
🌻🌻🌻
Jum'at 26 November, Zidan sudah sampai dirumah. Betapa bahagianya ketika bertemu kedua istri yang sudah dirindukannya. Arumi dan Laras langsung memeluk sang suami yang baru saja keluar dari mobilnya.
Sementara itu Tiwi masih berada didalam mobil dengan keheranan melihat kedua istri Zidan yang nampak sangat akur dan bahagia.
Zidan menyuruh Tiwi keluar dari mobilnya dan memperkenalkan dengan kedua istrinya. Lalu mereka mengajak Tiwi masuk ke dalam Rumah karena baru sampai dan butuh istirahat.
Sesampainya didalam Tiwi mendudukan dirinya di kursi tamu, Arumi duduk disebelahnya sementara itu Laras kebelakang untuk membuatkan minuman hangat untuknya.
"Mba jangan repot-repot!"Ujar Tiwi kepada Laras.
"Tidak apa-apa kami sudah terbiasa seperti ini, siapapun yang datang kesini kami anggap keluarga. Panggil saja aku Laras dan ini Arumi"Ujar Laras.
"Sudah minum saja mumpung masih hangat"Sambung Arumi.
"Beruntung sekali keluarga ini mereka berdua sangat akur walaupun mempunyai satu suami yang sama, pasti mereka bahagia tidak lain karena suami yang adil. Andai Danu seperti Zidan pasti aku akan bahagia seperti kedua istrinya."Batin Tiwi.
Baru pertama kali bertemu mereka terlihat begitu akrab dan saling bercanda bersama. Disela-sela pembicaraan Arumi bertanya tentang kehidupan Tiwi.
"Kau sudah bersuami? Maksudku kau sudah punya berapa anak?"Tanya Arumi.
"Aku belum nikah, aku sudah mempunyai calon suami namanya Danu, kami belum ingin melangkah kejenjang pernikahan karena dia masih sibuk mengurus pekerjaannya baru setelah itu kami akan menikah. Kami pacaran sudah 5 tahun lamanya."Ujar Tiwi, menurut Tiwi Danu sedang merintis usaha dan modal menikah mereka berdua masih dipakai untuk membuka usaha Danu.
"Wah bagus dong, Danu sangat perhatian denganmu, pilihannya untuk menikahimu saat ia sudah mapan itu hebat loh Tiwi"Ujar Arumi.
"Kalian tidak tahu! Sudah dari dulu aku minta dinikahi tapi Danu terus menolaknya dan terus beralasan yang tidak masuk akal. Sudah banyak harta yang aku berikan padanya, sampai aku menjual semua aset keluarga hanya untuk menuruti keinginannya"Batin Tiwi.
Pagi itu Tiwi hanya duduk bertiga dengan Arumi dan Laras, Zidan tidak ikut bercengkrama dengan mereka karena sudah tidur efek kecapekan seharian berkendara.
__ADS_1
Tiwi melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, ia harus pulang karena Danu akan menjemputnya siang ini. Danu masih diperjalan menuju Rumah Zidan untuk menjemput Tiwi.
Ketika Danu datang ia langsung masuk kedalam rumah Zidan, wajahnya merah dengan pandangan mata yang tajam seperti macam hendak menerkam mangsanya. Tidak ada senyum ataupun sekedar menyapa seisi rumah. Danu hanya masuk dan mendekati Tiwi yang tengah duduk seraya mengajaknya pulang.
"Sudah selesai urusanmu? Sudah ingin pulang atau mau pergi lagi!"Ujar Danu ketus.
"Sayang aku hanya pergi sebentar, ini juga aku sudah pulang"Ujar Tiwi pelan seraya memandang wajah ketus Danu.
"Ya sudah ayo tunggu apa lagi! Aku tunggu diluar"Ujar Danu.
Kemudian Tiwi beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan kepada Arumi dan Laras.
"Arumi, Laras aku pulang dulu ya maaf sudah merepotkan kalian"Ujar Tiwi.
"Tiwi, kami sangat berterimakasih denganmu kamu sudah mau mengantar Mas Zidan berobat. Aku juga berharap kamu dan Danu cepat menikah dan menempuh hidup yang baru dan bahagia"Ujar Arumi.
"Iya terimakasih, aku pulang dulu ya lain kali aku bakal main kesini lagi"Tiwi beranjak meninggalkan rumah Zidan dan pulang bersama Danu.
Wajah Danu masih terlihat tegang, Tiwi merasa takut jika hal yang tidak ia inginkan terjadi lagi. Pasalnya Danu adalah laki-laki yang keras kepala bahkan tidak segan-segan untuk mendaratkan telapak tangannya pada pipi Tiwi.
"Sayang kau sudah makan?"Tanya Tiwi pelan berharap Danu tidak marah padanya.
"Sudah, kalo kau mau makan didepan ada mie ayam kau makan saja dulu"Ujar Danu pelan.
"Tidak, aku sudah kenyang kita pulang saja"Ujar Tiwi lega.
Sesampainya dirumah Tiwi, Danu duduk sejenak sebelum pulang. Tiwi hanya tinggal sendiri dirumah sedangkan orang tuanya bekerja diluar negeri.
Segelas teh dibawanya untuk Danu, sambil menemani sang pacar nonton TV Tiwi mencoba bertanya kesekian kalinya kepada Danu tentang pernikahan mereka.
__ADS_1
"Sayang, apa tidak sebaiknya kita menikah tahun ini? Sudah 5 tahun kita tunangan aku tidak mau terus-terusan seperti ini kita kan sudah sama-sama dewasa?"Ujar Tiwi.
"Kamu sabar ya aku lagi ada proyek baru, habis proyek ini selesai kita menikah tapi ada yang mau aku katakan padamu?"Ujar Danu.
"Apa?"Tanya Tiwi penasaran.
"Aku butuh dana lagi buat besarin proyek ini, bagaimana kalo aku pinjem dulu uang kamu ya?"Ujarnya. Ini bukan pertama kali tapi sudah beberapa kali Danu meminta uang kepada Tiwi dengan alasan meminjamnya.
"Uang? Kau butuh berapa?"Tanya Tiwi diam-diam kesal.
"30 juta! Kemarin kau sudah minta 20 juta? Sebenarnya apa sih usaha kamu! Selama ini kamu bilang untuk ini, untuk itu tapi mana kamu tidak pernah memperlihatkan hasil usahamu?"Ujar Tiwi kesal.
"Sayang, nanti aku perlihatkan hasil usahaku saat ini masih ribet nanti setelah hasilnya sukses kamu bakal menjadi pemilik satu-satunya dari usaha kita ya?"Ujar Danu. Rupanya ia sedang meluluhkan hati Tiwi agar bisa memeras uangnya.
"Tapi kita bakal nikah kan?"Ujar Tiwi serius.
"Iya sayang secepatnya aku bakal selesaikan proyek ini"Ujarnya.
Lagi-lagi Tiwi terhasut godaan Danu, sudah lebih dari ratusan juta Danu meminta uang Tiwi. Uang yang Tiwi dapatkan berawal dari dirinya ketika bekerja di Jepang.
Semenjak kepulangannya ia bertemu Danu di bandara dan mereka berkenalan. Dari situ Tiwi bercerita tentang pekerjaannya mendapat gaji besar di Jepang, dan hal itu dimanfaatkan oleh Danu. Seiring berjalannya waktu mereka berpacaran dan Danu mulai meminta uang Tiwi.
Setelah diberi uang 30 juta Danu langsung pamit untuk pulang, sebelum pulang Danu mengecup kening Tiwi dan sesekali menggodanya.
Setelah Danu pergi Tiwi berjalan masuk kedalam kamar dan membuka lemarinya. Ia mendapati uang simpanannya hanya tinggal 5 juta saja dari yang sebelumnya ratusan juta. Uang itu tidak ia habiskan untuk makan melainkan untuk diberikan kepada Danu.
"Uang hasil kerja kerasku habis ditangan pacarku, bahkan aku belum menikmati uang hasil kerja kerasku selama ini"Ucapnya, Tiwi merasa bingung jika uangnya habis lalu usaha Danu tidak seperti yang ia bayangkan lalu bagaimana dengan pernikahannya.
Tiwi merasa kebingungan, pasalnya uang yang tersisa tidak cukup untuk kebutuhan dirinya selama satu bulan kedepan dengan kebutuhan yang semakin besar sedangkan penghasilan sudah tidak ada.
__ADS_1
Tidak mungkin Tiwi kembali lagi bekerja di Jepang, ia tidak mungkin meninggalkan Danu di Indonesia. Uang yang semula menjadi jaminan kesejahteraan hidupnya kini habis tidak berbekas. Apakah Tiwi bisa melewati keterpurukan ini.
*******