
Entah apa yang terjadi dengan tubuhnya kini rasanya Zidan tidak ingin meneruskan langkahnya untuk bertemu Arumi. Pria tampan dengan kumis tipisnya itu merasa tidak yakin dengan keputusannya menikah dengan Laras.
"Ko tiba-tiba kamu seperti ragu kenapa?"Tanya Laras.
"Tidak, aku hanya kelupaan sesuatu saja, tapi yasudalah lupakan saja lagi pula tidak begitu penting!"Ucap Zidan.
"Oh, yaudah tuh Arumi disana"Ucap Laras seraya menunjuk Arumi.
Lalu mereka berdua bertemu Arumi yang tengah duduk santai seraya meminum secangkir kopi ditemani sepotong roti untuk mengisi perut kosongnya.
"Hai Rum?"Ucap Laras.
"Hai Laras, kak Zidan"Ucap Arumi seraya mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Sendirian Rum?"Tanya Zidan dengan mata tajamnya.
"Iya kak, biasanya aku makan diluar tapi jam ini aku sedang sibuk jadi aku tidak keluar untuk makan. Oh ya, kalian pada kesini mau apa hayo?"Ucap Arumi seraya tersenyum.
"Ah masa tidak tau?"Ucap Laras seraya tersenyum.
"Selamat ya kak, Laras aku doakan semoga kalian bahagia selalu"Ucap Arumi kepada mereka berdua.
"Rum, makasih ya"Ucap Zidan sedikit berkaca-kaca.
Pria tampan berotot gagah itu merasakan perasaan nyaman ketika bertemu dengan Arumi, lain jika bertemu Laras ia malah tidak merasakan apa-apa.
Lalu mereka berdua memilih paket pernikahan yang cocok untuk mereka, pernikahan mereka terbilang mewah dan megah karena mereka berdua memilih tempat yang luas untuk dekorasi pernikahan nanti.
Laras terlihat anggun ketika mencoba gaun pengantin warna ungu senada dengan Jas hitam yang dipakai oleh Zidan.
"Rum makasih ya sudah mau melayani kami, kita pamit pulang dulu?"Ucap Laras kepada Arumi ketika ia hendak pulang dari butik.
"Iya sama-sama, kak Zidan, Laras hati-hati ya?"Ucap Arumi.
"Iya Rum kita pulang dulu, kamu semangat ya kerjanya"Ucap Zidan seraya tersenyum tipis kepada Arumi.
"Oke"Ucap Arumi. Wanita anggun dengan senyum manisnya itu begitu sangat lembut dimata Zidan.
Zidan pulang dengan perasaan kalut, ia berharap pernikahannya dengan Laras hanyalah mimpi belaka entah kenapa hatinya belum siap untuk menikah dengan Laras.
"Arumi, begitu sesempurna itu kau di mataku andai kau yang menjadi jodohku"Batin Zidan seraya terus melangkahkan kakinya menuju mobil ia berharap jika Arumi lah yang akan menjadi jodohnya bukan Laras.
Melihat sikap Zidan Laras merasa aneh bukanya bahagia Zidan malah terlihat diam dan terus melamun.
Ketika berada didalam mobil wanita dengan paras cantiknya itu lantas bertanya dengan pria yang dianggapnya pangeran impiannya itu.
"Kak"Ucap Laras.
"Panggil aku Mas, bukannya kita akan menjadi suami istri?"Ucap Zidan seraya memandang mata Laras.
"Kau sungguh mencintaiku?"Ucap Laras dengan jelas.
"Jika aku tidak mencintaimu untuk apa aku menikah denganmu"Balas Zidan.
"Tapi bukan berarti karena terpaksa kan?"Jelas Laras.
"Untuk apa selalu bertanya tentang itu, bukankah yang kau mau adalah pernikahan! Jika aku tidak mencintaimu lalu apa masalahnya!"Pekik Zidan.
"Tapi aku mau kau mencintaiku!"Ucap Laras kesal.
"Panggil aku Mas kemudian aku akan mencintaimu"Ucap Zidan seraya tertawa. Ternyata ia hanya meledek Laras.
"Akh kamu nyebelin banget!"Pekik Laras.
"Aku hanya bercanda"Ucap Zidan.
"Mas aku mencintaimu"Ucap Laras seraya mencium tangannya.
"Lepaskan aku sedang menyetir bahaya"Ucap Zidan seraya melepas tangan Laras.
__ADS_1
Rupanya pria tampan itu tidak benar-benar mencintai Laras, ia melakukan itu semua untuk membalas kebaikan Delia yang sudah membesarkannya.
Sementara itu Arumi yang tengah berbaring istirahat ditempat tidurnya tiba-tiba mendapat pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Pagi Arumi?"Ucap seseorang yang mengirim pesan tersebut.
"Siapa ya?"Tanya Arumi.
"Aku Wandi Rum maaf ya aku dapat nomor mu dari Santi"Ucapnya.
Ternyata nomor tidak dikenal itu adalah Wandi Arumi bahkan tidak menyangka Wandi masih ingat dengannya belum sempat Arumi menapakan jarinya untuk membalas pesan, Wandi sudah menelfon duluan.
Jantung Arumi seketika berdebar ponselnya terus berbunyi. Telfon dari Wandi tidak mungkin ia tolak namun jika Arumi mengangkatnya apa yang akan Wandi katakan sedangkan jantungnya semakin lama semakin berdebar, lantas Arumi mulai menerima telepon tersebut.
"Halo"Ucap Arumi seraya gemetar.
"Rum sedang apa ada waktu gak?"Ucap Wandi.
"Bisa ketemu gak?"Ucap Wandi.
"Bisa dimana? Sekarang juga bisa"Ucapnya kepada Wandi.
"Ditaman kota bagaimana? Sekarang ya?"Ucap Wandi.
"Iya tunggu ya kak aku mandi dulu"Ucapan terakhir Arumi sebelum ia menutup panggilannya dengan Wandi.
Wanita cantik itu langsung menanggalkan ponselnya dan bergegas mandi untuk bertemu dengan Wandi, tak lupa ia memakai wewangian agar lebih percaya diri.
Entah apa yang akan Wandi bicarakan sepertinya sangat penting, Arumi yang sudah selesai bersiap langsung pergi ke taman kota.
Sampainya disana Arumi tidak melihat Wandi, ia berusaha menelfon namun nomornya tidak aktif pesan pun tidak terkirim, Arumi mulai gelisah ia mengira Wandi hanya membohongi dirinya.
Namun tak berselang lama ia mendengar suara gitar beserta biola tepat dibelakang tempat ia duduk. Suara itu semakin dekat dengan dirinya.
__ADS_1
Arumi yang sedang merasa kesal dengan Wandi tidak menghiraukan suara ramai tersebut, ia tetap duduk seraya merasa kesal dan berkaca-kaca.
Tiba-tiba salah seorang wanita datang dari arah belakang seraya memberi buket bunga kepada Arumi, ia seketika kaget dan langsung menoleh kebelakang.
Tak disangka Wandi ternyata sedang berdiri tepat dibelakangnya seraya memegang sepasang cincin lengkap dengan tempatnya, ia tersenyum dan menyodorkan cincin tersebut kepada Arumi seraya bertanya.
"Mau kah kau menjadi istriku?"Ucap Wandi seraya tersenyum bahagia.
"Apa, kak ini semua terlalu indah"Ucap Arumi tercengang.
"Lalu ya atau tidak?"Tanya Wandi kembali.
Menunggu jawaban dari Arumi membuat semua orang yang bergabung dalam rencana Wandi merasa berdebar, mereka tidak berharap kehancuran yang akan terjadi di depan mata mereka.
"Kau masih tidak mau menjawab?"Wandi bertanya sekali lagi.
"Ya"Ucap Arumi.
"Ya apa?"Tanya Wandi.
"Ya aku mau menjadi istrimu"Ucap Arumi begitu jelas.
"YEEESSSS"Teriak Wandi membuat semua orang Teriak gembira.
Biola dan gitar turut mengiringi percintaan mereka, tak hanya itu semua orang yang melihat ikut menari dan bernyanyi. Ternyata diam-diam mereka berdua saling mencintai.
"Semenjak aku melihatmu aku sudah yakin kau adalah wanita baik yang aku cari"Ucap Wandi.
"Aku juga sama, aku berharap bisa menemui jodohku lalu aku dipertemukan denganmu"Ucap Arumi.
"Besok aku akan mengenalkan kamu kepada orang tuaku"Ucap Wandi seraya tersenyum.
"Iya setelah itu aku juga akan membawamu ke rumah untuk bertemu orang tuaku"Ucap Arumi.
__ADS_1
Bersambung...