kesabaran.


Arumi segera mendekat dan menguatkan Zidan dengan usapan lembut pada punggungnya. Ia tau betul kesedihan yang tengah menyelimuti hati seorang ayah melihat sang anak menderita penyakit yang sangat serius. Namun sebagai ibu sambung yang sudah merawatnya sejak bayi Arumi juga merasakan rasa sedih yang amat dalam melihat Aini terbaring sakit tak berdaya.


Sesampainya didalam ruang inap Aini mulai tersenyum melihat kedua orang tuanya yang tengah menangis. Bukan senyum bahagia namun Aini berusaha menguatkan kedua orang tuanya, ia tidak perduli penyakit apa yang sedang ia derita namun senyum kedua orang tuanya lebih penting untuknya saat ini.


"Ayah, Ibu kenapa kalian menangis?"


Aini terus tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa padanya.


"Aini kamu istirahat ya sayang"Zidan mengusap pelan kening Aini dan sesekali air matanya menetes berjatuhan.


"Ayah jangan menangis, Aini gak apa-apa kok. Aini baik-baik aja Ayah, Ibu"


"Iya sayang, Aini baik-baik saja sebentar lagi Aini sembuh nanti kita pulang ya sayang"


Terlihat jelas betapa sayangnya Arumi kepada Aini, meski Aini bukan anak kandungnya sendiri.


********


Seminggu sudah Aini dirawat di rumah sakit, namun sakitnya belum kunjung membaik.


"Ayah Aini bosan disini Aini mau pulang ke rumah? Kita pulang Ayah, Ibu?"Ujar Aini seraya memegang lengan sang Ayah yang masih duduk disampingnya.


"Aini sayang nanti kalau Aini sudah sembuh kita pulang ya nak"Ujar Arumi.


"Iya Aini, Ayah sama Ibu kan selalu ada buat Aini. Aini yang kuat ya biar sakitnya cepat sembuh"Ujar Zidan.


"Aini gak apa-apa Ayah, Aini baik-baik saja Aini gak sakit lagi kok"

__ADS_1


Aini begitu pandai dan sangat polos dalam berbicara, meski begitu tingkah polos Arumi justru mampu menguatkan hati Zidan dan Arumi.


__ADS_2