
Bagaimana bisa wanita merelakan suaminya bersama wanita lain, mungkin tidak ada didunia ini jika ada itupun tidak banyak. Seperti Arumi dia rela membagi suaminya dengan wanita lain namun semua itu bertujuan untuk mendapatkan anak. Namun apakah keinginannya itu tidak membawa petaka dalam rumahtangga nya? Entahlah.
"Aku sangat beruntung bisa bertemu dan kenal dengan Weni, dia wanita baik dia juga mau menjadi istri bayaran dan siap memberiku anak"Ujar Arumi sambil membaringkan tubuhnya diatas ranjang dengan perasaan penuh bahagia.
Perlahan matanya mulai terpejam dan terlelap membawa semua mimpi yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan dalam hidupnya.
Tak terasa sore berganti malam, Arumi bangun dari tidurnya ia sedikit berdiri namun merasakan pegal pada tubuhnya. Semakin lama Arumi merasa sedikit mual bercampur pusing. Arumi merasa sangat senang ia segera mengambil testpack karena pada umumnya wanita hamil akan mengalami pusing dan mual.
Arumi langsung pergi ke kamar mandi dan memakai testpack tersebut. Arumi menutup matanya dengan penuh rasa bahagia berharap hasil itu akan menjadi kejutan istimewa untuknya, setelah menunggu 3 menit Arumi mulai membuka matanya namun hasilnya tetap sama seperti biasa yaitu garis satu.
"Aku tidak hamil! Aku hanya masuk angin, seharusnya aku sadar jika wanita mandul tidak akan pernah hamil!!"Ujar Arumi.
Arumi keluar dari kamar mandi dan kembali membaringkan tubuhnya. Tak lama kemudian suara mobil terdengar berhenti didepan Rumah, ternyata suaminya pulang lebih awal dari biasanya.
"Itu dia, Mas Zidan sudah pulang!"Arumi segera bangun dan menuju lantai bawah untuk membukakan pintu.
Arumi membukakan pintu dan berdiri ditengah pintu sambil tersenyum tak lupa Arumi mengambil tas dari genggaman sang suami yang sedang memasang wajah datarnya itu.
"Kau terlihat sangat menakutkan dengan wajah seram seperti itu Mas! Bahkan aku tidak melihat aura ketampananmu lagi!"Ujar Arumi kepada Zidan dengan wajah asamnya.
"Aku tidak mau bicara, aku capek mau istirahat"Zidan masuk melewati Arumi yang tengah berdiri ditengah pintu.
"Kau bahkan lebih menakutkan daripada hantu!"Gerutu Arumi. Sambil mengikuti Zidan masuk Arumi mencoba meluluhkan hati sang suami agar tidak kesal denganya lagi.
"Aku harus pelan bicara sama Mas Zidan agar dia mau mendengarkan aku, semua ini tidak boleh gagal Mas Zidan harus menikah dengan Weni!"Batin Arumi.
Lalu Arumi duduk dipinggir ranjang, sementara itu Zidan tengah melepas jas nya dan menggantinya dengan kimono tidur. Ia begitu tampan Arumi memandangnya dan merasa sangat beruntung mempunyai suami yang sangat tampan dan pengertian.
Setelah selesai ganti baju Zidan langsung membaringkan tubuhnya diatas ranjang, Arumi perlahan naik ketengah dan membaringkan tubuhnya dekat sang suami.
Arumi menaruh kepalanya di dada Zidan dan berusaha meluluhkan hati laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya selama dua tahun itu agar dia bisa mengerti dengan kemauannya.
Zidan tidak menghiraukan sikap Arumi, Zidan memejamkan matanya namun tidak sedang tidur melainkan malas meladeni sang istri karena dia tahu jika Arumi sedang ada maunya.
__ADS_1
"Mas?"Arumi mencoba memulai namun Zidan tetap memejamkan matanya.
"Mas aku tau kau tidak tidur!!"Kedua kalinya Arumi memanggil namun Zidan tetap tidak mau menjawab.
"Mau aku hamil!"Ujar Arumi keras!.
"Apa kau hamil!"Kali ini membuat Zidan langsung bangun dari tidurnya kemudian duduk sambil memegang wajah Arumi. Arumi yang masih menyender didadanya langsung kaget dan tertawa melihat ekspresi wajah Zidan yang langsung berubah menjadi sangat bahagia.
"Aku sangat bahagia akhirnya kamu hamil, sebentar lagi aku akan punya anak"Zidan berkaca-kaca namun tak disadari semua itu hanyalah candaan semata.
"Aku tidak hamil Mas, aku hanya mengetes kamu saja. Aku panggil berkali-kali kamu tidak menjawabnya!"Ujar Arumi tertawa. Namun tawanya malah membuat Zidan semakin marah padanya.
"Apa yang kau lakukan!! Kau berbohong, apa kau tidak lihat aku sedang capek kau malah bercanda!!"Pekik Zidan dan membaringkan tubuhnya kembali. Kali ini Zidan membelakangi Arumi dan menutupi dirinya dengan selimut.
Arumi merasa sangat bersalah, namun ia mencoba memberi pengertian kepada Zidan jika semua itu hanyalah lelucon saja.
"Mas aku minta maaf, tapi asal kamu tau Mas tadi pas aku bilang hamil aku melihat kamu sangat bahagia, disitu aku pun merasa sama sepertimu Mas aku sangat bahagia sekali. Melihatmu bahagia seperti itu aku juga bisa merasakan kebahagiaan wanita hamil walaupun aku tidak hamil!"Ujar Arumi.
"Kau tau Arumi? Hampir setiap hari aku menginginkan seorang anak dalam hidupku! Tapi aku tidak pernah tau seberapa berjuang nya dirimu agar bisa memberiku seorang anak. Aku hanya bisa meminta padamu sedangkan kau berjuang tanpa aku, Arumi aku minta maaf!"Zidan langsung menarik tubuh Arumi dan memeluknya begitu erat.
Arumi merasa ini waktu yang tepat untuk meminta semua hal yang dia inginkan. Arumi mengusap air matanya dan melepaskan pelukan sang suami.
"Mas aku minta satu hal padamu!"Ujar Arumi.
"Katakan saja apa yang kamu mau?"Tanya Zidan sambil memegang tangan Arumi.
"Aku mau kau menikah dengan wanita pilihanku! Kita akan mempunyai anak darinya"Arumi kembali meminta Zidan agar mau menikah lagi.
"Itu lagi!! Kita kan bisa adopsi anak dari panti!"Jawab Zidan dengan tegas.
"Tapi aku mau anak dari darah dagingmu Mas! Percayalah Mas kau hanya akan menikah sementara, setelah anak itu lahir kau ceraikan dia. Kita rahasiakan semua ini dari Mama dan Papa, dari semua"Ujar Arumi dengan jelas.
"Siapa wanita itu!!"Tanya Zidan dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Weni!"Jawab Arumi tegas.
"Apa!! Weni!! Kau tidak salah, aku disuruh nikah sama Weni!"Zidan merasa sangat berat dengan permintaan yang diinginkan oleh Arumi.
"Demi aku Mas!! Weni mau menjadi istri kedua dan memberi kita anak!"Arumi mencoba meyakinkan Zidan bahwa semua ini akan baik-baik saja.
"Kenapa kau bisa menjamin semua ini Arumi! Bagaimana dia mau melakukan semua ini!"Zidan begitu tidak masuk akal dengan pernyataan Arumi.
"Aku menjaminnya dengan uang! Weni memiliki hutang yang banyak dan tidak bisa membayarnya. Setiap hari banyak orang yang datang kerumahnya dan menagih hutang, aku sudah bersepakat dengan Weni ketika anak itu lahir kalian akan bercerai"Ucap Arumi sangat yakin.
"Kau!"Zidan tidak habis pikir dengan Arumi.
Zidan turun dari ranjang dan berjalan menjauhi Arumi sambil mondar-mandir Zidan terus memegang jidatnya.
Arumi beranjak dari ranjang dan menghampiri Zidan yang tengah kebingungan, Arumi memeluknya dari belakang dan kembali memberikan pengertian kepada suaminya itu.
"Mas semua ini demi aku"Ujar Arumi pelan.
"Aku tidak bisa!"Ujar Zidan dan melepaskan tangan Arumi dari pelukannya.
"Mas!"Arumi kembali memeluknya.
"Aku mohon Mas"Arumi menundukkan badannya dan memohon kepada Zidan agar dia mau mengikuti keinginannya.
Zidan terdiam dan sangat tertekan, namun dia berfikir kembali mungkin ini salah satu cara agar Arumi merasa bahagia.
"Baik aku akan menuruti kemauanmu!"Ucap Zidan dengan nada tegasnya.
Mendengar persetujuan Zidan membuat Arumi merasa sangat senang dan langsung memeluk Zidan dengan erat dan bahagia."Terimakasih Mas, terimakasih"Ujar Arumi. Namun kebahagiaan nya belum pasti sama dengan apa yang ia bayangkan.
Semua wanita tidak akan rela membagi suami dengan wanita lain, namun jika Arumi berusaha rela demi mendapatkan anak lalu apakah Weni akan sama dengan dirinya nanti? Pasalnya Weni juga akan menjadi seorang istri sah walaupun istri bayaran.
Besok pernikahan diam-diam itu akan segera dilaksanakan dengan tertutup dan rahasia.
__ADS_1