Berbagi Suami Dengan Sahabat

Berbagi Suami Dengan Sahabat
90. BERBOHONG LAGI


__ADS_3

Percaya tidak percaya bayi itu benar-benar bergerak dan bukan boneka, mungkin mereka berfikir seperti itu. Lisa mendekat dan memegang pipi Aini, tak ingin diam saja Zaki juga ikut mendekat dan membuktikan jika bayi itu bukanlah boneka.


"Rum, ini anak siapa? Kamu hamil Nak, apa ini benar anak kamu?"Ujar Lisa dengan tatapan tercengang seakan tidak percaya Arumi punya anak.


"Rum ceritakan pada kami ini anak siapa?"Sambung sang Papa.


"Emm..Ma, Pa ini anak kami. Tidak! Maksudku anak ini kami ambil dari panti asuhan"Ucap Arumi terpatah-patah. Arumi lantas menyenggol siku Zidan karena dari tadi laki-laki itu hanya terdiam.


Melihat Arumi gugup dan panik Zidan langsung mengiyakan ucapan Arumi."Iya Ma, anak ini kita asuh. Kita ambil dari panti asuhan dari dia baru lahir"Jelasnya.


"Oh gitu"Lisa hanya mengangguk dan memandang sang suami sambil menepuk pundaknya karena Zaki hanya terdiam dengan pandangan kosongnya.


"Mas, kau ini kenapa diam saja! Dia cucu kita kau tidak bahagia bertemu mereka"Pekik Lisa kepada Zaki yang masih terdiam kokoh sambil terus terdiam dengan pandangan kosongnya.


"Aku bahagia melihat mereka bahagia dengan hadirnya anak ini dalam hidupnya aku yakin kalian akan semakin bisa melengkapi satu sama lain"Ujar Zaki.


"Pa, apa Papa mau terima bayi ini? Pa aku mohon terima dia sebagai cucu Papa ya?"Ujar Arumi berkaca-kaca.


"Apa yang kau katakan Rum? Papa jelas akan terima dia, Papa hanya sedang membayangkan begitu kejamnya orang tua bayi ini sampai dia rela meninggalkan bayi secantik ini"Ujar Zaki lalu mendekati Aini dan tersenyum. Dia juga mengambil Aini dari gendongan Arumi.


"Aduh Mas, pelan-pelan"Ujar Lisa kepada Zaki. Ia merasa gemas melihat Aini digendong laki-laki tampannya.


"Oh ya, Papa belum dikasih tau siapa namanya?"


"Aini Putri Namira Pa"Ucap Arumi. Betapa bahagianya Arumi melihat senyum tulus nampak tersirat dari bibir sang Papa.


"Nama yang indah ya Ma"Ujar Zaki kepada Lisa.


"Iya Pa cantik sekali"Jawabnya sembari tersenyum.


Zidan tersenyum berat melihat Aini begitu anteng saat digendong Papa mertuanya itu. Namun tidak dipungkiri dalam hati kecilnya ia sangat merasa berdosa kepada kedua orang tua Arumi, sosok yang sudah membesarkan namanya dan membuatnya sukses kini harus ia bohongi dengan status Aini yang sebenarnya.


"Pa, Ma, maafkan aku. Aini bukan anak dari panti, bukan juga anak Arumi melainkan anak aku dan wanita lain"Batinnya sambil menarik nafas dan menahan bulir air mata agar tidak keluar membasahi pipinya.


Ketika malam tiba Aini menjadi penghibur mereka, tingkahnya yang sangat menggemaskan membuat suara tawa bak menghiasi seluruh sudut ruangan dirumah megah Arumi.


Mbok Latri yang kala itu sedang memasak untuk makan malam ikut merasakan kebahagiaan pada keluarga barunya, tawa mereka membuat kebahagiaan tersendiri kepada Mbok Latri yang kini hidup hanya sebatang kara semenjak ditinggal sang suami.


Mbok Latri belum mempunyai anak dan hanya tinggal berdua dengan sang suami sebelum dia pergi meninggalkan Mbok Latri. Kini semua tinggal kenangan untuk Mbok Latri.


"Mereka begitu bahagia, aku jadi rindu sama Bapak. kenapa bapak pergi meninggalkan aku toh Pak"Ujar Mbok Latri, perlahan menetes air matanya.

__ADS_1


Setelah masakan matang Mbok Latri menghidangkan makan malam diatas meja dan menata piring beserta sendok dan lainnya.


Semua makan malam selesai tertata dengan rapi kini Mbok Senah naik keatas untuk memanggil semua seisi Rumah agar turun kebawah.


Malam itu keluarga Arumi sedang asyik bermain dengan Aini. Lalu Mbok Latri masuk dengan pelan dan sopan memanggil mereka untuk makan malam bersama.


"Tuan, Nona, Bapak sama Ibu makan malamnya sudah siap. Silahkan makan malam dulu mumpung masih anget"Ujar Mbok Latri sambil tersenyum ramah.


"Oh sudah siap ya Mbok. Yaudah nanti kita turun"


"Baik Non"


Kemudian Mbok Latri keluar dan menutup kembali pintu kamar Arumi. Mbok Latri berjalan melewati tangga dan kembali kedapur. Sebenarnya Mbok Latri lapar karena belum makan hanya makan siang saja, namun ia tidak mau mendahului majikan sebelum mereka makan malam duluan.


Arumi dan keluarga turun kebawah, mereka duduk berdampingan pada kursi masing-masing. Didepan mata sudah tertata rapih makanan yang sangat lezat masakan Mbok Latri adalah masakan khas Jawa tengah yang sangat sederhana namun kaya akan bumbu rempahnya.


"Oh ya Rum, Simbok kok gak ikut makan?"Tanya Lisa sambil memangku Aini.


"Oh ya Ma! Mbok Latri pasti belum makan"


"Panggil sana, suruh makan bareng kita"


Arumi menuju dapur menghampiri Mbok Latri untuk ia ajak makan malam bersama. Saat itu Mbok Latri hanya duduk sambil melamun didapur. Wajahnya tampak redup matanya terlihat sudah sangat lelah, Arumi merasa sedih dan langsung mengusap punggung Mbok Latri.


"Eh Non Arumi, kenapa kesini Non kenapa gak makan"Ujar Mbok Latri.


"Aku belum makan karena Simbok tidak makan, kami dari tadi nungguin Simbok"Jelas Arumi sambil mengajak Mbok Latri makan bersama.


"Tapi Non, Simbok biar makan disini saja"Ucap Mbok Latri, namun Arumi tetap menggandengnya berjalan menuju meja makan dan mempersilahkan Mbok Latri untuk duduk.


"Makan Mbok, anggap saja seperti keluarga sendiri"Ujar Lisa.


Mbok Latri tersenyum kecil, ia merasa tidak pantas makan bersama majikan dalam satu meja. Namun semua itu atas permintaan mereka sendiri.


"Iya Bu, terimakasih sudah mau ngajak Simbok makan bersama kalian. Simbok sebenarnya malu makan bareng satu meja sama majikan, Simbok biasa makan didapur"Dengan senyum kecilnya Mbok Latri merasa terharu dan berkaca-kaca. Mbok Latri benar-benar merasakan seperti mempunyai keluarga walaupun ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang anak. Mbok Latri merasakan kasih sayang itu dirumah yang baru diinjaknya satu hari ini.


"Tidak apa-apa Mbok, kami sangat senang. Oh ya kita makan yuk nanti keburu dingin"Ujar Zidan lalu mereka makan malam bersama dengan suasana yang begitu hangat akan kebersamaan.


*****


Pagi hari....

__ADS_1


"Rum Aini sudah bangun belum? Papa sama Mama mau ajak Aini jalan-jalan pagi ke taman"Ujar sang Mama.


"Sudah Ma, Aini lagi dikamar sama Mas Zidan. Mama samperin saja aku mau mandi dulu"Ucapnya ketika hendak pergi ke kamar mandi.


"Yaudah kau mandi sana, Mama biar ajak Aini dulu"Tutur Lisa lalu berjalan menghampiri Aini sambil mengaitkan gendongannya.


Karena harus kembali kerumah Lisa dan Zaki menyempatkan main bersama Aini yang pagi ini sudah bangun dan diajak main ke taman.


Tak mereka ketahui pagi itu terlihat seorang wanita tengah berdiri sambil memadangi mereka bertiga. Karena tidak merasa kenal merekapun tak menghiraukan pandangan wanita tersebut.


"Dia siapa ya Mas, kok liatin kita terus?"Ujar Lisa.


"Aki juga tidak tau"


Lalu wanita tersebut terlihat berjalan dan menghampiri mereka sambil membawa sesuatu didalam plastik hitam sedikit besar.


"Selamat pagi, wah Aini sudah besar ya Nak, tambah cantik lagi"Ujarnya sambil memegang pipi Aini.


"Pagi juga, kamu siapa ya kok kenal Aini?"Tanya Lisa sedikit menjauhkan jarak Aini dari wanita yang menurutnya asing tersebut.


Zaki yang tengah duduk langsung berdiri dan memasang bahunya melindungi Aini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Ehm, aku Weni Tante. Iya aku kenal sama Aini karena Mamanya Aini temen aku"Ujar Weni. Jika Weni tidak melihat langsung Zaki dan Lisa berjalan membawa Aini keluar dari Rumah Arumi ia tidak akan pernah tau jika mereka adalah orang tuanya.


Sebelumnya Weni berniat main kerumah Arumi sambil menengok Aini, namun belum sampai masuk Weni melihat Aini dibawa keluar oleh orang tua Arumi. Iapun memutuskan mengikuti mereka sampai ke taman.


"Oh temen Arumi. Maaf ya Tante pikir kamu siapa, oh ya Weni Tante sama Aini pulang dulu ya soalnya Tante hanya nginep semalam saja jadi hari ini mau pulang"Ujar Lisa kepada Weni.


"Oh gitu. Tante aku mau kasih ini buat Aini"


"Buat Aini?"


"Iya Tante, terima ya?"


"Em, yaudah kalo gitu terimakasih ya Weni"


"Iya sama-sama"


Setelah menerima bungkusan plastik yang diberikan Weni mereka bertiga pulang dan meninggalkan taman beserta Weni yang masih berdiri melihat kepergiannya.


"Kau yakin dia orang baik? Aku curiga sama dia kok dia bisa kebetulan lihat kita terus kasih Aini sesuatu!"Ujar Zaki sambil melangkahkan kakinya menuju kerumah.

__ADS_1


"Kita tanya saja sama Arumi"Ujar Lisa.


__ADS_2