
Laras yang sedari awal sudah merasa curiga langsung mengetuk pintu kamar Arumi, ia mendapati suara gaduh didalam kamar Arumi, Laras menduga dari tadi malam Zidan tidur dikamar bersama Arumi tanpa sepengetahuan dirinya.
"Mas keluar kamu, aku tau kamu ada didalam!"Teriak Laras.
"Iya sebentar"Jawab Zidan keras.
"Cepetan Mas, awas ya kamu aku dobrak kalo kamu tidak keluar juga!"Pekik Laras.
Zidan kemudian keluar dan menemui Laras, ia gugup dan panik melihat wajah judes Laras pagi itu. Wanita berambut ikal dengan bola mata yang bulat itu benar-benar sangat marah padanya.
"Mas ngapain kamu disini?"Tanya Laras ketus.
"Aku? Aku hanya tidur saja semalam badanku pegal jadi aku minta pijit Arumi"Ucap Zidan.
"Kenapa tidak minta pijit aku! Jangan-jangan kamu bohong?"Ucap Laras kembali.
"Semalam kamu tidur jadi aku minta pijit Arumi, udah kamu jangan marah lagi"Ucap Zidan kepada Laras.
"Mana Arumi, aku mau tanya padanya!"Laras memaksa masuk kedalam kamar dan menemui Arumi yang tengah duduk diatas ranjang dalam keadaan rambut basahnya.
Arumi yang saat itu tengah duduk dan mendengarkan pembicaraan mereka tiba-tiba kaget ketika Laras datang, tatapan matanya sangat tajam dengan wajah merah menyala.
"Rum jawab aku, apa tadi malam kau melakukan itu sama Mas Zidan?"Tanya Laras ketus.
"Maksud kamu apa Ras? Mas Zidan hanya minta pijit saja"Ucap Arumi.
"Jangan bohong! Kenapa pagi-pagi sekali rambutmu basah dan lehermu banyak tato merah?"Pekik Laras, membuat Arumi terdiam.
"Cukup Laras! Kamu benar semalam aku sama Arumi melakukan itu"Ujar Zidan.
Mendengar pernyataan Zidan membuat Laras semakin marah dan kesal, setelah dikhianati oleh Zidan kini Laras merasa dibohongi oleh mereka. Wanita bertubuh langsing dengan kulit putih bersih itu langsung menangis terisak-isak didepan Zidan dan Arumi.
"Apa salahku katakan, kenapa kalian menyakiti aku seperti ini?"Ucap Laras seraya menangis. Melihat Laras menangis Zidan langsung teringat dengan kesalahannya kepada Laras.
"Ras, maafkan aku selama ini aku yang sudah salah, aku yang sudah memberimu harapan aku juga yang menghancurkan harapanmu bahkan aku yang sudah menyakitimu aku meninggalkanmu dan menikahi Arumi! Semua itu salahku"Ucap Zidan seraya memegang pundak Laras yang tengah tertunduk seraya menangis.
"Aku hanya ingin bahagia, kenapa kau malah menyakiti aku seperti ini!"Ucap Laras kembali. Laras merasa dirinya tidak diutamakan oleh Zidan padahal ia juga istri sah sama dengan Arumi.
"Laras aku minta maaf, aku tau semua ini salah kami aku juga berharap kamu bisa menerimaku sebagai istri Mas Zidan"Ujar Arumi kepada Laras.
"Bagaimana aku bisa menerimamu sedangkan aku tidak pernah dihargai oleh Mas Zidan, aku tidak pernah dianggap sebagai istri olehnya"Pekik Laras.
"Maafkan aku Laras, aku janji aku akan menerimamu, tapi aku ingin kau dan Arumi akur seperti dulu"Ujar Zidan.
Laras terdiam mendengar permintaan Zidan, baginya itu sangat berat namun ia juga sadar karena keikhlasan Arumi lah ia bisa menjadi istri Zidan walaupun istri kedua. Karena sebelumnya Zidan telah menikahi Arumi sebelum menikahi dirinya. Laras mencoba keluar dari kemurkaanya terhadap mereka.
__ADS_1
"Aku akan menerima Arumi, aku juga sadar kalo bukan karena Arumi aku tidak dinikahi olehmu"Ucap Laras kembali.
"Terimakasih Laras"Kemudian Arumi memeluk Laras dan mereka pun saling memaafkan dan menyadari kesalahan masing-masing.
Malam yang gelap disinari sinar rembulan membawa sejuta harapan yang pernah hilang dan berharap akan bertunas kembali. Jalinan persahabatan yang kandas kini tumbuh kembali menjadi bibit baru yang akan berbunga dan menjadi buah yang manis.
"Malam Laras, kau sudah siapkan Mas Zidan makan malam?"Tanya Arumi kepada Laras. Arumi yang sudah memakai baju tidurnya itu lantas bertanya kepada Laras.
"Sudah Rum, kau buatkan Mas Zidan kopi ya? Kebetulan aku belum bikin Mas Zidan baru pulang sepertinya sedang mandi"Jawab Laras tersenyum. Wanita itu rupanya sudah sedikit berubah.
"Oh udah pulang ya aku tadi dikamar jadi aku tidak melihatnya, kau mau sekalian?"Tanya Arumi kembali.
"Boleh, aku juga ingin cobain kopi buatanmu aku penasaran loh kok Mas Zidan sampai ketagihan sama kopimu hehe"Ucap Laras tersenyum kembali.
Tak lama kemudian Zidan keluar menuju meja makan ia benar-benar terlihat sangat tampan malam ini, rambutnya yang basah membuat wajah tampannya semakin segar apalagi dengan balutan piyama yang memperlihatkan bagian dada berbulu tipis membuat dirinya semakin gagah dan berwibawa.
"Mas, makan malam dulu semua ini masakan ku sendiri aku tau kau pasti akan menolaknya, tapi setidaknya kau boleh mencicipinya saja"Ucap Laras.
"Ini masakan mu? Sepertinya enak bagaimana aku akan menolaknya"Ucap Zidan tersenyum.
Entah kenapa Laras merasa sangat bahagia melihat Zidan makan masakan yang ia masak, padahal sebelumnya Zidan sama sekali tidak pernah mau makan masakan yang dimasak Laras, ia lebih memilih makan dengan Arumi.
__ADS_1
"Mas kopinya, kau juga Laras ini aku buatkan kopi"Ujar Arumi tersenyum.
"Makasih ya, kau tidak makan dengan kami?"Tanya Zidan kepada Arumi.
"Tentu saja, sebenarnya dari tadi sudah lapar mencium bau masakan Laras sepertinya sangat enak"Ujar Arumi. Kemudian Arumi duduk disebelah Laras.
Zidan melihat karakter mereka berdua sangatlah berbeda, Arumi gadis yang rela mengorbankan apapun yang ia mau sedangkan Laras gadis yang kekeh mempertahankan apapun yang ia mau. Mereka benar-benar berbeda bagaimana Zidan akan menghadapi kedua karakter yang tidak sama itu dalam satu Rumah.
"Mas malam ini kau akan tidur dengan siapa? Maksudku, kau tidak tidur dengan Arumi?"Tanya Laras.
"Aku akan tidur...?"Belum sampai bicara Arumi memotongnya.
"Mas Zidan akan tidur denganmu!"Ucap Arumi. Ia berharap Zidan mau tidur dengan Laras karena bagaimanapun juga Laras adalah istri sahnya.
"Aku akan tidur denganmu"Ucap Zidan seraya mengerutkan pipinya berharap bibirnya bisa tersenyum.
"Kalo gitu aku tinggal dulu ya, sudah kenyang nih jadi ngantuk hehe"Ucap Arumi. Setelah makan Arumi langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan mereka berdua, sebenarnya ia sangat cemburu namun Arumi berusaha membuang perasaan itu jauh-jauh.
Setelah selesai makan Laras mengajak Zidan tidur karena gerimis mulai turun dan cuaca dingin mulai terasa, tanpa sepatah katapun Zidan menuruti ajakan Laras karena Zidan berusaha bersikap adil kepada mereka berdua.
"Mas, jika malam ini kau tidak mau tidur seranjang denganku biarkan aku tidur dibawah saja bagaimana"Ujar Laras.
"Jangan! Kau tidur denganku diranjang, bukankah kau selalu berkata kita kan suami istri"Ucap Zidan seraya memandang tajam mata Laras. Kemudian Laras pindah dan berbaring di atas ranjang bersama Zidan.
__ADS_1
"Mas, apa kau masih belum mau melakukannya denganku?"Tanya Laras kembali.