
Entah apa yang akan Zidan katakan lagi kepada Laras, sepertinya sudah tidak ada alasan lagi untuk menolaknya. Kini Zidan hanya bisa berusaha untuk bisa menerima kenyataan bahwa Laras adalah istrinya.
"Aku sudah berjanji didepan penghulu dan para saksi, kewajiban ku adalah menafkahimu juga memberimu nafkah batin, jadi tidak mungkin jika aku akan menolaknya lagi Laras"Ucapannya pelan.
"Mas, bagaimana aku tidak mencintaimu kau benar-benar suami idamanku"Ujar Laras. Kemudian ia mulai mendekati Zidan dan memeluknya seraya membuka piyama yang dipakainya malam itu.
"Kemarin kau gagal memperkosaku, apakah kali ini kau benar-benar akan memeperkosaku?"Tanya Zidan sambil tertawa. Rupanya pria tampan itu sudah bisa bergurau dengan Laras.
"Bagaimana kalo kau saja yang memperkosaku sepertinya lebih lucu, tiba-tiba muncul berita seorang laki-laki telah memperkosa wanita yang tidak dia cintai"Ujar Laras, lalu mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal karena kekonyolan yang mereka buat.
"Aku yakin kau tidak sejahat sikapmu Laras, kau berbuat nekat hanya karena ingin mempertahankan hakmu"Batin Zidan.
Zidan tidak pernah meminta mempuyai dua istri, namun takdirlah yang membawanya kedalam kehidupan yang penuh drama bak Novel yang ditulis oleh tangan penuh skenario.
Dari sikapnya Zidan melihat Laras begitu sangat mencintainya, tapi entah kenapa ia justru malah menyakitinya. Perlahan Zidan mulai membelai pipi Laras, ia mulai bisa memberikan nafkah batin malam ini, dan merekapun menyatu dalam satu tujuan yang sama untuk mencapai puncaknya.
Malam yang sunyi hanya diiringi suara rintik air hujan membuat perasaan rindu malam ini mulai tumbuh dan memberontak berharap bertemu belahan jiwa yang hampa.
Arumi terus memandangi rintikan air hujan yang jatuh melintasi jendela kamar yang terbuka. Arumi beranjak berdiri dan mengkokohkan dirinya seraya menyambut datangnya hembusan angin malam yang mendamaikan hatinya.
Semakin malam terasa semakin sunyi hanya suara air hujan yang menemani Arumi malam ini, tidak nampak indahnya bulan menerangi langit, tidak nampak bintang-bintang yang bertebaran. Malam ini benar-benar malam hitam berkabut didalam jiwa yang kelam.
🌻🌻🌻🌻
Pagi hari...
Gerimis tidak henti-hentinya membasahi dedaunan yang hijau dan rimbun, sementara itu Arumi masih terbaring lelap diatas ranjang. Suara petir seketika membangunkan Arumi dari tidurnya namun yang ia lihat masih sama, hanya air hujan yang tampak dari semalam.
"Sudah pagi ternyata semalam aku lupa menutup jendela, saking lelahnya sampai aku ketiduran"Ucapnya seraya menengok ke arah jam dinding.
Lalu Arumi beranjak dari ranjangnya dan berdiri didepan jendela, ia menatapi setiap pepohonan yang basah semua terlihat segar dengan bunga bermekaran yang sangat indah.
Arumi kembali berjalan dan meninggalkan kamarnya menuju tempat makan, namun betapa berdebarnya jantung Arumi ketika melihat keakraban Zidan dengan Laras pagi itu. Arumi berusaha membuang perasaan cemburunya dan menghampiri mereka berdua yang akan sarapan pagi bersama.
__ADS_1
"selamat pagi"Sapa Arumi tersenyum.
"Pagi juga, Arumi kau sepertinya sangat lelah sampai aku bangunkan berkali-kali kau tidak bangun"Ucap Laras.
"Oh ya? Ko bisa ya aku tidak dengar"Ucap Arumi.
"Ya sudah kita sarapan dulu"Ujar Zidan, kemudian mereka sarapan bersama.
Selesai makan Zidan langsung mengajak kedua istrinya pergi ke Mall untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan membeli keperluan yang mereka butuhkan dari pakaian sampai skincare.
"Kalian siap-siap ya, kita ke Mall"Ujar Zidan.
"Arumi cepet mandi"Ucap Laras.
Laras yang saat itu sedang berduaan dengan Zidan merasa sangat bahagia, bibirnya merekah penuh senyuman lepas, kini tidak ada lagi kesedihan yang terpancar pada wajah cantiknya.
Di Mall...
"Kalian pilih saja apa yang kalian mau, beli apa saja yang kalian pingin"Ujar Zidan seraya menemani mereka berdua berjalan berdampingan.
"Mas, aku mau ini ya?"Ujar Laras.
"Ambil saja"Ucapnya.
"Aku juga mau Mas"Sambung Arumi.
"Iya ambil saja semaumu Arumi"Ujar Zidan kembali.
Disela-sela perjalanan Zidan bertemu teman sesama pengusaha, pria itu bernama Nino dulu ia pernah bekerja sama dengan Zidan, setelah proyeknya mulai dibuat Nino malah membatalkan sepihak dan membuat kantor Zidan rugi besar.
"Zidan apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu"Ucap Nino seraya berjabat tangan.
"Baik, kita ko bisa ya ketemu disini"Ucap Zidan.
"Kebetulan aku sedang tidak bekerja jadi aku nemenin istriku belanja disini. Oh ya kamu sama istrimu, yang mana istrimu?"Tanya Nino kepada Zidan.
__ADS_1
Zidan gugup menjawab pertanyaan Nino, ia harus bilang apa sedangkan dua wanita disampingnya semua adalah istrinya. Laras dan Arumi terlihat tegang mereka sedang menunggu jawaban yang keluar dari mulut Zidan, apakah akan mengakui keduanya atau satu dari mereka yang ia akui sebagai istri didepan Nino.
"Tentu saja dia istriku"Ucap Zidan seraya memandang wajah Arumi dan Laras.
"Maksudmu mereka? Kau waras?"Tanya Nino tercengang.
"Ya, mereka berdua istriku"Ucap Zidan dengan jelas.
"Astaga, bagaimana kau bisa menikahi dua wanita? Apa kau masih kurang dengan satu wanita!"Ujar Nino lantang.
"Maaf aku sedang buru-buru sampai jumpa lagi!"Zidan langsung menggandeng Arumi dan Laras pergi dari hadapan Nino, karena Nino selalu bertanya padanya.
Setelah selesai belanja Zidan membawa Arumi dan Laras keluar dari Mall, mereka langsung diantar pulang ke rumah karena siang ini Zidan akan berangkat ke kantor untuk rapat kerja.
"Mas aku lapar?"Ujar Arumi.
"Makan dirumah saja ya"Ucap Zidan.
"Kenapa Mas, kamu malu membawa dua istrimu ini"Pekik Laras.
"Tidak, disini makanan tidak ada yang enak, mending makan dirumah saja"Ujar Zidan kembali.
"Ah, alesan deh pasti. Memang benar kata Laras Mas, kamu pasti takut ditanya seperti Nino tadi!"Pekik Arumi.
"Aku tidak malu, bahkan Nino yang iri melihatku beristri dua. Sebenarnya Nino pingin tapi takut kawin lagi"Ujar Zidan sewot membuat mereka langsung terdiam.
Setelah 30 menit mereka sampai dirumah, Zidan hanya mengantar mereka sampai di gerbang saja dan langsung buru-buru berangkat ke kantor.
"Aku tidak habis pikir bakal bertemu Nino? Dia bertanya istriku dan aku membawa kedua istriku mana mungkin aku mengakui satu diantara mereka, semoga saja Nino tidak akan memberi tahu kepada yang lain jika aku mempunyai dua istri!"Ujar Zidan.
Zidan benar-benar harus hati-hati dengan taktik Nino, bisa saja dia menjatuhkan Zidan seperti dulu, karena semenjak mereka tidak bekerja sama lagi tak lama setelahnya kantor Nino bangkrut sedangkan Zidan semakin sukses.
🌻🌻🌻
3 bulan kemudian...
Rumah tangga Zidan semakin harmonis dan penuh dengan suka duka, Zidan sedang menantikan seorang anak namun kedua istrinya belum juga hamil.
Bersambung...
__ADS_1