
"Wen, semalam kau pulang jam berapa?"Arumi bertanya kepada Weni ketika berpapasan dengannya.
"Aku pulang sekitar pukul 10 malam, aku juga melihatmu sedang berduaan dengan Zidan aku takut mengganggunya jadi aku pulang langsung masuk kedalam kamar"Weni menjawabnya sambil tersenyum paksa.
"Kau merasakan sesuatu? Aku harap kau sadar diri!"Ujar Arumi ketus penuh pandangan menyakitkan.
"Tidak! Maksudku aku merasa sedikit pusing mungkin aku butuh obat penambah darah karena sedang hamil jadi aku sering lelah dan lemas!"Weni semakin dibuat kesal oleh sikap Arumi yang sangat menekan dirinya agar tidak melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Zidan. Iapun mengalihkan pembicaraan dengan berpura-pura pusing kepala.
"Nanti aku belikan lebih baik kau kekamar dan istirahat jagan sampai kau sakit karena itu akan membahayakan janin yang ada dalam kandunganmu!!"Ucapan Arumi selalu tegas terhadap Weni hal itu yang membuat Weni merasa terlalu ditekan olehnya.
"Ya, terimakasih!"Weni kembali kedalam kamarnya sambil mengerutkan keningnya, menurutnya sikap Arumi tidak perlu ketakutan seperti itu.
Pagi ini Arumi hendak kekantor mengantarkan ponsel milik Zidan yang tertinggal. Arumi masuk kedalam mobil ia pergi dengan sopir pribadinya karena tujuan Arumi tidak hanya kekantor.
Ditengah perjalanan ponsel Zidan berbunyi, 3 pesan masuk terlihat pada layar utama ponsel. Arumi membuka pesan tersebut dan membacanya, memastikan isi pesan tersebut penting atau tidak.
"[Tuan, hari ini Nona Maria mengajak bertemu hanya berdua?"]
Pesan tersebut dari Qenan, ia menuliskan jika hari ini Maria ingin bertemu dengannya, pertemuan pribadi yang tak boleh diketahui siapa-siapa.
Arumi langsung terhenyak, Maria siapa yang dimaksud Qenan. Ia pun menarik nafas dalam-dalam dan masih berfikir positif, namun pesan tersebut seperti pesan pribadi yang mencurigakan untuknya.
Sesampainya dikantor Arumi merapikan bajunya dan menyisir rambutnya sebelum ia turun dari mobil. Sebagai istri pengusaha sudah seharusnya ia berpenampilan cantik dan rapih didepan semua orang.
Arumi berjalan menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya, senyumnya tak henti-hentinya merekah bak bunga melati yang sedang mekar anggun dan sangat indah.
Ia pun sampai didepan ruangan sang suami kemudian mengetuk pintu sebelum masuk.
"Mas?"Tidak menunggu dibukakan pintu Arumi memilik membukanya sendiri.
"Eh, sudah datang. Kau sendiri Rum?"Tanya Zidan sambil menutup laptopnya dan mendekati sang istri yang masih berdiri.
__ADS_1
"Iya, aku sama supir. Aku cuma mau nganterin ponsel kamu yang ketinggalan, oh ya Mas aku mau langsung pergi soalnya aku mau beliin Weni obat tambah darah"Arumi mencium pipi sang suami dan tersenyum padanya.
Arumi memberikan ponsel tersebut namun ia sengaja membuka pesan Qenan dan tidak menutupnya kembali agar Zidan tau jika pesan itu sudah lebih dulu dibaca oleh Arumi.
"Terimakasih sudah membawakan ponselku"Namun Zidan melihat pesan masuknya sudah terbuka.
"Rum kau yang membuka pesan dari Qenan?"Tanya Zidan kembali.
"Iya Mas emagnya kenapa? Siapa Maria?"Sangat santai Arumi menjawab pertanyaan dari Zidan.
"Dia teman bisnisku, aku belum menceritakan padamu tentang Maria. Dia adalah orang yang bekerja sama dengan perusahaan kita"Zidan memberi pengertian kepada Arumi agar tidak berpikiran yang tidak-tidak padanya.
"Oh gitu. Ya aku kira dia siapa Mas kok sepertinya penting sekali"Arumi memegang pundak Zidan dan tersenyum dengan senyuman termanis nya.
Sebelum pulang kerumah Arumi mampir di apotek terdekat membeli obat penambah darah untuk Weni. Setelah membeli ia pun langsung pulang dan memberikannya kepada Weni yang tengah duduk dipinggir ranjang.
"Maaf aku lama, aku habis dari kantor Mas Zidan"Arumi memberikan obat tersebut kepada Weni.
"Kau dari kantor, ngapain Rum?"
"Kau mau tau?"
Arumi menaikan alisnya dan memadang Weni dengan pandangan tegasnya.
"Aku hanya bertanya, jika itu memberatkan dirimu maka kau tak perlu menjawab. Oh ya Rum, terimakasih obatnya"Weni naik ketengah ranjang dan membaringkan tubuhnya membelakangi Arumi yang masih berdiri kokoh.
"Tadi pagi ponsel Mas Zidan ketinggalan, aku mengantarkan ponsel itu kekantor karena aku tau ponsel Mas Zidan salah satu benda penting untuknya!"Jelas Arumi dan pergi meninggalkan kamar Weni setelah selesai bicara.
Gebrakan pintu yang sedikit keras membuat Weni seketika memejamkan matanya karena merasa kaget. Entah siapa yang salah Weni merasa tidak melakukan kesalahan namun Arumi selalu memandang dirinya dengan pandangan ketusnya.
"Siapa yang salah! Kenapa kau marah padaku bukankah kau yang memintaku menikah dengan suamimu!"Geruru Weni sambil memukul-mukul batalnya dengan kepalan tangannya.
__ADS_1
Semua sudah terjadi tugasnya tinggal selangkah lagi, yaitu menunggu kelahiran sang buah hati yang sudah ia jual sebelum ia tumbuh dan akan ia berikan kepada Zidan dan Arumi.
Arumi berjalan menuju kamarnya, menutupnya dan membating tubuhnya diatas ranjang dengan wajah penuh kekesalan.
"Weni kenapa sih suka ingin tau urusan aku sama Mas Zidan! Aku sudah ingatkan tapi masih saja seperti itu!"Arumi baru mulai merasakan rasa cemburunya yang sebelumnya tidak ia rasakan.
*******
Sore itu Weni hendak tidur tapi tiba-tiba ia mendengar suara alarm berbunyi nyaring dan terdengar keras sampai kedalam kamarnya. Alarm beberapa kali mengulangi suaranya membuat Weni sangat terganggu karena ia tidak bisa tidur mendengar suara alarm milik Arumi.
Alarm tak kunjung dimatikan Weni beranjak dari ranjangnya mencari sumber suara tersebut dan berniat mematikannya. Sore itu Arumi tidak dirumah dua jam yang lalu Arumi bilang akan pergi ke toko kue namun Weni tidak tahu siapa yang akan ulang tahun hari ini.
Weni mendengar suara alarm bersumber dari dalam kamar Arumi, dengan rasa penasaran ia masuk kedalam kamar dengan perasaan gemetar berharap Arumi tidak akan pulang sebelum dirinya keluar dari kamarnya.
Weni mendekati ponsel Arumi yang ia taruh diatas ranjang, Arumi mempunyai lebih dari satu ponsel karena salah satu ponselnya digunakan untuk ponsel pribadi.
Dengan berani Weni menyentuh ponsel Arumi yang masih berbunyi dan melihat tulisan ulang tahun atas nama Zidan. Ya, ternyata Zidan hari ini ulang tahun pantas saja Arumi pergi ke toko kue rupanya ia sudah tau jika hari ini adalah hari ulang tahun lelaki tampannya yang ke 27 tahun.
"Zidan ulang tahun, aku akan beri kejutan untuknya. Tapi..."Weni ingin memberi kejutan namun ia teringat dengan Arumi bagaimana jika Arumi marah padanya.
"Kalo aku beri kejutan Arumi marah gak ya? Tapi kalo aku gak kasih kejutan lalu Arumi kasih kejutan pasti Zidan mengira aku tidak perduli padanya!"
Weni bimbingan dengan keduanya, namun rasa inginnya melebihi segalanya.
"Aku akan pergi ke toko kue dan membeli kue untuk Zidan"Weni langsung pergi ke toko kue yang dikunjungi Arumi satu jam lalu.
Ketika Weni hendak pergi Arumi sore itu pulang kerumah dan membawa kardus kotak berisi kue ulang tahun. Weni tidak menanyakan karena ia sudah tau isi dari kardus tersebut.
"Mau keluar?"Arumi bertanya kepada Weni ketika ia hendak masuk dan Weni keluar dari pintu.
"Em, aku mau keluar sebentar"Jawab Weni singkat sambil memberi senyum penuhnya lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Mau kemana dia, kelihatannya senang sekali? Entahlah"
Arumi menaruh kue tersebut didalam kamar sambil menunggu Zidan pulang dari kantor.