
Setelah meminum kopi tersebut tidak terjadi hal aneh padanya, namun beberapa menit kemudian perasaannya berubah menjadi semakin hangat dan terasa naik hasrat pada kejantanannya. Zidan menengok kebelakang dia melihat Weni sedang tertidur lelap, ia mencoba menahan rasa birahinya yang tiba-tiba muncul dengan sendirinya.
Namun semakin lama rasa itu semakin berat untuk ditahan. Zidan menutup laptopnya dan menahan kejantanannya dengan menjepit nya dengan kedua pahanya namun rasa itu malah semakin memuncak dan tidak tertahankan lagi.
Zidan berdiri dan terus memandang Weni yang tengah tertidur dengan pakaian seksi milik Arumi. Zidan perlahan mendekati Weni dan duduk dipinggir ranjang seraya meremas kejantanannya dengan perasaan tidak kuat.
"Apa yang akan aku lakukan, kenapa aku tiba-tiba seperti ini!!"Gerutu Zidan.
Jari jemarinya mulai bergerak dan mendekati tubuh Weni yang tengah berbaring, namun jari jemarinya masih enggan untuk menyentuh. Zidan kembali berdiri dan menjauhi Weni.
"Aku harus bisa menahannya!!"Zidan duduk kembali dan membuka laptopnya untuk mengalihkan pikirannya dari hal seperti itu.
Tak lama kemudian Weni terbangun dan berjalan ke kamar mandi, Weni berjalan melewati Zidan yang tengah duduk dan menyembunyikan sikap anehnya, Weni menatap mata Zidan dengan pandangan menggoda nya sedangkan Zidan pura-pura tidak merasakan apa-apa.
Setelah berada dikamar mandi Weni sedikit kesal dan sewot dengan apa yang ada didalam kamar mandi. Gayung pun ia banting saking kesalnya dengan obat yang dikiranya tidak ampuh membuat Zidan tergoda padanya.
Weni keluar dari kamar mandi dan kembali ke atas ranjang, tak sampai disitu ia juga terus memandang ke arah Zidan yang tampak diam dan santai seperti tidak terjadi apa-apa.
"Sial!! Katanya obatnya ampuh, tapi mana buktinya dia tidak apa-apa!!"Gumamnya pelan.
Merasa kesal Weni mematikan lampu kamar dan membuat Zidan merasa kaget dan heran dengan sikap Weni. Apa mungkin dia sudah gila, pikirnya.
"Ada apa denganmu? Tadi kau membanting gayung sekarang kau mematikan lampu apa kau tidak lihat aku sedang bekerja!"Ujar Zidan dengan lantang.
"Sekarang sudah waktunya istrirahat, aku tidak bisa tidur jika lampunya masih menyala!"Gerutu Weni.
Namun tak dipungkiri ia masih menahan birahi yang amat sangat besar dan birahi itu mulai memuncak ketika ia melihat tubuh Weni yang begitu seksi berbaring diatas ranjang. Mustahil jika laki-laki tidak tergoda jika melihat wanita berpakaian seksi sedemikian rupa.
"Aku harap kau bertindak cepat, karena semua ini sangat membebaniku! Apa kau tidak bisa melakukannya agar aku cepat hamil dan memberi istrimu anak! Lagi pula perbuatan itu tidak dosa kita kan sudah sah menjadi suami istri, justru kau berdosa membiarkanku kesepian seperti ini!"Ujar Weni dengan tegas.
Zidan terdiam sejenak, menyaring ucapan yang dilontarkan oleh Weni. Ucapan Weni tidak salah, jika mereka berbuat hal seperti itu tidak akan dosa karena mereka adalah suami istri.
"Benar juga yang dia katakan! Namun bagaimana pun juga dia tetap wanita murahan!"Batin Zidan.
__ADS_1
Zidan mulai menutup kembali laptopnya dan mendekati Weni yang masih setengah berbaring dan tersenyum kepada dirinya.
Kali ini Zidan benar-benar sudah lupa dengan semuanya, racun birahi yang diberikan Weni sudah liar didalam tubuhnya.
"Mendekatlah, aku ini istrimu"Ucap Weni menggoda.
Zidan semakin dekat dan lebih dekat, kini ia mulai memejamkan matanya dan memeluk Weni sambil menggerayangi tubuhnya yang sangat seksi itu. Zidan langsung melakukan nya dengan penuh gairah.
Namun Weni mengambil alih dan menjadi pemimpin malam itu membuat Zidan semakin menantang, obat yang masuk dalam tubuhnya membuatnya sangat kuat dan tahan lama.
Weni merasa kenikmatan yang tiada duanya, rasa yang baru ia rasakan namun tidak ingin melepaskan rasa itu. Perlahan rasa itu semakin naik dan keluar dari batas dindingnya, sungguh terasa hangat dan sangat nikmat membuat urat kecilnya berdenyut sangat nikmat.
Zidan menyusul dengan birahi yang meloncat-loncat membuat Weni merasakan kenikmatan kedua kalinya yang lebih nikmat dari sebelumnya. Dan mereka merasa puas atas permainan malam ini sampai membuat Zidan ketiduran dengan mudahnya.
"Aku berhasil membuatmu tak berdaya!"Gumam Weni sambil membelai bibir Zidan yang masih tertidur pulas.
Tak berselang lama ia mendapat pesan dari Arumi, pesan itu berisi peringatan untuknya agar malam ini tidak gagal melakukan perjanjian nya yang sudah disepakati bersama.
"Kau tenang Arumi, suamimu sudah tertidur pulas dia habis menantang ku malam ini!"Ucap Weni tersenyum sambil memegang ponselnya.
Mata yang semula terlelap dalam mimpi kini mulai terbuka melihat dunia kenyataan yang belum selesai dilewati. Zidan terbangun dan menyadari dirinya dalam keadaan telanjang dan hanya ditutupi selimut yang menempel pada tubuhnya sejak tadi malam.
"Aku sudah melakukan nya!!"Gumam Zidan.
Lalu Weni masuk dan membawakan secangkir kopi untuk dirinya, Zidan memperhatikan leher Weni yang penuh tanda merah bekas gigitan.
"Lehermu? Wen apa yang sudah aku lakukan"Tanya Zidan gugup.
"Ya, tadi malam kau sangat buas aku hampir dimakan olehmu"Gumam Weni sambil tersenyum.
"Kau memberiku apa? Tidak mungkin aku seperti itu!"Jawabnya ketus.
"Aku tidak memberimu apapun, kau memang melakukannya sendiri"Ujar Weni.
__ADS_1
Lalu Weni menyuruh kopi tersebut diatas meja dekat ranjang, Zidan teringat dengan kopi yang diberikan Weni tadi malam. Kopi itu dicurigai Zidan, pasalnya setelah minum kopi tersebut dirinya merasa brutal dan tidak bisa dikendalikan.
"Apakah gara-gara kopi semalam?"Ujar Zidan kepada Weni.
"Kau ada-ada saja, mana mungkin kopi membuatmu buas seperti itu"Sentil Weni menggoda.
"Kau mengulanginya lagi! Kau buatkan aku kopi karena kau merasa belum puas"Ujar Zidan dengan tatapan mata yang tajam.
"Kau buktikan saja jika kopi yang tak bersalah ini akan membuatmu brutal seperti semalam!"Gumam Weni.
"Hmm, aku percaya tapi aku tidak percaya kau tidak melakukan sesuatu!"Ujar Zidan lalu meminum kopi yang diberikan Weni pagi itu.
"Tok Tok Tok"
Ternyata pagi itu Arumi sudah pulang, Weni membukakan pintu dengan wajah bahagia. Sementara itu Zidan sedang mandi karena semalam habis melakukan hal itu dengan Weni.
"Hai Rum, masuk yuk"Ucap Weni tersenyum.
"Wen!"Arumi melihat bekas merah pada leher Weni namun ia diam dan tidak menanyakan lebih dulu kepada Weni.
Arumi masuk dan duduk di sofa, Weni dengan gembira selalu memasang wajah bahagianya didepan Arumi yang masih lemas melihat bekas gigitan yang tidak sedikit dileher Weni.
"Weni sepertinya berhasil, dia terlihat senang sekali. Lalu tanda itu? Kenapa begitu banyak tanda merah pada leher Weni, itu tandanya Mas Zidan sangat menikmati dengan Weni"Batin Arumi.
"Wen, kau sudah melakukannya?"Tanya Arumi pelan.
"Sudah Rum, dia liar sekali. Tidak! Maksudku suamimu sangat sudah untuk digoda!"Ujar Weni gugup.
"Ya Tuhan kenapa kau merasa sangat cemburu dan marah!!"Batin Arumi.
"Semoga kau lekas hamil dan perjanjian kita segera selesai!"Ujar Arumi sedikit ketus.
"Kenapa Arumi seperti cemburu seperti itu! Mungkin aku terlalu menyinggungnya"Batin Weni.
__ADS_1
"Iya Rum, aku akan berusaha"Jawab Weni.