Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
101.BEEJUMPA


__ADS_3

Berlalu sudah cerita suka duka yang telah mereka lewati bersama. Kini Aini mulai beranjak besar Aini menginjak usia 8 tahun dan semakin pintar dengan segala tingkahnya.


Setiap pagi Arumi selalu menyiapkan sarapan sehat untuk Aini dan Zidan.


"Aini sayang ibu sudah siapkan sarapan enak loh"Ujar Arumi seraya mengusap lembut rambut Aini.


"Telor keju ya bu?"Aini selalu ingin makam telor keju setiap kali akan berangkat sekolah.


"Iya sayang. Yuk sarapan ayah sudah nungguin"Aini segera turun dari ranjangnya dan berjalan bersama Arumi.


Namun ketika Aini berjalan tiba-tiba Aini berhenti dan berdiri didepan kaca besar yang menyatu dengan lemari pakaiannya. Aini nampak memperhatikan dirinya dengan sang ibu yang masih berdiri bersama.


"Kenapa berhenti Aini? Oh Aini ingin ngaca, Aini cantik sekali"Jelas Arumi. Namun Aini masih terdiam dan memandang kembali wajah sang ibu secara langsung.


"Ibu?"Panggil Aini.


"Iya, Kenapa Aini?"Jawab Arumi.


"Bu wajah Aini kok tidak mirip sama ibu? Apa Aini bukan anak ibu?"Ucapan Aini sontak mengiris hati Arumi. Bagaimana bisa anak kecil bisa punya pikiran seperti itu.


"Aini apa yang Aini katakan, Aini itu anak ibu sayang"Jelas Arumi sambil memegang pundak Aini.


"Kenapa Aini bilang begitu?"Tanya Arumi.


"Tidak apa-apa bu, ayo bu sekarang kita sarapan"


"Iya sayang"


Arumi dan Aini berjalan menuruni tangga menuju meja makan. Zidan melebarkan senyumnya melihat gadis kecilnya begitu cantik pagi ini.


"Wah anak ayah cantik sekali"Ujar Zidan seraya memberikan kursi untuk Aini disampingnya.


"Terimakasih ayah. Ayah juga tampan sekali"Ucap Aini tersenyum manis.


"Em kalau ibu?"Timpal Arumi.


"Ibu cantik seperti Aini"Balas Zidan. Lalu mereka pun sarapan pagi bersama.


Setelah selesai sarapan Zidan berangkat kekantor lebih dulu sedangkan Arumi pergi mengantar Aini ke sekolah. Mereka tidak bersamaan karena jalur mereka berbeda.


"Ayah berangkat dulu ya sayang"Zidan mencium pipi Aini lalu bersalaman dengannya.


"Ibu gak dicium juga yah?"Timpal Arumi.


Zidan kemudian mencium kedua pipi Arumi dan dibalasnya dengan ciuman kepada Zidan.


Namun ketika berada di dalam mobil Aini terlihat diam dan tidak ceria seperti tadi.

__ADS_1


"Apa benar aku bukan anak ibu? Kata Jeni wajahku tidak mirip sama ibu. Jeni bilang aku bukan anak ibu"Batin Aini. Ternyata perasaan Aini terjadi karena perkataan temannya.


Pada saat itu Aini sedang berada di dalam kelas saat waktu istirahat. Aini memilih bermain didalam kelas dengan teman-temannya. Namun beberapa teman Aini menyebut jika wajahnya tidak mirip dengan sang ibu, tidak seperti teman-temannya. Mereka juga berkata jika Aini bukan anak kandung ibunya. Sejak itulah Aini merasa tidak gembira ketika disekolah tidak seperti biasanya.


"Sayang masuk yuk"Sesampainya didepan sekolah Arumi mengajak Aini masuk kedalam kelas.


"Iya bu"Jawab Aini.


********


Selasa pagi Qenan janjian dengan Maria disebuah tempat yang tak jauh dari tempat tinggal nya.


"Maria kau yakin tidak mau bersama dengan Danu lagi?"Tanya Qenan.


"Yakin lah. Untuk apa aku mempertahankan hubungan dengan laki-laki penipu sepertinya!"Ujar Maria.


Dalam hati Qenan ia berharap bisa mengungkapkan perasaannya kepada Maria.


"Maria"


"Iya ada apa?"


"Jika hari ini ada laki-laki yang melamar mu kau akan menerimanya atau tidak? Atau kau akan menolaknya dengan alasan sedang ingin sendiri"


"Tergantung bagaimana laki-laki itu. Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Ya, kau siap tidak jika hari ini kau dilamar laki-laki yang sangat mencintaimu?"


"Iya Maria sebenarnya aku ada rasa sama kamu sejak pertama kali kita bertemu"


Maria terdiam seolah tak percaya dengan ucapan Qenan. Maria juga diam-diam mempunyai rasa kepada Qenan semenjak Qenan membantu permasalahannya dengan Danu.


"Maaf Maria jika kau tidak suka maafkan perkataan ku ini"


Qenan menundukkan kepalanya merasa akan penolakan dari Maria namun semua hanyalah pikirannya saja.


"Qenan?"


"Ya Maria?"


"Aku juga mencintaimu Qen"


Maria tersenyum terharu, setelah tersakiti kini dia dipertemukan dengan laki-laki yang lebih baik dari Danu. Sementara itu Qenan tak menyangka cintanya akan diterima oleh Maria.


Dan setelah sebulan berhubungan kemudian Qenan dan Maria mantap untuk menikah pernikahan mereka hanya dihadiri kerabat dan keluarga terdekat mereka masing-masing.


*******

__ADS_1


Setelah tujuh tahun berada diluar negeri Weni kembali ke Indonesia untuk pertama kalinya. Weni tidak sendirian lagi dia sudah menikah dengan warga negara asing.


Tentunya tidak ada yang mengetahui pernikahan Weni selain dirinya sendiri. Kini Weni sudah menjadi wanita sukses di negeri suami, ia menikah dengan Debran laki-laki asal Turki keturunan Indonesia dan menetap di sana. Walaupun Debran Alexo sejak kecil tinggal di Turki namun ia sering memakai bahasa Indonesia ketika berbicara dengan keluarganya.


"Pa kita pergi ker rumah Indonesia ya? Katanya kau ingin lihat anakku"Ujar Weni seraya duduk dipangkuan sang suami.


"Oke, ayo kita ke sana aku sudah tidak sabar ketemu anak kamu"Debran sangat senang bisa ke Indonesia dan bertemu anak Weni yang tak lain adalah Aini.


Lalu mereka pergi menuju rumah Arumi. Weni juga membawa banyak oleh-oleh untuk Aini.


Kedatangan mereka sama sekali tidak diketahui oleh Arumi dan Zidan. Mereka datang dengan tiba-tiba, mereka memarkirkan mobilnya didepan rumah Arumi namun tidak ada yang diluar saat itu.


Weni dan Debran langsung turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu besar dan tinggi. Merupakan mengetuk pelan pintu rumah Arumi dan langsung mendapat jawaban.


Arumi membuka pintu dan sangat kaget dengan kedatangan Weni yang begitu tiba-tiba.


"Ya ampun Weni"Arumi langsung memeluk Weni dengan sangat senang.


"Arumi apa kabarmu? Oh ya Rum ini Debran suamiku"Sama seperti Arumi pertemuan itu sangat membahagiakan untuk Weni.


"Saya Debran suami Weni"Timpal Debran.


"Ya ampun kau menikah tidak memberi tau padaku!"Pekik Arumi.


"Wen masuk yuk Aini sudah lama tidak bertemu denganmu dia pasti sangat merindukanmu"Ujar Arumi seraya mempersilahkan mereka untuk masuk.


Zidan yang saat sedang menonton TV dengan Aini saat itu langsung merasa kaget melihat kedua Weni, bak seperti mimpi selama tujuh tahun pergi kini ada didepan mata.


"Mas kau masih ingat dia?"Tanya Arumi seraya tersenyum.


"Weni?"Ucap Zidan.


Melihat kedatangan tamu yang belum pernah dirinya lihat Aini hanya terdiam dan terus menatapnya.


Weni meneteskan air mata melihat sosok Aini begitu cantik dan sudah besar setelah lama ia tinggalkan.


"Aini sayang"Weni langsung memeluk erat Aini dengan segala rasa rindunya.


"Ibu tante ini siapa?"Tanya Aini begitu polos.


"Sayang dia Mama seni sayang, dan ini Papa Debran"Ujar Arumi berkaca-kaca.


Debran tak kuat menahan air matanya melihat Weni dan Aini bertemu kembali.


"Sayang dia Mama Weni"Timpal Zidan.


"Mama Weni?"Ucap Aini sambil memandang wajah Weni.

__ADS_1


"Iya sayang ini Mama Weni"Jelas Weni penuh deraian air mata.


Weni enggan memberi tau siapa dia sebenarnya. Weni berharap Arumi dan Zidan tidak perlu memberi tau yang sebenarnya. Karena Aini sudah sangat bahagia hidup bersama mereka. Aini sangat senang dengan mainan yang dibelikan Weni untuknya. Mereka semua berbalut dalam kebahagiaan.


__ADS_2