
Malam ini Laras sengaja memakai baju seksinya yang transparan sehingga bagian d4d4 kenyalnya terlihat begitu menonjol, ia juga sesekali berjalan didepan Zidan berharap laki-laki bertubuh kokoh itu akan tertarik padanya.
Namun laki-laki tampan itu enggan memalingkan wajahnya dari hadapan TV, ia justru semakin asyik menonton film kesukaannya sepertinya Zidan belum tertarik dengan Laras.
Tidak sampai disitu, Laras juga mencoba berjalan seraya membawa pisang yang ia taruh di atas piring, kemudian Laras sengaja berjalan tepat dihadapan Zidan ia juga sengaja menjatuhkan pisang tersebut lalu mengambilnya kembali.
Namun tingkah Laras kali ini sedikit membuat Zidan menelan ludah, Laras sengaja membelakangi Zidan seraya menundukan tubuhnya saat mengambil pisang yang ia jatuhkan, hal itu membuat dress mini yang dipakainya terurai ke atas dan memperlihatkan bokon9 bulatnya yang begitu kenyal dan indah dibalut CD warna merah menantang.
Namun Zidan mencoba menahan dirinya dari godaan Laras, ia tetap memalingkan wajahnya dari pemandangan indah yang disuguhkan Laras. Zidan bangkit dan menjauhi Laras, Zidan kemudian pergi ke arah kamar mandi. Walaupun Laras sudah menjadi istri sahnya namun Zidan belum bisa mencintainya, ia hanya mencintai Arumi.
"Zidan pergi! Apa dia tidak mempunyai napsu, laki-laki macam apa dia!"Ucap Laras kesal.
Tapi Laras tidak menyerah begitu saja ia mengikuti Zidan ke kamar mandi dan kali ini dirinya begitu nekat, Zidan yang saat itu sedang membasuh mukanya tiba-tiba kaget melihat Laras masuk ke kamar mandi begitu saja.
"Apa yang kau lakukan?"Tanya Zidan.
"Aku kan istrimu, bebas dong aku mau ngapain!"Pekik Arumi.
"Ya bukan gini juga dong, aku kan masih capek"Ucap Zidan seraya memalingkan wajahnya dari hadapan buah kenyal milik Laras.
"Emang kenapa Mas, ini kan malam pertama kita?"Ucap Laras seraya mendekap tubuh Zidan.
"Tidak lepaskan!"Zidan melepaskan dekapan Laras dari tubuhnya.
"Bagaimana jika kau lihat ini?"Ucap Laras seraya memperlihatkan bokon9 kenyalnya.
"Stop, jangan lakukan!"Ucap Zidan bergegas keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Laras.
"Mas tunggu!"Laras berusaha memegang tangan Zidan agar tidak pergi namun hal itu tidak berhasil.
Merasa tidak puas Laras akan memberi pelajaran kepada Zidan, ia percaya Zidan akan bisa mencintainya bahkan tergila-gila padanya dan begitu mudah melupakan Arumi.
"Lihat saja Mas, kau pasti akan tergila-gila padaku!"Ucap Laras.
Sementara itu Zidan kembali menonton TV seraya membaringkan tubuhnya diatas sofa, namun pikirannya terus terbayang akan tubuh indah Laras. Bagaimana bisa laki-laki normal menolak hal seperti itu? Pikirnya.
Tak lama kemudian Arumi datang dan membawakan secangkir kopi untuk Zidan, tak kalah dengan Laras, malam ini Arumi juga memakai dress seksi corak polkadot berwarna hitam membuat wajah ayu nya kian terpancar.
"Minum dulu Mas kopinya biar lebih semangat"Ucap Arumi.
"Terimakasih ya, kau belum tidur?"Tanya Zidan.
"Aku tidak bisa tidur"Ucap Arumi.
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah dari pagi kau capek belum istirahat"Ucap Zidan kepada Arumi.
"Bukankah ini malam pertama kita?"Ucap Arumi kepada Zidan membuat Zidan langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Ayo sekarang"Ucap Zidan.
Ketika mereka berdua berjalan menuju kamar tiba-tiba Laras datang dan marah kepada Zidan, Laras merasa tidak diutamakan oleh Zidan, ia juga marah dengan Arumi karena merasa telah dibohongi oleh Arumi.
"Yang katanya tidak cinta mana buktinya! Atidak cinta kok ngajak malam pertama!"Ucap Laras kepada Arumi.
"Tapi bukan berarti aku tidak akan mencintai Mas Zidan bukan?"Pekik Arumi.
"Aku tidak akan biarkan kalian berdua tidur bersama!"Ucap Laras.
"Mas, apa maksudmu! Aku tidak mau ya kalo sampai kau sentuh Arumi! Sejak awal kau yang akan menikahi aku bukan Arumi!"Ucap Laras ketus.
"Mas lebih baik kau tidak usah tidur denganku malam ini, kau tidur saja dengan Laras"Ucap Arumi pelan.
"Aku tidak akan tidur dengan siapapun!"Ucap Zidan, kemudian pergi dari hadapan mereka.
Kini tinggal mereka berdua berdiri berhadapan dan saling memberi tatapan mata yang tajam seperti saling menantang dan saling mengunggulkan dirinya sendiri sebagai seorang istri yang hebat untuk suami mereka.
"Kau lihat saja Arumi, siapa yang paling utama dimata Mas Zidan!"Ucap Laras.
"Aku tidak perduli, jika kau ingin mengunggulkan dirimu silahkan? Tanpa aku berbuat susah payah juga Mas Zidan sudah mencintaiku!"Pekik Arumi.
__ADS_1
"Baiklah lihat saja nanti, Mas Zidan akan segera melupakanmu dan mencintai aku Arumi!"Ucap Laras kembali.
"Hem, lakukan saja!"Gumam Arumi kemudian pergi meninggalkan Laras.
"Sial! Arumi kenapa santai banget sih, dia bahkan tidak takut dengan ancamanku! Wanita macam apa dia?"Batin Laras.
Cuaca pagi yang mendung disertai gerimis menghembuskan udara dingin memasuki setiap sudut ruangan didalam rumah yang besar dengan tiga penghuni.
Zidan kebetulan hari ini tidak masuk kantor jadi pagi ini ia hanya berbaring seraya menutupi dirinya dengan selimut agar tidak kedinginan.
Tak berselang lama terdengar suara ketukan pintu berkali-kali, Zidan tidak menghiraukannya karena ia berfikir itu pasti Laras, lama-lama Zidan merasa terganggu dan membuka pintu kamarnya untuk melihat siapa yang mengganggunya pagi-pagi sekali.
Ketika pintu dibuka ternyata Arumi yang datang, pagi itu Arumi membawakan secangkir kopi untuk Zidan, bak sudah kewajiban Arumi bahkan tidak pernah lupa untuk membuatkan secangkir kopi. Laki-laki bertubuh kokoh itu merasa sangat kagum dengan sikap Arumi.
"Kau tidak ingin masuk?"Ucap Zidan.
"Aku hanya tidak ingin ada masalah"Balas Arumi tersenyum.
"Terimakasih kopinya?"Ucap Zidan kembali.
"Iya kau minum saja, aku pergi dulu"Ucap Arumi ketika hendak berjalan kembali kekamarnya.
Melihat sikap Arumi nampaknya Zidan tidak kuat ingin menjadi pasangan suami-istri seperti pasangan yang lain. Bahkan malam pertama yang sudah menjadi kewajiban pengantin yang baru menikah belum ia rasakan sama sekali.
Malam ini Laras hendak pergi bertemu rekan kerjanya tapi ia tidak sendiri, Zidan yang akan menemaninya malam ini, Laras sengaja mengajak Zidan agar ia tidak berduaan dengan Arumi.
"Kau sudah siap Mas?"Ucap Laras kepada Zidan, sementara itu Arumi yang berada disebelahnya hanya bisa memandang mereka berdua.
"Ya"Ucap Zidan singkat.
Kemudian mereka pergi sementara itu Arumi terus melihat kepergian mereka, Zidan saat itu pergi begitu saja, tidak ada kata apa-apa kepada Arumi yang sebelumnya mereka berdua tengah duduk asyik menonton TV bersama.
"Mas Zidan pasti mau senang-senang dengan Laras, pasti mereka bohong mau ketemu rekan kerja padahal mau senang-senang"Gumam Arumi.
__ADS_1