Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
85.KEJUTAN ULANG TAHUN


__ADS_3

Weni pergi ke toko kue dan membeli kue ulang tahun untuk Zidan. Beberapa kue yang baru matang berjajar didalam etalase membuat Weni ngiler melihatnya, ia pun melihat-lihat kue yang paling cantik dan pandangannya tertuju pada kue berwarna pink rasa strawberry.


Sedikit aneh memberi sang suami kue ulang tahun berwarna pink namun Weni tertarik pada kue pink tersebut. Weni langsung meminta kasir membungkus kue itu dan meminta diberikan tulisan diatas kue tersebut.


"Mbak mau dikasih tulisan apa?"Ujar kasir kue sambil memandang dirinya.


"Beri tulisan HBD suamiku gitu aja Mba"Ujar Weni tersenyum kepada kasir tersebut.


"Hanya itu? Mau ditambah kan tulisan sayang atau tidak Mba?"Kasir toko kembali bertanya padanya.


"Tidak usah Mba, sayangku tidak bisa diukur hanya dengan tulisan diatas kue ulang tahun"Weni membalas senyuman kasir toko dan membuatnya menganggukan kepalanya.


"Mba benar rasa sayang tidak bisa diukur dengan apapun, sekalipun itu uang!"Balasnya lalu memberikan kue yang sudah selesai ditulis dan dibungkus plastik. Mereka pun mengakhiri pertemuan dengan kata terimakasih.


Weni berjalan meninggalkan toko kue, entah kenapa ia masih teringat dengan kata-kata kasir toko itu"Mba benar rasa sayang tidak bisa diukur dengan apapun, sekalipun itu uang!"Kata-kata itu mengingatkan posisinya saat ini sebagai istri bayaran yang dibeli dengan uang puluhan miliar.


"Dan pada akhirnya rasa sayangku dibayar dengan uang 10 miliar!"Ujar Weni kepada kue ulang tahun yang masih dipegangnya itu.


"Nak maafkan Ibu, seharusnya ibu tidak menjualmu tapi semua ini sudah terjadi mereka memberi uang Ibu untuk melunasi hutang-hutang Ibu dan mereka menginginkanmu untuk menjadi anaknya"Menetes air mata Weni ketika nasib mengubahnya menjadi seperti yang tidak dia inginkan.


********


Sesampainya dirumah Weni masuk dan melangkahkan kakinya pelan-pelan. Malam itu terlihat sepi Arumi tidak terlihat berada di depan TV sepertinya dia sedang berada didalam kamar. Weni cepat-cepat masuk agar Arumi tidak melihatnya membawa kue ulang tahun, biarkan Arumi tau pada waktunya nanti.


Setelah berada didalam kamar Weni menaruh pelan-pelan kue itu diatas meja rias agar tidak rusak. Weni segera mandi dan berdandan untuk memberi kejutan kepada sang suami yang sebentar lagi akan pulang dari kantornya.


"Aku harus terlihat cantik didepan Zidan, aku juga punya hak buat tampil cantik didepan suamiku sendiri"


Weni memandang dirinya lewat cermin dan tersenyum pada dirinya sendiri. Ia mengucir rambutnya mengenakan dress putih cap bunga mawar warna-warni semakin memperindah penampilannya malam ini.


Malam itu Arumi juga tengah mempersiapkan kejutan ulang tahun yang akan ia berikan kepada Zidan. Arumi berdandan sangat cantik dan begitu sangat anggun dengan balutan dress berwarna biru bertabur mutiara membuat penampilannya semakin cantik.

__ADS_1


Ketika mereka berdua sama-sama selesai berdandan, waktu itu pula Zidan pulang dan mengetuk pintu rumahnya. Weni mendengar namun ia tidak keluar karena Arumi sudah membukanya lebih dulu, Weni juga tidak mau gegabah membukakan pintu agar Arumi tidak kesal padanya.


Pukul 11 malam hanya ada waktu satu jam lagi untuk bersiap-siap memberi kejutan kepada Zidan. Weni kembali bercermin dan menata kucir rambutnya yang sedikit berantakan.


Sementara itu Arumi sedang sibuk melayani Zidan menyiapkan makan malamnya. Biasanya dia makan di luar sebelum pulang, namun saking sibuknya Zidan sampai lupa makan.


"Mas, makan dulu aku yang masak semua ini kebetulan aku sisain buat kamu"Arumi menaruh sepiring nasi dengan lauk ayam rica-rica yang dimasak olehnya sendiri.


"Dari aromanya aja sudah enak, aku makan ya"Zidan langsung makan, saking enaknya ia sampai lupa ada Arumi yang masih duduk didepannya berharap akan disuapi sang suami.


Arumi sangat senang melihat Zidan begitu suka dengan masakannya, melihat Zidan kepedesan Arumi langsung pergi kedapur dan mengambilkan air putih untuknya.


"Maaf Mas aku tadi lupa tidak memberimu air minum!"Ujar Arumi sambil tertawa melihat wajah Zidan merah karena kepedesan.


Pukul 11:50...


Setelah makan Zidan menyederkan tubuhnya disofa sebelum tidur sambil menonton TV.


Sambil menarik nafas dalam-dalam Arumi berdiri kokoh memegang kue yang sudah siap untuk diberikan kepada sang suami. Ia juga tak henti-hentinya menunggu arah jarum yang akan berhenti tepat pukul 00:00 malam ini.


Lain dengan Weni, wanita cantik itu nampaknya ragu-ragu untuk memberi kejutan kepada Zidan. Weni terus mengintip Zidan dari balik tembok sambil meremas jari-jarinya, dia bingung harus memulainya dari mana Weni juga terus mengamati pergerakan Arumi sepertinya Arumi belum keluar dari kamarnya.


"Lebih baik aku duluan atau Arumi duluan ya?"Melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam Weni semakin gemetar dan berdebar-debar.


Tidak mau gagal memberi kejutan untuk suami Weni kembali masuk kedalam kamarnya dan langsung menyalakan lilin yang sudah tersusun rapih diatas kue pink rasa strawberry nya.


Zidan nampaknya tidak sadar jika hari ini dirinya berulang tahun, ia pun tak sadar jika kedua istrinya tengah sibuk memberi kejutan terbaiknya dihari istimewanya.


"Aki sudah siap!"Arumi menarik nafas panjangnya kemudian berjalan perlahan mendekati Zidan yang tengah santai menonton TV.


Arumi berjalan dengan sejuta kebahagiaan yang ada dalam hatinya. Sambil membawa kue teristimewanya ia terus memanjatkan doa dan harapan agar Rumah tangganya akan selalu harmonis dalam keadaan apapun.

__ADS_1


Namun ketika Arumi sudah dekat dengan Zidan ia malah mendapat kejutan yang tak terduga yang membuatnya begitu kaget. Bagaimana tidak! Weni secara tiba-tiba muncul sambil membawa kue ulang tahun lebih dulu memberikan kejutan itu kepada Zidan.


"Selamat ulang tahun suami, semoga panjang umur dan sehat selalu"Weni tersenyum sambil memberikan kue itu kepada Zidan untuk segera ditiup lilinnya.


Arumi mengerutkan keningnya sambil membuka matanya lebar-lebar. Ia tak percaya dengan semua ini, kenapa bisa-bisanya Weni melakukan apa yang ia lakukan.


"Mas, selamat ulang tahun ya. Doaku tidak hanya hari ini, aku selalu mendoakanmu setiap hari. Selamat ulang tahun sayang muach!"Sambil memegang kue Arumi mencium kening dan kedua pipi Zidan didepan mata Weni.


"Kau lihat Wen, aku lebih unggul sedangkan kamu tidak bisa berbuat apa-apa!"Gerutu Arumi dalam hati.


Ciuman itu membuat Weni memalingkan wajahnya ia merasa kalah dengan Arumi. Pada kenyataannya Weni tidak bisa melakukan ciuman seperti itu dengan suami sendiri yang masih ia anggap sebagai suami milik temannya.


"Arumi benar-benar memalukan aku!"Batin Weni mengerutkan bibirnya.


Zidan terdiam dengan pandangan bulatnya melihat kejutan yang diberikan oleh kedua istrinya itu. Bimbingan sekaligus bingung kue milik siapa yang akan ia tiup lebih dulu.


Antara Arumi dan Weni sama-sama berharap Zidan memilih kue miliknya, namun tidak mungkin meniup keduanya dengan sekaligus.


Zidan lebih memilih kue yang dipegang Arumi dan meniupnya lebih dulu, kemudian ia meniup kue yang diberikan Weni untuknya. Namun rasa terimakasih nya lebih dulu ia berikan kepada Weni.


"Terimakasih kamu sudah berusaha membuat kejutan seperti ini, kue milikmj sepertinya enak"Zidan tersenyum dan mulai bisa memandang wajah cantik Weni dan mulai fokus kepada kue nya.


"Mas Zidan kok gitu sih, pake puja-puji kue milik Weni lagi!"Batinnya.


Arumi melirik wajah Weni, baru sekali dipuji Zidan ia sudah sangat kegirangan.


"Mas kita makan kuenya yuk, aku suapin ya? Ini kue terenak kau harus mencobanya pasti ketagihan!"Arumi sengaja mengalihkan Zidan agar tidak makan kue milik Weni.


Melihat sikap Arumi Weni memilih diam dan memakan sendiri kue miliknya sambil melirik Zidan yang sedang asyik dimanjakan oleh Arumi. Terasa sakit dan perih bak teriris pisau namun tidak berdarah!.


"Kau bilang menginginkan seorang anak Arumi? Tapi kau tidak bercermin bagaimana kau melukai diriku yang sedang hamil apa kau pantas menjadi seorang ibu!"Geruru Weni.

__ADS_1


Rupanya peperangan baru akan dimulai.


__ADS_2