
Hendra bangun lebih awal. Meskipun dia sadar betul jika hari ini adalah hari minggu, dia juga sadar jika tengah memiliki tamu yang harus dijamu. Selain kebiasaan bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan bagi putrinya tentunya.
Hendra hanya mencuci muka dan sikat gigi. Karena setelah menyiapkan sarapan niatnya hendak melakukan sedikit joging. Dia ingin mengajak Arga turut serta.
Hendra merasa bersemangat karena dia akan mempunyai teman joging.
Hendra mengenakan kostum jogingnya saat keluar kamar. Karena hujan semalaman mengguyur bumi, pagi ini udara terasa cukup dingin. Namun tak menyurutkan niatnya untuk menggerakkan sedikit tubuhnya setelah seminggu duduk dengan kaku di kursi kebesaran menghadapi kertas kertas bernilai milyaran. Hoodie berwarna merah dengan celana pendek dan running shoes adalah pilihannya.
Dia hendak membangunkan Arga agar bersiap siap. Dia juga telah menyiapkan out fit joging untuk Arga.
Saat keluar kamar, senyumnya mengembang karena bersamaan dengan keluarnya sang tamu dari kamar anak gadisnya. Dia hendak menyapa sang calon besan yang terus menguap.
Namun senyum mengembang itu seketika berganti dengan raut cemas. Cemas karena Keira tak melihat langkah kakinya yang jika diteruskan pastilah dia akan jatuh terperosok dari atas tangga.
Reflek Hendra berlari dan merangkul pinggang ramping Keira
grepp
"Waaaa..." pekik Keira terkejut dengan aksi tiba tiba Hendra.
brukk
Nahas, tarikan itu terlalu kuat sehingga mereka terjatuh kebelakang Hendra dengan posisi Keira menindih tubuh Hendra.
ceklek
__ADS_1
Aretha yang belum sepenuhnya membuka mata karena masih mengantuk seketika membelalakan matanya melihat pemandangan absurd didepannya.
"Ou.. my.. God... pagi pagi udah mesum aja" celetukan Aretha membuat Keira seketika bangkit dari tubuh Hendra. "Yang mau nikah kan Aretha, kenapa papa ngambil start duluan? bahan kawin massal nih" tukas nya lagi sambil berlalu meninggalkan kecanggungan diantara para orang tua.
"Heee.... makasih" Keira nyengenges, menampakkan gigi ginsulnya. Lalu bangkit dan berjalan menuruni tangga.
"God, help me" gumam Hendra yang terbangkitkan gairahnya karena sentuhan mereka.
"Honey, tumben pagi pagi udah bangun?" tanya Hendra pada Aretha setelah menormalkan jantung dan tenggorokannya.
"Memang sudah biasa kan?" kali ini Keira yang menjawab. Namun seketika langsung tersadar panggilan itu ditujukan untuk siapa.
"Emh.. baru aja nginep semalem udah punya panggilan sayang. Bobo lagi aaah..." ledek Aretha yang berlalu masuk ke kamar tamu.
"E eh.. ngapain kamu masuk ke kamar bujang? minta diseret ke KUA sekarang ya?" sergah Keira dengan semburat merah diwajahnya.
"Ngaco kamu. Ayang ayangan dari hong kong. Sana bikin sarapan. Biar nanti mami yang beres beres rumah" tukas Keira yang menghalau Aretha merangsek masuk kamar anak bujangnya. Kalo lagi telanjang gimana? gak perjaka lagi dong. Pikirnya.
"Ayo pa. Kita laksanakan titah ibu negara" ajak Aretha cuek pada sang papa yang tengah melipat mulutnya.
Selesai menyiapkan sarapan bersama sang anak, Hendra bergegas mengajak calon menantunya untuk joging sebelum matahari bersinar terik.
Keira dan Aretha yang tak ikut joging memilih sarapan lebih dulu. Lalu mereka membereskan rumah besar itu membantu ART yang mereka panggil.
Para pria kembali dari aktifitas jogingnya dan lanjut sarapan. Setelah itu Keira memutuskan untuk pulang karena merasa tidak enak jika lebih lama lagi tinggal.
__ADS_1
Seperti biasa, motor trail peninggalan suami Keira menolak untuk menyala. Bahkan saat Hendra mencoba menyelah nya beberapa kali pun tetap tak mau menyala.
"Ini sih harus sama pawangnya" tukas Arga akhirnya, dan menyerahkan motor itu pada Keira, sang mama.
Benar saja, dengan sekali hentakan motor itu menyala.
"Naik" titah Keira pada Arga.
"Sini Arga aja yang nyetir" tolak Arga.
"Kalo mati lagi, mama gak mau nyalain ya"
"Hh... wanita selalu benar"
Arga terpaksa menurut. Merekapun melaju meninggalkan rumah megah yang sebentar lagi menjadi rumah ke dua mereka.
"Hhh... sepi lagi..."
Aretha berubah lesu sepeninggal Arga dan mama nya.
Hendra merasa bersalah karena tak pernah memberikan keceriaan bagi putri semata wayangnya.
Namun dia bersyukur karena keinginannya terkabul. Yaitu mengikat Arga untuk sang putri.
HEUP DULU
__ADS_1
LANJUT BESOOK😉😘