Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
81.KOPI SPECIAL


__ADS_3

Pagi hari..


Arumi bangun lebih awal dan berniat mengintip mereka berdua, namun baru sampai didepan ruang TV Arumi sudah mendapati Zidan tengah tidur lelap disofa seorang diri. Rupanya semalam mereka tidak tidur bersama.


Arumi berdiri sambil menarik nafas dalam-dalam kemudian berjalan mendekati Zidan yang tengah tertidur disofa.


"Mas bangun!"Arumi membangunkan Zidan dari tidurnya karena hari ini dia harus berangkat ke kantor lebih awal. Banyak pekerjaan yang sudah menunggunya.


"Hmmmm..Enak sekali"Gumam Zidan tidak jelas sambil duduk setengah melek.


"Apa yang enak Mas?"Tanya Arumi sambil tersenyum.


"Mimpi Rum, aku semalam mimpi makan kepiting enak sekali"Jelasnya.


"Hmm! Kirain semalam kau beneran tidur sama Weni"Gumam Arumi.


"Aku ketiduran semalam. Oh ya aku mandi dulu kau bikinkan aku kopi dan roti kacang"Zidan beranjak dari tidurnya dan mengambil handuk kemudian masuk ke kamar mandi.


Tak lama kemudian Weni keluar dari kamarnya dengan rambut basah memakai daster batik asli Pekalongan membuatnya terlihat sangat anggun dan cantik.


"Sini-sini!"Arumi menarik lengan Weni dan bertanya padanya.


"Ada apa?"Tanya Weni kaget.


"Rambutmu basah apa semalam Mas Zidan tidur denganmu?"Tanya Arumi pelan.


"Tidak Rum, Zidan tidak datang dan aku tidur sendiri!"Ujar Weni.


"Oh, yaudah. Aku mau bikinkan Mas Zidan kopi dulu"Ucap Arumi, namun setengah berjalan Weni menarik tangannya.


"Rum tunggu! Aku boleh bikini Zidan kopi?"Ujar Weni.


"Kau hanya perlu memberikan kami anak, selain itu bukan urusanmu!"Ujar Arumi dengan tatapan matanya yang tajam.


"Rum, maafkan aku"Weni melepas tangan Arumi dari genggamannya.


"Tidak masalah aku hanya bercanda hehe"Ujar Arumi, kemudian pergi meninggalkan Weni.


Weni merasa bete menjalani istri bayaran, rasanya tidak bebas dan sangat membosankan tidak ada aktivitas yang dilakukan selama menjadi madu Arumi. Semua keperluan Zidan sudah dilakukan oleh Arumi sendiri.


Setelah akan berangkat ke kantor Zidan mencari Arumi, ia bertanya kepada Weni yang sedang ada dihalaman Rumah.

__ADS_1


"Wen Arumi mana?"Tanya Zidan.


"Tuh lagi nyiram tanaman"Jawab Weni tersenyum.


Zidan hanya bertanya dan pergi dari hadapan Weni begitu saja. Zidan mendekati Arumi yang tengah menyiram bunga, kemudian mencium keningnya sebelum berangkat ke kantor.


Pemandangan itu disaksikan oleh Weni, sebagai seorang istri tentunya Weni merasa sangat iri dengan Arumi. Namun lagi-lagi ia tersadar dari khayalannya bahwa posisinya hanyalah istri bayaran semata.


"Hmm, kenapa aku merasa seperti ini. Hmm sadar Wen kamu itu hanyalah istri bayaran jangan mengkhayal deh!"Gerutu Weni sambil menepuk jidatnya.


Kemudian Weni kembali duduk dan melanjutkan bermain ponselnya.


"Wen aku mau nanti malam kau harus tidur dengan Mas Zidan! Jika begini terus kapan Mas Zidan akan punya anak darimu!"Ujar Arumi kepada Weni. Sambil berjalan masuk kedalam rumah Arumi memperlihatkan rasa kesalnya.


Weni terdiam dan bingung, pasalnya Zidan yang enggan tidur dengannya.


"Nanti malam aku akan mencoba menggoda Zidan. Tapi aku rasa laki-laki itu susah untuk tergoda!"Gerutu Weni.


Weni mencoba mencari ide agar bisa berhasil menjebak Zidan. Iapun mencoba mencari tahu melalui media sosial tentang kelemahan laki-laki terhadap wanita. Weni menemukan salah satunya dan cara itu sangat mudah dan bisa ditemukan dimana-mana.


Ketika sedang serius bermain ponsel tiba-tiba Arumi menepuk pundaknya dari belakang.


"Pukk!"


"Maaf-maaf. Oh ya Wen, aku mau kerumah Mama aku sudah bilang sama Mas Zidan, aku nginep semalam dirumah Mama kau ladeni dia ya? Jangan lupa setiap pagi Mas Zidan hanya mau sarapan kopi dan roti kacang!"Ucap Arumi tersenyum.


"Tapi kenapa kau nginep dirumah Mama mu?"Tanya Arumi.


"Aku hanya ingin pekerjaanmu berhasil! Kau harus bisa dan jangan sampai gagal!"Arumi tersenyum lalu pergi meninggalkan Rumah mewahnya dan pergi kerumah orang tuanya.


"Aku akan berusaha!"Ucap Weni.


Iapun kembali membuka ponselnya dan memilih cara yang satu itu. Weni memilih cara yang mudah dengan memberi obat perangsang untuk Zidan, kebetulan sekali malam ini Arumi tidak tidur dirumah. Jadi jika syahwatnya naik maka Zidan akan melakukan hal itu dengan dirinya, pikirnya.


"Sebelum Zidan pulang aku lebih baik membeli obatnya dulu!"Ujar Weni. Kemudian ia pergi dan mencari toko yang menjual obat tersebut, toko yang sama dengan yang ada di media sosial.


Weni akhirnya menemukan toko tersebut lalu membelinya."Pak beli obat?"Ujar Weni kepada pria paruh baya tersebut.


"Obat apa Neng?"Tanya pria tersebut.


"Obat untuk merangsang suami saya Pak"Ujar Weni pelan sambil melirik ke kanan dan kiri.

__ADS_1


Pria tersebut sedikit menahan tawanya melihat sikap malu Weni saat membeli obat perangsang."Ini Neng yang paling ampuh, jaminan!!"Ujar pria tersebut.


"Ya udah saya mau yang ini Pak!"Ujar Weni.


Setelah membeli kemudian Weni kembali kerumah dan menyimpannya didalam laci.


Weni bergegas mandi dan memakai wewangian namun Weni tidak punya baju tidur seksi, ia hanya punya baju yang biasa dipakainya sehari-hari saja. Tiba-tiba Weni mempunyai pikiran, bagaimana jika ia pakai baju tidur milik Arumi.


"Oh ya, aku kan bisa pake baju tidur milik Arumi"Ujar Weni, lalu ia segera masuk kedalam kamar Arumi dan mencari baju tidur yang seksi.


Weni menemukan baju yang pas dipakai dan terlihat sangat seksi. Iapun kembali ke kamar dan menunggu Zidan pulang, seraya merias wajah Weni mencoba menghubungi Zidan lewat pesan WhatsApp.


"[Kau belum pulang?]"Pesan yang dikirim Weni kepada Zidan. Namun kebetulan sekali baru mengirim pesan Zidan sudah pulang dan memarkirkan mobilnya didepan Rumah.


Weni langsung merapikan rambutnya dan bajunya agar terlihat menggoda didepan Zidan. Iapun segera turun dan membukakan pintu.


"Kau sudah pulang"Sambut Weni sambil tersenyum.


"Ya!"Singkat Zidan, kemudian masuk begitu saja.


"Lihat saja!"Gerutu Weni dibelakang Zidan yang masih berjalan masuk kedalam kamarnya.


Setelah masuk kedalam kamar Zidan langsung melepas jas dan sepatunya, Zidan menaruhnya begitu saja dilantai. Weni yang melihatnya mengambil sepatu dan jas tersebut kemudian ditaruhnya ditempat yang sebenarnya.


Zidan memadang aneh dan sangat tidak suka dengan sikap Weni yang semaunya tanpa ia suruh. Menurutnya tidak penting jika Weni harus meladeni dirinya karena dia bisa sendiri.


"Apa yang dia lakukan, pakai baju Arumi segala! Memangnya aku bakal tertarik padanya!"Batin Zidan.


Perlahan Weni mendekati Zidan yang tengah duduk dan membuka laptopnya. Sepertinya masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan. Weni memberanikan dirinya memegang pundak laki-laki yang baru saja menjadi suaminya itu.


"Kau mau kopi? Anggap saja aku membantumu"Bisik Weni pada telinga Zidan.


"Nanti saja aku sedang sibuk!"Ujar Zidan.


Kesempatan untuk Weni, walaupun Zidan tidak mau ia tetap membuatkan Zidan kopi yang sudah dicampurkan obat perangsang."Setelah ini kau akan berubah dari laki-laki dingin menjadi laki-laki hangat!"Ujar Weni.


Weni kembali ke kamar dan memberikan kopi tersebut."Kau bisa meminumnya nanti"Weni manaruhnya diatas meja lalu duduk dipinggir ranjang.


"Nanti juga kau pasti meminumnya!"Gerutu Weni.


Merasa sangat ngantuk Weni membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan benar-benar terlelap dalam tidurnya. Zidan sesekali menengoknya dan merasa sangat sukar kenapa Wen malah tidur di kamarnya.

__ADS_1


Namun Zidan lupa bahwa kopi yang berada di mejanya adalah kopi spesial dari Weni untuknya iapun meminumnya. Kopi beracun yang akan membuatnya terpingkal-pingkal tak terkendali kini sudah masuk kedalam tubuhnya.


__ADS_2