Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
106.PERKARA GINJAL


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu, Arumi dan Zidan hanya bisa menatap pilu keadaan Aini yang semakin hari semakin memburuk. Sudah hampir satu bulan Aini dirawat di rumah sakit melawan penyakitnya. Sampai pada akhirnya sang dokter datang dan memberi kenyataan pahit kepada mereka.


"Pak, Bu sebelumnya saya turut prihatin dengan keadaan Aini, saya merasakan apa yang bapak dan ibu rasakan saat ini. Tapi ada satu hal yang harus kita lakukan untuk kesembuhan Aini"Ujar sang dokter.


Zidan bertanya apa yang akan dokter lakukan untuk Aini"Apa Dok?"


"Donor ginjal!"


Terkejut, Arumi dan Zidan sangat terkejut mendengar perkataan dokter. Mereka hanya bisa menangis namun apapun itu mereka akan melakukannya asal Aini cepat sembuh dan sehat kembali seperti semula.


"Dok kapan donor ginjal akan dilakukan?"Ujar Zidan.


"Besok akan dilakukan operasi jika bapak menyetujui semua persyaratan nya"


Zidan menegakan dada bidangnya dan siap melakukan donor ginjal kepada Aini.


"Baik Dok, biar saya donorkan ginjal saya untuk Aini"Tegas Zidan.


"Baik, nanti ada pemeriksaan apakah ginjal bapak baik dan cocok dengan Aini"


"Baik Dok"


Arumi terus mengusap punggung Zidan setidaknya bisa sedikit menenangkan dirinya.


"Mas kau sebaiknya istirahat ya, biar Aini aku yang jagain. Besok kan kamu harus cek kesehatan agar fisikmu sehat"Jelas Arumi.


"Kau sedang hamil, seharusnya kau yang istirahat aku baik-baik saja aku akan sehat untuk Aini fisikku juga kuat"Ujar Zidan seakan menolak untuk beristirahat.


Arumi pun mengalah dan memahami keadaan sang suami.


"Ya udah mas aku istirahat dulu"Arumi pergi meninggalkan Zidan yang tengah duduk di samping putrinya. Arumi membaringkan tubuhnya di kursi yang ada didalam ruangan seketika matanya pun mulai terpejam.


Zidan masih menunggu dan menatapi wajah cantik sang putri yang kian pucat dan meredup penuh rasa sakit. Zidan tau betul apa yang sedang putrinya rasakan tidaklah mudah untuk gadis kecil sepertinya menahan rasa sakit yang begitu luar biasa.


Tak lama kemudian ponselnya berdering, Weni malam itu yang memanggil dirinya, iapun langsung menerima telepon dari Weni.


Zidan menengok wajah putrinya, nampaknya sangat lelap, begitu juga dengan Arumi. Zidan memutuskan untuk keluar dan menerima telepon Weni diluar ruangan agar tidak menggangu mereka.


"[Ya, halo Wen?]"Ucap Zidan kepada Weni.


"[Mas Zidan bagaimana keadaan Aini? Apa dia baik-baik saja

__ADS_1


?]"Tanya Weni dengan penuh khawatir.


Zidan terdiam sejenak, lalu meneruskan obrolannya dengan Weni.


"[Aini semakin memburuk Wen, maafkan aku jika aku dan Arumi belum bisa menjadi orang tua yang baik untuknya. Besok Aini akan segera dioperasi aku akan mendonorkan ginjal ku untuknya]"Ujar Zidan dengan penuh kepedihan.


Weni terdengar kaget dan tidak menyangka jika sang putri akan menjadi seperti ini. Namun ia sadar jika semua ini adalah cobaan untuknya, untuk Aini dan untuk orang-orang yang menyayangi putrinya.


"[Kau tidak perlu merasa dirimu tidak berguna. Kau adalah Ayah yang hebat untuk Aini, kau dan Arumi adalah orang tua yang hebat. Semua ini bukan salah kalian, aku akan pulang besok dan menjenguk Aini ke Indonesia]"Ucapnya seraya menangis lirih.


"[Aku mau siap-siap untuk pulang ke Indonesia. Kau jaga Aini baik-baik]"Imbuh Weni.


"[Ya, aku akan selalu menjaga Aini]"


Lalu telepon mereka terputus, Zidan kembali masuk kedalam ruangan dan melihat Arumi tengah duduk sambil menemani Aini. Ia pikir saat itu Arumi tengah tidur pulas.


"Kau terbangun? Apa di rumah sakit ini banyak nyamuk?"


"Kau bilang apa mana mungkin di rumah sakit mewah seperti ini ada nyamuk, aku memang belum tidur aku hanya memejamkan mataku saja. Bagaimana aku bisa tidur melihat Aini sedang sakit, barusan kau bicara dengan Weni?"Tanya Arumi.


"Iya barusan Weni telepon aku dan katanya dia besok akan pulang ke Indonesia. Dia ingin liat keadaan Aini"


"Semoga Aini lebih semangat lagi ya mas, siapa tau dengan adanya Weni bisa membuat keadaan Aini lebih baik lagi"


********


Kepulangan Weni ke Indonesia.


Tepat pagi hari Weni sudah sampai di Indonesia, ia langsung menuju rumah sakit tempat Aini dirawat.


Hari ini Zidan sedang melakukan pemeriksaan untuk melakukan donor ginjal. Sementara itu Arumi sedang asyik bercanda dengan Aini.


Namun Aini sepertinya mencari sang Ayah yang sejak pagi tidak kelihatan didalam ruangan.


"Bu ayah kemana?"Tanya Aini sambil melirik ke kanan dan kiri.


Arumi menghela nafasnya, ia tak mungkin memberi tahu Aini jika sang ayah sedang diperiksa untuk mendonorkan ginjalnya untuknya. Namun mana mungkin Arumi tidak memberi tahunya, bagaimana jika nanti Aini bertanya ketika akan dilakukan operasi.


"Aku lebih baik beri tau Aini, pasti Aini sudah bisa mengerti apa yang sedang Ayah nya perjuangkan"Batinnya.


"Aini sayang, hari ini Aini akan dioperasi ya nak. Gak sakit kok Aini yakin ya pasti Aini akan sembuh dan kita kumpul-kumpul lagi di rumah"Ujar Arumi.

__ADS_1


Namun Aini sangat terkejut mendengar kata operasi.


"Aini tidak mau Bu! Aini takut!"


Aini berteriak membuat Arumi langsung memeluk dan menenangkan Aini.


"Sayang, maafkan Ibu"Arumi memeluk Aini sampai Aini tenang dan berhenti menangis.


"Bu Aini tidak mau di operasi. Aini takut"Jelas Aini kembali.


"Iya sayang Aini gak akan di operasi, Aini jangan takut ya"Arumi mengusap rambut Aini dan menciumnya agar lebih tenang.


Sementara itu Zidan sedang menunggu hasil dari pemeriksaan yang dilakukan. Zidan terus memperhatikan pintu laboratorium dan berharap sang dokter akan segera keluar dan memberi tau hasilnya.


Tubuhnya mulai gemetar rasanya sudah tak sabar lagi, ia berharap fisiknya baik-baik saja sehingga bisa melakukan donor ginjal untuk Aini.


Satu jam berlalu akhirnya sang dokter keluar, tampak sang dokter membawa lembaran kertas putih yang tengah digenggamnya. Dokter mendekati dirinya yang sedang berdiri walaupun ada kursi duduk yang disediakan. Bukan karena tidak mau mendudukinya namun dirinya tidak mau menunggu lama untuk melihat hasil dari pemeriksaan yang dilakukan nya pagi ini.


"Bagaimana Dok hasilnya?"Belum sampai sang dokter mendekat Zidan sudah dulu mendekati sang dokter yang tengah berjalan menghampiri dirinya.


"Begini Pak. Hasilnya semua baik-baik saja fisik bapak juga baik, namun ginjal bapak tidak bisa kita donorkan untuk putri bapak"Ujar sang dokter.


Zidan seketika marah dan merasa tidak mungkin. Bagaimana bisa ginjal ayah kandung tidak bisa di donorkan untuk darah dagingnya sendiri.


"Tapi Dok bagaimana bisa! Saya kan ayah kandungnya bagaimana bisa ginjal saya tidak bisa didonorkan untuk putri kandung saya sendiri!"Jelasnya dengan tegas.


"Maaf pak, karena ginjal bapak bermasalah. Kami menyayangkan jika donor ginjal bapak dilakukan maka akan berdampak negatif untuk putri bapak"Ujar dokter.


"Lalu bagaimana dengan nyawa putriku Dok!"


Zidan semakin tidak bisa mengontrol emosinya, mengingat keadaan Aini sudah cukup parah.


"Bagaimana dengan ginjal ibunya? Siapa tau ginjal ibunya bisa untuk didonorkan"Ucap dokter.


Seketika Zidan terdiam dan baru ingat jika hari ini Weni pulang ke Indonesia.


Lalu Zidan mengiyakan ucapan sang dokter dan meminta maaf padanya jika ucapannya sangat tidak sopan kepada seorang dokter.


"Iya Dok, hari ini ibunya datang. Semoga bisa menolong Aini, dan saya minta maaf atas sikap saya baru saja yang terkesan tidak sopan kepada dokter"


"Tidak apa-apa pak, saya memaklumi apa yang sedang bapak rasakan"Jelas sang dokter.

__ADS_1


Kemudian dokter pergi bertugas kembali.


__ADS_2