
Setelah kembali dari taman Zaki dan Lisa masuk lalu menuju lantai atas membawa Aini kembali kepada orang tuanya. Sampainya didepan pintu kamar Arumi mereka mendengar potongan pembicaraan Arumi dan Zidan yang tengah berada didalam kamar tersebut.
Mereka menghentikan langkahnya dan mendengarkan pembicaraan Arumi dan Zidan. Sekilas tidak penting namun ketika diamati sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat rahasia.
"Mas, kita harus lebih hati-hati lagi karena semua ini benar-benar akan menjadi masalah besar jika mereka tau!"
"Seandainya kau tidak melakukan ini Rum semua ini tidak akan terjadi!"
"Tapi semua sudah terjadi Mas! Kita hanya perlu menutupinya saja agar mereka tidak tau!"
Lisa membuatkan matanya memandang Zaki penuh kejanggalan, apa yang sedang Arumi dan Zidan sembunyikan. Lalu kepada siapa mereka menyembunyikannya, karena mereka tidak menyebutkan nama seseorang dalam pembicaraannya tersebut.
"Lis, kau tau mereka bicara apa? Rahasia apa yang mereka sembunyikan, apa mungkin kepada kita"Ujar Zaki penasaran.
"Aku tidak tau Mas, tidak baik juga kita ikut campur urusan rumah tangga mereka. Kita pulang yuk Mas, banyak kerjaan yang harus diselesaikan"
"Astaga, baiklah kita masuk dan kasih Aini pada mereka lalu kita pulang"
Mereka melupakan kegaduhan Arumi dan Zidan, mereka hendak mengetuk pintu namun Arumi lebih dulu muncul membuka pintu kamarnya.
"Ma, Pa sejak kapan Mama sama Papa disini?"Arumi merasa ketar-ketir jangan-jangan mereka sedang menguping pembicaraannya dengan Zidan.
"Mama sama Papa baru saja datang, memangnya ada apa?"Tanya Lisa dengan mata tajamnya.
"Em, tidak Ma. Oh ya Aini belum minum susu dari tadi, aku akan buatkan dia susu"
Arumi membalikkan badannya seraya mengerutkan keningnya kepada Zidan yang tengah duduk ditepi ranjang. Arumi menuju meja dan membuatkan susu untuk Aini.
Zidan menaruh tangannya dibelakang badan sambil meremas jarinya. Bukan hanya Arumi saja ia juga merasa pembicaraannya sudah didengar oleh orang tua Arumi.
"Aku yakin mereka sudah mendengar pembicaraanku dengan Arumi tadi!"Batin Zidan.
Pandangan Zaki begitu tajam kepada dirinya. Entah apa yang sedang dia pikirkan yang jelas Zidan berusaha tidak bersikap mencurigakan didepan mereka berdua.
"Pa, Ma kenapa tidak semalam lagi nginep disini. Aini masih kangen loh sama Mama dan Papa"Ujar Zidan tersenyum kecil.
"Nanti Mama juga kesini lagi"Jawab Lisa.
__ADS_1
Zaki hanya terdiam dan mulai berjalan pelan mendekati Zidan ditepi ranjang. Rasa penasarannya membuat dirinya enggan diam saja.
"Apa yang kau rahasiakan dari kami?"Ujar Zaki pelan tepat di telinga Zidan.
"Maksud Papa apa?"Tanya Zidan bisik-bisik.
"Papa sudah tau, jangan pikir Papa tidak tau. Apa ini ada hubungannya dengan Aini?"
"Aku tidak mengerti apa yang Papa bicarakan?"
Belum selesai berbicara Lisa menarik tangan Zaki dan menjauhkannya dari Zidan.
"Apa yang kau lakukan Mas, hiiii!!"Pekik Lisa pelan dengan rasa gregetan seraya meremas lengan Zaki.
"Kau ini, aku hanya sedang mencari tau apa yang sebenarnya terjadi"Ujar Zaki kepada Lisa dengan wajah kecutnya.
"Kau tidak perlu ikut campur urusan mereka!"Tegas Lisa kepada Zaki. Akhirnya Zaki mau diam dan tidak meneruskan masalah itu lagi.
"Hmmm. Terserah kau saja"Gumam Zaki.
Arumi yang sedang membawa sebotol susu melihat keanehan pada wajah mereka. Arumi bingung apa yang sudah terjadi kenapa mereka tiba-tiba terdiam dan saling memalingkan wajahnya ketika ia datang.
"Tidak Nak, kami hanya sedih baru sehari disini sekarang akan jauh lagi sama kalian"Ujar Zaki sambil mengelus rambut Putri semata wayangnya itu.
"Oh ya Rum, ini tadi Aini dapat sesuatu dari temen kamu"Ujar Lisa seraya memberikan bingkisan plastik tersebut kepada Arumi.
"Temen aku Ma, siapa?"Arumi kebingungan.
"Katanya namanya Weni"
"Hah! Weni Ma?"Arumi membulatkan matanya begitu mendengar nama Weni.
"Ia Rum, kenapa? Apa Mama salah kalo gitu buang saja bingkisan ini"Lisa merasa sudah ceroboh menerima bingkisan dari orang asing yang belum pernah dikenalnya.
"Ah tidak apa-apa Ma. Iya Weni temenku aku hanya kaget saja kenapa dia tidak kesini saja"Jawab Arumi seraya memijat keningnya.
"Aduh maafin Mama ya Rum, Mama sudah lancang"
__ADS_1
"Sudah Ma, tidak apa-apa"Sambung Zidan. Lalu mengusap punggung Arumi.
"Ya sudah Arumi, kami pamit pulang ya. Dan kau Zidan jaga Arumi baik-baik. Dia adalah bidadari tercantik yang pernah Mama lahirkan"Lisa tersenyum bahagia kepada Arumi, ia juga mendaratkan ciuman sayang kepada pipi Putri cantiknya itu.
"Iya Ma, Pa aku pasti jaga Arumi"Sebelum pergi Zidan dan Arumi mengantar mereka sampai ke depan dan mencium tangan mereka sebelum pergi.
Lisa dan Zaki masuk kedalam mobil dan membunyikan klaksonnya menandakan mereka hendak melajukan mobilnya. Lambaian tangan Arumi dengan senyum manisnya menutup perjumpaan mereka hari ini.
Arumi merasa lega karena berhasil membuat mereka percaya dengan semua kebohongan, yang dia lakukan tentang Aini juga tentang pernikahan sang suami dengan wanita lain.
*******
"Mas, menurut kamu Weni bilang macem-macem gak ya sama Mama sama Papa?"Ujar Arumi kepada Zidan sambil berbaring bersama diatas ranjang.
"Em, sepertinya enggak. Udah kamu jangan pikirkan hal itu lagi, siapa tau Weni kebetulan mau kesini lalu melihat Aini sedang berada ditaman dan mereka bertemu disana"Ujar Zidan sambil memejamkan matanya.
"Mas tapi tidak mungkin, Weni kan tidak kenal sama Mama dan Papa!"Ujar Arumi dengan nada ketus.
"Buktinya tidak ada yang aneh, Weni tidak mungkin berani macam-macam. Pikiran kamu saja yang kemana-mana!"Gerutu Zidan lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya dan memalingkan badannya membelakangi Arumi.
Melihat Zidan kesal Arumi lantas terdiam dan langsung menarik selimutnya mengikuti Zidan. Ia menutupi tubuhnya dan beranjak tidur.
"Masalah Weni saja kau selalu membela dan aku yang selalu salah!"Gerutu Arumi dari dalam selimutnya.
Mereka saling membelakangi namun keduanya tidak tidur. Zidan masih terdiam mendengarkan gerutu Arumi yang tak henti-hentinya terdengar dalam telinganya.
"Hmmm! Bukanya tidur Arumi malah ngomel-ngomel sendiri. Gak jelas banget"Gerutu Zidan.
"Aku tau ya Mas, kamu gak tidur. Awas ya kalo kamu berani macam-macam sama aku!"Lagi-lagi Arumi bergumam tidak jelas membuat Zidan tidak bisa tidur.
"Sudah malam tidur!"Pekik Zidan dengan nada kesal.
"Aku tidak bisa tidur sebelum jam 12 malam!"Ujar Arumi sambil membuka selimutnya dan berpindah menghadap punggung Zidan.
"Kau tidak lihat sekarang sudah jam 2"Pekik Zidan kembali.
"Maksudku aku tidak bisa tidur sebelum kita___"Arumi memberi isyarat akan keinginannya malam ini.
__ADS_1
"Maksudmu sebelum kita kuda-kudaan"Zidan langsung membalikkan badannya dan memeluk serta mencium mesra bibir Arumi yang membuat mata sang istri seketika membulat merasakan sentuhan lembut pada bibirnya. Sentuhan Zidan kini sudah sampai pada mahkota bawah Arumi dan mereka menghabiskan malam ini bersama bergulat dalam kenikmatan yang membuat keduanya terkulai lemas dalam satu pelukan yang hangat.