
Dibalik dinding yang tinggi Ellen keluar dari kamarnya, langkah kakinya terhenti Ellen tak sengaja mendengar perbincangan Alberto lewat telepon genggamnya. Alberto berbicara begitu sangat pentingnya sampai matanya melirik kemana-mana seolah takut diketahui oleh orang lain.
"[Apa aku harus merahasiakan dari mereka? Kalau begitu kita ketemu dijalan Darmaguna ayah akan kesana. Baiklah Danu ayah percaya padamu ayah serahkan semuanya padamu]"Sepenggal perbincangan Alberto ternyata menyimpan rahasia. Ellen tidak diam saja ia akan mengikuti kemana laki-laki paruh baya itu pergi menemui laki-laki bejat seperti Danu.
Setelah mematikan teleponnya Alberto terlihat mengambil beberapa berkas pentingnya yang ada diatas meja dan memasukannya kedalam tas kantornya kemudian berlalu pergi.
"Lihat saja, kamu akan menyesal yah sudah mengikuti jalan iblis! Tapi aku tidak akan membiarkan perusahaan kita diambil oleh iblis tak berguna seperti Danu! Pergilah yah aku akan menemuimu disana"
Ellen berjalan kembali mengurungkan niatnya pergi kedapur. Ellen membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju kamar Maria yang berada tidak jauh dari kamarnya.
Maria melihat kedatangan Ellen dengan wajah datarnya yang membuatnya panik dan langsung menarik lengan sang Ibu.
"Ada apa Bu? Kenapa ibu tergesa-gesa sekali, ibu melihat hantu?"Tanya Maria seraya mendudukan Ellen ditepi ranjang.
"Tidak Maria, ibu kesini justru ingin bicara padamu"
"Bicara apa Bu?"
"Ayo Maria kira tidak boleh ketinggalan ayah! Ayah akan bertemu Danu hari ini sepertinya sangat penting sekali ibu tidak mau ayah dibodohi Danu terlalu lama"Ujar Ellen seraya mengambil tas selempang nya.
"Oh ya Bu, aku telepon Zidan dulu"
"Iya nak, buruan beri tahu Zidan"
Maria mengambil ponselnya dan menghubungi Zidan saat itu juga dan mereka bersepakat bertemu diluar.
*******
"Ayah ke jalan Darmaguna sepertinya ingin bertemu Danu"Ujar Maria ketika turun dari mobilnya dan menghampiri Zidan yang tengah berada didalam mobilnya bersama Qenan dan Jaklen.
"Maria kau sama Bu Ellen duluan saja, kami ada dibelakang mengikuti kalian. Tenang saja kami akan membantumu"
Maria menganggukan kepalanya lalu ia kembali kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan laju sedang diikuti oleh Zidan dan kedua asistennya dari belakang.
"Maria itu seperti mobil ayahmu? Berhenti!"Ellen menekan Maria untuk menghentikan mobilnya karena ia melihat Alberto tengah berhenti seraya menelfon seseorang entah siapa karena jarak yang jauh membuat Ellen kesulitan mendengarnya.
__ADS_1
"Bu kita samperin ayah sekarang!"Namun ketika hendak turun dari mobil Alberto justru kembali masuk kedalam mobilnya dan melaju cukup kencang.
"Maria kok berhenti Tuan?"Ujar Qenan.
"Lah dia jalan lagi"Sambung Jaklen.
"Sepertinya mereka melihat sesuatu!"
Tidak mau kehilangan jejak mereka langsung mengikuti mobil Maria yang melaju cukup kencang.
Sesampainya di persimpangan jalan Alberto menunju arah kiri, Alberto membelokan mobilnya dan masuk kedalam Rumah sedikit besar tepat dipinggir jalan. Entah Rumah siapa Maria juga tidak tau dengan Rumah yang didatangi Alberto.
Namun tak berselang lama Danu keluar dari Rumah tersebut. Alberto diajak masuk kemudian mereka menutup pintu gerbang Rumah tersebut.
Zidan yang baru saja sampai langsung menepikan mobilnya didepan warung agar tidak dicurigai. Zidan dan kedua asistennya kemudian menghampiri Maria dan Ellen yang masih berada didalam mobil tak jauh dari Rumah tersebut.
"Maria apa yang terjadi? Kau berhenti disini lalu ayahmu kemana?"
"Ayah masuk kedalam Rumah itu dengan Danu!"
Maria dan Ellen langsung turun dari mobilnya. Mereka berlima menyebrangi jalan menuju Rumah tersebut. Ya, diketahui Rumah tersebut adalah rumah notaris bernama Agus yang hendak mengurus surat perizinan peralihan perusahaan Alberto ketangan Danu.
"Jadi Pak Alberto hendak mengalihkan nama perusahaan kepada saudara Danu?"Ujar Agus kepada Alberto.
"Iya Pak Agus. Danu adalah menantu saya, dia suami dari Putri semata wayang saya jadi dia pantas menjadi pewaris perusahaan saya"Dengan raut wajah tenang Alberto seolah tak menyadari kebusukan yang sedang dimainkan oleh Danu.
"Oh jadi bapak punya anak, kalau begitu sebagai saksinya anak bapak harus mengisi tanda tangan disini sesuai aturan yang berlaku"Ujar Agus.
"Emm. Bagaimana jika tidak perlu pak, karena istri saya sedang berada diluar negeri dan kami sudah berbicara dengannya. Istri saya sebagai anak pak Alberto sangat menyetujui peralihan nama perusahaan ini"Ujar Danu dengan pandangan tajamnya mengarah mata Alberto.
Sementara itu Alberto hanya terdiam dan menuruti kemauan Danu, Alberto hanya terdiam dan menganggukan kepalanya.
"Berapapun yang anda inginkan aku akan memberikan!!"Bisik Danu kepada Agus.
Sejenak Agus terdiam kemudian dia mengiyakan permintaan Danu.
__ADS_1
"Baik. Aku akan mengurusnya, silahkan pak Alberto mengisi semua pertanyaan dalam surat pernyataan ini"Ujar Agus seraya memberikan pulpen tinta hitam kepada Alberto.
"Biar saya yang mengisi, agar tidak terjadi kesalahan. Nanti ayah tinggal tanda tangan saja"Dengan senyum liciknya Danu mengambil pulpen dan surat pernyataan tersebut.
Alberto terlihat bingung dan mulai merasa takut bercampur curiga.
"Apa yang aku lakukan! Apa yang Danu lakukan denganku, kenapa aku seperti sedang dipermainkan olehnya"Alberto mulai mengeluarkan keringat dingin, entah apa nasibnya setelah ini. Alberto mulai tidak nyaman dan ingin merebut surat pernyataan yang tengah diisi oleh Danu.
"Danu ayah yang berhak kenapa kamu yang berwenang!"Ujar Alberto kepada Danu membuat jari-jarinya berhenti menulis.
"Ayah apa maksud ayah!"Ujar Danu dengan pandangan membunuhnya.
"Berikan surat itu!"
"Ayah tanda tangan sekarang, semua sudah sesuai janji ayah mau kan perusahaan ayah lebih sukses dan besar seperti keinginan ayah?"Danu lagi-lagi merayu hati Alberto.
"Ayah jangan takut, aku tidak akan menipu ayah"Ujar Danu seraya memberikan surat pernyataan beserta pulpen kepada Alberto.
"Baik ayah percaya padamu, maaf jika ayah sudah berfikiran yang tidak-tidak"Jelas Alberto. Kemudian jarinya mulai bergerak dan memberi tanda tangan yang sangat berharga kepada laki-laki pecundang tersebut.
"Terimakasih ayah. Dasar laki-laki tua bodoh! Hahaha"
Bak tersambar petir Alberto langsung naik pitam. Melihat Danu tertawa Alberto langsung memarahi laki-laki biadab itu dengan penuh rasa marah.
"Laki-laki bangsat! Ternyata benar apa yang dikatakan oleh istriku kamu memang laki-laki bangsat tidak tau diri yang ingin mengincar harta keluarga saya!!"
"Katakan saja semau mu laki-laki tua, aku sudah mendapatkan apa yang aku mau jadi kau lebih baik pulang dan temui istrimu untuk menangis bersama"
"Aku tidak akan membiarkan begitu saja! Aku akan melaporkan kamu kekantor polisi!"
"Silahkan jika berani! Ingat laki-laki tua, jika kau berani macam-macam maka aku tidak akan segan melakukan hal yang akan membuatmu menyesal seumur hidup!"
Danu semakin beringas dan mulai mengancam Alberto sehingga membuat ciut nyalinya. Alberto terdiam dengan tatapan tajam berharap laki-laki pecundang itu segera tersungkur didepan matanya sendiri.
"Tertawa sepuasmu, aku yakin kau akan tersungkur dan menjadi manusia terhina didunia ini!!"
__ADS_1