
Hari-hari mereka kini menjadi lebih bahagia dengan hadirnya Aini dalam hidup mereka.
Pengalaman yang sebelumnya belum pernah Arumi rasakan kini ia bisa merasakan menjadi seorang ibu baru dengan tanggung jawab baru.
Zidan tersenyum melihat putri kecilnya sedang dimandikan dengan gemasnya Aini memberi senyuman imut kepada sang Ayah.
Setelah mandi Aini dibalut handuk lalu ditidurkan diatas ranjang, Zidan tak henti-hentinya selalu mengikuti kegiatan pagi Aini sebelum dirinya pergi kekantor.
"Mas bagaimana jika aku menyewa asisten Rumah tangga untuk bantuin aku beres-beres rumah, boleh ga? Sekarang kan sudah ada Aini aku jadi lebih sibuk Mas sama Aini"Arumi meminta izin kepada Zidan untuk menyewa asisten Rumah tangga untuknya. Diketahui selama ini Zidan tidak memperbolehkan ada asisten Rumah tangga karena dulu pernah menyewa namun belum genap sebulan asisten tersebut berani mencuri dirumahnya.
"Tidak! Aku tidak mau hal seperti dulu terjadi lagi. Aku sudah rugi ratusan juta Rum karena asetku dicuri sama asisten yang dulu"Zidan bersikukuh tidak mau ada asisten Rumah tangga didalam rumahnya.
"Iya Mas maafkan aku"Ujar Arumi tanpa menatapnya.
Aini selesai memakai baju, ia begitu cantik seperti ibunya mata bulat dengan bulu mata yang lentik. Zidan tak lupa menggendongnya sejenak sebelum ia berangkat ke kantor.
"Putri Ayah, cantik"Salah satu pujian Zidan kepada putri cantiknya itu membuat hati Arumi sangat tersentuh.
Arumi tersenyum penuh melihat raut wajah bahagia yang ditunjukkan sang suami saat menggendong Aini dalam dekapannya.
Mumpung Aini masih digendong Zidan Arumi meninggalkan mereka untuk pergi mandi. Baru mengambil handuk Zidan sudah memanggilnya lagi.
"Oh ya, kau sedang apa? Aku sudah kesiangan kau jaga Aini baik-baik aku mau berangkat ke kantor"Zidan meminta Arumi menggendong Aini, dan mengurungkan niatnya untuk mandi.
"Hufff, tidak jadi mandi lagi!"Geruru Arumi kepada Zidan yang saat itu pergi meninggalkan kamar.
Arumi menggendong Aini dan memberinya susu formula, berharap Putri kecilnya segera tidur pagi ini agar dia bisa melakukan semua pekerjaan rumah seperti menyapu, cuci baju dan lain sebagainya.
Begitu Aini tidur Arumi langsung pergi mandi namun pakaian kotor menumpuk membuatnya lebih dulu mencucinya, setelah itu ia menyapu dan membersihkan kamar yang berantakan.
Rasa lelah tentu saja dirasakan Arumi, apa lagi ini adalah pengalaman pertamanya mengasuh bayi tanpa bantuan baby sister ditambah lagi pekerjaan rumah yang selalu menumpuk setiap harinya.
"Pekerjaan sudah selesai, andai ada asisten Rumah tangga aku bisa mengutamakan Aini daripada pekerjaan rumah!"
Arumi membaringkan tubuhnya diatas ranjang bersama Aini namun perlahan rasa lelah membuatnya tertidur dan lagi-lagi Arumi tidak menyempatkan diri untuk mandi sebelum Aini bangun. Namun baru memejamkan mata beberapa saat tiba-tiba teleponnya berbunyi, Weni yang menelponnya waktu itu 6 panggilan tidak terjawab karena Arumi tidur sangat nyenyak.
__ADS_1
Tepat pukul 12 Arumi terbangun, namun Aini masih tertidur lelap.
"Hah!! Sudah jam 12 mumpung Aini masih tidur lebih baik aku mandi"Arumi terhenyak dari tidurnya kemudian lari ke kamar mandi sebelum Aini bangun.
Krakkk...
Dengan rasa tidak sabar siang itu Zidan pulang sangat awal. Zidan membuka pintu dan menutupnya kembali, dia menuju kamar yang berada dilantai dua dan melihat Aini menangis sendiri tanpa ditemani Arumi.
Zidan melemparkan tasnya dengan spontan dan langsung menggendong Aini dengan pelan. Dengan wajah kesalnya Zidan membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci ketika Arumi sedang mandi.
Brakkk!
Arumi seketika kaget dan langsung mematikan keran airnya.
"Mas, kau sudah pulang? Ain..Aini sudah bangun Mas!"Dengan tubuh gemetar Arumi menjadi gugup melihat wajah kesal yang terlihat dari mata tajam sang suami.
"Kau meninggalkan Aini menangis sendirian di atas ranjang, nanti kalo Aini jatuh kebawah bagaimana!"Hentak Zidan dengan nada tinggi.
"Tadi Aini tidur Mas jadi aku tinggal dia mandi sebentar, aku baru mandi karena baru selesai mengurus pekerjaan rumah dan ngurusin Aini juga!"Arumi semakin gemetar ia menarik handuk dan dibalutkan ketubuhnya didepan suami yang sedang berdiri kokoh sambil menggendong Aini.
"Mas kau bilang apa!"
"Kamu tidak bisa ngurus Aini!"
Entah kesambet mahluk apa sampai Zidan marah dan tidak mau mendengar ucapan Arumi.
******
Malam hari...
"Rum kau seharian tidak masak?"Tanya Zidan kepada Arumi yang sedang sibuk melipat baju Aini.
"Bagaimana aku bisa masak Mas, ngurus Aini sambil ngurus rumah saja aku sangat kewalahan"Ujar Arumi.
"Hmmm..Sana Aini biar sama aku, kau kebelakang buatkan aku mie instan"
__ADS_1
Zidan menemani Aini yang sedang tidur malam itu.
"Tidak ada pengertiannya sama sekali kamu Mas!"Gerutu Arumi sambil berjalan kedapur.
Saat itu Zidan melihat ponsel Arumi yang tergeletak di atas kasur dia mengambilnya dan membuka ponsel tersebut. Zidan melihat panggilan tidak terjawab dari Weni, ia juga membaca pesan Weni yang belum terbaca oleh Arumi.
"[Selamat pagi Arumi, Aini cantiku sedang apa?]"Salah satu pesan Weni lewat ponsel yang dikirimnya kepada Arumi.
"Weni 6 kali memanggil Arumi dan panggilannya tidak dijawab, pesannya juga tidak dibalas! Kerjaan dia apa dirumah Weni telpon aja tidak dia angkat"Zidan menarik nafas panjangnya dan menaruh kembali ponsel Arumi diatas kasur.
Arumi datang membawa mie instan yang dibuatnya untuk Zidan.
"Mas ini mie nya, kamu makan dulu biar Aini aku yang jagain"Arumi menaruh mie tersebut diatas meja dekat ranjangnya.
"Aku heran sama kami Rum, kenapa kamu tidak angkat telepon Weni"Sambil menyantap mie instan Zidan melirik Arumi menyindirnya tentang telepon weni yang tidak dijawab olehnya.
"Hah?"Arumi langsung mengambil ponselnya dan memang benar apa yang dikatakan Zidan, ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Weni.
"Duh Mas maaf! Aku tidak tau Weni telepon. Kalo kamu tidak bilang aku juga tidak tau Mas"Ujar Arumi sambil memegang ponselnya.
"Lain kali kamu angkat. Siapa tau dia mau lihat Aini, walaupun dia sudah bukan siapa-siapa tapi dia tetap ibu Aini"Ujar Zidan.
"Iya Mas, aku minta maaf"
Wajah Arumi seketika redup mendengar ibu Aini bukankah dirinya. Ya, memang Aini bukankah anak kandungnya melainkan anak wanita lain yang sudah ia tukar dengan uang 10 miliar.
"Putri cantikku, anak baik"Arumi mengelus pipi Aini yang masih tertidur pulas.
"Penampilan Arumi sekarang berubah dia tidak pernah dandan tidak seperti dulu, rambutnya kusut wajahnya juga tidak segar seperti biasanya!"Gerutu Zidan dalam hati.
"Mas kau kenapa, serius banget lihat aku nya. Oh ya Mas mumpung Aini tidur kita itu yuk"Sambil tersenyum Arumi memandang Zidan yang sedang duduk ditepi ranjang.
"Ehm..Malam ini aku capek, aku mau istirahat lebih baik kau lanjutkan lipetin baju Aini mumpung Aini masih tidur"Ujar Zidan lalu membaringkan tubuhnya dekat Aini.
"Hmm!! Tumben banget dia tidak mau!"Gerutu Arumi.
__ADS_1