
Ketika dalam perjalanan pulang Zidan melihat mobil mogok dipinggir jalan, satu wanita memberhentikan mobilnya yang sedang melaju. Zidan berhenti kemudian wanita itu mendekat dan meminta tolong padanya.
"Tuan tolong aku, mobilku mogok aku tidak bisa menyalakan mesinnya"Ucap wanita yang diketahui bernama Weni Mentari itu.
"Aku tidak yakin bisa membantumu tapi aku akan mencobanya"Ujar Zidan lalu turun dari mobilnya. Zidan mencoba menyalakan mesin mobil Weni namun tidak mau menyala.
"Bagaimana Tuan? Apa mobilku bisa dinyalakan mesinnya?"Tanya Weni begitu seriusnya.
"Belum Nona, aku tidak bisa menyalakan mobilmu mungkin aku bisa memanggil seseorang untuk membetulkan mobilmu"Zidan mengambil ponselnya dan buru-buru menelfon service mobil pribadinya.
"Aku sudah merepotkanmu. Oh ya namaku Weni Mentari, siapa namamu?"Tanya Weni seraya menyodorkan tangannya.
"Aku Zidan. Kau mau kemana? Jika terlalu penting biar mobilmu disini aku antar kau ketempat tujuan"Ujar Zidan kepada wanita berwajah ayu tersebut.
"Tuan antar aku ketempat kerja aku sudah terlambat!"Weni merasa kebetulan dengan tawaran Zidan dan langsung memintanya untuk diantar ketempat kerja.
Tak lama kemudian tukang servis datang, Zidan menitipkan mobil Weni kepada tukang servis pribadinya. Ia langsung pergi mengantar Weni karena Weni akan berangkat kerja dan sudah terlambat.
"Terimakasih sudah mau mengantarku. Jarang sekali aku menemukan laki-laki baik sepertimu!"Ujar Weni.
"Oh ya? Memangnya semua laki-laki di dunia ini tidak ada yang baik selain aku?"Pekik Zidan kepada Weni.
"Ya ada, tapi setiap laki-laki yang dekat denganku semuanya bukan laki-laki baik-baik"Ujarnya.
"Oh ya, memangnya salah satu laki-laki yang dekat denganmu seperti apa sampai kau bilang dia bukan laki-laki baik-baik"Tanya Zidan seraya menyetir mobilnya.
"Yang terakhir dekat denganku dia cuma memeras uangku saja! Dari awal kenal dia janji bakal nikahin aku tapi malah sekarang aku dengar dia sudah menikah!"Ujar Weni seraya memijat jidatnya.
"Oh ya? Siapa nama laki-laki itu?"Tanya Zidan begitu serius.
"Kenapa kamu mau tau? Kamu juga gak bakal kenal sama dia!"Ujar Weni enggan memberi tahu nama pacar yang sudah memerasnya.
__ADS_1
"Aku cuma nanya kalo kalo tidak mau bilang aku juga tidak memaksa. Oh ya, sepertinya aku ada perlu penting aku harus kembali bagaimana jika kau turun disini?"Zidan memancing Weni agar mau bicara padanya.
"Eh! Ini kan masih jauh, aku tidak mau turun, aku kira kau laki-laki baik-baik ternyata sama saja!"Ujar Weni kesal.
"Aku antar kamu tapi bilang dulu siapa nama pacar kamu yang sudah memeras uangmu itu?"Zidan terus mendesak Weni agar mau mengatakannya.
"Memangnya kalo aku bicara kamu mau apa! Kamu juga tidak bakal kenal sama dia"Weni semakin kesal dengan rengekkan Zidan.
"Aku punya adik perempuan, siapa tau adik perempuanku kenal dengan pacarmu? Biar aku bisa mencegahnya sebelum terjadi hal sepertimu!"Lagi-lagi Zidan mencari alasan untuk mendesak Weni.
"Baiklah namanya Danu!"Ujar Weni ketus.
Tak disangka dugaan Zidan tepat dan tidak meleset. Ternyata benar laki-laki yang dimaksud Weni adalah Danu. Tapi apakah yang dimaksud Danu mantan Tiwi?
"Danu? Apa sewaktu pacaran dia pernah mengaku sebagai orang kaya atau pengusaha sukses?"Zidan semakin serius dengan pertanyaannya.
"Kok kamu tau? Iya memang laki-laki itu ngakunya orang kaya, tapi malah sering minta uang alasannya untuk proyek-proyek gitu. Aku sudah terlanjur percaya sama dia sampai uang dan hartaku habis diambilnya!!!"Jelas Weni.
"Lalu kapan dia menikah?"Tanya Zidan sekali lagi.
"Wah kalo aku yang diposisikan sebagai kamu aku sudah labrak dia kalo bisa aku acak-acak semua acara pernikahan itu!!"
"Oh ya Zidan, sudah hampir sampai aku turun sebelah kiri saja ya"Ucap Weni tersenyum.
"Oh jadi kamu kerja di pabrik ini?"Zidan tidak menyangka ternyata Weni bekerja di pabrik milik Mertuanya.
Zidan tidak menyadari ternyata Weni sudah turun dari mobilnya dan berlari menuju pabrik milik ayahnya.
"Eh Weni tunggu! Dia tidak berhenti sama sekali. Dasar wanita tidak tahu diri, sudah diantara tidak bilang terimakasih!"Ujar Zidan menggelengkan kepalanya.
******
__ADS_1
"Aku harus cari tahu tentang Danu, aku sudah mendapat satu korban lagi dari kekejaman Danu! Aku akan mengajak Weni untuk membuktikan jika laki-laki bej4t itu adalah penipu!"Sesampainya dirumah Zidan terus merasa kesal dengan kelakuan Danu yang sangat licik dan pintar.
Arumi datang menghampiri Zidan yang masih duduk dengan wajah merah kesalnya.
"Mas dari mana baru pulang?"Tanya Arumi seraya mencium tangannya.
"Aku sedang berusaha memecah masalah Tiwi, aku kasihan denganya. Danu ternyata tidak hanya menipu Tiwi dia juga sudah menipu wanita lain selain Tiwi!"Ujar Zidan.
"Kau tau dari mana Mas?"Tanya Arumi lalu mendudukan dirinya di kursi bersama Zidan.
"Aku baru saja bertemu dengan wanita itu, tidak sengaja bertemu dipinggir jalan. Ceritanya panjang aku akan cerita lain waktu. Aku capek mau istirahat dulu"Ujar Zidan sebelum pergi menuju kamarnya.
"Danu benar-benar kejam! Semua ini harus dibongkar Mas, kau harus buktikan jika Danu itu penipu! Ya sudah Mas kau istirahat dulu"Ujar Arumi. Ia melihat sang suami begitu sangat kelelahan.
Tak diketahui oleh mereka ternyata Laras mengintip pembicaraan mereka dari balik tembok pembatas antara ruang tamu dan kamarnya.
Laras merasa Zidan lebih mementingkan orang lain ketimbang dirinya yang sedang sakit-sakitan karena semenjak itu Zidan lebih sibuk dan jarang menengok dirinya.
Laras menangis menyenderkan kepalanya ditembok seraya menahan rasa sakitnya. Walaupun Zidan tidak seperti itu namun Laras memiliki pemikiran buruk padanya, mungkin karena dirinya sedang hamil dan sering terbawa suasana hati. Laras kembali menuju kamarnya, berjalan merangkak berpegangan dengan tembok.
Sesampainya dikamar Laras duduk dipinggir ranjang sambil terus menangis, ia mengelus perutnya yang semakin membesar.
"Aku sakit Mas tapi kau lebih mementingkan orang lain daripada aku dan anakmu ini!"Ucap Laras menangis.
Tiba-tiba Arumi masuk membawa jus buah untuk Laras, Arumi melihat Laras menangis sambil mengelus perut bulatnya.
"Laras! Kau menangis kenapa? Apa yang kau rasakan, kau sakit atau perutmu sakit?"Tanya Arumi.
Laras kaget melihat Arumi datang dan langsung mengusap air matanya.
"Aku tidak apa-apa Arumi, aku hanya bahagia merasakan tendangan dari bayi yang ada dalam kandunganku ini"Laras hanya beralasan.
__ADS_1
"Kau beruntung Laras bisa hamil dan mempunyai anak!"Ucap Arumi terharu. Ia berharap suatu saat bisa hamil seperti wanita pada umumnya.
"Arumi kau pasti hamil! Tidak ada yang tidak mungkin jika manusia mau berusaha dan terus berdoa. Percayalah Arumi kau pasti segera hamil dan punya anak!"Ujar Laras menangis.