
Sejak pagi Zidan tidak melihat sang Ibu berada di Rumah. Padahal Delia selalu dirumah kalaupun pergi itu hanya sebentar tidak sampai malam.
Lalu tak berselang lama Delia pulang pukul 10 malam. Ia membawa banyak barang belanjaan pemandangan itu tidak biasa Zidan lihat selama ini. Semenjak Zidan mendapat warisan, sang Ibu menjadi gila belanja. Selama ini Delia tidak pernah membeli barang sebanyak itu apalagi itu barang-barang mahal.
"Bu, dari mana? Banyak sekali belanjaannya"Tanya Zidan dengan senyum. Ia merasa senang bisa membahagiakan sang Ibu dengan uang hasil warisan untuk sang Ibu, agar bisa membeli yang ia mau. Tapi yang Delia lakukan lebih dari yang Zidan bayangkan.
"Ibu habis beli baju dan kebutuhan untuk sebulan Zi"Ucap Delia sambil memamerkan barang belanjaan.
"Oh, banyak banget Bu, nanti uang Ibu cepat habis"Zidan khawatir jika terlalu sering belanja maka uang Delia akan cepat habis.
"Kok kamu takut gitu! Kan kamu bisa minta lagi sama Zaki!"Pekik Delia membuat Zidan menarik nafas panjang.
"Bu, tapi dia bukan Papaku! Aku juga tidak ada hak atas hartanya"Zidan tidak habis pikir dengan sikap Delia.
"Lalu untuk apa aku membesarkan kamu kalau bukan untuk menarik harta Zaki!! Aku mengadopsi kamu hanya untuk pancinganku saja!"Delia semakin murka dan membuka semua niat jahatnya kepada Zidan. Delia sudah tidak peduli lagi dengan Zidan, ia hanya mau harta dan kekayaan. Melihat Zidan terdiam tanpa kata Delia segera pergi dari hadapannya dan masuk ke dalam kamar.
"Untuk pancingan"Zidan terdiam dan meneteskan air mata.
"Lalu jika begitu, apa aku hanya alat sebagai pancingan saja. Agar Ibu mendapatkan harta warisan dari Papa Zaki!"Batin Zidan menangis mendengar semua kenyataan ini. Kenyataan ini lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Zidan menangis di dalam kamar seorang diri. Lalu tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar mendatangi dirinya yang tengah berbaring di atas kamar.
Ternyata yang datang adalah Delia. Malam ini Delia datang dengan pakaian yang sangat seksi, pakaian yang baru ia beli tadi sore.
"Zi, sebentar lagi teman Ibu akan datang. Ibu harap kamu tidak menemui Ibu sebelum teman Ibu pergi!"Delia meminta Zidan untuk tidak menemuinya karena malam ini ada tamu yang akan datang.
"Siapa? Kenapa aku tidak boleh menemui Ibu?"Tanya Zidan.
"Teman Ibu!"Pekik Delia membuat Zidan terdiam.
"Baiklah"Ucap Zidan sambil memalingkan wajahnya.
Zidan merasa sikap Delia semakin hari semakin aneh. Semenjak memegang harta warisan Zidan, Delia sering keluar malam dan sering mendapat telepon dari seorang laki-laki.
Zidan tidak begitu menghiraukan siapa yang datang malam ini. Zidan berfikir yang datang malam ini adalah teman perempuan.
Namun yang Zidan pikirkan ternyata salah. Yang datang malam ini bukanlah perempuan, tapi seorang laki-laki gagah seumuran sang Ibu.
__ADS_1
"Selamat malam sayangku Delia"Ucap laki-laki yang bernama Wisnu tersebut, ketika dibukakan pintu oleh Delia.
"Malam juga Wisnu ku sayang, silahkan masuk"Jawab Delia dengan sikap genitnya.
Lalu Wisnu masuk dan Delia langsung menutup pintunya.
Zidan sama sekali tidak curiga jika malam ini ada laki-laki asing yang masuk dan berduaan dengan sang Ibu.
"Kau sendiri dirumah besar seperti ini?"Tanya Wisnu kepada Delia.
"Tidak, aku berdua dengan putraku"Ucap Delia sambil menyodorkan segelas minuman dingin kepada Wisnu.
Namun ketika hendak diminum, Delia tiba-tiba duduk dan tidak sengaja sikunya menyenggol minuman dingin yang hendak diminum oleh Wisnu.
Minuman dingin itu tiba-tiba menyiram baju dan celana Wisnu sampai basah, Delia kaget dan segera mengusap bekas minuman yang tumpah.
Kejadian itu malah membuat tubuhnya terlihat begitu seksi dihadapan Wisnu. Sampai usapan tangan Delia pada bagian celananya begitu terasa sampai ke urat terdalam. Benar-benar nikmat.
Merasa celana Wisnu begitu basah Delia menyuruh Wisnu membuka celananya untuk ia keringkan dengan menggosoknya menggunakan seterika.
"Lalu apa aku harus telanjang disini?"Ucap Wisnu kepada Delia dengan perasaan heran.
"Kau serius?"Wisnu merasa kebetulan dengan semua ini.
"Ikut saja"Singkat Delia.
Kemudian mereka masuk kedalam kamar yang bersebelahan dengan Zidan. Malam itu Zidan sudah tertidur lelap Karena terbawa perasaan sedih dan sudah terlalu lama ia menangis.
Sementara itu Delia dan Wisnu sedang berduaan di dalam kamar.
"Aku buka sekarang?"Tanya Wisnu.
"Tunggu apa lagi, nanti kau masuk angin"Ucap Delia dengan tidak sabar.
Wisnu kemudian membuka celananya perlahan setengah merasa ragu, bagaimana jika hasratnya tiba-tiba muncul dan lari begitu saja.
"Sini, biar aku gosok!"Delia merebut celana yang masih dipegang oleh Wisnu.
__ADS_1
Wisnu duduk dipinggir ranjang, sedangkan Delia masih menggosok celana sambil membelakangi Wisnu. Tubuh Delia menjadi pemandangan indah untuk Wisnu, apa lagi gerakannya membuat bagian belakangnya bergoyang mengairahkan mata Wisnu.
"Sepertinya aku tidak bisa menahan semua ini!"Wisnu benar-benar tidak tahan sekali melihat tubuh Delia begitu molek.
"Sepertinya akan lama keringnya, karena celanamu ini sangat tebal!"Delia sedikit merasa kesusahan dan sudah tidak meneruskan lagi.
"Biarkan saja, nanti biar kering sendiri kena udara"Ucap Wisnu.
"Ya sudah"Delia mencabut kabel dan berbalik arah ke hadapan Wisnu.
Padangan Wisnu begitu tajam dan sangat mengandung makna, Delia melawan pandangan Wisnu dengan sedikit mendekatinya ke pinggir ranjang.
"Kenapa pandangmmu begitu tajam?"Tanya Delia sambil duduk dipangkuan Wisnu.
"Aku tau, kau juga mau!"Ucap Wisnu sambil memegang tubuh Delia dengan kedua tangannya.
"Kalau begitu ayo sekarang!"Ucap Delia sambil menggigit bibir bawahnya seakan memberi arti.
Tak menunggu lama mereka terbawa kepada hasrat yang meledak-ledak. Apa lagi Delia sudah lama tidak merasakan kenikmatan itu.
Delia memeluk erat Wisnu dengan ciuman yang ditumpahkannya membuat Wisnu merasa begitu nikmatnya. Delia tidak bisa menahan suara kenikmatan, sedangkan Wisnu mengigit erat bibirnya sambil terus menikmati hasrat terdalamnya.
Sementara itu Zidan terbangun dan mencari ponselnya untuk melihat jam berapa malam ini.
Lalu terdengar suara namun samar, Zidan mendengar suara sang Ibu tapi entah sedang apa Zidan tidak begitu menghiraukan.
"Seperti suaara Ibu? Ah mungkin sedang mengigau"Pikir Zidan.
Setelah melihat jam masih malam, Zidan kembali tidur dan menaruh ponselnya. Ia tidak menyadari kedatangan teman sang Ibu memberikan kenikmatan kepada sang Ibu yang sudah lama tidak merasakannya lagi.
"Sayang, kau capek?"Tanya Delia kepada Wisnu yang masih kelelahan melayani Delia.
"Sangat capek, tapi aku harus pulang malam ini! Jika tidak nanti Putramu tahu aku berada di sini denganmu"Wisnu pamit kepada Delia untuk pulang malam ini.
"Baiklah, hati-hati ya sayang"Delia memberi kecupan manis untuk Wisnu sebelum pergi.
Namun ada barang yang tertinggal malam itu, barang itu milik Wisnu yang ditemukan Zidan ketika sedang mencari Delia didalam kamar.
__ADS_1
Apa itu ikuti terus ya😊
Bersambung...