Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
68.DUKA


__ADS_3

Melihat Arumi sedang tidur Zidan menutup kembali pintu kamarnya dan berjalan menuju kamar Laras. Belum sampai membuka pintu Zidan sudah mendengar suara raungan Laras dari luar pintu. Suara itu semakin lama semakin aneh, benar saja ketika pintu kamar dibuka Laras terlihat sedang membungkuk menahan sesak nafasnya. Melihat hal itu Zidan langsung teriak dan memanggil Arumi.


Ketika Arumi datang Zidan menyuruhnya membopong tubuh Laras bersama dan dibawa kedalam mobil, Zidan langsung menuju Rumah sakit karena keadaan Laras sudah lemas.


Arumi terus menangisi Laras seraya mengelus perut bulatnya. Ia berharap tidak akan terjadi hal aneh padanya. Sepanjang perjalanan Laras menggenggam erat tangan Arumi, seraya menahan sakitnya Laras terus menangis.


Sesampainya dirumah sakit Zidan langsung membopong tubuh Laras masuk kedalam rumah sakit untuk diperiksa.


Karena sudah tidak sadarkan diri, Dokter langsung membawanya keruang ICU, Arumi menunggu diluar sementara Zidan masuk dan menyaksikan tubuh Laras dipasang alat-alat yang ada di ICU.


Hatinya sakit melihat Laras terbaring tidak sadarkan diri, Dokter menjelaskan penyakit yang diderita Laras sudah sangat parah. Ketika Dokter dan perawat pergi Zidan mulai mendekati Laras yang tengah berbaring ia menggenggam erat tangan Laras dan hanya bisa menangis.


"Yang kuat Laras untuk aku, untuk anak kita. Kau tidak kasian dengan bayi yang ada dalam kandunganmu, dia sangat merindukan kebersamaan bersama kita dia ingin main bersama kita memanggil kita Mama dan Papa!"Ujar Zidan seraya menangis dan mengelus perut bulatnya.


Sementara itu Arumi melihat mereka dari luar jendela, Arumi melihat ketulusan cinta Zidan kepada Laras yang begitu besar. Arumi berjalan perlahan membuka pintu ruang ICU. Tubuhnya mulai gemetar ditambah dinginnya ruang ICU yang membuat merinding seluruh tubuhnya.


Arumi mulai mendekati Zidan yang tengah duduk membelakangi dirinya. Melihat tangan Zidan masih menggenggam erat tangan Laras Arumi enggan mengganggunya.


Setelah beberapa lama berdiri Arumi mendekati Laras dan berdiri di samping Zidan yang tengah duduk menemani Laras. Melihat kedatangan Arumi Zidan langsung beranjak dari tempat duduknya dan menyuruh Arumi bergantian duduk lalu ia mengusap air matanya.


"Aku keluar sebentar, kau tunggu Laras. Bilang padanya jangan terlalu lama tidur, suruh Laras bangun!"Ucap Zidan sambil menahan tangisnya yang kembali lagi untuk mengeluarkan bulir-bulir air dari pelupuk matanya.


Arumi duduk sedangkan Zidan keluar meninggalkan ruang ICU. Menatapi tubuh Laras yang tidak berdaya membuat Arumi merasa pilu. Sebisa mungkin Arumi membangunkan Laras dari komanya namun apa daya semua itu diluar batas kemampuannya.

__ADS_1


"Laras cepat sumbuh ya, disini ada aku ada Mas Zidan kita sama-sama lagi yuk. Laras sebentar lagi bayi yang ada dalam kandunganmu ini akan lahir, kau pasti ingin melihat dia mirip siapa!"Arumi mencoba mengajak bicara Laras lewat telinganya namun Laras benar-benar seperti orang yang sedang tidur.


Arumi mencoba memegang perut Laras, masih terasa hangat dan sesekali perutnya gemetar. Bayi mungil yang ada dalam kandungannya sepertinya sedang menendang-nendang perut sang ibu yang masih tidak berdaya.


Sepintas Arumi melihat jari jemari Laras mulai bergerak tapi hanya sekali saja, namun Arumi dibuat kaget dengan air mata Laras yang mengalir begitu saja. Laras seperti mendengar ucapan Arumi, melihat hal itu Arumi langsung mengajak Laras bicara lagi.


Tak berselang lama Zidan masuk keruang ICU Arumi langsung memberi tahu apa yang baru saja dilihatnya. Arumi menunjukan kepada Zidan bahwa Laras baru saja menangis, ia juga memperlihatkan air mata Laras yang masih menempel pada pipinya.


Zidan tidak percaya dengan semua ini, namun apa yang dikatakan Arumi menang benar. Lalu sang Dokter masuk dan mulai memeriksa Laras kembali, Dokter mengatakan Laras masih kritis namun Zidan menyakalnya.


"Istri saya baru saja menangis Dok! Tapi kenapa dia tidak sadar-sadar!"Ujar Zidan kepada Dokter.


"Maaf Tuan, pasien yang mengalami koma rata-rata mereka bisa menangis karena masih ada kemungkinan mendengar suara dari kerabat yang datang atau mengajaknya bicara namun masih dalam keadaan tidak sadar!"Jelas Dokter.


"Semua pasien dirumah sakit ini pasti mendapat yang terbaik dari pihak Rumah sakit, Tuan tenang saja!"Ujar Dokter.


Arumi mencoba menenangkan Zidan dan memberinya pengertian agar tidak berfikir buruk karena akan membuat keadaan Laras semakin buruk.


"Mas kendalikan emosimu! Jangan membuat semuanya semakin buruk!"Pekik Arumi lalu Zidan pun terdiam.


Sudah larut malam Arumi meninggalkan Zidan yang masih kokoh duduk menunggu Laras sadar dari komanya. Arumi tidur lebih awal karena sangat lelah.


Pukul 3 pagi Zidan tertidur, ia menyenderkan kepalanya pada ranjang tidur Laras. Namun tak lama kemudian Zidan merasakan gerakan dari tangan Laras. Zidan terbangun dan membuka matanya. Zidan melihat Laras bangun dari komanya namun dengan pandangan kosong Laras berusaha berkomunikasi namun bibirnya seperti terkunci.

__ADS_1


Zidan beranjak dari tempat duduknya, dengan jantung berdebar-debar Zidan mencoba berkomunikasi dengan Laras, namun Laras hanya melotot dan mencengkram erat tangan Zidan seperti akan bicara sesuatu.


Zidan berteriak begitu histeris memanggil Dokter sampai membuat Arumi kaget dan terbangun dari tidurnya.


Dokter dan perawat langsung datang mereka mencoba menolong Laras namun denyut jantungnya semakin melemah, pada akhirnya Laras menghembuskan nafas terakhir dan semua angka pada layar monitor hilang menandakan Laras meninggal dunia!


"Maaf Tuan kami sudah berusaha, tapi Tuhan lebih sayang kepada Nyonya Laras!"Ujar Dokter penuh duka cita.


Arumi menangis memeluk tubuh Laras yang sudah tidak berdaya. Zidan memukul dirinya sendiri atas kematian Laras, ia menyesal tidak bisa membahagiakan Laras di akhir hidupnya. Meraka hanya bisa menangis meraung-raung berharap yang tiada akan kembali lagi.


"Dok, bagaimana dengan bayi yang ada dalam kandungannya?"Tanya Zidan seraya memegang perut Laras.


"Bayi itu sudah menjadi malaikat kecil di surga bersama sang Ibu!"Ujar Dokter berkaca-kaca.


Tangis! Hanya tangisan yang bisa mengungkapkan perasaannya saat ini. Bayi yang selama ini ia dambakan sudah lebih dulu pergi kesurga sebelum dia melihat dunia.


"Anaku? Jaga Mama disurga ya sayang!"Zidan terkulai menangis tak sanggup menahan perih yang sedang ia rasakan. Kepergian Laras menjadi pukulan terberat baginya


"Mas kamu yang iklas relakan kepergian Laras mereka sudah bahagia disurga. Laras sudah tidak sakit lagi Mas"Ujar Arumi memegang punggung Zidan.


"Aku baru saja kehilangan dua nyawa yang aku sayangi Arumi!"Zidan masih terpukul.


Dua perawat melepas peralatan yang menempel pada tubuh Laras. Lalu mereka menutupi tubuh Laras dengan selimut Rumah sakit. Kemudian Laras dibawa menuju mobil ambulans.

__ADS_1


Zidan mencoba memberi kabar kepada Delia dan Wisnu, setelah mereka tahu mereka langsung syok mendengar Laras sudah meninggal. Wisnu dan Delia akan langsung pulang dari luar negeri untuk menghadiri proses pemakaman Laras.


__ADS_2