
Seraya membawa secangkir kopi Arumi mendudukan dirinya bersama Zidan didepan Rumah menikmati udara pagi yang dingin dan segar. Sementara itu Aini masih tertidur lelap diatas ranjang ditemani dua boneka Bear besar pemberian Weni.
Arumi melebarkan senyumnya disamping tubuh kokoh sang suami. Arumi menyenderkan kepalanya di bahu lebar Zidan yang tengah fokus membaca koran harian.
"Mas aku seneng deh Aini sudah mulai bisa merangkak"Ujar Arumi seraya melendot dipundak kekar Zidan sambil memeluk tubuhnya.
Zidan nampak tidak menghiraukan ia hanya fokus dengan bacaan korannya.
"Mas?"Panggil Arumi sekali lagi karena merasa belum dijawab.
"Hem, apa?"
"Mas, aku tadi ngomong loh"
"Ngomong apa?"
"Aku bahagia banget Aini sudah bisa merangkak Mas"
"Iya aku juga bahagia banget lihatnya. Oh ya nanti kalau sudah satu tahun kita rayakan ulang tahunnya Aini"
"Iya Mas aku setuju. Yang mewah yang Mas"
"Iya sayang"
Arumi memeluk tubuh Zidan penuh kehangatan seraya mencium lembut pipinya. Zidan meletakan korannya kemudian membalas ciuman Arumi pada pipi kanannya. Ciuman yang lembut dipagi hari yang cerah.
"Oh ya Mas, semalam kamu katanya mau bilang sesuatu sama aku tentang urusan kamu aku mau tau dong?"Rengek Arumi nampak tidak sabar.
"Oh gitu, ternyata kamu manja-manja cuma mau bilang aku suruh ceritain masalah semalam?"Zidan melepaskan pelukannya dan kembali ke posisi semula.
"Hehe iya. Tapi sebenarnya aku cuma mau bilang masalah Aini tapi aku inget semalam katanya kamu mau cerita"Ujar Arumi tersenyum konyol.
"Hmmm. Yaudah dengerin ya"
"Apa Mas? Ceritain aja"
__ADS_1
"Ya ini kan mau cerita"
"Hehe iya"
Kemudian Zidan menceritakan kepada Arumi tentang masalah yang sedang dia selesaikan. Masalah Danu dan Maria, Zidan tidak mau ada korban baru setelah Tiwi dan Weni.
"Ya ampun Mas! Kamu harus bantu Maria, jangan sampai Danu menyakiti dia dan menghancurkan hidupnya seperti Tiwi yang sedang mengandung anaknya namun tidak bertanggungjawab!"Ujar Arumi.
"Aku sedang berusaha membongkar semuanya, walaupun aku tidak mengenal Maria tapi kelakuan Danu sungguh keterlaluan!"Zidan mengepal telapak tangannya menandakan rasa jengkel yang amat sangat besar kepada Danu.
"Mas tapi bagaimana kamu bisa melakukannya?"
"Tenang saja, ada dua asisten jagoanku Qenan dan Jaklen. Hari ini aku akan pergi mungkin pulang malam, kamu tidak perlu khawatir jika aku tidak pulang itu tandanya masalahku belum selesai"Ujar Zidan degan tegas sambil menyeruput secangkir kopi hangat yang ada diatas meja.
"Mas, aku selalu mendukungmu dan mendoakan kebaikanmu agar kamu dijauhkan dari segala marabahaya"Arumi memegang tangan Zidan seraya tersenyum penuh keindahan. Arumi memberi semangat kepada laki-laki tampannya tersebut.
"Aku mencintaimu Arumi"Zidan menggenggam erat tangan Arumi dan menciumnya dengan lembut.
"Aku juga Mas"Arumi membalasnya kemudian memeluk Zidan penuh rasa cinta.
"Kita harus bertemu dengan mereka lagi, hari ini kita harus bisa menyelesaikan masalah ini"Ujar Zidan kepada Qenan.
"Kita menyelesaikan masalah? Bukankah Maria sedang koma lalu siapa yang akan menjadi saksi"Ujar Qenan. Ia berfikir jika Maria tidak sadar makan tidak ada yang menjadi saksi, karena ia yakin sebelum Maria mengalami kecelakaan Maria sudah mengetahui kedok Danu karena sebelumnya mereka bertengkar lebih dulu.
"Kau benar Qen, lalu apa rencanamu?"
"Aku lebih setuju jika kita mengajak Bu Ellen ikut campur dalam masalah ini. Aku yakin Bu Ellen pasti mau dan berani membuka semua kebenaran, aku yakin Bu Ellen juga tau tentang keburukan Danu selama ini dan setelah semuanya cukup bukti kita tunggu Maria sampai sadar dan membuka semuanya didepan mata Danu"Tegas Qenan.
"Kau sangat pandai Qen. Kalau begitu kita temui Bu Ellen sekarang"
Mereka bergegas pergi menuju Rumah sakit. Jaklen yang saat itu sedang sakit tidak masuk kantor dan tidak ikut dengan mereka berdua.
Sampainya didepan parkiran Rumah sakit mereka berdua menyiapkan semua ide yang sudah disusun sejak awal. Qenan sebagai mata-mata siap mengawal Zidan sampai ke dalam Rumah sakit.
"Tuan sepertinya Bu Ellen hanya sendiri didalam?"Ujar Qenan seraya mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.
__ADS_1
"Kau yakin? Lalu kemana Ayahnya, atau mungkin dia pergi sama Danu seperti kemarin"Zidan minta Qenan melihat dan mengamati sekali lagi.
"Yakin Tuan. Tidak ada siapapun selain Bu Ellen dan Nona Maria"Tegas Qenan kembali.
"Masuk sekarang!"
Lalu mereka berdua masuk dengan pelan dan menyapa Bu Ellen yang tengah duduk seperti biasa menemani Putri kesayangannya yang masih terbaring tidak berdaya.
"Selamat siang Bu?"Sapa Qenan bersama Zidan kepada Bu Ellen. Bu Ellen menengoknya dan memberikan senyuman ramahnya.
"Selamat siang Nak, kalian teman Maria yang kemarin kesini kan?"Bu Ellen masih ingat dengan kedatangan mereka kemarin ketika menjenguk Maria.
"Iya Bu, ini ada sedikit oleh-oleh untuk Ibu"Qenan memberikan parcel berisi buah segar untuk Bu Ellen. Bu Ellen dengan senang hati menerima pemberian mereka dengan baik.
"Terimakasih ya nak. Oh ya Ibu senang sekali Maria sudah sadar dari komanya"Ujar Bu Ellen seraya menaruh parcel buah diatas meja kemudian duduk kembali di kursi dekat ranjang Maria.
"Maria sadar Bu? Sejak kapan tapi kenapa dia masih terbaring?"Ujar Zidan kepada Bu Ellen.
"Sejak semalam Nak. Iya Maria baru saja tidur, tadi habis makan disuapin Ayahnya terus tidur"
"Emm kalo boleh tau Danu juga disini Bu Kemana dia kami dari kemarin tidak sempat berkenalan dengannya"Sambung Qenan kepada Bu Ellen. Ia sengaja bertanya agar bisa mengetahui keberadaan pecundang itu.
"Tidak ada!"Jelas Bu Ellen sedikit menyentak dengan mata bulatnya.
"Dia tidak disini, Ibu menyuruhnya pergi karena Maria tidak mau ada Danu disini. Maria masih sedih dengan peristiwa yang terjadi padanya karena ulah Danu!"Jelas Bu Ellen kembali masih dengan bola mata yang tajam membulat.
"Bu maaf sebelumnya, sebenarnya kami kesini ingin mengajak ibu bekerja sama?"Tutur Zidan kepada Bu Ellen.
"Bekerja sama? Bekerja sama apa maksud kalian?"Bu Ellen merasa heran dan tampak sedikit curiga dengan niat mereka.
"Bu kami bukan orang jahat, justru kami ingin membantu Maria. Ibu jangan berfikir buruk tentang kami"
Zidan dan Qenan lalu menceritakan maksud yang selama ini dia rahasiakan. Mereka menceritakan kebusukan Danu yang sudah dia lakukan dengan Tiwi dan Weni. Bu Ellen bahkan sangat geram mendengarnya, dan terdapat fakta baru jika perusahaan Maria kini sudah pindah alih ketangan Danu semua itu karena Ayah maria yang memberikannya, dia terlalu percaya dengan laki-laki biadab itu.
"Ibu selama ini sudah memendam rasa jengkel yang sangat besar kepada Danu. Dia sudah mencuci otak suamiku dan anakku lalu mengambil semuanya. Aku bahkan sekarang menjadi tidak berarti dimata suamiku sendiri! Suamiku sangat percaya jika Danu akan bisa membesarkan perusahaan kami padahal aku sangat yakin laki-laki itu hanya ingin mengincar harta kami saja!"Jelas Bu Ellen seraya melinangkan butiran air mata.
__ADS_1
Sekarang tekad Zidan sangat yakin apalagi Bu Ellen sangat mendukung dan mau membantunya membongkar kebohongan Danu yang selama ini sudah menghancurkan hidup bayak orang.