
Tok Tok Tok?
Suara ketukan pintu menghentikan langkah Arumi ketika ia akan sampai pada langkah terakhirnya menuju kamar mandi. Arumi membalikkan badannya berjalan kembali menuju pintu utama melihat siapa tamu yang datang pagi ini. Sedikit sebal namun dia berfikir kemungkinan tamu penting yang datang pagi-pagi sekali.
"Siapa ya?"Kaget sudah pasti ternyata yang datang pagi ini adalah Weni, dia datang tiba-tiba tanpa memberi tau lebih dulu padanya. Arumi membuang nafasnya seolah tidak suka dengan kedatangan Weni.
"Apa kabar Rum?"
Weni tersenyum berat melihat Arumi yang baru saja bangun tidur dengan rambut berantakan dan kancing dad4 yang terbuka. Arumi merapikan rambutnya dan membenarkan kancing dad4 yang terbuka tersebut.
"Baik Wen"Arumi menjawabnya singkat.
"Weni ngapain pagi-pagi kesini, dia juga tidak bilang padaku dulu kalo mau datang kesini"Batinnya, kemudian dia menyuruh Weni masuk kedalam Rumah.
"Silahkan masuk Wen"Dengan senyum kecil Arumi mempersilahkan Weni masuk dan mengajaknya duduk disofa merah bermotif polkadot itu.
Pandangan Weni mengarah kemana-mana, sepertinya dia sedang mencari sesuatu.
"Wen, kenapa? Apa yang kau cari"
"Aku tidak melihat Aini Rum, dimana dia?"
Arumi terdiam sejenak sebelum menjawabnya.
"Aini ada dikamar. Nanti aku suruh Mas Zidan untuk turun. Tapi sebelumnya aku minta maaf jika aku tinggal sebentar karena aku mau mandi"
"Oh, yaudah iya aku tunggu"
Arumi membalikkan tubuhnya, meniti tangga menuju lantai atas dan meninggalkan Weni sendiri diruang tamu tanpa memberinya minum lebih dulu.
"Hufff, aku seperti tamu yang tak diundang! Tidak! Tapi memang benar sih aku tamu tak diundang, kalau bukan karena aku kangen anaku, aku juga tidak mau datang kesini!"Gerutu Weni.
*****
"Mas, kau turun ajak Aini turun, tuh Weni sudah menunggu dibawah"Ujar Arumi dengan wajah datarnya.
"Weni datang?"
"Iya sana dia mau ketemu Aini, tapi jangan lama-lama aku mau mandi dulu. Bau keringatmu semalam"
Arumi menghempas ikat rambutnya diatas kasur lalu masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Dengan sigap Zidan menggendong Aini dan membawanya turun, Weni terlihat masih duduk seraya tersenyum kepada mereka. Zidan sampai diujung tangga dan menghampiri Weni seraya mendudukan dirinya disofa paling ujung.
"Aini sayang, Ibu kangen sekali nak sama kamu"
Weni mendekati mereka dan mengambil Aini dari gendongan Zidan. Laki-laki bertubuh kokoh itu hanya terdiam sambil melihat Ibu dan anak sedang melepas rindu karena baru bertemu setelah lima bulan berpisah.
"Aku sebenarnya tidak tega Wen melihat kamu berpisah dengan anakmu. Tapi apalah daya semua ini sudah menjadi perjanjianmu dari awal, aku juga tidak rela jika kamu membawa Aini dari kehidupanku karena bagaimanapun juga dia adalah darah dagingku"Batin Zidan.
"Mas. Em, aku boleh gak ajak Aini kerumah? Sehari saja, aku pingin bersamanya lebih lama lagi"
"Tidak!"
Belum sampai Zidan menjawab, Arumi sudah menghalaunya lebih dulu.
"Rum"
"Jika ingin lebih lama sama Aini kamu kan bisa main kesini besok lagi! Tidak usah bawa-bawa Aini. Kamu sengaja ya kesini hanya untuk ambil Aini"Kemarahan Arumi meledak karena tak ingin Aini pergi darinya.
"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak ada niat seperti itu"
"Sini Aini sepertinya mau tidur, aku akan menidurkannya"Arumi mengambil Aini begitu saja dari pangkuan Weni dan masuk kedalam kamarnya.
Diam-diam hati Weni hancur mendengar celotehan Arumi yang nampak menghalangi dirinya dekat dengan Aini Putri kandungnya sendiri.
"Wen, Arumi benar jika kau ingin lebih lama dengan Aini kamu kan bisa main kesini setiap hari. Aku tau Wen kamu pasti ingin tidur dan selalu bersama Aini, tapi sebagai Ibu sambung yang sudah merawat Aini dari lahir Arumi juga punya rasa takut jika Aini akan pergi denganmu. Aku harap kamu bisa mengerti Wen"Zidan mencoba menengahi masalah Aini, namun tidak mungkin ia membela wanita lain. Zidan mencoba memberi pengertian kepada Weni karena sikap sang istri.
Weni banyak menganggukan kepalanya mengiyakan perkataan Zidan.
"Jika aku tidak akan pergi keluar negeri aku tidak akan kesini, aku kesini hanya ingin melihat Aini sebelum aku pergi keluar negeri"Ujar Weni dengan wajah teduh.
"Kau akan pergi keluar negeri? Untuk apa Wen?"
"Aku ingin meneruskan kuliahku yang telah tertunda. Aku cuma mau bilang titip Aini"
"Aku pasti jaga Aini, semoga kau berhasil"
Weni menarik nafas panjang dan menganggukan kepalanya sekali lagi.
"Aku minta maaf jika aku sudah mengganggu kalian, aku pamit pulang dulu. Salam buat Arumi, mungkin aku akan kembali ketika Aini sudah dewasa nanti"
Weni berusaha menerima dan mengikhlaskan semuanya. Ia sadar semua bukan kebetulan namun sudah menjadi janji yang tidak mungkin ia pungkiri.
__ADS_1
"Hati-hati Wen, aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaanmu"Zidan tersenyum kagum dengan kesabaran hati Weni yang rela menerima semua kenyataan yang ada.
Weni membalasnya dengan senyuman penuh seraya melambaikan tangannya kepada laki-laki yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
*******
"Aku harap kamu jangan pernah bersikap seperti tadi lagi, Weni datang kesini baik-baik tapi kau malah seperti itu padanya"Ujar Zidan seraya mendudukan dirinya dipinggir ranjang dekat Arumi membaringkan tubuhnya.
"Memangnya kamu tau Mas, kamu tau apa tentang dia!"Gumam Arumi.
"Jelas aku tau, dia itu tidak seburuk yang kamu pikirkan. Dia wanita baik aku tau itu"
"Jadi sekarang kamu sudah membelanya Mas, dulu kau bilang dia wanita murahan"
"Diam! Aku bukan mau menghakimi Weni, aku sedang menasehatimu agar sikapmu diubah jangan pernah berfikir buruk sebelum tau yang sebenarnya. Oke kalau dulu aku sering bilang dia wanita murahan, tapi semakin lama kebaikannya mulai terlihat dan aku yakin dia wanita baik"
Arumi terdiam dan membalikkan badannya membelakangi Zidan yang tengah bawel mengajaknya berbicara.
"Kau tidak menjawab ku? Kau tidak mengagapku sebagai seorang suami. Apa kau tidak menghargai aku sebagai seorang Ayah?"
Arumi terhenyak dan langsung membulatkan kelopak matanya.
"Apa kau tidak kasihan padaku sebagai seorang istri yang harus rela kehilangan anak yang sudah dirawatnya sejak bayi!"
"Tapi kau tidak kehilangan dia, kau tau? Weni kesini hanya ingin bersama Aini sehari saja. Karena besok dia akan pergi keluar negeri dan tidak tau kapan dia akan pulang dan bertemu Aini lagi!"Ujar Zidan dengan nada lantangnya.
Arumi terdiam dan wajahnya seketika redup. Rasa egoisnya begitu besar dibandingkan rasa perdulinya terhadap wanita yang sudah melahirkan Aini.
"Mas, a.. Aku minta maaf. Aku janji besok kita ajak Aini kerumah Weni, aku mau minta maaf sama dia"
"Berubah lah, pantaskan dirimu sebagai seorang Ibu. Beri contoh yang baik kepada Aini, jangan halangi dia bertemu ibunya. Rubahlah sikapmu dengan Weni jalin silaturahmi dan sama-sama menjadi ibu yang baik buat Aini"
"Mas, aku menyesal aku malu dengan Weni, aku minta maaf"
"Ya, jadilah wanita yang baik, maka Aini akan bangga mempunyai ibu sambung sepertimu, jika sikapmu buruk maka Aini tidak akan segan meninggalkanmu ketika dia dewasa nanti"
Dan mereka berdua saling berpelukan menenangkan hati.
"Aku tau perasaanmu Rum, kau belum pernah mengandung dan melahirkan itu yang membuatmu tidak bisa merasakan apa yang dirasakan Weni. Kau hanya akan merasakan kehilangan jika Aini pergi darimu, lain dengan Weni dia merasakan perjuangan dan pada akhirnya kehilangan apa yang dia perjuangkan"Batin Zidan seraya memeluk Arumi.
"Aku minta maaf Mas, aku hanya takut kehilangan Aini namun aku tidak pernah menghargai perjuangan Weni melepaskan Aini untuk hidupku"Batin Arumi dalam pelukan sang suami.
__ADS_1
Dengan perasaan salah yang amat dalam Arumi menyesali semua perkataannya kepada Weni. Dia benar-benar menyesal sudah memusuhi ibu kandung Aini anak yang dia beli dari rahimnya.