
Takdir memang tidak bisa dirubah oleh tangan manusia. Namun manusia dapat merubah takdir itu dengan doa yang terus dipanjatkan kepada sang Ilahi. Seperti dua manusia yang sedang berjuang agar bisa mendapatkan momongan kini doa mereka telah terkabul.
Ya setelah bertahun-tahun menanti hadirnya buah hati dalam hidupnya, kini bukan lagi mimpi untuk mereka. Kini apa yang Zidan dan Arumi harapan telah menjadi kenyataan.
*********
Pagi hari yang mendung Arumi disambut dengan rasa mual dan pusing yang amat berat. Ya, memang selama ini Arumi sering pusing dan lemas karena kelelahan semenjak mengadopsi Aini, karena waktu yang harus dikorbankan seorang ibu memang sangat banyak dimana ia harus mengurus keperluan suami dan anaknya dan di lain sisi ia juga dihadapkan dengan pekerjaan rumah yang semakin membuat tenaganya terkuras.
"Mas kau antar Aini sekolah ya, aku pusing aku mau istirahat"Ujar Arumi seraya berbaring dan menutupi tubuhnya dengan sehelai selimut bercorak bunga latulip.
"Kau sakit lagi? Sudah ku bilang jangan cuci baju malam hari, kalau dibilangin ngeyel si"
"Iya Mas tapi biasanya aku gak apa-apa tapi ini benar-benar pusing sama lemas"
"Ya udah aku berangkat dulu nanti Aini kesiangan, kau istirahat saja jangan capek-capek dulu"Zidan mencium kening Arumi dan menyuruh Aini salaman sebelum berangkat sekolah.
"Iya Mas hati-hati ya kalian berdua"
"Iya sayang"
Arumi tersenyum melihat Zidan berjalan bersama Aini mereka begitu saling menyayangi sebagai anak dan seorang ayah. Mereka berjalan melewati pintu kamar sampai tidak terlihat lagi. Arumi kembali memejamkan matanya dalam balutan selimut tebal nan lembut.
"Rasanya pingin mual lagi!"
Belum sampai 10 menit Arumi sudah mual lagi dan mulai berkeringat badannya pun terasa sangat lemas dari sebelumnya. Arumi berjalan menuju kamar mandi dan perlahan berjalan berpegangan dengan dinding.
"Dari tadi rasanya pengen mutah terus, badan rasanya aneh seperti orang masuk angin"Gumam Arumi seraya membuka pintu kamar mandi.
Setelah keluar Arumi mencoba diam seraya menyeimbangkan badannya agar bisa bejalan menuju ranjang kembali. Namun matanya kini tertuju pada pembalut yang ada di atas lemari pembalut yang masih utuh dan belum terpakai. Seketika tubuhnya bergejolak jantungnya mulai berdebar-debar firasat nya seakan yakin dengan kehamilan yang benar-benar nyata akan terjadi pada diri nya.
"Pembalut itu masih utuh aku sampai tidak ingat bulan kemarin belum datang bulan. Apa aku tes aja kali ya? Aku kan masih punya dua alat tes kehamilan siapa tau kali ini firasat ku benar"
Arumi terhenyak ia segara mengambil dan menggunakan tes kehamilan tersebut. Arumi menunggunya selama 5 menit sambil terus memanjatkan doa yang selalu ia panjatkan. Dan setelah 5 menit berlalu Arumi membuka matanya dan melihat dua garis merah pada alat tes kehamilan yang sedang dipegangnya itu.
"Dua garis? Aku hamil, ini benar-benar dua garis aku benar-benar hamil"Dengan jantung berdebar Arumi melinangkan air matanya. Air mata yang sudah bertahun-tahun menanti kebahagiaan seperti ini, kebahagiaan atas kehamilan yang selalu menjadi mimpi baginya selama ini.
__ADS_1
"Aku hamil Mas, aku hamil sayang"Sekali lagi Arumi merindukan kepulangan Zidan dan Aini untuk memberi tau kabar bahagia itu kepada mereka.
*********
"Aini anak cantiknya ayah kita pulang yuk"Zidan menjemput Aini didepan sekolah dan mengajaknya pulang ke rumah.
"Yah nanti mampir beli es krim ya? Aini mau beliin ibu es krim"Ujar Aini.
"Boleh, tapi kenapa Aini mau belikan ibu es krim kenapa tidak yang lain saja"Ujar Zidan.
"Biar ibu senang dan tidak sakit lagi yah, ibu pasti senang Aini belikan es krim"Ujar Aini dengan senyum polosnya.
"Iya sayang ibu pasti sangat senang"Zidan mengusap rambut gadis kecil kesayangan nya itu dengan rasa bangga. Begitu bangga dengan Aini yang begitu sayang dengan Arumi walaupun dia bukan ibu kandungnya sendiri.
Setelah sampai di rumah Aini turun dari mobilnya. Zidan menggandeng tangan kecil Aini menuju ke dalam rumah mewahnya. Merekapun masuk dengan hati gembira Aini sampai berjalan begitu cepat menuju kamar Arumi sekedar untuk memberikan es krim rasa coklat yang sebentar lagi akan meleleh.
"Bu Aini sudah pulang"Ujar Aini kepada Arumi yang masih sama seperti pagi tadi, hanya berbaring di atas ranjang berwana putih bercampur gold tersebut.
"Sayang kamu sudah pulang nak. Ayah mana?"Tanya Arumi.
Zidan masuk seraya membawa beberapa makanan enak dan buah untuk Arumi. Kemudian Zidan meletakkannya di samping tempat tidur Arumi.
"Mas apa ini banyak sekali?"Tanya Arumi sambil menatap wajahnya.
"Ini Aini yang beli, untuk kamu"Ujar Zidan.
"Bu ini es krim coklat untuk ibu"Aini memberikan es krim tersebut kepada Arumi. Wajah polos nya begitu sangat tulus Arumi sampai merasakan kasih sayang Aini kepada dirinya seperti ibu kandungnya sendiri.
"Aini sayang terimakasih ya nak"Arumi mencium pipi Aini dan mengusap rambutnya penuh rasa cinta.
Tak lama kemudian Arumi memanggil Zidan yang tengah sibuk bekerja dengan laptop nya untuk naik keatas ranjang. Kebetulan saat itu Aini juga masih main dengan boneka kesayangannya bersama Arumi.
"Mas sini?"
"Hem ada apa, nanti saja aku lagi sibuk"
__ADS_1
Panggilan Arumi membuat Zidan enggan mendekat sebab Aini masih main dengan boneka nya. Karena Zidan pikir Arumi mau menggangu pekerjaannya hanya untuk masalah ranjang.
"Mas sini dulu"
"Nanti saja kau main dulu dengan Aini"
"Aku mau nya kamu kesini sekarang Mas!"Ujar Arumi kembali, namun Zidan tetap tidak menghiraukannya. Bagaimana bisa bercinta didepan Aini yang masih terbangun, pikirnya mungkin seperti itu. Padahal Arumi hanya mau memberi kejutan atas kehamilannya.
"Ayah ke sini yah, panggil ibu"Kali ini Aini yang memanggil Zidan dengan ajakan yang menggemaskan.
"Iya sayang ada apa panggil-panggil ayah"Ujar Zidan sambil mencubit gemas pipi Aini.
"Aini mau main boneka sama ayah sama ibu"Ujar Aini.
Sementara itu tangan Arumi diam-diam masuk kedalam selimut dan mengambil hasil tes kehamilan yang ia taruh dibawah selimut miliknya.
"Oh ya Mas ada yang mau aku bicarakan sama kamu"
"Bicara apa? Bukankah Aini belum tidur"Ujar Zidan dengan pelan tanpa terdengar Aini.
"Memang nya kenapa Mas harus tunggu Aini tidur?"
"Hah, memangnya kamu mau bilang apa? Jadi bukan masalah itu?"
"Itu apa Mas, kamu ini pikirannya kemana-mana"Arumi tertawa melihat raut wajah Zidan yang nampak kebingungan.
"Aku pikir kau mau bilang masalah itu. Oh ya, Memang nya apa yang ingin kau katakan?"
"Aku cuma mau bilang aku hamil Mas"Arumi memberikan hasil tes tersebut seraya meneteskan air mata.
"Kau hamil? Kau sungguh hamil sayang?"Entah harus bicara apa lagi Zidan hanya mampu menangis dan memeluk Arumi dengan eratnya.
"Aku mau punya adik ya bu?"Ujar polos Aini.
"Iya sayang sebentar lagi Aini mau punya adik"
__ADS_1
Cobaan hidup terkadang kita berada di titik paling terendah dan tersulit yang harus kita lewati. Merasakan sakit dan luka serta pahitnya hidup. Hanya doa dan kesabaran yang membuat kita akan bisa melewati cobaan hidup.