
Arga berhasil masuk ke Politeknik Negri impiannya melalui program beasiswa pemerintah.
Dia mengambil jurusan yang dia inginkan. Teknik komputer dan informatika.
Aretha semakin kelimpungan karena sudah tak satu sekolah lagi dengan lelaki idamannya.
Dia khawatir Arga menemukan jodohnya disana.
Setiap hari Aretha tak pernah absen dalam mengunjungi florist milik Keira. Dia bahkan ikut menjadi kurir demi terus dekat dengannya.
Namun karena kesibukan kuliahnya Aretha sangat jarang bertemu dengan Arga. Kalaupun bertemu, pastilah hanya sebentar karena saat Aretha datang, Arga sedang bersiap untuk berangkat.
Aretha frustasi dibuatnya.
Tak jarang Keira mendapati Aretha menenggelamkan kepalanya di meja sambil terisak. Namun selalu tampil ceria didepannya.
Waktu berlalu. Aretha yang tak lagi mempermasalahkan waktu mereka bertemu dan memilih mengandalkan tangan Tuhan untuk mempertemukan mereka kembali tetap menjadi kurir florist milik Keira.
Dia bahkan tak memakai uang pemberian ayahnya dan hanya memakai uang hasil jerih payahnya menjadi kurir.
Dia menikmati hasil keringatnya sendiri.
Kini Aretha sudah lulus SMA dan dia diterima di universitas ternama melalui jalur prestasi nilai sebagai lulusan terbaik disekolahnya.
Hendra sangat bangga dengannya. Meski tak memiliki minat yang sama, namun anak semata wayangnya itu mewarisi kepintarannya.
tok
tok
"Masuk"
"Pak, sekedar mengingatkan. Siang ini anda ada jadwal meeting di restoran hotel SH dengan PT. Angkasa" sang sekertaris mengingatkan.
"Baik. Oh ya, yang nganter bunga setiap hari siapa? pagi pagi sekali sudah datang"
"Oh itu, kurir yang biasanya katanya pak. Dia selalu diantar satpam. Bahkan saya juga belum datang. Katanya takut gak ada yang antar soalnya dia harus kuliah"
"Ya sudah"
Sang sekertaris pun keluar.
"Pemuda itu. Ah sampai sekarang belum tau namanya"
Hendra bersiap untuk meeting. Dia sedikit terlambat karena ada yang mencoba menembus firewall nya. Sedikit berperang didunia pemrograman bukanlah hal yang aneh buatnya. Justru dia merasa tertantang untuk mempelajari dan melawan para hacker amatir.
Saat menuruni tangga, matanya menangkap sosok familiar yang selalu ditunggunya setiap pagi. Sosok itu tengah berlari lari kecil mengenakan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam dengan name tag menggantung dilehernya, khas seorang pemagang dengan membawa beberapa gelas kopi dari coffeshop ternama di seberang jalan.
__ADS_1
"Kamu magang disini?" pertanyaan Hendra menjegal langkah Arga yang tengah buru buru namun ber hati hati saat membawa gelas gelas kertas itu.
"Ah, tuan. Hampir saja" Arga yang terkejut masih bisa mengendalikan langkah dan bawaannya yang bisa saja tumpah mengotori jas dan kemeja bos besar ini.
"I iya, tuan. Sudah seminggu saya magang disini" jawabnya sedikit terengah, peluh bercucuran.
"Dibagian apa?"
"Maintenance, tuan. Maaf saya terburu buru. Kopinya takut keburu dingin. Permisi tuan" Arga sedikit membungkukkan tubuhnya dan kembali berlari kecil kearah..
"Tangga darurat? kenapa dia lewat sana? bukankah bagian maintenance ada di lantai 5?" Hendra bermonolog yang bisa didengar oleh Beno.
"Mundurkan jadwal meeting 30 menit" titahnya pada sang asisten tanpa menoleh padanya. Langkahnya ia ayunkan kembali menuju lift.
"T-tapi bos-" hadeeehh seandainya aku bisa jadi bos disini, aku pecat semua karyawan. Keluh Beno dalam hati.
Hendra tak menunggu Beno yang tengah menelpon partner bisnis sang bos. Dia langsung menutup pintu lift khusus dan memencet tombol angka 5.
ting
Pintu lift terbuka. Langsung terdengar suara gelak tawa. Asap rokok mengepul memenuhi ruangan berukuran 10mx7m itu.
Arga yang tengah memakai masker sibuk mengepel dan membersihkan meja para karyawan yang tengah bersantai.
uhuk
uhuk
Membuat para karyawan yang tengah bersantai itu menoleh. Tak terkecuali Arga.
"Jadi untuk ini perusahaan membayar kalian? pantas saja selalu ada yang membobol firewall"
Sontak kelima karyawan laki laki itu berdiri. Tak lupa melempar sembarang rokok yang baru beberapa kali hisap itu.
"Pungut" titah Hendra yang memerintahkan si pelempar untuk memungut puntung rokoknya.
Namun malah Arga yang bergerak.
"Bukan kamu" sergah Hendra membuat langkah Arga terhenti.
Si pelempar pun akhirnya memungut kembali puntung rokok yang dia lempar lalu membuangnya di asbak yang ternyata kembali penuh.
"Siapa nama kamu?" tanya Hendra pada Arga. Akhirnya dia punya kesempatan mengetahui namanya. Entah kenapa Hendra sangat menyukai pemuda ini.
"A-Arga, tuan" jawabnya terbata.
"Arga. Selama seminggu ini apa yang kamu kerjakan selama magang?"
__ADS_1
"Ee.. itu.." Arga tak bisa menjawab. Dia tak mungkin melaporkan penindasan yang terjadi padanya.
"Jurusan kuliahmu apa?"
"Teknik komputer dan informatika, tuan"
"Lalu apa yang akan kamu tulis dalam laporan PKL mu? Rekayasa perangkat kebersihan? atau sistem pembelian kopi secara random?" Semua orang bergeming.
"Beno. Kumpulkan data data karyawan di bagian server maintenance" titah Hendra pada Beno yang masih setia menunggu di lobby.
"Kalian bisa langsung ke bagian HRD. Setelah itu ambil pesangon kalian. Dan kamu Arga. Ikut dengan saya" Hendra berbalik dan melangkah.
Kelima karyawan itu panik seketika. Mereka dipecat.
Arga dengan kikuk mengekor Hendra sang bos dibelakangnya.
"Bersihkan dirimu dahulu" Hendra membawa Arga ke toilet pria di sebelah ruangan maintenance. Setidaknya wajahnya akan terlihat lebih segar dan jejak keringatnya terhapus dari wajahnya.
Setelah keluar, Hendra menyodorkan dasi berwarna hitam padanya. Dasi Hendra yang dibawa Beno yang sempat mengambilnya ke mobil dan kembali lagi.
Arga memakainya tanpa kesulitan karena sudah diajari sang mama.
"Bagus. Ikuti saya"
"Ee tapi.. surat tugas saya di bagian-"
"Nanti kita atur ulang dengan pihak kampus. Yang pasti saya butuh bantuanmu"
Arga tak lagi menyanggah. Dia mengikuti langkah lebar sang bos.
Jika disejajarkan, Arga berperawakan sama saat Hendra dibangku kuliah dulu.
Tubuh yang tak terlalu kurus itu menjulang tinggi dengan kulit yang bersih.
Hendra merasa seperti melihat cerminan masa mudanya dulu.
Hendra meminta maaf atas keterlambatannya pada klien yang sudah menunggu 30 menit lamanya.
Hendra menyodorkan laptop kerjanya pada Arga saat sedang menjelaskan produk aplikasinya pada klien.
Arga segera meng input password yang tertera dalam secarik kertas yang disodorkan Beno yang tengah menyambungkan kabel pada proyektor.
Beno memandu Arga agar menampilkan file aplikasi yang tengah dipresentasikan Hendra sang bos.
Dengan cekatan, jari jemari Arga aktif menari nari diatas keyboard. Sembari menampilkan slide yang diminta, Arga berperang melawan para hacker yang berusaha menyerang sistem keamanan.
Hendra mengetahuinya karena sistem keamanan pada laptop itu terhubung dengan ponsel pintarnya yang akan bergetar jika ada penyusup.
__ADS_1
Hendra tersenyum tipis kala mendapati ketenangan dalam ekspresi Arga dalam menghandle para hacker.
Sungguh kemampuan yang luar biasa. Mungkin itu sebabnya para karyawan dibagian maintenance iri dan membully nya.