Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
62.PENYESALAN TIWI


__ADS_3

"Semalam aku mimpi buruk. Aku mimpi melihat anak kecil yang malang ditinggal Ibunya pergi meninggalkannya. Aku merasa mimpi itu sangat nyata!"Ujar Zidan disela-sela sarapan paginya. Ia menceritakan mimpinya kepada Arumi.


"Mas namanya juga mimpi, kalo itu baik namanya mimpi indah jika sebaliknya itu namanya mimpi buruk!"Ujar Arumi. Ia tidak menyadari apa yang sedang Zidan pikirkan.


"Aku takut Arumi!"Ujarnya. Zidan selalu mengingat mimpinya itu sehingga terbawa dalam benaknya. Ia selalu membandingkan mimpi itu dengan keadaan Laras sekarang.


"Mas sudah ah, kamu ini sama mimpi saja kok takut!"Ucapnya.


"Laras mana? Dia kok tidak turun untuk sarapan"Tanya Zidan.


"Lagi tidur, tadi pagi-pagi sekali dia sudah sarapan Mas"Ujar Arumi.


Zidan selalu mengingat mimpinya itu ia berharap tidak akan terjadi apa-apa pada keluarganya. Mengingat sekarang Laras sedang mengidap penyakit yang serius.


"Oh ya Mas Laras belum minum obat aku kok sampai lupa!"Ujar Arumi langsung pergi menuju kamar Laras.


"Mimpi itu sangat nyata, aku melihat anak kecil itu ditinggalkan oleh ibunya begitu saja"Ucapnya.


Setelah sarapan Zidan beranjak dari tempat duduknya. Sebelum berangkat ke kantor Zidan lebih dulu menuju kamar Laras untuk memastikan keadaan Laras. Pasalnya semalam Laras mengeluh sesak pada dadanya.


"Laras kau sudah minum obatnya?"Tanya Zidan seraya mengelus kepalanya.


"Sudah Mas. Kamu kok belum berangkat nanti kesiangan"Ucap Laras pelan.


"Iya ini aku mau berangkat. Arumi aku titip Laras ya. Kau jaga baik-baik dia"Ujar Zidan kepada Arumi.


Zidan memutar tubuhnya meninggalkan kamar Laras, ia menuju pintu depan dan ketika pintu itu dibuka Tiwi sudah berdiri tepat didepannya. Rupanya Tiwi hendak mengetuk pintu namun Zidan sudah membukanya lebih dulu.


Tiwi datang menjenguk Laras, ia mendengar kabar dari Arumi jika Laras sakit ia datang bersama Danu. Zidan menyambutnya dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Zidan memutar tubuhnya kembali berjalan menuju kamar Laras untuk mengantar Tiwi dan Danu.


Danu terus memandangi setiap sudut ruangan, ia kagum dengan Rumah besar Zidan yang bak istana itu. Setelah sampai dikamar Laras Zidan mempersilahkan mereka untuk masuk dan menemui Laras yang tengah berbaring diatas ranjang. Zidan menyerahkan sepenuhnya kepada Arumi, ia kembali keluar dan berangkat ke kantor.

__ADS_1


Melihat Tiwi datang Arumi langsung beranjak dari tempat duduknya, Arumi membangunkan Laras yang masih tertidur efek obat-obatan sehingga ia lebih mudah lelah dan mengantuk.


Setelah Laras bangun Tiwi mendekati dan duduk dipinggir ranjangnya, sementara itu Danu masih berdiri kokoh seraya terus mengamati isi Rumah mewah yang ia masuki.


Sampai pada akhirnya pandangan Danu mendarat pada wajah Arumi. Dalam benaknya ia membandingkan Tiwi dengan kecantikan Arumi. Namun mereka berdua masih kalah dengan Maria.


Rupanya Maria adalah pacar Danu sebelum Tiwi. Ternyata uang hasil dirinya meminta kepada Tiwi ia gunakan untuk membelanjakan dan ia berikan kepada Maria. Diketahui selama ini Danu mempunyai hubungan palsu dengan Tiwi.


Namun Maria tidak mengetahui sumber uang yang dimiliki Danu, Maria mempercayai ucapan Danu yang mengatakan ia mempunyai beberapa usahan dimana-mana.


Danu menyembunyikan semua ini dari Tiwi, karena sebelum Tiwi miskin ia akan terus memeras uangnya. Semua ini Danu lakukan karena ia sangat mencintai Maria sedangkan Maria hanya mau berpacaran dengan laki-laki yang mapan dan memiliki banyak uang.


"Kenapa kau tidak sekaya ini Tiwi, andai kau sekaya ini aku pasti akan lebih lama bersamamu"Ujar Danu membandingkannya dengan rumah mewah milik Zidan.


Setelah selesai menjenguk Laras Tiwi dan Danu berpamitan kepada mereka untuk kembali kerumah. Dengan tatapan mata yang sangat tajam Danu memandang Arumi sebelum membalikkan badannya dan berjalan keluar dari kamarnya.


Pandangan itu sontak membuat Arumi meraba bagian badannya, ia berfikir ada pakaian yang terbuka namun tidak ada sama sekali.


****


Hari ini adalah hari ulang tahun Maria, namun Danu sepertinya lupa dengan hari ini. Danu malah membuat janji dengan Tiwi dirumahnya, dengan berpura-pura ingin mengajari merancang sebuah proyek pembangunan Hotel.


Tiwi yang merasa sangat special datang kerumah Danu dengan senangnya. Rupanya Danu sudah menyewa beberapa orang untuk berpura-pura menjadi mandor dari proyek tersebut, lengkap dengan atribut dan peralatannya sehingga sangat meyakinkan Tiwi jika pacar palsunya itu sudah menjadi atasan dari proyek tersebut.


"Sayang kamu hebat banget ya, ini Hotel yang sangat mewah loh yang"Ujar Tiwi seraya memandang desain Hotel yang berada di atas meja.


"Pastinya sayang. Sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya Tiwi orang terkaya di kota ini"Ujarnya. Begitu mudahnya Danu menggoda Tiwi sampai seyakin itu.


"Aku bangga banget sayang sama kamu. Sayang jadi kita kapan menikah?"Tanya Tiwi dengan wajah penuh harapan.


"Nanti saja ya bahasnya, jangan sekarang malu masih banyak orang"Ujar Danu. Ia menyangkal agar Tiwi tidak membahasnya lagi.

__ADS_1


"Iya sayang aku mengerti"Ujar Tiwi tersenyum.


Pukul 11:30 menit semua orang suruhan Danu sudah pulang meninggalkan rumahnya, kini tinggal Danu dan Tiwi yang berada didalam rumah. Malam ini turun hujan Tiwi tidak bisa pulang karena Danu menahannya. Danu akan mengantar Tiwi pulang setelah hujan reda.


Namun tak disangka kelalaiannya menaruh ponsel di dapur membuat panggilan Maria beberapa kali tidak terjawab. Maria merasa kesal pasalnya dihari ulang tahunnya Danu seharian tidak mengabarinya sama sekali.


Rasa penasaran Maria membawanya datang kerumah Danu. Maria datang sekalian bertemu untuk membicarakan pernikahannya. Namun setelah ia sampai didepan pintu terlihat ada sepasang sepatu wanita yang terletak di lantai rumah kekasihnya itu.


Maria diam-diam masuk kedalam rumah Danu kebetulan Rumah itu tidak terkunci. Perlahan Maria melangkahkan kakinya seraya mencari keberadaan Danu.


Tak jauh dari ruang tamu Maria mendengar suara wanita sedang tertawa. Suara itu berasal dari dalam kamar Danu. Maria lebih dekat dan suara itu nampak keras dan terdengar begitu jelas.


Merasa sudah geram Maria dengan lancang membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Betapa kagetnya ketika ia mendapati Danu dan Tiwi berbaring di ranjang tanpa busana.


Melihat kedatangan Maria membuat Danu mati kutu. Ia langsung beranjak dari ranjangnya dan sebisa mungkin mencari alasan untuk menghindari amukan Maria.


"Sayang! Jangan salah paham dulu!"Ujar Danu seraya memakai celananya.


"Apa yang sudah mau lakukan biadab!!!!"Ujar Maria geram.


"Apa ini? Apa-apa kalian!"Sambung Tiwi heran.


"Sayang percaya padaku wanita itu yang sudah mengodaku, dia adalah wanita murahan!!!"Ujar Danu seraya mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Tiwi.


"Dasar kau wanita murahan, dasar pel**ur!!!"Ucap Maria lantang.


"Kau benar-benar bangs4t!!!"Ujar Tiwi kepada Danu.


"Usir wanita murahan itu!! Aku tidak mau ada wanita murahan itu lagi!!"Ucap Maria.


Danu langsung menarik Tiwi dari ranjangnya, untuk berdiri. Danu melemparkan pakaian milik Tiwi dan menyuruhnya memakai pakaian itu. Dengan bercucuran air mata Tiwi memakai pakaiannya satu persatu. Maria tiba-tiba menarik tangan Tiwi dan langsung mengusirnya begitu saja. Ia diseret dan dihempas begitu saja didepan Rumah dengan keadaan hujan.

__ADS_1


Hujan semakin deras Tiwi berjalan dibawah derasnya air hujan dengan penyesalan yang teramat dalam.


__ADS_2