Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
83.BERHASIL HAMIL


__ADS_3

Hari demi hari telah berganti melewati Minggu-minggu yang melelahkan. Pagi hari yang cerah seperti ini Weni merasakan rasa malas yang tidak biasa, sesekali perutnya terasa mual membuatnya seketika berfikir jika detik ini ia rahimnya telah tumbuh seorang bayi.


"Jangan-jangan aku hamil! Sudah dua bulan aku tidak haid"Ujar Weni lalu beranjak dari tidurnya dan menghampiri Arumi yang masih santai di taman Rumah.


Dengan perasaan senang Weni menghampiri Arumi yang masih duduk seraya bermain ponselnya. Weni hanya tersenyum lalu duduk bersama dengannya, senyumannya membuat heran Arumi yang berada disebelahnya.


"Kau kenapa, senyum-senyum sendiri?"Tanya Arumi heran.


"Rum sepertinya aku hamil?"Sudah dua bulan aku tidak haid!"Ujar Weni.


"Hamil? Kau yakin Wen, kalo begitu untuk memastikan kau hamil kau tes pakai testpack punyaku"Arumi langsung pergi dan mengambil testpack punyanya yang masih ia simpan didalam lemari.


"Arumi senang sekali mendengar aku hamil"Ujar Weni pelan dan merasa gregetan dengan kehamilannya.


Tak lama kemudian Arumi kembali dan memberi testpack itu kepada Weni. Setelah menerimanya Weni langsung masuk ke kamar mandi dan langsung mencobanya.


15 menit kemudian Weni memberi hasil yang mengejutkan, bukan omong kosong belaka Weni memang benar-benar sudah hamil dan hasilnya positif."Aku hamil!"Weni sangat senang dan memperlihatkan hasil positif itu kepada Arumi dengan decak kagum.


Arumi merasa sangat senang dengan kehamilan Weni, iapun langsung memberi tahu kepada Zidan yang masih berada dikantor untuk membuka pesan WhatsApp berisi foto hasil testpack tersebut.


Sementara itu Zidan yang masih bekerja mendapatkan pesan foto yang dikirim Arumi, iapun langsung membukanya karena merasa penasaran dengan foto tersebut.


Setelah dibuka Zidan langsung menciutkan wajahnya melihat hasil positif kehamilan Weni yang dikirim Arumi kepadanya. Sepertinya tidak terlalu istimewa untuknya, iapun langsung menaruh ponselnya kembali dan melanjutkan pekerjaannya.


"Apa istimewanya dia! Jika dia hamil ya sudah, itu tandanya sebentar lagi dia akan pergi dari kehidupanku dan Arumi! Kenapa harus berlebihan, sikapnya malah membuat aku semakin muak dengan wanita murahan itu!!"Gerutu Zidan.

__ADS_1


Satu Rumah dengan Weni membuat Arumi bisa mengintai gerak-gerik Weni dengan Zidan. Apakah dia akan menjaga sikapnya sebagai istri bayaran atau sebaliknya dia malah bersikap berlebihan dari yang sudah mereka janjikan sejak awal.


Malam ini Zidan pulang lebih awal, didepan TV seperti biasa ada Arumi dan Weni yang sedang santai menonton TV. Ketika Weni hendak berdiri dan membukakan pintu Arumi lebih dulu berdiri dan pergi membukakan pintu untuk sang suami.


Weni hanya terdiam dan membuka matanya lebar-lebar, perasaannya ingin sekali meladeni laki-laki tampan itu. Namun tugasnya hanya mengandung dan melahirkan saja tidak lebih dari itu.


Zidan berjalan masuk dan melewati Weni yang masih duduk membisu, Weni berharap suami sementaranya itu mau perhatian denganya walaupun sekedar bertanya tentang kehamilannya itu sudah sangat menyenangkan. baginya.


Matanya mulai redup ketika Zidan melewati dirinya begitu saja dan langsung masuk kedalam kamar bersama Arumi. Nampaknya tidak akan mungkin istri bayaran diperlukan seperti istri sesungguhnya.


"Aku harap anak ini akan segera lahir dan aku akan cepat-cepat keluar dari Rumah panas ini!!"Gerutu Weni.


Setelah keluar dari kamarnya Arumi kembali menemui Weni, Arumi membawa selembar cek berisi nominal uang yang sangat besar. Cek itu ia berikan kepada Weni yang masih duduk sambil memandang fokus pada selembar cek yang sedang dipegang Arumi.


"Wen, ambil ini"Arumi memberikan cek itu kepada Weni dengan cuma-cuma.


"Ambilah dan sekarang kau pergi lunasi semua hutang-hutangmu!"


"Terimakasih Rum. Aku akan pergi dan segera kembali!"


Weni langsung pergi dengan raut wajah yang gembira. Uang 10 milyar yang diberikan Arumi benar-benar mengubah nasibnya, kini hutang yang menunggak akan segera ia lunasi hari ini.


"Kau sudah memberinya cek itu?"Tanya Zidan kepada Arumi.


"Sudah Mas, dia bahkan sudah pergi untuk melunasi hutang-hutangnya"Ujar Arumi.

__ADS_1


"Hmmm, aku berharap semua ini segera berakhir!"Gumam Zidan berlalu pergi.


Arumi merasa sudah terlanjur melakukan semua ini, namun semua yang ia lakukan semata-mata untuk membahagiakan sang suami. Tapi Rumah tangga mereka malah menjadi semakin rumit karena sejak awal Zidan tidak suka dengan keputusan Arumi.


Dibawah pohon tua yang berada ditengah kota Weni meneduhkan diri dari panasnya matahari. Weni berjalan keluar dari bank untuk melunasi semua hutang-hutangnya. Weni hanya sendiri menaiki taksi online yang disewanya siang itu.


Setelah taksi tersebut datang Weni langsung masuk dan melanjutkan perjalanannya menuju tempat belanja terdekat yang ada dikotanya. Weni hendak mencari kebutuhan selama hamil seperti susu atau baju yang nantinya akan dia pakai ketika perutnya mulai membesar hingga perlengkapan yang dibutuhkan wanita hamil.


"Semua hutangku sudah lunas! Aku bahkan masih bisa membeli apapun yang aku mau dengan sisa uang yang diberikan Arumi"Gumam Weni.


Weni berencana membeli Rumah dan mobil baru untuk ia gunakan sehari-hari. Rumah yang sudah ia tinggalkan tidak lagi ia tempati karena Rumah itu terasa tidak nyaman untuknya.


Siang telah berlalu, kini malam datang menyuguhkan keindahan dunia yang sesaat. Adapun jiwa-jiwa yang rela menyesatkan diri demi kesenangan yang sifatnya tidak abadi.


Arumi menikmati secangkir kopi dengan sang suami yang sudah beberapa hari ini terasa jauh darinya. Kini kebersamaan itu datang kembali.


"Mas, aku rindu kebersamaan kita yang seperti ini. Sudah lama kita tidak meluangkan waktu untuk duduk bersama, terakhir kita bersama waktu kita berlibur ke Bali itupun kau menyikatkan waktu berlibur kita hanya untuk pekerjaanmu yang selalu sibuk itu!"Gumam Arumi.


"Semua ini untukmu Rum, aku berusaha membesarkan perusahaan kita dan membuat usaha kita ada dimana-mana. Agar masa tua kita terjamin dan anak-anak kita tidak sengsara"Ujar Zidan sambil membelai rambut Arumi dan sesekali mencium keningnya.


"Iya Mas, aku juga berharap seperti itu"Ucapnya lalu terdiam.


"Anak-anak kita Mas kau bilang? Asal kau tau Mas aku ini mandul tidak mungkin aku bisa mempuyai anak darimu!!"Batin Arumi.


Malam itu Weni pulang dan melihat Zidan bersama Arumi sedang duduk bersama. Mereka sangat mesra dan begitu hangat, Arumi yang saat itu sedang menyender dipundak Zidan menumbuhkan perasaan iri kepada Weni.

__ADS_1


Dengan raut wajah yang asam Weni langsung masuk kedalam kamar dan menghempas semua belanjaan yang baru dibelinya sampai berserakan di lantai.


"Apa mereka tidak punya hati, aku sedang hamil bukannya mereka perhatian padaku malah aku dibiarkan seperti ini saja! Mereka hanya menjaminku dengan uang 10 miliar dan tidak menganggapku siapa-siapa! Kalo bukan karena uang aku juga tidak mau mengandung anak dari suami orang!!"Gerutu Weni.


__ADS_2