
POV Hendra
Aku tak bisa melihat wanita ini diam dan menutup mulutnya rapat rapat. Entah kenapa situasi terasa hambar jika dia diam.
Sebisa mungkin aku mencoba melayani dan menghiburnya. Aku yang tak pernah berteman dengan wanita dari dulu merasa lain dengannya.
Setelah mendiang istriku tentunya.
Tapi mereka berbeda.
Saangat berbeda.
Jika mendiang istriku adalah wanita yang kalem, lembut, dewasa, penyabar dan elegan. Maka wanita ini adalah kebalikannya. Cerewet, pemarah, cenderung tomboy dan sedikit urakan.
Tapi sifat bertolak belakang mereka mempunyai daya tarik tersendiri.
Jika aku tak perlu bersusah payah menjelaskan dan meminta pengertian pada mendiang istriku, maka dengan wanita ini aku harus mati matian membujuk. Seperti membujuk putri semata wayangku, Aretha, sewaktu dia kecil saat sedang merajuk.
Ah sudah lama aku tak melakukannya.
Lihat saja mulut bebek itu, yang biasanya tak pernah berhenti berbunyi, kini seperti bebek yang menelan suaranya.
Aku mengambil posisi di antrian panjang untuk membayar makanan.
Aku heran, posisi kasir ada didepan sana, tapi kenapa tatapan mereka berpusat padaku?
grepp
Aku melirik ke pinggangku karena seseorang merangkul pinggangku.
Aku terkejut saat menoleh si pemilik tangan yang lancang menyentuh tubuhku. Seketika ingin ku hempaskan tangan mungil itu.
Tapi aku urungkan.
Karena tangan mungil itu milik besanku yang juga menyender manja.
__ADS_1
Tanganku reflek memeluk bahunya. Membuat para mata lapar itu mendelik dan kembali ke asalnya.
Aku jadi teringat perlakuan Arga padanya yang membuatku salah paham.
Aku memberanikan diri untuk mengecup samping kepalanya, seolah aku ini adalah kekasihnya.
Eh dia diem. Dia malah menengadah menatap mataku dan memberikan senyum manis nya.
Gaaaaaad...
Gak tau aja dia jantungku gak mau diem. Jingkrak jingkrak didalam sana.
Seketika nafasku terasa pendek dan berat.
Aku coba mengatur nafasku, tapi dia malah memegang tanganku yang bertengger dibahu nya.
Pastilah dia merasakan tanganku yang gemetar. Tangan mungil itu menepuk nepuknya seolah menenangkanku.
Gila nya.
Kini kedua tangannya melingkar di perutku.
Mungkin setelah ini dia akan menertawakanku karena kurasakan wajahku memerah.
Dia mungkin berhasil menyingkirkan kawanan hyena.
Tapi dia membuat masalah baru.
Membuatku gagal jantung.
"Apa kau mau yang lain, sayang?" drama ku mencoba sealami mungkin.
Aku gak tau apakah suaraku ikut bergetar.
Dia menggeleng, lalu menengadah menatapku.
__ADS_1
"Enggak. Aku liat kamu aja udah kenyang, sayang"
Ahh... ****..
Kenapa suaranya dia buat seksi?
"Kamu bisa aja, sayang"
Ku japit hidungnya.
Ingin rasanya kudaratkan bibirku ke bibirnya. Sekedar penasaran, apakah bibir mungil itu akan kembali mengoceh.
Aku mendekatkan bibirku ke telinganya.
"Apa kamu selalu seperti ini dengan Arga?" tanyaku. Membuatnya sontak menengadahkan kepala, dan hampir saja bibir ini menempel.
Kenapa gak langsung ku ***** saja, pura pura khilaf, atau apa harus ber alasan improvisasi akting?
Ah bodohnya aku.
"He em" jawabnya singkat. Lalu kepalanya kembali menghadap depan. Sembari menyender di pundakku.
Dia benar benar pandai mematahkan hati para wanita.
Apakah ini salah satu caranya melindungi Arga dari para wanita gak jelas?
Luar biasa.
Dia bahkan sempat mematahkan hatiku saat itu.
Aku akui.
Aku mulai membuka hatiku kala bertemu sosoknya.
Rasa penasaranku mematahkan prinsipku untuk tak menjatuhkan hati lagi pada wanita lain.
__ADS_1
Setiap malam aku selalu meminta petunjuk pada Sang Maha Kuasa.
Aku juga seolah berbicara pada mendiang istriku, aku meminta maaf berkali kali padanya setiap malam jika kenyataan menghadapkanku pada perasaan yang mulai tumbuh kembali setelah 20 tahun aku memegang teguh prinsipku.