Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
47.BURUNG PAPA


__ADS_3

"Ma, hari ini Wandi akan datang?"Ucap Arumi kepada Lisa.


"Jam berapa dia akan kesini Rum?"Tanya Lisa.


"Ini sudah dijalan Ma?"Ucap Arumi seraya gugup.


"Hah! Yaudah kalo gitu Mama bilang Papa kamu dulu suruh siap-siap"Ucap Lisa seraya berlari.


Zaki yang saat itu sedang berjalan masuk melewati pintu belakang tiba-tiba kaget ketika Lisa datang dan langsung menepuk pundaknya dari arah belakang.


"Kau bikin aku kaget saja Ma!"Ucap Zaki seraya menengok ke belakang.


"Pa, kamu ini calon menantu kita mau datang kamu malah belum siap, mana masih pake sarung lagi!"Ucap Lisa sedikit sewot.


"Maaf Ma ini aku baru mau mandi, tadi burungku kotor jadi aku bersihkan dulu biar lebih segar"Ucap Zaki kepada Lisa.


"Burungmu kotor! Emang kamu habis ngapain Pa?"Tanya Lisa sedikit curiga.


"Habis main Ma"Ucap Zaki seraya membetulkan sarungnya.


"Main sama siapa?"Tanya Lisa kembali.


"Tadi burungku habis main sama punya tetangga Ma"Ucap Zaki dengan santainya.


"Tetangga yang mana? Jangan macem-macem kamu ya!"Pekik Lisa.


"Tetangga sebelah Ma, masa kau tidak kenal"Ucap Zaki seraya masuk ke kamar mandi.


"Pa, tunggu!"Dengan sigap Lisa langsung menarik lengan Zaki.


"Ada apa ini?"Ucap Zaki dengan perasaan bingung.


Entah apa yang terjadi dengan Lisa tiba-tiba Lisa marah tidak jelas sampai kesal denganya.


"Bilang padaku apa tetangga yang kau maksud barusan itu adalah Dewi?"Ucap Lisa begitu lantang.


"Iya, barusan aku kerumah Dewi, aku membawa burungku untuk dimainkan dengan burung milik Wanto suami Dewi"Ucap Zaki.


"Mas, maksud kamu burung apa?"Ucap Lisa sedikit bingung.


"Ya burung peliharaan aku lah Ma, kamu kira burung apa?"Ucap Zaki seraya melotot kesal karena terus bertanya.


"Hehe kau mandi saja sebentar lagi menantumu akan datang"Lisa sudah salah paham dengan burung milik suaminya sendiri.


1 jam kemudian datang sebuah mobil mewah yang terparkir sempurna di depan istana megahnya, mobil warna hitam milik Wandi mempunyai harga fantastis bahkan bisa untuk membeli satu rumah mewah.


Kemudian turunlah pria tampan tersebut, dengan memakai kemeja hitam ful kancing serta aksesoris penunjangnya Wandi terlihat sangat mewah bak sultan.


Disusul Sanita dan Bambang turun dari dalam mobil mewahnya, mereka begitu ramah bahkan mereka berdua tidak pernah pelit untuk menebar senyuman kepada siapapun yang ditemuinya.


Sementara itu Arumi sudah berada didepan pintu raksasanya seraya memasang senyum manisnya, ditemani dua orang tua kesayangannya Arumi begitu sangat bahagia.


Wandi menguncap salam begitu sopan, senyumnya memberi kesejukan dalam hati Arumi, begitupun Zaki dan Lisa mereka tidak lupa untuk mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam istananya.


"Silahkan duduk Om, Tante"Ucap Arumi.


"Terimakasih cantik"Ucap Sanita seraya tersenyum penuh.


Lalu Bambang memulai niatnya untuk melamar purti kesayangan Zaki, Wandi sangat gugup ketika akan mengungkapkan perasaannya terhadap Arumi.


"Aku menerimamu Mas"Ucap Arumi tersipu malu.


"Terimakasih Arumi"Ucap Wandi berdebar-debar.


"Bagaimana jika pernikahan anak kami dilaksanakan bulan ini saja bagaimana?"Tanya Bambang kepada Zaki.


"Bagus, lebih cepat lebih baik aku setuju"Ucap Zaki.


Pembicaraan mereka begitu singkat, karena mereka sudah saling yakin satu sama lain, tidak ada lagi ragu diantara mereka.


Sebelum pulang mereka diberi jamuan terlebih dahulu. Berbagai kue yang sangat enak berjajar diatas meja besar, bahkan Sanita sampai bertanya kepada Lisa bagaimana cara membuat kue seenak yang ia makan malam ini.

__ADS_1


Setelah selesai makan kemudian mereka pamit untuk pulang, tidak lupa wanita berparas ayu itu melambaikan tangannya kepada calon suaminya yang baru saja melamarnya.




"Rum?"Tanya Zidan kepada Arumi yang sedang sibuk bekerja ia sengaja datang ke butik Arumi karena mendengar sang adik akan menikah.



"Kak Zidan, sama siapa kakak kesini?"Tanya Arumi seraya memainkan laptopnya.



"Aku sendiri. Rum kakak dengar kau akan menikah?"Tanya Zidan.



"Iya kak, kok kakak tau?"Ucap Arumi.



"Iya kakak tau dari Mama Lisa, kapan Rum?"Tanya Zidan kembali.



"Pernikahan kita dihari yang sama kak"Ucap Arumi.



"Oh ya kok bisa? Ya udah selamat ya Rum"Ucap Zidan seraya tersenyum terpaksa.



"Aku juga tidak tau mungkin kebetulan, iya kak makasih ya"Ucap Arumi seraya tersenyum.




"Aku masih sibuk, masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan kau tunggu saja dirumah"Ucap Zidan kepada Laras lewat ponselnya.



Sikap Zidan membuat Arumi berfikir lebih jauh, apa maksudnya Zidan menutup-nutupi keberadaannya di butik miliknya.



"Kak kenapa bohong, bukanya kakak bilang disini kenapa harus bilang ditempat kerja?"Tanya Arumi seraya beranjak dari tempat duduknya.



"Rum, maksud kakak..."Belum sampai bicara Zidan terdiam.



"Kenapa kak ada apa?"Tanya Arumi kembali.



"Laras cemburu Rum, dia selalu cemburu jika aku dekat denganmu"Ucap Zidan pelan.



"Maksudnya?"Ucap Arumi pelan.



"Ya, sebenarnya kakak...."Tiba-tiba pembicaraannya terpotong oleh karyawan wanita yang memanggilnya.


__ADS_1


"Bu Arumi ada tamu yang sudah menunggu?"Ucap Karyawan.



"Oh ya suruh dia masuk"Ucap Arumi.



Merasa mengganggu pekerjaan Arumi Zidan memutuskan untuk pulang, hampir saja Arumi taju tentang perasaannya. Untung saja pembicaraannya dipotong oleh karyawan Arumi mungkin belum saatnya Arumi mengetahui semua ini.



"Aku akan selalu menjagamu Rum, walaupun kau tidak akan bersamaku"Batin Zidan seraya memandang Arumi dari jauh.



Pria tampan bertubuh tinggi itu pulang meninggalkan butik Arumi, ia langsung pulang karena Laras sudah menunggunya dirumah, ia harap Laras tidak akan curiga dengan kepergiannya ke butik Arumi.



Sesampainya dirumah ia mendapat pemandangan yang tidak enak, bukannya memberi senyuman Laras justru memasang muka asamnya, Zidan tidak habis pikir kenapa semakin lama Laras semakin cemburuan denganya.



"Dari mana?"Tanya Laras jutek.



"Dari Kantor, bukanya kau sudah bertanya lewat telefon"Ucap Zidan seraya mendudukan dirinya disofa.



"Kantor mana? Aku tanya karyawan disana katanya dari pagi kau sudah pulang"Ucap Laras.



"Sudahlah, aku di Kantor mungkin mereka tidak melihatku"Ucap Zidan.



"Kau bohong!"Ucap Laras kembali.



"Apa lagi, aku bohong apa?"Zidan merasa kesal dengan sikap Laras.



"Kau tidak dari Kantor tapi dari butik Arumi!"Pekik Laras.



"Mana buktinya?"Ucap Zidan kembali.



"Waktu aku masih dalam perjalanan aku melihatmu masuk ke butik Arumi, aku langsung menelfonmu tapi kau malah berbohong!"Pekik Laras.



"Kau cemburuan!"Pekik Zidan.



"Ya karena aku cinta kamu!"Ucap Laras begitu lantang.



Laras sangat kesal dengan Zidan, pasalnya Zidan sudah berani berbohong padanya padahal mereka belum menikah. Laras juga curiga dengan Zidan apakah dia mencintai Arumi atau menganggapnya sebagai adik saja.


__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2