Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
99.JADI ULANG TAHUN


__ADS_3

"Mas sudah siang kok tidak mandi, masa dari kemarin kau tidak mandi!"Ujar Arumi ketika Zidan sedang duduk seraya memainkan ponselnya.


"Untuk apa mandi lagi pula ini kan tanggal merah aku juga libur tidak kekantor"Ujar Zidan. Rupanya Arumi masih gregetan kenapa Zidan masih tidak peka dengannya juga.


"Ya kita jalan-jalan Kek kemana, ajak Aini"Ujar Arumi sambil berdiri disampingnya.


"Kemana?"Zidan meletakan ponselnya dan menatap mata Arumi.


"Kemana aja yang penting Aini seneng"Jawabnya.


"Aini apa kamu? Kayaknya ibunya nih yang pengen liburan"Zidan tersenyum seraya memandang wajah Arumi yang masih berdiri disampingnya.


"Aini Mas Aini. Aku mah gak liburan juga gak apa-apa, biasanya juga dirumah doang oake daster sambil pegang panci"Arumi mengerutkan bibirnya seraya memalingkan wajahnya dari pandangan sang suami.


"Hem, sini dengerin aku dulu"Zidan beranjak dari tempat duduknya dan berdiri memegang kedua bahu Arumi dengan tatapan mata yang seakan menusuk jiwa Arumi.


"Dengerin apa?"Tanya Arumi santai sambil menantang pandangan sang suami.


"Selamat ulang tahun sayang, semoga apa yang kau inginkan semua terwujud, semoga panjang umur sayang. Dan semoga kau tetap menjadi ibu dan istri yang baik untuk aku dan Aini. Sekali lagi selamat ulang tahun sayang"Ujar Zidan seraya mencium kening Arumi. Arumi seketika meneduhkan pandangannya ia tak menyangka jika Zidan akan mengucapkan semua itu padanya. Zidan membelai rambutnya dan memeluknya dengan sangat erat.


"Mas terimakasih ya, aku sangat beruntung hidup bersama laki-laki baik dan perhatian sepertimu"


"Oh ya, sejak kapan aku perhatian? Kau tidak tau apa yang aku sembunyikan darimu?"


Mendengar perkataan Zidan yang seolah menyembunyikan sesuatu Arumi lantas menepiskan tubuh Zidan yang masih berpelukan dengannya.


"Mas kau sengaja ya bikin aku kepancing lagi! Apa yang kau sembunyikan?"


"Kau tidak mau berpelukan denganku?"Tanya Zidan sedikit senyum kecil.


"Apa yang kau sembunyikan Mas! Aku kan tanya!"


"Hal yang sangat berharga, dan tidak bisa didapatkan secara mudah"


"Apa maksudmu?"


"Tentunya sangat cantik dan anggun, aku bahkan tidak rela untuk melepaskannya"


"Mas! Jadi selama ini kamu punya wil selain aku!!"


"Wil?"


"Ya, wanita idaman lain!"

__ADS_1


"Kau salah Arumi, kau salah. Aku hanya ingin memberikan ini padamu"


Zidan merogoh kantong celananya dan mengambil kalung yang sudah dibelinya beberapa hari yang lalu. Kalung mewah yang dibeli Zidan tidak murah bahkan bisa untuk membeli satu mobil mewah. Kalung dengan liontin love akan diberikan Zidan kepada istri kesayangannya itu untuk kado ulang tahunnya.


"Hah, jadi ini Mas yang kau sembunyikan padaku? Mas ini sangat mahal aku tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Aku sangat suka Mas aku bahagia"Seraya menarik nafas dalam-dalam Arumi langsung mengucir rambut panjangnya dengan ikat rambut.


"Kau mau apa? Kenapa kau mengucir rambutmu"Zidan kembali membuat Arumi kesal dengan candaannya.


"Mas aku tidak becanda ya, kalung ini buat aku kan?"Tegas Arumi dengan pandangan seram bak macan yang akan menerkam mangsanya.


"Ya jelas tidak lah, kalung ini untuk orang spesial bukan untukmu"Ujar Zidan seraya menaruh kalung tersebut kedalam saku celananya kembali dan mendudukan dirinya di kursi membelakangi Arumi yang masih terpaku terdiam sendu.


Tanpa berbicara sepatah katapun Arumi memilih pergi ia membalikkan badannya dam mulai menapakan kakinya meninggalkan sang suami pergi dari kamar kerjanya.


Dan ketika ia akan keluar pintu kamar tiba-tiba terkunci dan kuncinya pun tidak tergantung ditempatnya seperti biasa.


Arumi kembali menghampiri Zidan dan benar saja semua itu adalah rencana Zidan. Ketika Arumi kembali Zidan sudah menyiapkan kue ulang tahun dengan indah. Arumi terpesona melihat kejutan sang suami untuk dirinya.


"Mas semua ini?"


"Ya semua ini untukmu"


"Jadi yang tadi?"


"Kalung ini?"Arumi menanyakan kalung yang terletak diatas kue.


"Kalung ini sangat pantas untukmu, kau adalah istri termewah yang pernah aku miliki, aku pakaikan ya"Zidan memakaikan kalung tersebut dileher jenjang sang istri. Arumi begitu bahagia dengan kado mewah yang diberikan Zidan untuknya.


******


"Maria kau mau kemana nak? Tumben pagi-pagi sudah cantik"Ujar Ellen kepada Maria.


"Aku mau ketemu dengan Zidan Bu, kita ada masalah pekerjaan yang harus diselesaikan"Ujar Ellen seraya memakai sepatunya.


"Oh ya nak, laki-laki yang kemarin dirumah sakit dia sepertinya laki-laki baik"Ellen rupanya sedang membicarakan Qenan sekertaris Zidan kepada Maria.


"Yang mana Bu?"


"Yang sama Zidan yang tinggi itu, ibu kok lupa namanya kalau tidak salah namanya Qenan? Iya sepertinya Qenan namanya nak"


"Oh, mereka sekertaris Zidan bu namanya Qenan sama Jaklen. Mereka memang baik-baik bu"


"Em, Maria ibu sempet ngobrol sama dia katanya dia masih jomblo nak"

__ADS_1


"Ibu, siapa yang dimaksud ibu?"


"Qenan nak. Ya kalau jodoh kan tidak salah nak"


"Ehm. Udah jam 9 bu, Maria pamit dulu ya"Tidak mau terlalu lama berbicara tentang Qenan Maria memutuskan untuk segera pergi menemui Zidan. Sebelum pergi Maria mencium Ellen dan bersalaman kemudian berlalu pergi.


"Anak jaman sekarang kalau disindir tentang pernikahan pasti langsung kabur. Maunya keinginan sendiri padahal jaman ibu dulu paling banyak wanita menikah karena perjodohan. Tapi sampai sekarang tidak ada masalah"Ujar Ellen seraya memandang putrinya masuk kedalam mobil.


"Bu?"Alberto menepuk pundak Ellen yang masih berdiri ditengah pintu.


"Eh yah ngagetin ibu saja"


"Ibu sedang apa pagi-pagi kok sudah ngalamun?"


"Tidak yah, tadi ibu lagi bicara sama anak kita biar cepet"


"Cepet apa?"


"Ya kalau ada yang serius yah. Aku tidak mau kalau ayah menjodohkan Maria lagi, biarkan dia memilih laki-laki yang baik yang dia sukai. Ibu yakin anak kita pasti tau mana yang baik dan mana yang tidak"Jelas Ellen.


"Iya bu ayah setuju, ayah tidak akan melarang dan menjodohkan Maria lagi"


Kedua orang tua memang menginginkan yang terbaik untuk anaknya, walaupun terkadang dengan cara yang salah namun tidak ada didunia ini satupun orang tua yang mau melihat anaknya sengsara.


Maria pergi menemui Zidan dikantornya. Maria masuk ke ruangan dan menemui Zidan yang masih duduk bersama Qenan.


"Tuan selamat pagi?"Karena pintu tidak tertutup jadi Maria bisa langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


"He Maria, sini masuk aku sudah lama menunggumu"Jelas Zidan.


"Ya tadi aku sempat kejebak macet di jalan makannya 2 jam lebih lambat sampai disini"Ujar Maria seraya merapihkan rambutnya.


"Oh ya kenapa kau tidak duduk"Zidan mempersilahkan Maria untuk duduk, ia pun duduk berhadapan dengan Qenan.


"Hai"Sapa Qenan seraya tersenyum malu.


"Hai Qenan"Ujar Maria dengan ramah.


"Kalian mau ngobrol dulu apa kita mulai langsung pekerjaannya?"Sahut Zidan sambil tertawa kecil melihat mereka berdua.


"Mulai saja Tuan"Ujar Qenan.


"Ya mulai saja Tuan"Sambung Maria.

__ADS_1


Kemudian mereka memulai rapat kerja yang sudah terikat kerja sama dengan perusahaan Maria.


__ADS_2