Besan Ooooh Besan...

Besan Ooooh Besan...
Lelaki Mesum


__ADS_3

Hoek


Hoek


Hoek


Hendra terbangun kala mendengar suara orang yang sedang muntah menggema dari kamar mandi.


Dia melirik jam dinding menunjukan waktu masih terlalu malam untuk menuju pagi.


"Sayang.." panggilnya kala menyadari istrinya tak ada di sebelahnya.


hoek


hoek


"Flo.. kamu baik baik aja?" Hendra bangkit dan menghampirinya di kamar mandi. Dia memijat tengkuknya hingga Keira merasa sudah tak lagi ingin memuntahkan angin.


Hendra lantas beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air hangat dan segelas air jahe yang ditambahkan daun mint.


Dia paham mengatasi morning sickness saat mendiang istrinya hamil dulu pun dia mendapat resep ini dari dokter kandungan.


Meski Keira belum melakukan tes kehamilan, namun Hendra menduga jika benihnya manjur. Ada perasaan bahagia dan takut sekaligus. Jika benar Keira hamil, maka dia sekali lagi akan merasakan hidupnya lebih berwarna. Namun di usia Keira yang hampir menginjak kepala 4 membuatnya was was karena resiko tinggi kehamilan di usia matang.


"Minum ini sayang" Hendra menyodorkan air putih hangat lalu air jahe dengan pepermint.


Keira menyesapnya perlahan. Perutnya merasa lebih baik.


Hendra menyimpan gelas itu di nakas samping Keira lalu berpindah posisi ke belakang Keira dan memijat pundak dan punggungnya agar peredaran darah lancar dan Keira merasa lebih relax.


"Nanti pagi kita ke dokter ya" titah Hendra.


"Gak usah, sayang. Istirahat bentar juga udah enakan kok"


"Aku gak nawarin. Tapi merintah. Mau gak mau-"


"Iya bapak tiran yang seksi" Keira memotong ocehan sang suami membuat mereka tertawa. Keira lantas memutar kepalanya dan meminta ciuman di bibir pada suaminya.


Jarum pendek pada jam dinding masih menunjuk pada angka 2, Keira dan Hendra kembali berbaring.


Keira merasa nyaman tidur dipelukan sang suami. Tapi Hendra tak bisa kembali memejamkan matanya.


Dia tersiksa.


Hendra terus menerus menelan saliva dan mendesah.


Pasalnya Keira dalam nyenyak tidurnya terus menggenggam rudal Hendra.

__ADS_1


5 menit pertama genggaman itu hanya diam. Selanjutnya entah apa yang dimimpikan Keira, dia sedikit 4menggerakan tangannya naik turun, lalu kembali terdiam.


Ingin rasanya Hendra menerkamnya saat itu juga, tapi dia tak mau mengganggu nyenyak tidur istrinya.


"Flo.. kamu harus tanggung jawab" lirihnya.


🚀


🚀


🚀


"Kamu mau sarapan apa, sayang?" tanya Hendra sambil mengelus lengan atas Keira yang polos.


Keira sedang duduk di depan meja rias masih dengan handuk melingkar sebatas dadanya.


Tangannya tengah sibuk mengeringkan rambut yang kemudian diambil alih Hendra.


"Aku mau bubur ayam mang Hendra" jawabnya sambil menatap Hendra melalui pantulan cermin.


Hendra berhenti sejenak, matanya terlihat melirik ke atas, memikirkan apa bahan bahan yang dibutuhkan ada di kulkas.


"Baiklah, bubur ayam mang Hendra otewe" Hendra menyanggupi yang di sambut senyum sumringah Keira.


Mana bisa dia menolak keinginan Keira setelah membuat permainan jungkat jungkit mereka imbang.


"Kamu duduk sini dulu ya, aku daftar dulu" Hendra membimbing Keira untuk duduk di kursi tunggu sedang dia melakukan pendaftaran.


"Ngapain disini?" tanya suara baritone yang tiba tiba duduk disebelahnya.


Keira memutar bola matanya malas.


"Main engklek" jawabnya nyeleneh.


"Ibu maaf silahkan sample urin nya diisi di toilet ya" seorang perawat menyodorkan toples kecil padanya.


"Baik sus. Terimakasih" Keira bangkit dan dan berjalan menuju toilet di sebelah kirinya tak jauh dari kursi tunggu.


"Suaminya silahkan temani ya, takut istrinya tiba tiba pusing" pinta sang perawat pada Alex.


"Apa? saya-" perawat itu tersenyum lantas pergi.


"Siapa yang suaminya?" gerutu Alex tapi dia bangkit juga mengikuti saran perawat.


Alex bingung di depan pintu toilet.


"Masuk, jangan, masuk, jangan.. " Alex menghitung kancing kemejanya saat menentukan pilihan yang akan diambilnya. Dia bahkan mengulanginya kala merasa kurang afdol.

__ADS_1


"Masuk ajalah, dari pada nanti kenapa kenapa kan aku juga yang disalahin. Dibilang suami tak bertanggung ja-"


"WAAAAAA...... DASAR MESUM, MANIAK, TUKANG INTIIIP..." Keira dan beberapa wanita yang berada di dalam kompak berteriak kala Alex menyembulkan kepalanya ke pintu toilet wanita.


Keira yang memakai rok se lutut sedang membetulkan posisi cd nya tentu saja tak terima assetnya dilihat orang gila yang nekat mengintip.


Alex panik dan langsung lari terbirit birit karena mendapat lemparan flat shoes milik Keira dan mengejarnya hingga ke ruangan tunggu.


"SIALAAAN.. KURANG AJAR KAMU YA, BERANI BERANI.." bla bla bla


Umpatan Keira tak berhenti sambil mengejar Alex si mesum yang berlari menghindari timpukan sepatu di kepalanya sambil melindunginya dengan kedua tangannya.


Alex berlari mengelilingi ruang tunggu itu disaksikan Hendra yang baru selesai melakukan pendaftaran dan bingung karena istrinya tak berada ditempat dia meninggalkannya.


Hendra segera menangkap tubuh Keira dan mendekapnya erat, menenangkannya yang terus berontak.


Keira terus memberondongnya dengan teriakan berisi umpatan meski Hendra sudah mendekapnya, sampai sampai security turun tangan demi menenangkan keadaan agar tak mengganggu pasien lain.


"Lex, apa yang tejadi sama kamu nak?" tanya seorang wanita lanjut usia dengan wajah yang pucat mendekat dengan dipapah oleh salah satu perawat dan mendudukannya di kursi.


Kemunculan wanita tua itu membuat amarah Keira mereda. Dia memperhatikan perhatian yang Alex berikan pada wanita tua itu.


"Cuma salah paham aja, ma"


"Maaf, bu. Sudah selesai sample nya?" seorang perawat meminta toples sample urin pada Keira. Lalu dia memindai Alex dan Hendra bergantian.


"Suaminya yang mana ya?" tanya perawat itu sambil menunjuk Alex dan Hendra bergantian.


"Saya suaminya" tegas Hendra yang tidak menyukai anggapan orang jika laki laki lain adalah suami Keira.


"Oh maaf, saya kira mas ini suaminya. Silahkan, dokter sudah menunggu" perawat itu merasa tidak enak dengan sangkaannya yang membuat pasien salah paham.


"Maafkan anak saya, ya. Dia memang tidak tau memperlakukan wanita sebagaimana mestinya. Seandainya dia mau menikah-"


"Ma, udah gak usah curhat sama orang lain. Untung juga kan Alex belum nikah, jadi bisa rawatin mama. Mama mau dibeliin apa? masih nunggu hasil kan?"


Wanita tua itu tersenyum.


"Lihat? seandainya wanita wanita diluar sana melihat sifat aslinya, pastilah mereka mau mendampinginya. Mama cuma haus aja"


"Baik, mama tung-"


"Ini aja, belum dibuka kok" Keira menyodorkan botol air mineral yang tadi dibelinya saat hendak masuk klinik.


"Ah terimakasih. Suamimu pasti bahagia punya istri berhati mulia" puji wanita itu pada Keira.


"Kami permisi" pamit Keira digandeng Hendra.

__ADS_1


"Lihat? cangkang yang bagus belum tentu isinya bagus. Masih banyak wanita berhati mulia di dunia ini. Jangan mendiskreditkan semua wanita sama saja karena kebusukan 1 wanita. Ingatlah jika ibumu ini juga wanita" nasihat wanita itu pada Alex yang trauma akan berhubungan dengan wanita.


__ADS_2