
"Lebih baik aku cari makan aja lah, Mas Zidan juga pasti lagi senang-senang sama Laras"Ujar Arumi.
Arumi pergi tidak membawa mobil, ia memilih Taxi online untuk mengantarnya ketempat tujuan. Malam ini Arumi akan pergi ke restoran terdekat, kebetulan malam ini Arumi sedang ingin makan seafood terenak yang ada di kotanya.
Sampainya direstoran Arumi langsung memilih tempat duduk, ia memilih tempat duduk yang berada di baris paling belakang. Arumi mendudukan tubuhnya kemudian memanggil pelayan restoran dan memesan kepiting pedas.
Arumi tercengang melihat wajah tampan pelayanan restoran yang sangat gagah dan berwibawa mendatangi dirinya seraya membawakan kepiting pedas yang dipesannya.
"Silahkan Nona, selamat menikmati"Ucap pelayanan restoran tersebut.
"Tampan sekali pelayan itu? Ah apaan sih aku kan udah punya suami"Ucap Laras tersenyum.
Arumi menikmati kepiting pedas yang ia pesan, namun belum selesai makan hujan tiba-tiba turun begitu deras Arumi panik dan langsung menghabiskan makanannya kemudian menelfon Zidan untuk segera menjemputnya.
"Mas, kamu sudah pulang belum? Jemput aku ya?"Tanya Arumi lewat telepon.
"Dimana? Ini kan hujan deras, biar aku jemput"Ucap Zidan dengan nada terpatah-patah.
"Direstoran seafood yang biasa kita makan Mas?"Balas Arumi.
"Iya aku segera kesana"Ucap Zidan kembali.
Sementara itu Laras terlihat melotot mendengar pembicaraan Arumi dan Zidan, padahal malam ini mereka baru saja sampai dirumah dan kebetulan sedang duduk bersama.
"Kenapa lagi Arumi, ngapain dia keluyuran malam-malam!"Tanya Laras ketus.
"Dia keluar cari makan, kamu tidak usah bicara aneh-aneh, aku mau jemput Arumi dulu"Ucap Zidan kepada Laras.
"Manja amat! Paling juga Arumi sengaja gak bawa mobil biar bisa dijemput Mas Zidan!"Pekik Laras.
Sudah 20 menit Arumi menunggu kedatangan Zidan, tak berselang lama Zidan terlihat turun dari mobil dan berlari menembus derasnya air hujan. Arumi melambaikan tangannya memberi isyarat kepada Zidan yang saat itu sedang mencari dirinya, karena memang restoran seafood sedang ramai malam ini.
"Mas, baju kamu basah!"Ucap Arumi.
"Tidak apa-apa hanya sedikit, kamu sudah makan apa belum pesan?"Tanya Zidan.
"Sudah makan Mas, kamu sudah belum biar aku pesenin ya? Atau kamu mau kopi?"Ucap Arumi kepada Zidan.
__ADS_1
"Aku sudah makan, lebih baik kita pulang saja hujan semakin deras takutnya sampai malam"Ucap Zidan.
Merekapun pulang bersama memecah derasnya air hujan yang menggenangi jalanan, sesekali Arumi mendekap tubuhnya tak lain karena merasa sangat kedinginan dan mengantuk.
"Kau kedinginan?"Tanya Zidan.
"Jelas sangat kedinginan, hujan deras begini mana mungkin kau tidak kedinginan pasti lebih dariku"Sahut Arumi.
"Bagaimana jika malam ini aku tidur denganmu? Aku kan suamimu masa kita tidak pernah tidur bersama. Kita menikah sudah satu bulan dan sama sekali kita tidak pernah bersentuhan layaknya suami-istri"Ujar Zidan.
"Aku juga sama sepertimu, tapi bagaimana dengan istrimu yang satunya? Bukankah dia punya hak yang sama sepertiku?"Balas Arumi.
"Aku tidak mencintainya mana mungkin aku melakukan hal itu? Aku hanya mencintaimu Arumi?"Ujar Zidan.
"Aku memang salah, semua ini memang salahku"Ucap Zidan pelan.
"Mas? Kamu pasti bisa!"Ucap Arumi seraya menggenggam tangan Zidan penuh semangat.
"Terimakasih Arumi, kau tidak hanya cantik. tapi juga baik hati aku beruntung bisa menikahimu walupun tadinya kau terpaksa menikah denganku"Ujar Zidan.
"Kali dari awal aku tau itu kamu, pasti aku tidak akan mau!"Pekik Arumi.
"Masa? Tapi pada akhirnya kau sangat bahagia bukan? Hehe"Ucap Zidan tertawa membuat Arumi ikut tertawa bersama.
__ADS_1
Sementara itu Laras masih menunggu kepulangan mereka berdua, Laras mondar-mandir seraya terus mengintip dari balik jendela. Tak berselang lama mobil Zidan terlihat pulang dan parkir didepan rumah, Laras langsung memasang badan dan muka ketusnya untuk menyambut Arumi.
Baru saja Arumi masuk Laras sudah dihadapkan dengan pemandangan yang sangat tidak enak, dimana Laras memandang dirinya dengan pandangan mata yang sangat tajam.
Sedikit demi sedikit Laras mendekati Arumi yang saat itu sudah masuk lebih dulu sedangkan Zidan masih ada di dalam mobil untuk mengambil ponsel yang tertinggal.
"Ngapain aja kamu sama Mas Zidan kenapa sampai malam begini? Kamu manja banget sih pake acara minta jemput segala! Pergi aja sendiri pulang minta jemput!"Ujar Laras.
"Terus aku salah? Perasaan aku juga istri Mas Zidan, aku istri pertama sedangkan kamu hanya istri kedua!"Pekik Arumi.
"Berani kamu ya! Yang tadinya mau menikah itu aku sama Mas Zidan bukan kamu!"Ucap Laras.
"Ya udah terima saja, toh semua ini sudah terjadi bukan?"Ujar Arumi.
"Ada apa ini? Ngapain kalian bertengkar, kalian berdua itu sama-sama istriku aku mau kalian berdua akur, tidak usah bertengkar lagi!"Pekik Zidan.
Merasa kesal Zidan langsung pergi menuju kamarnya, Zidan langsung membanting badannya diatas ranjang seraya memijat keningnya dan menarik nafas dalam-dalam.
"Aku tidak habis pikir kenapa mereka tidak bisa akur sama sekali!"Ucapnya.
Zidan beranjak kembali dan menemui Laras, kali ini Zidan benar-benar ingin Laras dan Arumi akur seperti dulu lagi. Kebetulan Laras sedang ada di kamarnya Zidan kemudian masuk dan menasehati istri keduanya itu.
"Aku mohon padamu jangan berselisih lagi dengan Arumi, aku hanya minta kamu sama-sama menerimanya, jika bukan karena Arumi aku pasti tidak akan menikah denganmu"Ujar Zidan.
"Aku akan menerima Arumi jika kau berbuat adil! Jika kau mencintai Arumi mak kau juga harus mencintai aku sepertinya!"Ujar Laras.
"Aku akan berusaha mencintaimu asal kau mau berjanji mulai besok jangan ada lagi pertengkaran diantara kalian berdua, aku tidak ingin melihat hal semacam itu lagi!"Sahut Zidan.
"Baiklah, aku akan menuruti maumu asal malam ini kau tidak meninggalkan kamar ini hanya karena kau tidak cinta denganku?"Ucap Laras seraya mengunci pintu kamarnya.
"Apa yang kau lakukan?"Ucap Zidan gugup.
"Seperti yang dilakukan oleh pasangan suami-istri, memangnya kenapa?"Tanya Laras seraya mengelus dada Zidan membuat Zidan gemetar dan bingung harus berbuat apa.
Laras mencoba menggoda Zidan, Laras membaringkan tubuhnya seraya menopang kepalanya dengan satu tangannya, kemudian dress mininya ia angkat keatas agar pah4 mulusnya terlihat oleh suaminya itu.
Zidan berusaha menahan godaan dahsyat dari Laras, ia memalingkan wajahnya menghadap pintu namun Laras malah mendekatinya den langsung mendekap erat tubuh Zidan. Namun godaan Laras belum bisa memecah iman Zidan, ia tetap bisa menahan walaupun Laras terus menggodanya.
"Tidurlah aku akan temani kau tidur, tapi aku belum bisa menuruti keinginanmu aku harap kau bisa mengerti"Ujar Zidan.
"Kau tidak mau bermain buah kenyal ku, sepertinya kau ingin sekali merasakan hal seperti ini Mas"Ucap Laras kepada Zidan yang masih berbaring di atas ranjang seraya membelakangi Laras.
"Aku tidak mau melihatnya, jangan ganggu aku lagi lebih baik kau tidur saja!"Sahut Zidan seraya membelakangi Laras.
"Lihat dulu Mas nanti kau pasti ketagihan, kau boleh memainkan aku sesukamu Mas, malam ini akan menjadi malah ternikmat kita?"Laras terus menggodanya namun Zidan enggan membalikkan badannya ia hanya terdiam seperti patung.
__ADS_1
Ternyata Zidan tertidur ketika Laras ajak bicara, namun tidurnya Zidan justru menjadi kesempatan emas untuk Laras ia akan berbuat apa saja yang ia mau malam ini, tidak akan ada lagi yang bisa menolaknya.
Bersambung...