Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
EPISODE109


__ADS_3

"Selamat datang di rumah sayang, sekarang kita kumpul-kumpul lagi nak seperti biasa"


Hari ini Aini sudah boleh pulang dari rumah sakit. Aini pulang bersama ketiga orang tuanya, ya karena Weni diperbolehkan ikut mengantar pulang Aini kerumahnya.


Keadaan Aini semakin sehat dan membaik seperti dulu lagi. Aini tidak lagi merasakan sakit dan kini sudah ceria seperti sebelumnya.


Aini merasa senang sekali bisa tidur dikamar kesayangannya dan bermain dengan boneka miliknya.


"Aini minum obat dulu ya, habis ini Aini tidur karena sudah siang biar nanti bangun lebih segar. Oke nak?"Ujar Weni.


"Oke mama Weni"


Setelah minum obat Aini tidur ditemani Weni, Arumi membiarkan Weni bermain sepuasnya dengan Aini sebelum dia berangkat ke luar negeri.


Siang itu Arumi sedang memasak di dapur, kemudian Zidan datang dan mendekati dirinya. Zidan memeluk mesra Arumi dari belakang.


"Eh mas, kau bikin aku kaget tau!"Pekik Arumi.


Zidan mengelus perut bulat Arumi dan sedikit berbincang dengan calon bayi yang ada dalam kandungannya.


"Halo anak baik, ayah kangen nih gak sabar pengen liat anak baik. Ayah sama Ibu udah gak sabar pengen ajak dede naik kuda kudaan"


Sontak ucapan Zidan membuat Arumi tertawa karenanya.


"Kau bilang apa mas? Kuda kudaan "


"Iya sayang kuda kudaan, kau mau kan naik kuda kudaan?"


Arumi kembali tertawa karenanya.


Melihat Arumi terus tertawa Zidan kembali memeluk Arumi dengan erat. Pelukan yang sangat hangat dan romantis dengan ciuman lembut pada keningnya, Zidan mengelus lembut rambut Arumi menciumnya lagi dan lagi.


Dan ketika itu Weni tak sengaja melihat kedekatan mereka. Terulang kembali bayangan masa-masa dimana dia masih menjadi istri Zidan, tak mau mengingat hal itu lagi Weni langsung memalingkan pandangannya.


Tidak ingin menggangu mereka Weni pergi sebelum mereka melihat dirinya. Weni kembali ke kamar Aini dan melihat Aini sudah bangun dari tidurnya.


Weni kembali bermain dengan Aini dan tak lama kemudian Arumi memanggil dirinya dan Aini untuk segera turun dan makan malam bersama.


"Wen ayo ajak Aini makan malam, aku sudah masakin masakan yang enak loh"Jelasnya.


"Kau yang masak? Kenapa kau tidak ajak aku, kan aku bisa belajar darimu"Ujar Weni tersenyum.


"Ah aku hanya bisa masak beberapa menu saja, yang paling sering aku masak cuma telor dadar"Balasnya sambil tertawa kecil.


"Kalau gitu aku yang lebih pintar darimu dong"

__ADS_1


"Ya mungkin aku yang harus belajar darimu, sudahlah kita makan dulu yuk"


Merekapun makan malam bersama.


*********


Weni mendekati Zidan yang tengah duduk sendiri. Ia mendudukkan dirinya di samping Zidan.


"Mas keadaan Aini sudah sembuh, aku sepertinya harus kembali ke luar negeri karena pekerjaanku sudah menunggu. Aku titip Aini ya, aku yakin kebahagiaan Aini adalah bersama kamu dan Arumi"


"Sebenarnya aku akan lebih senang jika kau mau tinggal bersama Aini lebih lama, tapi jika kau ingin berangkat lebih baik kau tanyakan hal itu kepada Aini, karena Aini adalah anak kamu"


Zidan memandang mata Weni mengisyaratkan sesuatu yang ingin dirinya katakan. Zidan berharap Weni tidak pergi jauh dari Aini karena Aini sudah dekat dan nyaman dengannya.


"Tidak mungkin aku tinggal di rumah ini lebih lama lagi mas, apa lagi tinggal dengan pria beristri. Aku juga tidak punya keluarga disini aku tinggal sendiri"Ujar Weni.


"Kau bisa tinggal dengan Aini, Aini boleh tidur di rumah kamu semaunya"


"Apa mas? Aini boleh tinggal denganku?"


"Kenapa tidak? Kau kan ibunya. Kau berhak tinggal bersama Aini"


Saat itu juga Arumi datang.


"Iya Wen kau boleh tinggal bersama Aini. Kau boleh ajak Weni keumahmu kapanpun kamu mau, dia kan anakmu"Timpal Arumi.


Malam ini Weni memutuskan untuk pulang ke rumah untuk membersihkan rumah yang selama beberapa tahun ia tinggalkan. Weni janji akan kembali dan mengajak Aini ke rumahnya.


"Aini sayang, mama Weni pulang dulu ya?"Ucap Weni.


"Iya ma, tapi nanti main ke rumah Aini lagi ya"


Weni mencium kening Aini dan berpamitan dengannya.


"Zidan, Arumi aku pulang dulu ya? Besok-besok aku akan kesini lagi. Oh ya aku sudah memberi kabar dan aku keluar dari pekerjaan ku yang ada diluar negeri. Aku akan tinggal di Indonesia lagi agar bisa main terus sama Aini"Ujar Weni.


"Terimakasih ya Wen, semoga kau lebih sukses dan berhasil di sini"


"Iya aku pamit dulu ya"


"Hati-hati ya Wen"


Weni pun pergi meninggalkan rumah mewah mereka.


*******

__ADS_1


Pagi ini Arumi tengah bersantai dengan suami sambil menikmati secangkir teh dan sepotong roti.


"Tidak terasa ya mas sebentar lagi aku mau lahiran. Kira-kira anak ini mirip siapa ya?"Ujar Arumi.


"Iya tinggal dua bulan lagi kita bertemu anak ini. Kayaknya sih mirip aku hehe"Jawab Zidan sambil tertawa.


"Jelek dong hehe"Balas Arumi.


"Ih kok jelek si, suami sendiri kau bilang jelek lalu apa arti dari kehamilan ini"Zidan menarik tengkuk leher Arumi dan mencium gemas pipinya.


"Iya deh tampan, kau menang laki-laki tampan"


"Nah gitu dong, masa suami sendiri kau bilang jelek"


"Maksud ku laki-laki tampan itu dokter Bram mas, hahaha"Arumi tertawa keras dan beranjak pergi meninggalkan Zidan.


Zidan menepuk jidatnya melihat kekonyolan sang istri.


"Kenapa bisa ya ketampanan dokter Bram bisa menutupi ketampanan ku dimata Arumi? Tapi memang dia tampan, buktinya banyak ibu-ibu tergila-gila padanya"Gumamnya.


Berangkat ke kantor.


"Aku berangkat dulu ya, aku hanya ada meeting di kantor jadi tidak terlalu malam aku sudah pulang"Ujar Zidan.


"Iya mas jangan telat ya, hari ini kan aku jadwal periksa kandungan"Ucap Arumi sambil memakaikan dasi sang suami.


"Iya nanti kita periksa kandungan, biar kamu bisa ketemu dokter Bram"Gerutu Zidan sedikit kesal.


"Hehe, kau tau sekali mas aku sudah tidak sabar tau mas hehe"Ujar Arumi dengan konyol.


"Hmmmm!!"Gumam Zidan.


"Hehe, hati-hati ya mas"Arumi mencium Zidan kemudian mencium tangannya.


*********


"Aini mulai besok Aini masuk sekolah ya, kan sudah lama Aini gak masuk sekolah"Ujar Arumi.


"Iya Bu, Aini juga kangen sama temen-temen kangen sama Ibu guru"Jawab Aini.


"Iya anak cantik yang pinter"


Merasa jenuh dan tidak ada kegiatan Arumi berinisiatif merubah kamar kosong menjadi kamar yang cantik untuk calon bayi yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.


Sebelumnya Arumi dan Zidan sudah membeli beberapa barang perlengkapan sang bayi, Arumi menyapu kamar dan menata ruang dengan barang-barang yang lucu. Karena kemarin Aini masuk rumah sakit jadi belum sempat membersihkan kamar tidur yang sudah disiapkan untuk sang bayi.

__ADS_1


Aini sangat senang dan ikut membantu merapihkan kamar untuk calon adiknya. Aini juga membawa beberapa boneka miliknya dan ditaruh di kamar baru milik calon adiknya itu.


__ADS_2