
Proses pemakaman Laras sudah selesai, Wisnu sangat terpukul dan enggan pulang meninggalkan makan Laras. Kini tidak ada lagi Putri manja kesayangan Wisnu, kini semua tinggal kenangan anak kesayangan satu-satunya Wisnu sudah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Delia mencoba menenangkan Wisnu, untuk berusaha mengikhlaskan sesuatu yang sudah pergi. Namun Wisnu terus menangis dan terus memeluk nisan Laras tanpa mau melepasnya.
"Mas kita pulang yuk?"Ajak Delia kepada Wisnu.
"Kau pulang dulu, aku nanti pulang!"Ujar Wisnu tidak semangat.
Melihat Wisnu masih terpukul Delia pulang lebih dulu, Delia pulang mengajak semua kerabat untuk pulang meninggalkan makam, hanya ada Wisnu seorang diri yang masih kokoh memeluk nisan sang putri.
******
Delia pulang dan segera menemui Zidan yang tengah duduk diruang tamu. Merasa penasaran Delia mencoba bertanya tentang penyakit yang diderita Laras, semenjak itu Zidan baru mengetahui jika penyakit Laras sudah sangat parah bahkan sudah diidapnya dari sebelum menikah dengannya. Namun Laras menutupi semua itu darinya.
"Jadi kau tidak mengetahui sama sekali sejak kapan Laras sakit?"Tanya Delia kepada Zidan.
"Aku tidak mengetahui! Laras juga tidak pernah bilang padaku Bu. Setelah Laras hamil penyakitnya mulai terlihat! Karena kita sering periksa ke Dokter"Ujar Zidan.
Disela-sela pembicaraan Arumi datang membawakan teh hangat untuk Delia. Arumi merasa gemetar melihat wajah Delia, Arumi masih merasakan masa lalu ketika Zidan pergi meninggalkan Laras dan menikah dengannya. Masalah itu masih membuat takut dirinya apalagi Laras baru saja meninggal dunia semakin menambah rasa takut dalam dirinya.
Sesampainya didepan Delia Arumi setengah duduk dan hendak memberikan teh tersebut untuk Ibu mertuanya itu, namun tangannya masih saja gemetar sampai teh yang dibawanya sedikit tumpah dan membuat basah tangannya.
"Ah!"
Arumi merasa kaget karena tehnya sedikit tumpah karena getaran tangannya.
Zidan menggambil gelas tersebut dari pegangan Arumi dan memberikannya kepada Delia. Melihat sikap Arumi yang tak biasa membuat Zidan merasa heran apa yang sedang ia takuti dari Ibu angkatnya itu.
Tak hanya Zidan, Delia juga merasakan hal yang sama dengan Putranya.
"Kau kenapa? Ada apa denganku?"Tanya Delia kepada Arumi yang enggan melihat wajahnya.
"Tidak, aku hanya mengantuk. Maaf Bu tehnya tumpah!"Ucap Arumi menundukkan kepalanya.
"Sepertinya kau lelah, kau masuk saja dan tidur!"Ujar Zidan kepada Arumi.
Karena Zidan menyuruhnya masuk Arumi langsung beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar meninggalkan mereka berdua.
Langkah kakinya sangat cepat sampai Arumi enggan menengok kebelakang. Ia langsung berjalan lurus menuju kamarnya.
"Aneh sekali istrimu itu! Sepertinya dia sedang ketakutan tapi dengan siapa?"Ujar Delia heran.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin sama Ibu!"Ujar Zidan lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa.
"Apa? Memangnya Ibu menyeramkan. Kau mau tidur Nak? Sepertinya kau juga lelah?"Tanya Delia kepada Zidan.
"Iya Bu, beberapa hari ini aku jarang tidur. Bagaimana aku bisa tidur melihat keadaan Laras yang sudah sangat parah seperti itu!"Zidan masih mengingat hari terakhir Laras.
"Zidan, semua yang hidup pasti akan meninggal jangan terlalu larut menyesali biarkan Laras tenang disurga!"Ujar Delia sambil mengelus rambut Zidan yang tengah berbaring diatas sofa disamping dirinya.
"Bu, belum sempat anakku lahir dia sudah meninggalkanku lebih dulu. Dia lebih sayang Ibunya ketimbang aku!"Walaupun belum lahir Zidan sangat menyayangi bayi yang ada dalam kandungan Laras.
"Sabar Zidan, semua ada hikmahnya siapa tau habis ini kau dapat gantinya. Ibu doakan agar kau bahagia selalu"Ucap Delia penuh harapan.
*****
Sudah 7 hari meninggalnya Laras. Kini Wisnu dan Delia pamit untuk kembali keluar negeri. Mereka berpamitan dengan Zidan dan Arumi.
Sebelum pergi Wisnu terlihat murung seraya memandangi sesuatu yang ada dalam kopernya, entah apa Delia tidak tahu apa yang sedang Wisnu pandangi.
Delia mencoba mendekati laki-laki yang baru saja kehilangan anak semata wayangnya. Delia berjalan pelan dan duduk disamping ranjang, mengusap pundak Wisnu yang masih merenungi kepergian putrinya.
"Kau masih memikirkan Laras? Aku tahu perasaanmu. Tapi asal kau tahu Mas! Pasti Laras disurga sudah bahagia dan menginginkanmu untuk tidak bersedih lagi tapi dia tidak bisa menyampaikan hal itu langsung padamu!"Delia terus memberikan pengertian kepada Wisnu agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
"Aku sudah menerima semua ini, namun barang ini selalu membuatku sedih aku tidak bisa memberikannya sewaktu Putriku hidup!"Ujar Wisnu menangis.
"Lalu bagaimana dengan gelang ini! Aku sangat menyesal tidak jadi pulang bulan lalu! Andai aku pulang pasti gelang ini sudah dipakai oleh Putriku"Tangisan Wisnu semakin menjadi.
"Mas berikan gelang itu pada Arumi!"Jelas Delia.
"Arumi?"Ujar Wisnu.
"Ya, berikan gelang itu kepada Arumi. Biarkan dia memakainya!"Ujar Delia kepada Wisnu.
"Biarkan aku memakainnya!"Wisnu akan memakaikan gelang itu sendiri ujarnya.
Sebelum memasuki mobil Wisnu lebih dulu memberikan gelang emas tersebut kepada Arumi, gelang emas itu dibeli Wisnu diluar negeri. Pernah pada suatu hari Laras meminta gelang emas kepada Wisnu, namun Wisnu tidak mengetahui jika permintaan itu adalah permintaan terakhir putrinya.
"Pakai ini Nak, agar Laras senang jika kamu yang memakainya!"Ucap Wisnu berkaca-kaca seraya memakaikan gelang emas itu kepada Arumi.
"Yah, ini sangat berat untuku, semoga aku bisa menjadi sosok hebat seperti Laras!"Ujar Arumi menangis.
"Tidak perlu Nak! Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Bahagialah bersama Zidan Nak, kami pamit dulu?"Wisnu dan Delia pamit, Zidan tak henti-hentinya meneteskan air mata melihat kebaikan Wisnu walaupun putrinya sudah meninggal.
__ADS_1
*******
Setelah hendak beristirahat tak lama berselang Tiwi datang membawa sekeranjang bunga rupanya Tiwi baru mendengar Laras meninggal dunia siang pagi. Padahal pagi hari Laras sudah dimakamkan.
"Aku terlambat, maafkan aku karena aku baru mendengarnya!"Ujar Tiwi.
"Kau mau kemakam? Biar aku mengantarmu"Arumi mengantar Tiwi kemakam Laras untuk menabur bunga yang sudah dibawanya.
"Aku turut prihatin dengan semua ini Rum, semenjak aku mengenal Laras dia adalah wanita yang baik, tapi sayang aku baru mengenalnya beberapa saat saja, sekarang dia sudah meninggal dunia!"Ujar Tiwi.
"Terimakasih untuk perhatian yang sudah kamu berikan kepada Laras. Kita pulang yuk sudah petang aku khawatir dengan kandunganmu jika kau terlalu lelah!"Arumi mengajak pulang Tiwi setelah menebar bunga di makam Laras.
Sesampainya dirumah Tiwi langsung berpamitan untuk pulang."Aku pulang dulu ya Rum"
"Tunggu Tiwi! Aku ingin bicara padamu?"Zidan memanggil Tiwi yang hendak pulang kerumah.
"Bicara apa?"Tanya Tiwi.
"Apa kau kenal Weni?"Tanya Zidan kepada Tiwi.
"Weni? Aku tidak mengenalnya, memangnya kenapa?"Tanya Tiwi kembali.
"Tidak apa-apa. Yasudah kau pulang saja, hati-hati dijalan!"Ujar Zidan.
Rupanya Tiwi tidak mengenal Weni, namun mereka berdua sama-sama menjadi korban pemerasan Danu, apa lagi Tiwi dia sampai hamil namun Danu tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya.
*****
Sesampainya dirumah Tiwi membaringkan tubuhnya, meluruskan punggungnya karena seharian penuh tidak istirahat dan merasa pegal. Sejenak Tiwi mengingat pertanyaan Zidan yang tiba-tiba mengingatkan dirinya dengan seseorang yang sepintas pernah dikenalnya.
"Weni? Sepertinya aku pernah mendengar nama Weni, tapi siapa dan kapan aku bertemu dengannya?"Tiwi terus mengingat sosok Weni yang dimaksud Zidan.
"Sepertinya nama Weni tidak lain, tapi siapa? Aku sampai tidak ingat apa-apa! Ah lupakan mungkin aku memang tidak mengenalnya"Ujar Tiwi lalu memejamkan matanya beranjak tidur.
Tak disangka ketika ia mulai memejamkan matanya tiba-tiba Tiwi teringat dengan masa lalunya. Dimana pada waktu itu Tiwi bertemu dengan Weni dan Danu disebuah pameran yang ada di kota.
Pada suatu hari Tiwi mendatangi pameran tersebut, lalu tak sengaja ia melihat Danu sedang bertengkar dengan Weni. Pada waktu itu Weni pergi meninggalkan Danu disebuah lorong dengan minim penerangan. Weni terlihat menangis namun Tiwi tidak tahu apa yang baru saja terjadi padanya.
Disitulah Danu menghampiri Tiwi yang sedang berdiri kokoh menyederkan dirinya pada tembok lorong dan tak sengaja melihat pertengkaran mereka. Danu mengatakan jika pertengkaran malam itu karena Weni ketahuan selingkuh sehingga Danu memutuskan Weni malam itu juga.
Disitulah awal kedekatan Tiwi dan Danu.
__ADS_1
"Astaga!! Apa mungkin yang dimaksud Mas Zidan adalah Weni mantan Mas Danu??"Tiwi bertanya-tanya.
"Jika benar Weni yang dimaksud Mas Zidan adalah mantan Mas Danu, lalu apa yang akan Mas Zidan lakukan?"Tiwi akan menjumpai Zidan besok dan menanyakan hal itu padanya.