
Pagi yang tegang. Keira yang kurang tidur pun tampak pucat saat menyiapkan sarapan dan bebenah rumah.
Hendra yang membantu pun tak bisa berkata apa apa melihat aksi diamnya seorang Keira.
Hendra tak peduli dengan tatapan tidak sukanya Arga karena Hendra terus berusaha mendekati mama nya.
Hendra hanya khawatir Keira tumbang karena fisiknya yang drop.
Semalam Keira tertidur dalam dekapan Hendra saat di balkon.
Suhu tubuhnya sudah agak diatas batas normal. Hendra mencari paracetamol namun tak bisa menemukan kotak obat.
Akhirnya dia hanya bisa mengompresnya dengan handuk kecil yang di basahi dengan air dingin untuk menurunkan panas nya.
Hingga Hendra pun tertidur di sebelah Keira, dalam posisi duduk.
Pintu kamar yang sengaja dibuka lebar itu menampilkan pemandangan yang membuat hati Arga memanas.
Seharusnya dia yang berada disamping sang mama untuk merawatnya.
Sarapan pagi itu dilalui dengan keheningan.
Keira yang merasa sudah melakukan tugasnya segera berlalu masuk kembali kedalam kamar untuk merebahkan diri.
Rasa pening dikepalanya masih terasa.
Keira lupa kapan terakhir meminum obat pereda sakit kepala. Jadi tak ada stok obat di rumahnya.
Keira hanya membaringkan tubuhnya, berharap akan membaik jika ia istirahatkan barang sejenak.
Hendra menaruh mangkuk berisi bubur diatas meja nakas dengan catatan kecil disebelahnya. Berharap saat bangun, Keira akan membaca dan memakannya.
Mereka bertiga akhirnya berangkat ke kantor dalam 1 mobil.
Suasana hening masih menyelimuti mereka.
Aretha yang kemarin protes karena tak bisa berpelukan dengan Arga, kini hanya diam dan membuang muka ke jendela.
Tak ada satupun dari mereka yang berniat mencairkan suasana.
Hendra menurunkan mereka di depan lobby kantor. Setelah itu dia melajukan kembali mobil mewahnya keluar dari area gedung perkantoran itu.
Arga menebak jika mertuanya itu pastilah kembali ke apartemen sang mama.
Rasa kesal dan marah menguasai hati dan pikirannya.
"Mentang mentang pemilik perusahaan bisa seenaknya gak masuk kerja" gerutunya dalam hati.
Baru kali ini Arga menunjukan sisi lain dari dirinya.
Dia bahkan tak peduli jika sang istri telah naik duluan ke divisi tempatnya magang.
__ADS_1
"Beno, bagaimana kondisi si peretas?"
Tanya Hendra pada asistennya melalui sambungan telfon yang terhubung dengan perangkat bluetooth di mobilnya.
"Masih belum menunjukan aktifitas lain. Tapi saya sudah mengantongi nama pengguna perangkat. Hanya saja ada beberapa kemungkinan jika si pengguna perangkat bukanlah pelakunya"
"Hm?" Hendra mengerutkan kening. Namun sejurus kemudian dia mengerti.
Ternyata tak semudah itu menemukan pelaku.
"Awasi terus cctv. Aku titip perusahaan sementara ini. Kabari aku jika ada hal penting"
"Baik, bos"
Hendra mematikan sambungan telfon. Lalu membanting stirnya menuju apotek 24 jam.
Dia membeli beberapa macam obat untuk stok dan beberapa vitamin.
Bukan hal yang sulit baginya untuk melakukan preventif atau jaga jaga.
Selama ini dia mengurusi semua kebutuhan rumah seorang diri. Diapun selalu mengantisipasi situasi darurat seperti sekarang.
Tiba di area apartemen Keira. Hendra ingat kemarin Keira sudah belanja, jadi dia merasa tak perlu belanja lagi. Mengingat betapa besannya itu sangat tidak suka dengan pemborosan.
Dia akan menggunakan bahan yang ada di kulkas untuk membuat masakan.
Hendra masuk ke unit Keira. Dia menghafal kode pintu keamanan unit besannya itu dalam sekali lirik.
Saat memasuki unit apartemen yang sepi, Hendra melangkahkan kaki menuju kamar Keira yang tertutup.
Tampaknya Keira belum terbangun dari tadi.
Hendra mengambil kembali bubur yang sudah dingin itu dan akan menggantinya dengan yang baru.
Karena waktunya kini leluasa, dia akan menambahkan sayur sebagai pelengkap bubur.
Setelah matang, dia mengisi mangkuk dengan bubur baru yang masih panas, tak lupa sayur dan daging suir sebagai pelengkap bubur agar nutrisinya tercukupi.
Dia tak memberikan susu karena menurut dokter, saat seseorang demam, tak baik jika diberi susu sapi, karena sifatnya yang bisa memicu asam lambung naik.
Jadi Hendra hanya memberinya air putih hangat. Dia juga sudah menyiapkan obat penurun panas.
Hendra membangunkan Keira dari lelapnya.
Jam sudah menunjukan pukul 9. Waktu yang cukup terlambat bagi seseorang untuk sarapan.
"Flo.. bangun.. makan dulu ya" dengan lembut Hendra mengusap lengan Keira.
Ada rasa getir dihatinya. Dulu dia tak sempat merawat sang istri karena dia langsung meninggal di tempat.
Sekarang dia tak mau kehilangan orang yang mulai mengisi hatinya, dengan telaten dia merawatnya.
__ADS_1
"Engh.. masih ngantuk"
"Makan dulu, sayang.. aku suapin ya.."
"Kepalaku pusing banget. Gak bisa bangun" Keira berkata dengan lemah sembari menutup matanya rapat rapat. Berharap rasa pening dikepalanya hilang.
"Ya udah. Aku bantu duduk sedikit ya"
Hendra merangkulkan tangan Keira di lehernya. Lalu mengangkat perlahan tubuh lemah nan panas itu dan menyangga belakang tubuh Keira dengan bantal lain sehingga tubuhnya setengah duduk.
"Gak usah buka matamu kalau kamu masih pusing. Buka mulutmu saja kalau aku suruh"
"He em"
Perlahan dengan telaten, Hendra menyuapi Keira.
Hendra sangat hafal dengan nafsu makan orang sakit, jadi dia hanya menaruh sedikit bubur dan pelengkapnya agar tak banyak terbuang.
Untungnya Keira menghabiskan yang ada dalam mangkuknya.
"Mau tambah?" tawar Hendra yang tersenyum melihat nafsu makan Keira yang cukup baik dalam kondisi sakitnya. Dia yakin Keira akan segera pulih jika makanan bisa masuk sebanyak ini.
Keira hanya mengangkat lima jarinya tanda cukup.
Dia tak bisa menggeleng karena rasa pening yang akan bertambah jika dia menggerakan kepalanya.
Hendra bangkit untuk mencuci mangkuk sambil membiarkan makanan yang masuk ke tubuh Keira turun.
Saat dia kembali dia duduk dan memberikan obat pereda sakit kepala.
"Minum obatnya" Hendra menaruhnya dalam telapak tangan Keira.
Keira menurutinya dan meminum obat itu tanpa kesulitan.
Hendra hendak bangkit saat dirasa Keira kembali tertidur. Dia akan bekerja di rumah sambil merawatnya.
"Jangan pergi. Temani aku"
Tangan lemah itu menahan tangan Hendra.
"Aku hanya akan mengambil laptop dan bekerja disini" ucapnya lembut sembari mengusap pipinya yang mulai berkeringat karena efek obat yang mulai bekerja.
Hendra duduk bersandar di sebelah Keira yang tertidur pulas sambil memeluk kakinya.
Dia terus mengawasi pergerakan dan keamanan sistem server di perusahaannya.
Bukan tidak mungkin jika si peretas mencoba peruntungannya kembali.
"Apa yang papa lakukan disini?" tanya ketus Arga didepan pintu kamar Keira mengalihkan perhatian Hendra dari layar 14 inchi tersebut.
"Seperti yang kau lihat, papa menemani mama mu" Hendra menjelaskan dengan menunjuk sang mama yang tengah memeluk kakinya erat dalam lelap tidurnya.
__ADS_1
"Apa papa lupa kalau kalian bukan muhrim untuk berduaan seperti ini di kamar?" lagi, Arga berusaha menyudutkan Hendra.
"Papa akan menikahinya sekarang juga bila perlu"