Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
96.KASIH SAYANG SEORANG IBU


__ADS_3

Maria mulai terbangun dan membuka matanya menengok kearah kiri dimana terdengar suara sang Ibu tengah berbicara dengan sosok laki-laki yang suaranya bukan suara sang Ayah.


Maria melihat sang ibu tengah berbicara dengan dua orang laki-laki yang menghadap sang ibu dan membelakangi ranjang tidurnya.


"Siapa dua orang laki-laki itu, bukankah laki-laki pecundang sudah pergi lalu siapa dia?"Maria menatap penuh heran, ia tidak mengenal siapa dia orang laki-laki yang tengah duduk bersama sang Ibu.


"Bu, ibu"Maria memanggil Ellen yang sedari tadi tidak memperhatikan jika sang putri sudah bangun dari tidurnya.


"Maria sayang, kamu sudah bangun Nak. Kamu mau apa? Mau makan atau mau minum?"Tanya Ellen seraya mengelus rambut Maria.


"Bu, mereka siapa?"Tanya Maria dengan nada pelan.


"Mereka temanmu Nak, masa kau tidak kenal dengannya?"


"Teman?"


Merasa tidak mengenalnya Maria mencoba bangun dan mendudukan dirinya diatas ranjang. Sementara itu dua orang laki-laki yang belum menampakkan wajahnya masih kokoh duduk membelakangi Maria. Ya Qenan dan Zidan masih merasa ragu jika Maria akan menolak kedatangan mereka, namun Qenan begitu yakin kedatangan mereka malah akan menjadi hal yang sangat kebetulan untuk Maria.


"Tuh Maria susah bangun. Sana kalian dekati dia ajak dia bicara biar kesembuhannya semakin membaik"Ujar Ellen dengan tersenyum.


"Iya Bu"


Mereka berdua mendekati Maria, nampaknya Maria mengenal betul wajah dua laki-laki yang sedang berjalan mendekati dirinya.


"Dia kan Tuan Qenan, bos besar yang bekerja sama dengan perusahaan Ayah. Terus laki-laki itu? Astaga dia kan laki-laki menyebalkan, laki-laki penipu yang dulu sering membuat masalah. Jadi mereka berdua bekerja sama!"Ujar Maria dalam hatinya. Maria seketika memasang wajah datar melihat kedatangan mereka berdua.


"Ehm. Aku senang melihatmu sadar dan sudah sehat seperti sediakala, aku Zidan dan ini___"


"Dia Qenan!"


Belum sempat meneruskan bicara Maria menerobos pembicaraan Zidan lebih dulu.


"Ya dia Qenan, sebenarnya dia sekertarisku. Aku sengaja melakukan semua ini"

__ADS_1


"Apa? Jadi selama ini!"Maria semakin lantang dan melontarkan nada tinggi kepada Zidan.


Zidan terdiam sejenak karena tidak mungkin ia meneruskan pembicaraannya melihat kondisi Maria yang baru membaik. Sementara itu Ellen memandang heran kepada mereka bertiga, Ellen mendekati mereka dan menengahi permasalahannya.


"Apa yang kalian ributkan? Ada apa sayang?"Ujar Ellen kepada Maria seraya mendudukan dirinya diatas ranjang bersama sang putri.


"Mereka Bu, mereka sudah membohongi aku. Mereka berdua penipu!"Ujar Maria seraya menunjuk kearah wajah mereka berdua.


"Penipu? Apa yang Maria katakan itu benar?"Tanya Ellen seraya memandang tajam wajah Qenan dan Zidan.


"Maaf Bu, kami tidak bermaksud menipu Maria. Kami sudah menjelaskan kedatangan kami hanya ingin membantu Maria dan sejak awal kami sudah berusaha melakukan itu, bahkan Danu dan Tiwi pernah berusaha membantu Maria dari kejahatan Danu namun Maria tidak pernah mau mengerti"Ujar Qenan dengan jelas dan tegas.


"Maria apa benar yang mereka katakan?"Tanya Ellen kepada Maria yang mulai mengendurkan pandangannya.


Maria tidak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya dan perlahan air matanya mulai menetes tepat dipangkuanya. Ellen langsung memeluk Putri kesayangannya itu dengan kasih sayang yang teramat sangat dalam. Ketenangan yang sangat hangat begitu Maria rasakan ketika tubuh sang ibu mendekap hangat merasuk kedalam batinnya.


"Maria sayang, ibu tau kamu sudah menyesali semuanya. Tapi bagaimana pun juga kamu tidak boleh terpuruk, ingat Nak kita tidak sampai disini saja kita harus mengembalikan hati Ayahmu seperti dulu lagi"


"Bu Ayah mana?"Tanya Maria begitu tegas.


"Ayah sedang pergi, sebelum pergi ayah sepertinya telfonan sama Danu, ayahmu itu susah nak, dia tidak percaya jika Danu hanya ingin memanfaatkan harta kita saja"Ujar Ellen.


"Maria kamu tidak perlu khawatir dengan semua ini kami akan membantumu dan menyelamatkan perusahaan keluargamu dari kelicikan Danu!"Ujar Zidan dengan tegas.


"Aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu lagi. Terimakasih sudah mau membantu keluarga kami"


Maria kini sudah mulai terbiasa dengan mereka berdua. Mereka nampak bergurau bersama dan sesekali melempar candaan kepada Qenan yang masih jomblo dan belum mempunyai pacar apalagi istri.


"Oh jadi Nak Qenan masih jomblo? Ibu kira Nak Qenan sudah punya istri. Masa ganteng-ganteng masih jomblo emang gak pingin punya istri"Ujar Ellen seraya tertawa kecil.


"Ibu jangan gitu, siapa tau sudah punya calon istri tapi dirahasiakan. Dia kan pandai menyimpan rahasia"Sambung Maria seraya tersenyum penuh.


"Nona Maria bisa saja"Entah kenapa Qenan tiba-tiba merasa malu didepan Maria ketika dia berbicara tentang istri.

__ADS_1


"Tuh dengerin Qen, makannya cepet-cepet cari pacar terus nikah biar gak jadi bahan ghibahan"Pekik Zidan seraya menyenggol pundak Qenan.


"Iya nanti aku akan cari pacar terus nikah biar Tuan seneng liat aku nikah"


"Nah gitu dong hehe"


********


Hari ini Maria diperbolehkan pulang kerumah karena kondisinya sudah sangat baik dan sehat. Sayangnya sang ayah Alberto tidak ikut menjemput dirinya pulang, Maria sedikit kesal karena sang ayah hanya memikirkan pekerjaannya dan kesibukannya saja daripada dirinya.


Ellen dibantu Maria membereskan semua barang-barang yang akan dibawa pulang. Sementara itu supir pribadi mereka sudah sampai dan ikut membantu membawa barang menuju mobil yang sudah terparkir di depan.


"Nak kita pulang ya"


"Iya Bu"


Mereka berjalan bergandengan menyeret kakinya menuju lobby. Mereka masuk kedalam mobil, Maria menarik nafas panjang setelah beberapa hari tidak merasakan segarnya udara pagi hari di alam bebas.


"Bu, aku senang sekali kita bisa kumpul seperti sediakala dimana aku bisa meluk ibu setiap hari"Maria menyenderkan kepalanya pada bahu Ellen dengan nyamannya.


"Maria ibu ingin bicara denganmu"


"Apa Bu?"


"Kau masih cinta dengan Danu? Ibu harap kamu bisa memilih mana yang lebih baik Nak"


"Tidak Bu! Aku sudah tidak cinta lagi dengan Danu"


"Ibu tidak menginginkan kamu bercerai Nak, tapi jika pernikahan itu hanya akan menyakiti lahir batinmu maka perceraian adalah jalan yang terbaik untukmu nak"


"Ibu tau? Sebelum ibu bicara padaku, aku susah lebih dulu menginginkan hal itu. Aku sudah terlalu sakit Bu, aku sudah memendamnya tapi semakin lama semakin berat aku tidak bisa memikul semua itu sendiri Bu!"Bak tersayat belati yang tajam Maria benar-benar tidak bisa menerima kehadiran Danu lagi dalam hidupnya.


"Ibu akan selalu bersamamu Maria, ini sayang kamu"Ellen mencium kening Maria dan perlahan air matanya mulai terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2