Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
93.PERPISAHAN


__ADS_3

Arumi memakai sepatunya dan menyelempangkan tas Hermes pada bahu kanannya. Setelah itu ia mengambil jarik batik dan mengaitkan pada pundak belakangnya untuk menggendong Aini.


Mereka sudah siap pergi kerumah Weni untuk bertemu dengannya sebelum Weni pergi keluar negeri. Aini sangat cantik dengan baju warna kuning dan sepatu lucu motif kupu-kupu pemberian dari Weni ketika Weni memberikan bingkisan kepada Delia ditaman waktu itu.


Mereka masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya memecah padatnya jalanan kota.


Selang satu jam mereka sampai dirumah Weni, mereka melihat Weni sedang menyusun kopernya didalam bagasi mobil yang terparkir dihalaman rumahnya.


Zidan dan Arumi bergegas turun dari mobil dan menghampiri Weni yang sebentar lagi hendak masuk kedalam mobil.


"Wen"


Arumi memanggil Weni yang hampir menutup pintu mobilnya, dengan wajah kaget Weni kembali turun dari mobilnya.


"Arumi, Zidan, Aini sayang. Kalian kok kesini?"Weni tak menyangka mereka akan datang ketika dia akan pergi jauh meninggalkan Indonesia.


"Maafkan aku Wen, aku sudah tau semuanya dari Mas Zidan. Aku sudah salah paham sama kamu"Ujar Arumi menyesal.


Arumi memegang lengan Weni berharap ia mau memaafkan dirinya. Namun Weni tidak pernah menganggap Arumi salah, dimatanya hanyalah kesalahpahaman semata.


Weni mengusap tangan Arumi, menetes air matanya menahan rasa haru bercampur baur dengan rasa sedih karena sebentar lagi ia akan pergi jauh meninggalkan Aini Bidadari cantik yang ia lahirkan untuk ia tinggalkan.


"Aku tidak pernah menyalahkanmu Rum, aku tau rasanya menjadi seorang istri, tidak ada seorang istri yang rela suaminya berbagi cinta dengan wanita lain. Dan kamu satu-satunya wanita hebat yang mau membagi suamimu demi seorang anak, itu semua kau lakukan demi Zidan. Kau tau Rum, sejak awal aku tidak pernah mencintai suamimu dia adalah pangeran cintamu. Berbahagialah Rum aku akan pergi dan menitipkan bidadari cantikku"


Mata Aini menyorot tajam mata Weni, Aini seperti sedang merasakan perpisahan yang amat menyakitkan untuknya. Seorang ibu yang sudah melahirkannya kini akan pergi meninggalkannya bersama ibu sambung.


"Semoga apa yang kau cita-citakan berhasil Wen, aku janji aku tidak akan merubah jati dirimu sebagai Ibu kandung Aini, aku janji."


Weni hanya mengangguk seraya menahan air matanya. Seolah merasa akan ditinggalkan Aini mulai menangis lantang ketika Weni mulai melangkahkan kakinya menuju pintu mobil yang sejak awal sudah terbuka. Weni menangis namun ia tidak mau membalikan badannya menengok Aini karena itu akan membuatnya semakin tidak kuat dengan perpisahan ini.


"Bahagialah bidadari cantikku, Ibu akan kembali setelah ibu berhasil dan Ibu akan selalu mendoakanmu kelak kau akan menjadi anak yang hebat dan dikenal banyak orang karena kesuksesanmu"Weni hanya bisa menatap untuk yang terakhir kalinya lewat kaca mobil yang sudah mulai melaju meninggalkan mereka.


"Selamat tinggal Weni"Arumi dan Zidan melambaikan tangannya kepada Weni yang mulai melaju jauh dan menjauh hingga sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


*****


Arumi membaringkan tubuhnya menghela nafasnya seraya menyenderkan kepalanya pada dipan tempat tidur. Zidan merangkak naik keatas ranjang memakai piyama tidur warna hitam dan perlahan mendekati Arumi, mereka saling menatap dengan tatapan menggoda tak ada maksud lain selain mengisyaratkan keinginan hasratnya yang sudah tidak terkira lagi.


"Mas awas nanti Aini bangun!"Arumi menghentikan dada Zidan yang sudah hampir menempel ketika guncangan ranjang membuat Aini membalikan posisi tidurnya.


Ketika Aini sudah mulai tertidur nyenyak Zidan meneruskan permainannya. Zidan mulai menempelkan bibirnya pada bibir Arumi, mereka saling menyusupkan lidahnya seraya menikmati belaian pada bagian bawahnya yang sudah terasa licin.


Arumi menarik tali yang terikat pada piyama Zidan sedangkan Zidan menaikan dres mini yang dipakai Arumi dan menyusupkan jarinya masuk kedalam daging kenyalnya seraya memainkan bagian ternikmatnya dengan goyangan jari memutar-mutar sedikit menekan membuka Arumi menggeliat kenikmatan dan enggan mengakhiri rasa itu.


Zidan mulai membuka semua pakaiannya dan langsung memasukkan pisang spesial miliknya melewati dua paha mulus ia pun langsung memasukan pisangnya dengan hentakan yang semakin kencang masuk kedalam dan keluar berulang-ulang. Pisangnya mulai menyusupi setiap kenikmatan yang dilewati seraya mengulum bibir lembut yang langsung menghilangkan semua rasa penatnya berganti dengan kenikmatan yang tiada duanya.


Arumi mengambil kendali permainan bertukar posisi menjadi diatas dengan rambut terurai dan wajah terkulai nikmat membuat Zidan semakin keras menekan pinggul Arumi sehingga pisangnya semakin dalam menancap, Arumi menggeliat meremas kencang d4da Zidan bersama dengan puncak kenikmatan yang sudah meluncur keluar dari daging kenyalnya.


Zidan mengakhiri permainan dengan mengguyurkan cairan kental pada dading kenyal Arumi seraya memeluk erat dengan bibir mengigit pada tengkuk lehernya meninggalkan bekas merah tanda kenikmatan malam ini.


Merekapun terkulai lemas bersama.


*****


"[Tuan, ada kabar buruk. Nona Maria kecelakaan, saya mendapat informasi keadaan Nona Maria kritis"Pesan singkat Qenan membuat Zidan terhenyak dan langsung bangkit dari tempat tidurnya.


"Maria kecelakaan? Aku harus pergi dan melihat keadaan Maria"


Zidan menghempas selimutnya langsung pergi menuju kamar mandi dan menutup pintu dengan kencang kejadian itu membuat Arumi seketika kaget dan terbangun dari tidurnya.


"Mas, kau kenapa pagi-pagi sudah ngamuk!"Gerutu Arumi.


Selesai mandi Zidan keluar membuka lemari mencari baju lalu memakainya. Arumi hanya melihat dengan rasa heran, tidak biasanya Zidan tergesa-gesa seperti itu.


"Mas kau bukanya mau kekantor? Kok pakai kaos tidak pakai jas?"Tanya Arumi seraya memakai piyama miliknya.


"Aku mau kerumah sakit"

__ADS_1


"Rumah sakit? Siapa yang sakit?"


Zidan terdiam mengerutkan keningnya, seharusnya dia tidak bilang ingin pergi kerumah sakit karena masalah Maria sudah ia rahasiakan.


"Em, aku mau jenguk teman. Aku buru-buru aku pergi dulu"Zidan mengusap rambut Arumi dan mencium pipi Aini sebelum ia pergi.


"Tumben dia cium-cium kita"Ujar Arumi.


Saat itu juga Zidan langsung pergi menuju rumah sakit untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi kepada Maria.


Zidan membuat janji dengan Qenan dan Jaklen. Mereka akan bertemu dilobby rumah sakit.


"Kau dimana?"Tanya Zidan kepada Qenan.


"Aku sudah didepan lobby Tuan."Jawabnya.


"Baik, tunggu aku disitu"


"Oke Tuan"


Sebelum keluar Zidan bersiap-siap memakai jaket hitam topi hitam dan kacamata hitamnya, tak lupa dia juga menutupi wajahnya dengan masker hitam. Laki-laki bertubuh kekar itu keluar dari mobilnya dan menghampiri kedua asistennya yang sudah menunggu lumayan lama didepan lobby Rumah sakit.


"Kau sudah tau ruangan dimana Maria dirawat?"Tanya Zidan dengan menepuk pundak kanan Jaklen.


Mereka kaget melihat penampilan Zidan begitu Misterius. Dengan penampilan serba hitam.


"Ya ampun Tuan, saya kira siapa. Penampilan Tuan sudah mirip seperti bodyguard hehe"Ujar Jaklen.


"Hust! Dia Bos kita bego"Pekik Qenan kepada Jaklen.


"Siap Tuan, kita akan antar sampai tujuan"Ujar Jaklen seraya mengkokohkan tubuhnya.


Zidan menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan kedua asistennya. Melupakan semua itu mereka bertiga langsung bergegas masuk kedalam Rumah sakit dan mencari kamar ruang inap Maria.

__ADS_1


__ADS_2